SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 37 - Study Tour -


__ADS_3

Akademi Wilayah Indonesia Barat memiliki tradisi lama. Setelah satu bulan setelah penerimaan murid baru, akademi selalu membuat satu acara. Mereka akan membuat kegiatan belajar di luar kelas dengan mengunjungi suatu tempat. Kali ini pilihan akademi jatuh ke salah satu Serikat di Depok.


Anak-anak kelas satu sudah berbaris rapi sesuai kelas masing-masing. Mereka juga sudah membentuk kelompok terdiri dari empat orang. Langit tentu saja satu kelompok dengan Yatna dan Ivano. Hanya saja ada satu orang yang secara mengejutkan mengajukan diri untuk bergabung dengan mereka.


***


“Kalian masih kurang satu orang, bukan?”


Anak laki-laki berusia tiga belas tahun, dengan kulit putih, rambut hitam yang lebat dan sepasang alis tebal. Wajahnya tidak asing sejak hari ujian masuk bagi Langit dan Ivano. Namun dua sekawan itu tidak menyangka, remaja sombong menyebalkan itu menghampiri mereka lebih dulu.


“Boleh aku ikut gabung?” Malik bertanya, terlihat jelas dia gugup akan penolakan.


“Beta seng–”


“–Tentu!”


Langit dan Ivano sama-sama menatap Yatna tidak percaya. Sejak kapan gadis itu cukup dekat dengan Malik sampai menerima dia masuk ke kelompok. Sadar ditatap oleh dua temannya, Yatna memberikan senyuman lebar.


“Dengan ini kita tidak perlu kesulitan mencari anggota.” Melihat kedua temannya diam saja dan malah saling adu tatap, wajah gadis itu berubah sendu. “Apa kalian sudah ada niat mengajak orang lain? maaf, aku tidak tahu dan bertindak semaunya.”


“Tidak, tidak! bukan begitu!” Langit buru-buru mencari alasan. Manik biru meminta bantuan pada Ivano.


“–Kami hanya kaget!” Ivano ikut menimpali, “seng sangka Tuan Muda Malik mau gabung dengan kita.”


Ivano segera memukul mulutnya sendiri, dia tidak ada niat menyindir. Tapi memang di kepalanya sudah tertanam panggilan menyebalkan untuk Malik. Langit menyikut remaja ambon itu, membuatnya mengaduh dan menatapnya sengit.


“Benar juga, tidak ada masalah menambah Tuan Muda yang lain!” sambung Ivano tiba-tiba, tanpa melepaskan tatapan sengit dari Langit. “Beta sudah biasa hadapi Tuan Muda yang suka mengatur, menambah seorang lagi tidak jadi masalah untuk beta yang malang ini.”


Langit menunduk, merasa sudut hatinya tercubit mendengar penuturan Ivano. Dia sadar betul bahwa selama ini Langit kerap kali melarang Ivano atau mengatur temannya itu. Tapi, hei! dia melakukannya demi kebaikan sahabatnya sendiri.


“Kalau begitu masalah selesai. Biar aku berikan daftar anggota kita pada Bu Donna!” Yatna yang tidak peka dengan perang dingin antara Ivano dan Langit berujar ceria.


“Terima kasih, Yatna!” Malik melempar senyum tipis.


“Tidak masalah!”


Setelah kepergian Yatna, tiga anak laki-laki itu hanya diam, canggung. Malik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berpikir keras mencari topik pembicaraan. Anak laki-laki itu jarang memulai obrolan, selama ini orang lain yang mengajaknya bicara.

__ADS_1


“jadi…, kalian bertiga sudah berteman lama?”


Langit lebih dulu menaruh perhatiannya pada Malik. “Aku dan Yatna satu panti asuhan, dan aku baru kenal Ivano setelah masuk Serikat Nusantara.”


“Oh, jadi kau bukan anak kandung pemilik serikat?” malik segera menutup mulut, menyadari dia sudah berkata tidak sopan. “Maaf, maaf bukan maksudku–”


“–Tidak apa-apa, Malik. Aku juga tidak ada niat menyembunyikannya dan itu bukan masalah besar.” Langit tersenyum tipis, mencoba menenangkan Malik. “Lagi pula kenyataannya sekarang adalah aku sudah resmi jadi keluarga Sanjaya dan sebagai pewaris resmi.”


Malik terdiam sejenak, sebelum dia tersenyum ramah. “Benar sekali yang kau katakan.”


Ivano mendengus pelan, masih tidak suka dengan Malik. Terlebih remaja itu lagi-lagi menampilkan senyum palsu. Ivano tidak tahu apa yang dipikirkan Malik, perubahan sikapnya membuat Ivano menaruh curiga. Tidak mungkin seseorang dapat berubah begitu cepat tanpa ada alasan.


***


Setelah naik dan duduk di dalam bus, Ivano mengeluarkan secarik kertas. Kebetulan Langit duduk di sampingnya, membuatnya bisa langsung memberikannya. Manik biru mengerjap penasaran, dia memandang Ivano dan kertas di tangan bergantian.


