SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 25 - Akademi WIB -


__ADS_3

Tiga tahun kemudian…


Waktu berjalan begitu cepat, selama tiga tahun terakhir Langit disibukan dengan pelajaran menjadi pewaris keluarga Sanjaya. Mulai dari matahari terbit sampai malam datang. Buku-buku tebal sejarah, matematika, fisika, kimia dan pelajaran lain sudah menjadi teman sehari-hari bagi Langit. Terutama buku mengenai berbagai macam suku di Indonesia.


Langit menatap pantulan dirinya di depan cermin berdiri, memastikan tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Mengapa dia peduli dengan penampilan? karena hari ini adalah hari besar, hari penting, dimana Langit akan ikut ujian masuk akademi.


“Tuan Muda, tidak ada yang salah dengan penampilanmu.”


Ningsih akhirnya berucap setelah diam selama dua puluh menit menatap tuannya sibuk bercermin. “Anda terlihat hebat! tidak perlu secemas itu, kami semua tahu bahwa Anda pasti lulus dengan nilai terbaik!”


“Terima kasih,” ucap Langit sedikit merona.


“Tapi mau bagaimana lagi, ini tentang ujian masuk Akademi Wilayah Indonesia Barat! Semua anak-anak yang telah membangkitkan Darah Suku, pasti bermimpi bisa masuk ke sana. Karena akademi itu salah satu dari tiga akademi terbesar di indonesia. Dan kalau aku berhasil lulus dari sana, kemungkinan aku diterima di Universitas Bahtera Nuh semakin tinggi!”


Ningsih tidak gentar dan tetap memasang senyum profesionalnya. Ketika dalam satu kali tarikan nafas, Langit mengoceh panjang lebar.


“Akademi Wilayah Indonesia Barat, atau biasa dikenal dengan WIB itu selalu menghasilkan alumni-alumni hebat dan ternama didunia antar suku! salah satunya Benyamin, jawara dari Suku Betawi dan pemenang Piala Suku Dunia tiga tahun lalu!”


Manik hitam Ningsih yang semula lembut kini berubah tajam. Wanita muda itu berjalan menghampiri tuannya. Kemudian membungkuk singkat, meminta izin sebelum dia menarik lengan Langit agar segera meninggalkan kamar. Remaja berusia tiga belas tahun itu menurut saja dibimbing pelayannya, sementara dia masih asyik menceritakan prestasi-prestasi Akademi Wilayah Indonesia Barat.


“Akhirnya ale turun juga, sudah beta tungguin dari tadi!”


Di depan mobil sedan hitam, Ivano berdiri sambil memasukan tangan ke saku celana. Bocah ambon itu kini tumbuh menjadi remaja tinggi dengan otot tubuh yang bagus. Rambut hitam keritingnya dia pangkas rapi, dan kulit hitamnya juga memberikan kesan manis.


“Maaf, maaf, aku terlalu asyik membicarakan akademi dengan Mbak Ningsih!” Langit segera menuruni anak tangga kecil dan menghampiri Ivano.


Sejenak Langit memperhatikan lekat-lekat teman karibnya, dia lalu berdecak pelan. “Kok bisa tinggi kita beda jauh? aku hanya sampai telingamu saja, padahal porsi latihan kita sama.”


Ivano menyeringai lebar, “Sudah nasibmu jadi pendek!”


“Oh, diamlah!” sungut Langit pelan, lalu memukul lengan Ivano yang sudah terbahak karena puas mengejek sahabatnya.

__ADS_1


“Pagi anak-anak!” Fuji keluar dari dalam rumah dan segera menghampiri para remaja yang akan pergi mengikuti tes masuk. “Bagaimana kondisi kalian berdua? apakah kalian gugup?”


“Biasa saja, Tante.” Ivano menjawab santai sambil mengedik bahu.


Langit segera memukul punggung Ivano, memberi isyarat lewat tatapan mata. Alhasil remaja ambon itu berdiri tegak, membungkuk singkat dan menjawab Fuji lebih sopan.


“Terima kasih atas perhatian Tante. Kondisi saya sangat baik sampai saya merasa bisa mengambilkan bintang untuk Tante.” ujar Ivano sambil melirik sekilas pada Langit dengan senyum mengejek.


Fuji tertawa renyah mendengar gurauan Ivano. Wanita berumur lima puluh tahun lebih itu mengelus pelan puncak kepala Langit. Dia memberikan kecupan singkat pada kening putranya, mendoakan yang terbaik.


“Semoga berhasil, Langit. Doa mama dan papa menyertaimu, nak!”


Semburat merah mekar di kedua pipi Langit. Dia memeluk Fuji erat, mengucapkan terima kasih. Lalu sebuah ide jahil tiba-tiba terbesit dalam benak. Langit segera berbisik pada Fuji dan wanita itu mengangguk setuju.


“Ano, kemari, nak!” Panggil Fuji pada Ivano yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Remaja itu menurut, dia mendekati Fuji dan Langit. Setelah berdiri dengan jarak satu ubin, Fuji memberikan kecupan singkat di kening. Remaja ambon itu sontak membulatkan mata, raut wajahnya yang biasa datar kini berubah salah tingkah.


