
Hasil dari kasus penculikan Langit adalah kriminal murni. Saat bocah itu mendengar berita tersebut, dia hendak protes. Namun semua itu kembali dia telan bulat-bulat mengingat Langit tidak punya bukti solid. Nomor yang sengaja dia catat, dan diserahkan ke pihak berwajib, ternyata sudah tidak aktif.
Awalnya Langit menduga semua itu kerjaan Yohan. Namun terbantahkan ketika dia pulang, dan mendapati pemuda itu menghela napas lega begitu melihatnya. Tidak hanya itu, Yohan menemuinya seorang diri untuk meminta maaf, merasa lalai sebagai ajudan. Tentu saja Langit memaafkannya.
Setelah kejadian itu, waktu berputar cepat. Langit menghabiskan waktunya dengan berlatih bersama Yohan. Terkadang dia datang ke Serikat Nusantara, melakukan adu tanding dengan Ivano dan anak-anak lain.
Hingga tidak terasa, sudah enam bulan Langit hidup bersama keluarga Sanjaya. Fuji sudah kelihatan gelisah dari akhir bulan. Cemas menunggu keputusan dari pengadilan, terlebih ada kejadian Langit diculik. Saat itu Fuji hampir pingsan mendengar berita penculikan dan memeluk Langit erat begitu bocah itu pulang ke rumah.
“Bagaimana kalau mereka menolak pengangkatan Langit?” Suatu malam Fuji bertanya pada suaminya di kamar tidur.
“Itu tidak akan terjadi, tenang saja, sayang.” Regi sebagai suami yang baik, berusaha menenangkan sang istri.
Keesokan paginya, sebuah surat datang dari pengadilan. Fuji menerimanya dengan tangan gemetar. Wanita berusia hampir setengah abad itu membuka dan membacanya hati-hati bersama Regi di sampingnya.
Sebaris kalimat dari pengadilan membuat lutut Fuji lemas. Wanita itu limbung dan dengan sigap Regi segera memeluknya dari belakang. Langit yang berdiri di depan juga ikut terkejut, terlebih dia juga sama cemasnya dengan orang tua angkatnya.
“Diterima…,” Fuji berbisik pelan, air mata jatuh membasahi pipinya. “Mereka menerimanya, Regi!”
Pria paruh baya itu menghela napas lega, meski tidak memperlihatkan emosinya. Sebenarnya dirinya juga harap-harap cemas menunggu keputusan pengadilan. Fuji merentangkan tangan, menatap Langit yang berdiri dengan raut ragu dan cemas.
“Anakku! putraku, Langit!” seru Fuji.
Sejenak Langit termangu sebelum dia berlari ke pelukan Fuji. Dia yang selalu tidak mengharapkan ada keluarga yang mau menerimanya. Langit yang selalu berpikir semua baik-baik saja selama dia bersama anak-anak panti. Tidak menyangka akan merasa sebahagia ini ketika akhirnya semua orang mengakuinya sebagai putra dari Regi dan Fuji.
“Ma-mama!” walau sedikit terbata, akhirnya Langit mampu mengucapkan kata-kata itu.
Fuji yang mendengar Langit memanggilnya mama, tidak lagi mampu menahan tangisnya. Wanita itu sudah begitu lama menunggu momen ini, saat dia dipanggil mama. Fuji memeluk Langit dan Regi erat-erat, merasa kini kebahagian dalam keluarganya lengkap.
Regi memeluk istri dan putranya, dia juga tidak kalah bahagia, saat Langit memanggilnya ayah. Hatinya terasa hangat. Siapa yang menyangka menjadi seorang ayah akan semenyenangkan ini.
“Akhirnya kita bisa mengadakan pesta penyambutan Langit!” Fuji berujar ceria.
Regi ikut mengangguk, dia lalu memberi perintah kepada Kepala Pelayan. ”Siapkan keperluan apa saja untuk membuat pesta penyambutan. Aku ingin semua orang mengetahui bahwa Langit telah resmi menjadi anakku, terutama keluarga besar Sanjaya.”