‘Aku tahu soal Sabung Suku!’


Langit membulatkan mata, dia sontak melihat sekitar, berharap tidak ada yang melihat. Kemudian remaja itu segera berbisik pada Ivano.


Ivano mendekat ke telinga Langit, “Itu turnamen di dunia bawah.”


“Apa itu dunia bawah?” kening pewaris Sanjaya mengerut samar. “Aku tidak tahu kalau ada turnamen lain selain Piala Suku Dunia.”


“Beta juga baru tahu setelah beberapa minggu mencari tahu.” Ivano sekali lagi menengok ke belakang, takut ada yang mencuri dengar. “Dari yang aku ketahui, turnamen ini berbahaya, nyawa taruhannya. Dan bedebah itu ingin aku masuk sebagai salah satu pemainnya. Benar-benar gila!”


“Apa yang gila?” tiba-tiba saja Yatna menyahut. Gadis itu berdiri di belakang Langit.


“Astaga! kau mengagetkanku!” Langit dan Ivano sama-sama mengelus dada, kaget akan keberadaan Yatna.


“Ale ada perlu apa?” Ivano berusaha mengalihkan topik.


Yatna segera menyodorkan kedua tangannya, memberikan mereka berdua beberapa cemilan. “Aku dapat cemilan ini dari Ibu kantin. Kalau kurang, nanti minta saja ke aku!”


Ivano yang pada dasarnya suka makan, raut wajah kesalnya berubah sumringah. Dia lalu memilih makanan kesukaannya. Tidak peduli walau harus ribut dengan Langit. Yatna segera melerai dua remaja itu saat terjadi adu tarik hanya karena sebungkus roti.


“Langit, aku masih ada kalau kau suka roti itu.” Setelah mendengarnya, Langit akhirnya melepaskan tarikannya.

__ADS_1


Ivano menjulurkan lidah, mengejek dan mulai sibuk membuka camilan. Yatna terkekeh geli, dia segera kembali ke tempat duduknya. Mengambil dua roti dan memberikannya pada Langit.


“Jadi, apa kalian tidak mau berbagi cerita denganku?” Yatna bertanya setelah memberikan roti pada Langit. “Apa yang kalian bisikan sampai tidak sadar kedatanganku?”


Langit yang sudah membuka mulut, siap melahap roti segera tersenyum lebar. “Tidak ada, hanya hal bodoh yang Ivano lakukan.”


Remaja ambon yang tengah menggigit roti, menengok pelan. “Oh, benar! tadi malam beta bermimpi buruk, sungguh gila mimpi semalam!” katanya cepat.


“Ivano bermimpi dia menjadi seorang bapak yang sedang mengandung sembilan bulan!” Langit ikut menimpali.


Perkataannya itu membuat Ivano menoleh ke arahnya cepat. Menatap Langit seakan sanggup melubangi kepalanya dengan tatapan.


“Itu…, benar-benar mimpi gila,” alis Yatna naik sebelah dan mencoba menghibur remaja ambon itu. “Tidak usah dipikirkan, Ano. Itu hanya mimpi, laki-laki tidak bisa hamil!”


“Aha ha ha! benar, terima kasih Yatna!”


Suara pintu bus tertutup terdengar, Yatna segera kembali ketempat duduk. Sementara itu Ivano langsung menyikut perut Langit kesal.


“Hamil sembilan bulan? ayolah! tidak ada alasan lebih masuk akal?”


“Namanya juga mimpi, kau sendiri yang bilang gila.” Langit balas menyikut kesal, “Justru semakin gila alasannya, lebih masuk akal!”


Langit segera menyambar satu cemilan, dan Ivano mencoba merebutnya kembali. Keributan yang diperbuat mereka berdua membuat kesal murid di belakang mereka.


“Bu Donna, Langit dan Ivano berisik!” adunya pada salah satu guru paling menyeramkan seangkatan.


“Langit Sanjaya, Ivano Nafali! Kalian bisa diam tidak?!”


“Bisa bu!” sahut mereka berdua, seketika diam dan menunduk.


Yatna berusaha menahan tawa di belakang, sedikit tidak menyangka akan melihat Langit dapat bercanda seperti itu.


Butuh sekitar dua jam perjalanan untuk sampai ke tujuan. Serikat Harum berada di kota Depok, tepatnya di dekat cagar alam. Setelah mereka selesai berkeliling, Bu Donna mereka dapat menggunakan jam bebas untuk pergi ke cagar alam.


Berbeda dengan teman-temannya, Langit justru tidak sabar untuk berkeliling Serikat Harum. Dia sudah membuat daftar apa saja yang akan dia tanyakan pada staff di sana. Langit juga tidak sabar untuk tahu latihan seperti apa yang para jawara lakukan. Siapa tahu, dia bisa membuat janji adu tanding antara Serikat Nusantara dan Serikat Harum.


Continue…

__ADS_1


__ADS_2