“Semoga kalian berdua lulus! semangat!” Fuji mengangkat kedua tangan sambil mengepalkan tinju.


*


“Omong-omong, kau menepati janjimu untuk tidak menyentuh alkohol selama tiga bulan ini. Kerja bagus, Ano!” puji Langit dengan cengiran lebar.


Ivano mendengus pelan, salah satu tangannya bertopang dagu. “Beta tidak mungkin melewatkan kesempatan emas ini. Terima kasih, berkat ale yang sudah membujuk Pak Regi untuk memberikan beta kesempatan emas ini!”


“Sama-sama. Aku harap setelah kita berhasil lulus ujian ini pun, kau tetap tidak menyentuh alkohol!”


Mendengar harapan Langit, remaja ambon itu tersenyum miring. “Wah, kalau itu beta seng jamin.”


“Ck, ayolah! menjaga kesehatan itu aturan pertama sebagai jawara–”

__ADS_1


“–Kalau kita tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri, bagaimana bisa menang melawan mereka dalam kondisi prima?” Ivano lebih dulu memotong dan menyelesaikan kalimat Langit.


Remaja bermata biru itu memicingkan mata, kesal. Ivano malah memutar matanya, jengah.


“Kau bahkan lebih bawel daripada Pak Endang. Beta tidak boleh ini, tidak boleh itu, jawara inilah, jawara itulah. Mengapa ale sangat terobsesi menjadi jawara? toh, tanpa memenangkan Turnamen Piala Suku Dunia, kau ini pewaris Serikat Nusantara. Putra dari Regi Sanjaya, orang terkaya di Indonesia. Hidupmu jelas akan baik-baik saja, tanpa harus susah payah sepertiku.”


Baiklah, kali ini Langit berhasil dibuat tercengang dengan perkataan Ivano. Manik biru langitnya terlihat sendu, dia menunduk dan terdiam. Melihat sahabatnya tiba-tiba diam seperti itu, Ivano jadi tidak enak hati.


“Ada janji yang ingin aku tepati,” ucap Langit setelah diam sejenak.


Ivano masih diam, membiarkan Langit melanjutkan perkataannya. Remaja bermata biru itu akhirnya membalas tatapan Ivano yang sejak tadi memperhatikannya.


“Kami berjanji akan bertemu lagi di Turnamen Piala Suku Dunia. Karena itu, aku berusaha agar tidak tertinggal. Aku ingin bertemu dengannya lagi, dan melihat dia tercengang dengan perkembanganku.” Langit menggaruk pipinya yang sudah memerah.


“Maaf sudah melibatkanmu dalam perasaan pribadiku. Aku terlalu senang punya teman sepertimu. Terlebih tujuan kita sama, ikut Turnamen Akbar itu, jelas aku tidak bisa tidak bersemangat, kan?”


Ivano terdiam, menatap lamat-lamat cengiran malu Langit. Sial, remaja di depannya ini selalu saja mampu bicara hal memalukan seperti itu dengan santai. Mau tidak mau, dia juga ikutan malu. Separuh hatinya ikutan senang, karena Langit melihatnya tanpa membedakan status sosial mereka, memperlakukannya sebagai teman.


“Ck, bulu kuduk beta sampai berdiri!” ejek Ivano sambil memperlihatkan tangannya. “Jangan salahkan beta, kalau ternyata nantinya bukan ale pemenangnya, melainkan beta!”


Langit menyeringai lebar, “Teruslah bermimpi, Ano!”


Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mobil sedan menepi di depan gerbang masuk Akademi Wilayah Indonesia Barat. Langit dan Ivano berdiri menatap kemegahan dan besarnya gerbang masuk sekolah elit itu. Setelah sempat bertukar tatap dan memantapkan tekad, keduanya melangkah, siap menaiki tiap anak tangga menuju ruang tes digelar.


*


Tempat ujian dilaksanakan terbagi menjadi empat bagian, yakni; Ruangan A, Ruangan B, Ruangan C, dan Ruangan D. Setiap ruangan dapat menampung sekitar 100 peserta, sehingga total peserta ujian masuk Akademi ini mencapai 400 kandidat.


Kebetulan Langit dan Ivano berada di ruangan yang sama, yaitu Ruangan B. Lokasi ujian tersebut berada di bagian barat gedung akademi. Ruangan A terletak di bagian selatan, Ruangan C di bagian Utara, dan ruangan terakhir berada di bagian timur.


Ruangan D berada di bagian timur itu, rata-rata adalah anak yang mencoba untuk mendapatkan beasiswa. Di antara kumpulan remaja yang tegang menghadapi ujian, terdapat seorang gadis berkulit sawo matang, rambut pendek sebahu dan matanya berwarna hitam kecoklatan. Dia memakai bandana bermotif batik berwarna hitam yang menutupi kening lebarnya. Baju lengan panjang dan celana panjang berwarna hitam.

__ADS_1


Sementara itu di Ruangan A di bagian selatan, beberapa anak yang berkumpul tiba-tiba saja menyingkir dari jalan. Itu dikarenakan seorang remaja berambut hitam berjalan melewati mereka dengan penuh percaya diri. Dua orang temannya berjalan di belakang sambil memberikan tatapan tajam pada anak-anak lain.


Continue…


__ADS_2