Bastian membungkuk sopan, “Baik, Tuan Besar.”
Langit menatap kedua orang tua angkatnya dengan tatapan terharu. Tidak pernah ia sangka akan mendapatkan kasih sayang sebesar ini dari mereka. Selamanya, Langit akan selalu bersyukur dan berterima kasih pada Regi dan Fuji.
__ADS_1
*
“Tuan Muda Langit, mengenai surat yang Anda kirim.” Ningsih datang membawa nampan surat berwarna perak. “Surat-surat itu kembali lagi, tidak ada yang sampai.”
Kening Langit mengerut samar, dia mengambil surat yang kembali dan mengucapkan terima kasih pada Ningsih. Bocah berambut hitam bermata biru itu menatap lekat-lekat sebelum membuka laci meja belajar. Di dalam laci telah menumpuk surat-surat yang ditujukan ke Panti Asuhan Bakung.
‘Untuk Langit tersayang.’
‘Sebenarnya aku sudah ingin sekali mengirim surat untuk berbagi kabar gembira ini. Kau masih ingat dengan isi suratku sebelumnya? mengenai kedatangan pasutri ke panti. Kami mengira hanya satu anak yang akan diadopsi, namun nyatanya tiga orang sekaligus!’
‘Bibi Tun bilang, ada dua orang pasangan pasutri datang berkunjung. Sepasang pasutri yang sudah tua memilih Kak Basuki sebagai anak mereka. Dan tahukah siapa yang dipilih pasangan muda berikutnya?’
‘Mereka memilih aku dan Nyoman! bisa kau bayangkan betapa terkejutnya aku? Tapi yang membuatku kesal adalah, mengapa aku harus menjadi adik-kakak dengan Nyoman? akan lebih baik jika itu adalah dirimu, Langit.’
‘Langit, kau masih ingat dengan janji kita berdua? karena aku telah diadopsi, maka aku akan belajar dengan giat supaya kita dapat bertemu lebih cepat. Sampai tiba waktunya, jaga dirimu baik-baik.’
‘Dari Yatna.’
Ini adalah isi surat terakhir yang Langit terima tiga bulan lalu. Semenjak itu, sudah berapa pucuk surat kembali tanpa balasan. Ketika Langit menanyakan alasannya, pegawai kantor pos mengatakan bahwa tidak ada penerima di sana.
Langit menghela napas pelan, dia menaruh surat terbaru di atas tumpukan surat lainnya.
Langit menatap pantulan dirinya di cermin besar. Penampilannya bersih, dan rapi. Rambut hitam ditata sedemikian rupa, dia memakai setelan jas berwarna abu-abu dengan celana pendek di atas lutut. Bocah itu menarik napas, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar gugup.
“Ayo, Ningsih!” katanya sambil berjalan keluar kamar penuh percaya diri.
Langit menyusuri lorong di lantai dua menuju tangga yang akan membawanya turun ke aula utama. Di sana semua tamu undangan berkumpul, mulai dari keluarga besar Sanjaya sampai beberapa rekan bisnis. Perwakilan dari Serikat Nusantara adalah Endang dan beberapa atlet senior, juga ada Ivano.
“Kemari, Nak!” Fuji memanggil lalu merangkul pundak Langit dan mengalihkan atensinya ke arah tamu undangan.
Langit berdiri di tengah-tengah Regi dan Fuji, sementara di barisan paling ujung berdiri seorang pemuda. Laki-laki itu memakai pakaian formal dan memegang mic, dia adalah pembawa acara di pesta penyambutan malam ini.
“Kepada para tamu terhormat yang menghadiri pesta penyambutan yang diselenggarakan keluarga Sanjaya. Saya Andre Nawawi, dengan ini saya menyambut kehadiran kalian semua.”
