
Bip! Bip! Bip!
Suara dari jam tangan khusus murid Akademi Wilayah Indonesia Barat tidak hentinya berbunyi. Mengiringi derap langkah dua remaja yang tengah terburu-buru. Mereka berdua bangun terlambat, terlalu sibuk bermain kartu bergambar jawara yang sedang ramai akhir-akhir ini.
“Habis ini belok kemana?” Langit bertanya dengan nafas berat.
Ivano mengecek kembali map dari layar jam tangan, lalu tiba-tiba belok kiri. “Belok kiri,” serunya.
“Ayolah, Ano!” sungut Langit karena harus balik badan, dia terlanjur belok kanan.
Setibanya mereka di depan ruang kelas, Langit mencoba mengintip, berharap guru belum datang. Sayangnya pintu ruang terbuka tiba-tiba, membuat dua anak remaja itu ambruk ke lantai. Suara tawa teman sekelas pecah, menertawakan mereka berdua.
“Langit Sanjaya dan Ivano Nafali, haruskah aku mengajari kalian cara membaca map?” seorang wanita paruh baya dengan garis wajah tegas, menatap mereka datar.
“Ti-tidak perlu, Bu Donna.”
“Daripada itu, bagaimana kalau jam masuk diundur saja? masuk pukul setengah delapan itu terlalu pagi!” Lain hal dengan Langit yang menunduk, Ivano malah mengutarakan isi hati.
Langit sontak menyikut pinggang teman karibnya, membuat Ivano mengaduh. Teman-teman sekelas kembali tertawa, Yatna duduk di bangku ketiga dari depan terkekeh pelan, sementara Malik menatap sinis.
“Kalian segera pergi ke tempat duduk!” Donna berseru tegas, dan kedua anak itu segera berlari menuju meja mereka. “Kalau sampai kalian terlambat lagi, Ibu akan turuti permintaanmu. Khusus untukmu, jam masuk akan diundur dengan catatan kalian harus membersihkan lapangan sekolah setiap pukul tujuh pagi.”
Ivano mendengus pelan, “Tidak usah, Bu!”
Suara renyah dari pukulan Langit di kepala Ivano terdengar. Remaja ambon itu kembali mengaduh, melotot kesal pada teman karibnya. Sementara Langit juga balas menatapnya tajam. Seakan memberikan ancaman tersirat, Ivano berakhir berdecak sebelum fokus ke depan.
Pelajaran yang dibawakan oleh Bu Donna cukup menarik. mereka belajar biologi. Tentang hewan amfibi, mengapa mereka disebut demikian? itu dikarenakan binatang yang memiliki tulang belakang, juga dapat hidup di darat dan di air. Kata amfibi diambil dari dua kata yunani yang berarti ‘amphi’ dan ‘bio’.
“Kedua kata tersebut memiliki makna ‘dua’ dan ‘hidup’ yang mengisyaratkan bahwa hewan amfibi adalah hewan yang habitatnya hidup di dua alam.” Bu Donna menerangkan dengan menampilkan katak sebagai contoh menggunakan hologram.
Tidak sampai setengah jam, Ivano sudah tertidur pulas di meja. Sementara Langit masih setia mendengarkan, juga mencatat hal yang menurutnya penting di tablet miliknya. Setelah satu jam pelajaran, bel pergantian kelas terdengar nyaring.
“Bangun, No! kita pindah kelas,” Langit mengguncangkan bahu Ivano, membangunkannya.
“Lima menit lagi!”
“Ini pelajaran Darah Suku, kita harus ganti baju!” Langit kembali membangunkan Ivano.
__ADS_1
Melihat temannya kesulitan, Yatna menghampiri dua remaja itu. Dia tanpa segan memukul kepala Ivano keras. Remaja ambon itu sontak bangun, memegang puncak kepalanya yang terasa panas.
“Sialan, apa yang ale lakukan?!”
“Membangunkanmu,” jawab Yatna santai. “Sudah, tinggalkan saja dia, Langit.” ajaknya kemudian, menarik tangan Langit untuk keluar kelas.
“Aish! bisa-bisanya perempuan main tangan!” teriak Ivano sembari menunjuk Yatna, “Awas saja kalau ale jadi lawan adu tanding beta!”
“Aku terima permintaan adu tanding mu kapan saja!” tanpa rasa takut, Yatna membalas sambil menjulurkan lidah, meledek.
Usai berganti pakaian dengan baju dan celana panjang berwarna hitam. Langit bersama teman sekelasnya menuju lapangan sekolah yang cukup luas dengan rumput-rumput dipangkas rapi. Di tengah lapangan, sudah berdiri seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dan berkumis lebat.
“Selamat siang anak-anak, perkenalkan. Saya Joko Antar, guru kalian dalam melatih kemampuan fisik, sampai mengontrol kekuatan Darah Suku kalian.”
Dengan arahan Joko, anak-anak membentuk barisan. Mereka melakukan pemanasan lebih dulu, melakukan latihan dasar seperti berlari, push-up, dan lainnya. Setelah semua itu selesai, Joko mulai membagi mereka menjadi beberapa kelompok untuk melakukan adu tanding.
“Pak Joko, ale ingin adu tanding dengan Yatna!” Ivano berseru sambil mengangkat tangan.
“Ivano, kamu lebih baik adu tanding dengan Langit.” Mengingat anak didik di depannya ini sudah menjadi jawara di Serikat Nusantara. Agak tidak adil jika membiarkannya melawan temannya yang belum berpengalaman.
“Tidak masalah, Pak!” Yatna berdiri sambil tersenyum tipis, “Saya terima tantangan Ivano.”
