
Jalan raya hari ini tidak terlalu padat, mengingat matahari mulai tergelincir perlahan menuju barat. Beberapa kendaraan roda empat menekan klakson mereka penuh emosi, saat pengendara motor melintas.
“Hei! hati-hati, Nak!” seorang pria berkumis tebal menggerutu kesal. “Anak-anak zaman sekarang, tidak tahu bahayanya naik motor bertiga!”
Motor bebek berwarna hijau melaju dengan kecepatan 60km/jam. Membawa tiga orang penumpang berusia dibawah lima belas tahun. Langit menatap ngeri jalanan ibu kota, namun tangannya berusaha tetap di atas paha.
“Pelan-pelan Yatna!”
“Apa?!”
“Pelan-pelan!”
“Ini sudah kencang, kita tidak bisa lebih cepat lagi, Langit!”
Remaja bermata biru itu mendengus kesal, sementara Ivano di belakangnya tertawa puas.
***
Yohan menatap tajam ke arah Endang yang lebih tertarik melihat corak ubin ketimbang dirinya. Setelah kantor pusat mendapatkan kabar mengenai surat penculikan. Regi segera mengutus Yohan untuk melindungi Langit. Namun setibanya dia di sini, pria itu hanya menemukan Endang duduk dengan raut cemas.
“Tidak ada yang menahan mereka?”
Endang tersentak pelan, “Sudah, ta-tapi kau tahu bagaimana anak-anak. Mereka tidak mendengarkan.”
“Dan kau tidak menahan mereka.” Yohan kembali mengulangi kata-katanya, namun kali ini bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. “Sudah berapa lama mereka pergi?”
“Se-sekitar satu jam yang lalu, Pak Yohan.”
Manik hitam itu tampak berkilat, kemudian tidak banyak bicara lagi, Yohan balik badan dan pergi meninggalkan Endang di ruang tunggu. Dia berjalan di lorong, mengeluarkan ponsel pintar dan menghubungi seseorang.
“Temukan mereka!” perintah Yohan sebelum mematikan sambungan telepon.
***
Lapangan luas yang dipenuhi puluhan kontainer-kontainer berbaris rapi. Sebuah motor bebek bergerak pelan sebelum berhenti tidak jauh dari lapangan. Yatna menurunkan standar motor dan membuka helm, Langit dan Ivano segera turun. Remaja ambon itu menepuk pelan dada Langit.
“Beta suka dia, sangat keren!”
Langit mengerutkan kening, lalu melihat ke arah Yatna yang baru saja turun dari motor. Remaja itu kembali ke Ivano, memukul dadanya sambil menatap penuh peringatan.
“Tidak boleh,” Langit mengingatkan.
Ivano hanya mengedik bahu tidak peduli, tidak berniat menjelaskan kalau dia tidak ada maksud lebih. Yatna menghampiri setelah memastikan motor pinjaman itu tidak akan diketahui posisinya.
“Baiklah, kita mulai darimana?”
__ADS_1
Langit dan Ivano saling adu tatap, sebelum remaja ambon mengeluarkan secarik kertas. Surat itu ditulis dengan terburu-buru, tulisannya juga jelek, namun masih dapat dibaca.
“Terminal Peti Perak, pukul tujuh malam.” Ivano membaca isi surat keras.
Langit segera mengecek jam tangan, melihat angka enam tiga puluh berkedip di layar. Sementara itu, Yatna menatap sekitar, mencari sesuatu sebelum dia beranjak dan menghampiri salah satu pohon tinggi.
“Apa yang ale lakukan?” Ivano bertanya saat melihat gadis itu bersiap memanjat pohon.
“Mengecek,” katanya singkat dan dalam hitungan detik, gadis itu sudah berada di atas pohon.
Ivano bersiul nyaring, kagum dengan kelincahan Yatna. Di atas sana, manik coklat mengedar cepat, melihat beberapa posisi aman dan letak para penjaga. Setelah cukup memastikan kondisi aman dan rute, gadis itu melompat. Ivano hampir jantungan saat Yatna mendarat dengan kedua kakinya.
“Ale seperti kucing saja!” komentarnya.
Yatna menghiraukan komentar Ivano dan lebih memilih menjelaskan keadaan lapangan kontainer.
“Ada sekitar sepuluh orang yang menjaga di beberapa titik. Aku juga lihat ayah Ivano bersama seorang pria bertubuh besar, tapi tidak ada tanda-tanda anak kecil.”
“Wah! ale bisa melihatnya dari jauh? itu keren!” sekali lagi Ivano memberikan komentar.
Langit hampir memutar mata, tidak habis pikir dengan Ivano. Padahal belum lama emosi remaja itu meledak-ledak, sampai tidak mau mendengarkan kata-kata Langit. Dan kini, anak baru besar itu mulai bersikap terlalu santai.
“kau tidak dengar kata Yatna? tidak ada tanda-tanda anak kecil. Itu artinya, ayahmu berbohong, dia tidak menculik Dino dan Bayan.”
“Ba-bagus?” Langit menatap Ivano tidak mengerti. “Bagus karena dia tidak menculik adikmu?” tanyanya mencoba memastikan.
Ivano mengangguk, menghela nafas lega dan tersenyum tipis. “Setelah ale pikirkan lagi, bapa beta itu penakut. Seng mungkin bapa bisa menculik Dino dan Bayan, mereka dijaga ketat dan beta percaya pada Pak Yohan.”
“Lalu apa yang kita lakukan sekarang?”
Apa yang mereka lakukan sekarang, tidak. Apa yang Ivano ingin lakukan sekarang?
