
Radit hanyalah anak dari sepasang suami istri pemilik toko kelontong. Orangtuanya memilih kawin lari, karena tidak ingin dipaksa menikah atas pilihan keluarga. Mereka bersama murni karena cinta, dipertemukan oleh takdir dengan cara paling sederhana.
‘Kami tahu kalau kau adalah anak yang istimewa,’ malam itu sang ayah memanggilnya setelah selesai makan malam. ‘Kau tidak perlu memusingkan soal biaya, kejarlah mimpimu, nak!’
Sang ibu menyodorkan sebuah buku tabungan, saat dibuka, ada banyak angka nol di belakang nominal tersebut. Radit sempat terhenyak, merasa tidak pantas menerima simpanan itu.
‘Jangan ambil beasiswa itu, nak! ayah dan ibu masih sanggup membayar uang pendaftaran maupun per semesternya.’
‘Tapi kita butuh uang yang banyak kalau seperti itu…,’
Sang ibu mengusap pelan pipi anak semata wayangnya, ‘Uang bisa kami cari, tapi melihatmu diremehkan hanya karena memiliki dua darah dalam nadimu. Kami tidak sanggup, nak…’
Radit memejamkan kedua mata, ingatan itu terbesit begitu saja. Hati kecilnya seakan dicubit, rasa nyeri ini tidak seberapa dengan perasaan bersalahnya. Dia menuruti permintaan kedua orangtuanya untuk mendaftar biasa. Namun mereka tidak tahu, bahwa seakan menjadi peraturan tidak tertulis. Peserta pendaftaran dari golongan A sampai C adalah mereka yang memiliki uang, kekuasaan, dan berdarah murni.
Apalah artinya Radit disini, dia seperti kerikil, seperti tidak tahu tempat. Bagaimana bisa seorang berdarah campuran sepertinya, berani satu ruangan dengan mereka yang berdarah murni.
“Sekarang kau pura-pura tuli?!”
Dua remaja berdiri di depan Radit, berkacak pinggang. Salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat tangan, hendak melayangkan tinju. Padahal Radit tidak melawan, tidak membalas satupun hinaan yang dia terima. Namun sepertinya, mereka bertiga tidak peduli, mereka hanya senang merundungnya.
Radit memejamkan mata, sudahlah dia akan menahannya. Jam makan siang hanya satu jam, setelah ini mereka tidak akan bertemu.
“A-apa-apaan ini?! siapa kau?!”
Radit membuka sebelah mata, mengintip takut-takut. Ternyata di depannya berdiri seorang remaja berambut keriting dan kulit gelap. Dia menghentikan serangan lawan dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi membawa nampan. Radit agak salah fokus melihat makanan menggunung itu.
“Kau baik-baik saja?” tiba-tiba seorang remaja lain menghampirinya, dia lalu mengulurkan tangan pada Radit. “Kau bisa berdiri?”
Radit mengangguk pelan, dan menerima uluran tangan dari remaja bermata biru. Sejenak dia terdiam, belum pernah dia melihat manusia bermata biru dalam hidupnya.
“Beraninya kau ikut campur! lepaskan, hei! kau dengar tidak, sih?! astaga kuat sekali…”
Ivano seperti tuli, dia tidak mendengarkan ocehan lawan bicaranya dan malah semakin kuat mencengkram lengan lawan. Alhasil remaja itu merintih kesakitan, lututnya bahkan lemas dan sudah memohon-mohon untuk dilepas.
“Sepertinya candaan temanku sudah kelewat batas. Apa kau bisa melepaskannya?” tanya seorang remaja berambut hitam dan berkulit putih.
__ADS_1
Remaja itu tersenyum ramah, namun Ivano maupun Langit tidak mudah tertipu senyum palsu itu.
“Heh! ini semua karena ale tidak becus menjaga kacung ale!”
“Siapa yang kau sebut kacung?!”
“Fandi!”
Mendengar namanya disebut dengan dingin, remaja itu tertunduk lesu. Ivano mendengus sebal, lalu melepaskannya. Anak bernama Fandi itu segera berlari menghampiri temannya.
“Terima kasih atas kemurahan hatimu. Perkenalkan namaku Malik Waruk, bisa dibilang aku salah satu keturunan dari Hayam Waruk. Kalian tentu tahu sejarah Kerajaan Majapahit, bukan?”
Langit berdiri di samping Ivano dan Radit berada di belakang mereka. Dari raut wajah remaja ambon itu, terlihat jelas bahwa dia tidak peduli.
“Entahlah, beta sering ketiduran setiap Langit mengajari sejarah.”
Pelipis remaja itu berkedut pelan, dia berusaha agar alis tebalnya tidak terlihat menyatu sangking kesalnya.
“Kau pasti dari Suku Ambon! Mengapa kau sampai datang jauh-jauh kesini, sementara Akademi Wilayah Indonesia Timur juga ada di sana?” Malik bertanya sambil tersenyum miring, matanya juga sudah menyipit mengejek.
“Apa kau gagal ujian masuk di sana, makanya lari kemari?”
“Beta datang sebagai jawara dari Serikat Nusantara. Ikut ujian ini karena dipaksa Tuan Muda Langit.”