Manik biru itu membulat, menunjuk dirinya sendiri. “Saya terima tantangan Malik, Pak!” namun dia tetap menerimanya.
“Baiklah, kita mulai pertandingan pertama. Ivano Nafali dan Yatna, silahkan maju ke depan!”
Kedua remaja itu segera berdiri, berjalan menuju ke tengah lapangan. Mereka membungkuk, memberi salam terlebih dahulu. Joko, selaku wasit berdiri di pinggir dan mulai memberikan aba-aba tanda dimulainya pertandingan.
Yatna berdiri tegak, kemudian kedua tangannya bergerak bersamaan dengan lompatan kuda-kuda. Kedua tangan meninju udara beberapa kali, melakukan gerakan pembuka dari setiap teknik silatnya. Sementara itu Ivano memperhatikan dengan seksama. Dia sudah mengeluarkan parang kayu andalannya dan memasang kuda-kuda.
Kedua tangan gadis itu bergerak teratur, dari kanan ke kiri, masuk dan keluar, serupa kuncup bunga yang mekar berulang kali. Ini adalah salah satu teknik yang dimiliki Yatna, Silat Bunga Satu.
Gerakan berikutnya, Yatna sudah menerjang Ivano. Gadis itu bergerak luwes, pukulannya tajam, menusuk, dan selalu berhasil memberikan pukulan di beberapa titik pada Ivano. Remaja ambon itu terdesak, tidak bisa mengeluarkan teknik parang dan hanya bertahan sejak tadi.
“Yatna! Yatna Yatna!” beberapa gadis di kelas memberikan semangat.
“Ivano! Ivano! Ivano!” dan anak laki-laki juga tidak kalah berseru seperti suporter bola.
__ADS_1
Langit sendiri hanya diam memperhatikan, dia mendukung kedua temannya. Menang atau kalah, tetap tidak ada arti baginya selain melihat Ivano dan Yatna puas akan hasil pertandingan mereka.
Ivano mencoba mengayunkan parang, namun segera ditangkis Yatna. Lengan remaja ambon itu seperti mati rasa, tidak kuat menerima kekuatan gadis itu. Setiap pukulan, terasa berat, seakan serangan itu bukan berasal dari seorang remaja perempuan berusia tiga belas tahun. Serangannya lebih seperti hantaman batu seberat lima puluh kilo.
“Apa-apaan tenaganya dia?!”
Sejak pertandingan dimulai, Ivano baru menyadari kalau Yatna sama sekali tidak ada jeda dan terus bergerak. Stamina gadis itu seakan tidak ada habisnya, sungguh menyulitkan Ivano yang merasa energinya mulai terkuras.
“Kau masih bisa bertarung?”
“Heh! sepertinya…, beta menyerah saja.” kata Ivano pada akhirnya.
Riuh tepuk tangan terdengar ramai, setelah pertandingan dinyatakan selesai. Beberapa anak segera menghampiri Yatna, memberikan pujian karena berhasil membuat jawara junior mengaku kalah.
Langit menghampiri Ivano, memberikan handuk dan air mineral. Ivano menerimanya dengan suka cita, dia sangat haus dan berkeringat.
“Teman ale benar-benar hebat!” Ivano memuji tulus tanpa melepaskan tatapannya dari Yatna. “Tenaga, stamina dan tekniknya diatas rata-rata, ale harus mengajaknya masuk Serikat Nusantara!”
“Aku akan coba mengajaknya nanti,” Langit tersenyum senang mendengar Ivano yang jarang sekali memuji orang lain.
“Kalau dia ada di Serikat, beta tidak akan bosan mengajaknya adu tanding terus!” Tiba-tiba, Ivano teringat sesuatu. “Minggu depan ada pertandingan persahabatan, bagaimana kalau ale aja dia?”
Sejenak Langit tampak berpikir, dia lalu mengangguk setuju. “Itu pasti akan jadi pengalaman baik untuk Yatna. Ide bagus, Ano!”
“Selanjutnya, Langit dan Malik maju ke sini!” teriakan Pak Joko terdengar keras.
“Hajar bokongnya, Le!” Ivano memberi semangat.
Langit dan Malik berdiri di tengah lapangan, seperti pertarungan sebelumnya. Mereka berdua memberikan salam terlebih dahulu, lalu memasang sikap siaga. Manik biru menatap lurus ke arah sepasang mata hitam cerah di depan. Kali ini Malik tidak meremehkan lawannya, dia serius menghadapi Langit.
Setelah aba-aba pertarungan dimulai, Malik lebih dulu melesat. Dia mengeluarkan keris berwarna hitam legam, dan melancarkan serangan tusukan beruntun ke arah Langit. Remaja berkulit putih itu mengelak, menghindar ke kanan, ke kiri dan bahkan melakukan split. Beberapa anak berseru ngilu, lalu kembali memberi semangat.
Langit memutar kaki, berhasil menghalau tangan Malik sebelum melakukan salto kebelakang. Sebenarnya pewaris keluarga Sanjaya sudah dilatih menggunakan senjata, namun sampai saat ini remaja itu belum menemukan senjata yang cocok untuknya. Alhasil Langit masih setia adu tanding dengan tangan kosong.
“Ck, ini menyebalkan!” Malik mendengus kesal, dia lalu menyilangkan kedua tangan dan menggunakan teknik keris terbang.
Manik biru itu membulat, dan anak-anak lain berseru ketika Malik membuat kerisnya melayang dan menyerang Langit.
__ADS_1
“Kau tidak akan bisa lari, Langit!” Malik berseru keras.
Continue…