Remaja berkulit gelap itu memejamkan mata, ingatan masa lalu kembali hadir tanpa diminta. Kenangan pahit, kenangan menyakitkan yang selama ini ingin dia kubur dalam-dalam.
“Setiap beta memejamkan mata, beta selalu ingat bapa dengan ikat pinggang di tangannya. Beta ingat bapa melempar piring saat tidak ada makanan di meja. Atau pun menyuruh Dino dan Bayan untuk mencuri sebotol beer.”
Setitik air mata jatuh bersama isak kecil yang lolos dari bibir Ivano yang bergetar pelan. Langit dan Yatna, sama-sama mendengarkan, mereka tahu, tidak mudah bagi Ivano untuk menceritakan masa lalunya. Membuka kembali kenangan pahit sama juga dengan merasakan kembali perihnya luka di masa lalu, dan itu tidaklah mudah.
“Beta ingin semua berakhir, beta ingin buka lembaran hidup baru. Tanpa ada bapa, hanya beta, ade-ade, dan keluarga Serikat Nusantara.” Ivano menyeka air mata yang semakin deras dengan lengan baju. Maniknya menatap Yatna, tersenyum kecil. “Dan ale juga, Yatna.”
Gadis itu mengulum senyum tipis, “Terima kasih, Ivano.”
“Ale bisa panggil beta, Ano!”
Sejenak kedua remaja itu saling tatap, sama-sama melempar senyum, seakan meninggalkan Langit seorang.
__ADS_1
“Hei!” panggil Langit membuyarkan sesi tatap kedua temannya. “Jangan tinggalkan aku, fokus kawan!”
“Beta fokus. Jadi, kita serang mereka?”
Langit dan Yatna mengangguk. Ini akan jadi penyerbuan pertama dari tiga serangkai. Dan target mereka, adalah Mande.
Lampu mulai menyala satu demi satu, menerangi lapangan luas Terminal Peti Perak. Beberapa orang suruhan yang dibayar Mande berjaga di beberapa lokasi. Tiap lokasi terdapat tiga orang, dengan badan kekar dan tato. Mereka adalah preman daerah sini, cukup terkenal dengan jejak kriminal.
“Hei! kau masih punya rokok?”
“Sisa sebatang.” Jawab pria dengan badan lebih pendek dari temannya. Dia lalu memberikannya dengan enggan.
“Terima kasih. Setelah pekerjaan ini, aku akan membelikanmu rokok tidak hanya sebatang.”
Mereka berdua sibuk mengobrol, sambil menghisap tembakau dan memperhatikan sekeliling. Pekerjaan ini akan selesai jika sampai pukul sepuluh malam tamu Mande tidak juga datang. Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa orang yang ditunggu sudah mengintai mereka sejak sebelum matahari tidur dan bulan naik seutuhnya.
Langit memperhatikan sekitar, lalu bergerak dalam diam dan menyerang salah satu penjaga. Remaja itu memukul tengkuk, membuatnya pingsan, lalu menarik kedua kaki pria bertubuh kurus itu dengan hati-hati.
“Kemana perginya Asep? harusnya dia sudah kembali setelah memeriksa bagian yang lain.”
Kedua orang itu saling tatap, sama-sama merasakan keganjilan. Mereka segera memutar badan, namun sayangnya terlalu terlambat. Sebuah pukulan telak lebih dulu mengenai wajah mereka, menjatuhkan keduanya sekali pukul.
Suara siulan kecil terdengar, membuat Yatna dan Ivano menoleh dan mendapati Langit menyuruh mereka menyusul. Dua remaja itu segera berlari, tetap sehening mungkin, karena rencana yang mereka jalankan adalah tidak membuat keributan.
Mereka bertiga bergerak bersama, dengan Langit di depan, Yatna di tengah, dan Ivano di belakang. Saat sampai di belokan kedua, manik biru mengintip hati-hati, dan melihat ada dua penjaga sekitar lima meter dari mereka. Langit menengok ke belakang, menunjuk ke atas dan memberi isyarat untuk tetap diam.
Yatna dan Ivano mengangguk paham, kemudian Langit segera memanjat ke atas salah satu kontainer, dibantu dengan Ivano sebagai tumpuan. Setelah berhasil naik, Langit bergerak hati-hati dan mengeluarkan sebuah batu yang sempat dia pungut.
Batu itu dilempar untuk membuat pengalihan dan Langit berhasil menarik perhatian dua penjaga.
“Hei, suara apa itu?” salah satu penjaga bertanya.
Mereka segera bergerak untuk mengecek, dan kesempatan ini digunakan Yatna dan Ivano untuk berlari ke arah belokan berikutnya. Langit menunduk saat dua penjaga melewatinya dan segera menyusul ke dua temannya.
Setelah melewati penjaga terakhir, tiga remaja berhasil sampai ke titik pertemuan. Mande bertepuk tangan, menyambut kedatangan mereka yang muncul tiba-tiba dan tanpa adanya keributan dari para penjaga.
“Seperti yang diharapkan dari anak-anak yang sudah bangkit Darah Sukunya.” Manik hitam legam Mande tampak berkilat sesaat dan senyumnya padam ketika kembali berucap. “Sayangnya, kalian terlalu bodoh hingga tidak bisa membaca surat beta dengan baik.”
“Ivano! bapa sudah bilang untuk datang seorang diri!” Mande membentak Ivano dengan keras. “Ale seng sayang dengan ade-ade? atau sudah merasa hebat, sudah punya kuasa sampai seng nurut apa kata bapa?!”
Ivano menelan ludah susah payah, kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah.
“Beta tahu, ale berbohong.” Ivano berucap lamat-lamat.
Continue…
__ADS_1