
Matahari mulai turun, siap berganti dari senja ke malam. Di ruang rapat Serikat Nusantara, tampak Regi duduk dengan gelisah. Lima jam sudah pasca penculikan, dan dia hanya bisa duduk menunggu kabar. Beberapa pelatih dan pihak berwajib yang menunggu juga tidak kalah cemas.
“Masih belum ada kabar?” Regi bertanya pada Yohan.
Ajudannya menggeleng pelan membuat Regi menggeram pelan. “Apa yang dikatakan Kepala Divisi Humas Polri?”
“Mereka sedang mengembangkan motif penculikan, mulai dari motif bisnis, motif balas dendam, sampai motif kriminal murni. Dan karena sampai saat ini pelaku penculikan belum menghubungi kita, mereka belum bisa melakukan pelacakan.”
Penjelasan dari ajudannya sama sekali tidak membuat hatinya tenang, justru semakin panas. Regi mencoba mengatur nafas yang mulai terasa berat. Pengajuan pelaporan atas penculikan putra angkatnya terbilang cepat ditangani. Namun tetap saja, bagi Regi kinerja kepolisian sangat lambat. Setiap menit, setiap detik, keselamatan Langit bisa saja terancam. Dan mereka malah sibuk menguak motif penculikan?
Rasanya Regi bisa gila kalau harus menunggu lebih lama. Alhasil Pria paruh baya itu memberi isyarat pada Yohan. Pria itu segera mendekatkan telinganya, siap mendengar dan melaksanakan perintah tuannya. Sekitar satu menit, Yohan mengangguk, dia lantas undur diri dan pergi meninggalkan ruang rapat.
*
Suara hantaman kembali terdengar dari ruangan paling pojok. Beberapa orang menahan diri untuk tidak menyerbu masuk. Itu dikarenakan mereka sudah mendapatkan peringatan dari orang terkuat dalam grup mereka. Sarda, adalah nama dari penculik yang kini sedang adu jotos dengan Ivano.
Pria berumur hampir tiga puluh tahun itu adalah yang terkuat dari anggota mereka. Itu dikarenakan, Sarda bukanlah orang biasa, dia juga memiliki keistimewaan yang mengalir dalam darahnya.
“Kyaaargh!”
Teriakan Nenek Luhu kembali terdengar, memekakan telinga dan memberikan efek lumpuh sesaat. Sarda hampir menjatuhkan lututnya, namun tidak sampai tiga detik, dia kembali bangkit. Ivano berdecak, kesal karena serangan ini pun tidak mempan. Dia lalu menyerang dengan parang kayu, melakukan gerakan tipuan beberapa kali. Setelah sempat menghindar, Sarda jatuh terjerembab ketika dari belakang Langit meninju pinggang atasnya.
“Dasar bocah menyebalkan!” herdik Sarda mulai emosi.
Sarda memanjangkan kaki, merendahkan tubuhnya, beberapa kali memainkan goloknya seperti menari. Seperti mengikuti hentakan kaki, pria itu menyerang Ivano dan Langit bersamaan. Kali ini gerakan serangan tidak lagi asal, atau bebas seperti sebelumnya. Setiap serangan, bahkan langkah kaki semua seperti diperhitungkan.
Ivano mulai kewalahan, serangan parang tidak mempan, amukan Nenek Luhu hanya mampu menahannya tiga detik. Bocah ambon itu tidak tahu harus membuat celah seperti apa supaya Langit bisa menggunakan kemampuan lidah pahit dengan seefisien mungkin.
“Abdi ti Suku Baduy! Maneh tong kaduhung!” Herdik Sarda lagi.
Ivano menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ale bisa tidak, pakai bahasa indonesia yang baik dan benar? Beta baru bisa bahasa indonesia, itu pun sedikit. Hei, Langit! ale paham dia ngomong apa?”
Langit yang kaget tiba-tiba ditanya begitu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dirinya pun hanya paham bahasa indonesia, dia belum pernah belajar bahasa daerah lain. Ini saja baru pertama kali Langit mendengar bahasa daerah.
“Lihat? ale pikir di indonesia hanya ada satu suku dan bahasa? tidak ale, di indonesia itu ada 1.340 suku dan 829 bahasa!” Ivano terlihat menggebu-gebu saat menjelaskan pengetahuan yang baru diketahuinya dua hari lalu pada Sarda.
“Kita beda suku, beda bahasa. Pakailah bahasa indonesia yang baik dan benar saat adu tanding seperti ini! Nah, coba ale ulang lagi dengan bahasa indonesia, tadi ale bilang apa?”
Langit yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Ivano hanya bisa menatap temannya itu. Raut wajahnya sudah hampir terlihat dungu, namun untungnya masih bisa membaca pesan tersirat dari lirikan mata Ivano. Sepertinya bocah ambon itu sedang mengalihkan perhatian Sarda. Inilah kesempatan yang Langit tunggu-tunggu, maka tanpa buang waktu lagi Langit segera bertindak.
__ADS_1
Bocah itu segera melesat, kemampuannya dalam menghilangkan hawa keberadaannya sudah meningkat setelah latihan dengan Yohan. Saat Ivano masih saja berceloteh dan Sarda sibuk menyerangnya tapi gagal. Langit bergerak mendekati Pria itu tanpa ketahuan.
“Tidur!” perintah Langit tepat di telinga Sarda.
Tidak sampai satu detik, pria itu memejamkan mata, tubuhnya lunglai seketika dan jatuh ke lantai dalam kondisi tidur pulas. Langit menghela napas lega melihat tekniknya berhasil. Ivano berselebrasi, lalu menghampiri Langit dan Sarda.