Pemuda itu sempat membungkuk singkat, sebelum kembali melanjutkan. “Mari kita beri sambutan kepada Bapak Regi Sanjaya serta keluarganya!”
Riuh tepuk tangan terdengar ramai memenuhi aula keluarga Sanjaya. Langit menelan ludah gugup, tiba-tiba dia tegang dan perut mulas karena gugup. Fuji yang menyadari memberikan tepukan pelan di pundak.
__ADS_1
“Selamat datang di pesta ini.”
Regi memulai dengan raut datar dan suara stabil. “Terima kasih sudah datang, dan untuk menjawab rasa penasaran juga pertanyaan kalian semua. Saya Regi Sanjaya, putra pertama dari mendiang Harry Sanjaya mengenalkan kepada seluruh tamu undangan. Anak di samping saya ini, Langit Sanjaya, adalah putra tunggal dari saya dan Fuji.”
“Meski kami tidak berbagi darah yang sama, meski istri saya tidak melahirkannya, kami berdua akan selalu menganggap Langit sebagai putra kami.”
Usai menyampaikan tujuan pesta penyambutan ini, Regi mencium puncak kepala Langit. Riuh tepuk tangan kembali terdengar sebelum alunan musik mulai memenuhi ruang aula. Mereka saling berpasangan, mulai menari dengan iringan musik jazz. Beberapa menikmati makan malam yang telah disediakan oleh koki bintang lima.
“Langit, kenalkan. Mereka Om Rafael Sanjaya, Tante Lidya Sanjaya dan kedua putra mereka, Jerry Sanjaya dan Rangga Sanjaya.”
Regi mengenalkan sepasang pasutri yang umurnya sudah setengah abad, bersama kedua putra mereka yang berusia matang. Langit membungkuk sopan, sesuai ajaran guru etikanya dan memperkenalkan diri.
“Senang rasanya aku tidak lagi menjadi yang termuda dikeluarga ini,” Rangga berujar dengan senyuman hangat.
“Tidak hanya anggota termuda, namun juga seorang paman kecil.” Sambung Jerry dengan raut datar.
“Senang bertemu denganmu, Langit. Regi dan Fuji tidak henti-hentinya membicarakanmu.” Kali ini Lidya yang berkata, dia mengelus pelan puncak kepala Langit.
“Aku dengar, kau juga seorang jawara dengan darah palembang mengalir dalam nadimu.” Rafael tersenyum tipis, manik coklatnya telah mengabu termakan usia. “Kami mengharapkan hal hebat darimu, Nak!” katanya lagi sambil menepuk pundak Langit.
Bocah itu menyunggingkan senyum tipis, membungkuk sopan. “Terima kasih, aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga Sanjaya.”
Setelah menyapa keluarga Sanjaya yang lain, akhirnya Langit diperbolehkan untuk istirahat. Bocah itu memijat pelan rahangnya, pegal, setelah banyak tersenyum sejak tadi. Dia mulai melihat sekitar, mencari bocah ambon teman karibnya.
“Siapa yang ale cari?” sebuah suara mengejutkannya.
Ivano berdiri di samping Langit, kedua tangan penuh dengan makanan dan segelas wine. Langit hampir menggigit lidahnya agar tidak berteriak kaget. Manik birunya membulat lucu, niat hati ingin melotot marah.
“Kau tidak boleh minum wine!” Langit menyambar gelas wine dari tangan Ivano.
“Hei! beta susah payah mencurinya!”
“Kita masih dibawah umur, dan minuman beralkohol itu tidak baik untuk kesehatan!”
Mendengar ceramah singkat dari Langit membuat Ivano memutar bola matanya jengah. Semenjak Endang memberitahu kebiasaan buruknya yang suka minum-minum, Langit jadi salah satu orang yang akan berlari hanya untuk merampas minuman alkohol di tangannya.
“Baiklah, apapun kata Tuan Muda,” Ivano mencibir pelan.
__ADS_1
Continue…