Jawaban balasan Ivano seketika mengejutkan Malik dan para peserta yang ada di kantin sekolah. Remaja ambon itu tersenyum mengejek, dia bahkan sudah bersedekap dada, memasang wajah sombong.
“Ale tentu tahu Serikat Nusantara, bukan?”
Jika Malik bilang dia tidak tahu, jelas hanya mempermalukan dirinya sendiri. Siapa yang tidak mengenal Serikat Nusantara, serikat yang didirikan oleh salah satu orang nomor satu di Indonesia. Meski mereka gagal dalam tahap eliminasi tiga tahun lalu. Tidak bisa dipungkiri, Serikat Nusantara selalu menghasilkan jawara-jawara kelas atas.
“Ahem! aku doakan semoga ujianmu berjalan lancar, kami permisi dulu.” Malik tanpa membuang waktu segera putar badan dan meninggalkan kedua temannya.
Mereka segera berlari menyusul Malik, sesekali melirik takut pada Ivano. Remaja ambon itu hanya berdiam diri, memasang raut datar sebelum balik badan.
“Beta lapar, adakah meja kosong?” tanyanya sambil melihat sekitar.
__ADS_1
Seakan seperti perintah, anak-anak segera berdiri dari meja walau makanan mereka belum habis. Semua mencoba memberikan Ivano tempat duduk yang dia sukai. Alhasil remaja ambon itu segera menempati salah satu meja dekat jendela. Dia berbalik, melambai ke arah Langit dan Radit agar segera duduk bersama.
“A-apakah benar, kalau kau seorang Jawara?” Radit bertanya terbata, gugup menatap Ivano yang sibuk makan.
“Benar, dia salah satu jawara junior kebanggaan kami.” Langit memutuskan menjawab pertanyaan teman barunya.
Sepasang mata itu mengerjap berulang kali, sebelum dia dengan hebohnya menutup mulut. Tidak percaya dengan keberuntungan yang jatuh menimpanya di hari pertama ujian masuk. Menjadi jawara di usia muda, adalah salah satu prestasi membanggakan. Sudah pasti seluruh peserta ujian yang mendengar ini, merasa iri sekaligus kagum.
“Bukan beta saja,” Ivano berucap setelah menelan kunyahan penuh lalu menunjuk Langit. “Tuan muda juga jawara, meski dari senoritas, tentu saja beta seniornya!”
Kali ini Radit menoleh ke arah Langit dengan raut dungu. Ditatap seperti itu membuat pipi sang remaja merona merah.
“Ini sangat luar biasa! hei! sudah berapa kemenangan yang kalian dapatkan?!”
Langit tampak berpikir sejenak, menghitung. “Ivano memenangkan sekitar 10 pertandingan persahabatan selama tiga tahun terakhir. Seharusnya dia lebih banyak membawa kemenangan, jika saja kebiasaan bolosnya itu hilang.”
Cibiran dari teman karibnya hanya dibalas dengan gedikan bahu. Ivano tidak peduli, sudah untung dia mau berpartisipasi melawan cecunguk-cecunguk itu. Level mereka terlalu rendah, dan dikarenakan Ivano masih jawara junior, dia tidak bisa menantang lawan level atas.
“Wah! itu hebat sekali!” Radit hampir menepuk tangan, jika saja dia tidak ingat mereka sedang berada di kantin sekolah. “Bagaimana denganmu? dan mengapa Ivano memanggilmu Tuan Muda?”
Kali ini Ivano yang menjawab, “30 kemenangan, dan itu karena dia adalah pewaris Serikat Nusantara.”
Entah sudah berapa kali Radit membulatkan mata sangking terkejutnya. Remaja itu bahkan tanpa sadar sudah mengumpat pelan.
“Hei! jaga mulut ale! bisa habis beta kalau Tuan Muda ikutan mengumpat.” Ivano tiba-tiba mengherdik, membuat Radit spontan menutup mulut.
Ingatan saat Ivano tidak sengaja mengumpat ‘Fuc*k you!’ dan Langit mengikutinya tanpa tahu arti. Membuat seluruh anggota Serikat Nusantara memutar kepala mereka, menatap tajam seakan mampu menembus kepala Ivano. Kemudian Pak Endang memberikannya hukuman bersih-bersih selama seminggu, dan dia tidak diberi uang jajan. Sungguh pengalaman mengerikan dalam hidup remaja ambon itu.
Suara Bip! terdengar tiba-tiba dari kartu peserta, Langit, Ivano dan Radit segera mengeluarkan kartu mereka.
[Pengingat! Waktu Ujian Masuk Tahap Kedua Akan Segera Dimulai Dalam Waktu 2 Menit Dari Sekarang! Harap Tidak Terlambat!]
“Baiklah, waktunya kita berpisah.” Langit beranjak berdiri, dia mengulurkan tangan hendak mengajak berjabat tangan dengan Radit. “Semoga kita semua lulus, dan bertemu di sekolah!”
Sejenak remaja itu menatap bimbang, namun dia sudah bertekad. Radit ingin mengubah kondisi keluarga, dia ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Sehingga tidak ada lagi orang yang akan memandangnya sebelah mata. Radit menjabat tangan Langit mantap.
__ADS_1
“Kita pasti bertemu lagi!”
Continue…