“Cepat kita ikat dia!” serunya penuh semangat.
Ivano melihat sekeliling, mencari tali atau apapun yang bisa digunakan untuk mengikat tubuh Sarda. Sementara itu Langit menghampiri meja dimana Sarda duduk saat pertama kali mereka masuk ke ruangan ini. Disana ada beberapa kertas berserakan di atas meja kayu tua. Langit membaca cepat isinya, dan mengerutkan kening sebentar.
“Jadi mereka ini kriminal murni, yang menculik demi uang tebusan?”
Langit menoleh ke arah Sarda yang tubuhnya sedang diikat oleh Ivano. Kemudian cepat-cepat ia merapikan kertas-kertas dan menyimpannya di kantong hoodienya. Saat dia hendak menghampiri Ivano, suara dering telepon menggema di dalam ruangan, mengejutkan kedua anak kecil itu.
“Si-siapa yang telepon?” Ivano bertanya takut.
Langit memutar kepalanya, melihat sebuah handphone tua di atas meja berdering beberapa kali. Bocah itu menoleh lagi ke arah Ivano, seakan bertanya haruskah dia mengangkat telepon itu? Ivano terlihat ragu namun akhirnya menganggukan kepala.
Bocah itu mengulurkan tangan, meraih handphone tua itu lalu menjawab telepon masuk. Sejenak tidak ada suara di seberang sana.
“Ha-halo?”
“Si-siapa ini?!”
“Harus aku akui, kau hebat juga bisa mengalahkan Sarda.”
Akhirnya suara di ujung sana menyahut. Langit hampir berjengit kaget mendengar suara berat, serak, seperti suara samaran itu. Bocah itu lalu menoleh ke arah Ivano, meminta pendapat lewat tatapan mata. Namun yang ditanya sibuk merampok isi dompet Sarda yang terikat.
Langit menelan ludah gugup, “A-apa maumu?” tanyanya berusaha terdengar berani.
“Tidak ada, aku hanya ingin mengetes kepantasanmu menyandang nama Sanjaya.”
Kening bocah itu mengerut, siapa orang yang ingin menguji kelayakan dirinya? Pasangan suami istri Sanjaya? tentu tidak. Pelatihnya, Pak Yohan? mungkin saja. Kalau memang benar, maka Langit tahu harus menjawab seperti apa.
“Kau puas?” Langit bertanya dengan nada jengah. “Kau tidak berhak menguji kelayakan ku dengan cara rendah seperti ini. Heh! penculikan? aku tidak sebanding dengan para cecunguk yang kau bayar!”
Setelah membentak orang di ujung telepon, Langit melihat sekilas nomor penelpon sebelum mematikannya. Ivano yang baru selesai menjarah harta Sarda segera menghampirinya.
“Siapa yang ale bentak tadi?”
__ADS_1
“Dalang penculikan ini,” Langit menjawab singkat, dia sedang sibuk mencari kertas dan alat tulis. “Apa kau punya sesuatu yang bisa dipakai untuk mencatat?”
Ivano mengangguk, mengeluarkan ponsel pintar dari saku celana dan memberikannya pada Langit. Sejenak bocah berambut hitam itu terdiam, melihat lekat-lekat benda canggih di tangan Ivano.
“kenapa kau tidak bilang bawa ponsel?!” Langit berseru gemas.
“Ale tidak tanya,” Ivano menjawab santai. “Memangnya buat apa?”
Langit menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tidak marah. Anak laki-laki ini baru pertama bertemu orang seperti Ivano. Percayalah Nyoman masih seratus kali lebih mendingan daripada bocah ambon ini.
“Minta bantuan!” ujarnya jengah dan mengambil ponsel di tangan Ivano.
Langit segera menekan beberapa angka sebelum suara nada tunggu terdengar. Setelah dua kali nada dering, panggilan diangkat. Suara serak dan terburu-buru itu milik ayah angkatnya, Regi. Langit segera menjelaskan situasi mereka, dan membiarkan pihak kepolisian melacak lokasi dari GPS ponsel Ivano.
Setelah beberapa menit berbicara, Langit mematikan ponsel dan mengembalikannya pada Ivano.
“Mereka akan tiba di sini dalam tiga puluh menit,” Langit menjelaskan pada Ivano yang asik menghitung uang.
“Cepat juga mereka, bukankah butuh waktu beberapa jam sampai sini?” tanya Ivano tanpa mengalihkan pandangan dari uang di tangan.
Langit ikut duduk di samping Ivano, “Ayah akan ke sini dengan helikopter pribadi.”
“Seperti yang diharapkan dari orang kaya,” Ivano bersiul nyaring. “Omong-omong apa beta akan dapat uang kompensasi karena terlibat penculikan ini?”
Langit berpikir sejenak, “Sepertinya.”
“Mantap betul!” Ivano lagi-lagi bersiul dan menjilat ibu jarinya sebelum kembali menghitung uang ditangan.
Langit menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan atensi ke arah Sarda yang masih terlelap.
“Untung saja, strategi mu itu berhasil. Aku hanya bisa menggunakan kesaktian ucapan tiga kali dalam sehari. Kalau tadi gagal, kita hanya bisa bertahan, atau lari.”
Ivano memukul dada kirinya sambil tersenyum bangga. “Ano gitu!”
Setelah menunggu hampir setengah jam, suara sirine mobil polisi terdengar sayup-sayup. Tidak butuh waktu lama bagi para pihak berwajib untuk mengepung gudang lokasi penculikan dan melumpuhkan sisa-sisa penculik yang berjaga diluar.
Langit dan Ivano naik helikopter dan pulang ke Joekarta dengan selamat.
Continue…
__ADS_1