SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 39 - Taman Hutan Raya -


__ADS_3

“Menjadi Jawara bukan hanya dilihat dari kekuatannya. Kalian harus punya dasar yang kokoh, menguasai berbagai teknik, dan yang terpenting adalah kalian memahami kemampuan kalian dengan baik.” Setio berdiri di depan anak-anak, duduk memperhatikan setiap kata-katanya dengan baik.


“Contohnya, seorang Jawara Jawa memiliki ciri khas bertarung dengan keris. Mereka juga memiliki kekuatan untuk mengendalikan senjata sesuai keinginan. Kemampuan tertinggi Jawara Jawa, mampu mengendalikan seratus keris. karena itu kadang mereka disebut dengan…”


“Jawara Seratus Tangan!” anak-anak melanjutkan penuh semangat.


Setio menepuk tangan, senang dengan antusiasme murid akademi.


“Apa di sini ada calon Jawara Jawa?” ketika Setio bertanya, sontak anak kelas 1-A menengok ke satu arah.


Malik menelan ludah gugup, tidak siap dengan tatapan tiba-tiba. Remaja itu akhirnya mengangkat tangan. Setio tersenyum lebar, dia lalu meminta Malik untuk maju ke depan.


“Senang rasanya bertemu saudara sesuku,” Setio segera merangkul Malik. “Menapa jenengan mboten kawraten maringi tuladha ing kanca ne jenengan.”


Langit segera mendekat ke arah Ivano, berbisik pelan. “Artinya apa, No?”


“Gimana kabar kamu,” jawab Ivano singkat.


“Benar itu artinya? kok pendek sekali.” Langit menatap Ivano ragu.


“Beta ini suku ambon, mana tahu bahasa Jawa. Ale jang ngadi-ngadi tanya artinya ke beta!” Ivano memberikan sentilan di kening Langit.


Remaja itu mengaduh pelan, mengusap dahinya yang perih sambil berdecak sebal. Bu Donna terkekeh pelan, kebetulan beliau berdiri di dekat Langit dan Ivano. Wanita paruh baya itu dengan senang hati memberitahu mereka.


“Artinya, apa kau tidak keberatan, kasih contoh ke teman-temanmu.”


Langit mengangguk paham, “Terima kasih, Bu Donna!” ucapnya lagi sambil tersenyum lebar.


Malik menghela napas pelan. Dia mengambil keris dari sabuk pinggang, lalu mengarahkan di depan dada. Malik konsentrasi penuh, lalu membuka telapak tangan, melepaskan genggamannya pada keris berwarna perak. Seluruh anak berseru saat keris itu melayang lima senti dari telapak tangan Malik.


Setio bertepuk tangan, diikuti anak-anak lain.


“Bagus, aku tidak sabar melihat kemampuanmu setelah lulus nanti, Malik.” Setio menepuk punggung Malik riang.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak Setio.”


Setelah itu Malik kembali ke barisan anak-anak. Acara study tour siang ini selesai dan mereka akan pergi ke cagar alam.


Bus pariwisata kembali menyusuri jalan raya, setelah meninggalkan area Serikat Harum. Hanya butuh setengah jam untuk sampai ke tujuan berikutnya. Cagar Alam Depok atau nama resminya Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas, merupakan bagian dari ruang terbuka milik Pemerintah Kota Depok. Tempat ini dijadikan tempat rekreasi oleh sebagian warga lokal.


Cagar alam ini terbagi menjadi tiga bagian, pertama adalah hutan perawatan, kedua pemanfaatan, dan ketiga konservasi. Murid akademi hanya akan berada di pinggir Hutan Raya, tempat warga setempat bersantai, piknik, dan jogging di sore hari. Bus pariwisata memasuki area wisata dan segera menepi. Bu Donna mewanti-wanti anak didiknya untuk tidak memasuki hutan terlalu jauh.


Langit turun terakhir setelah Ivano, Yatna dan Malik. Manik biru remaja itu mengerjap, ini pertama kali baginya datang ke Taman Hutan Raya. Jujur saja, pewaris keluarga Sanjaya berhasil dibuat tercengang. Sejauh mata memandang penuh dengan pepohonan, udara lebih sejuk walau panasnya mentari masih menyengat.


“Langit, beta bagi uang!” Ivano tiba-tiba mengeluarkan tangan. Matanya berbinar tidak sabar. “Cepatlah! ada yang jual corn dog, beta mau beli!”


Yatna terkekeh saat Langit berdecak, tapi masih mengeluarkan dompet. Gadis itu malah meniru sikap Ivano, ikut mengeluarkan tangan.


“Aku juga mau!”


Manik biru itu mengerjap, tangannya bahkan sudah mengambang dengan selembar uang. Langit menatap Ivano dan Yatna bergantian, lalu menyeringai lebar. Kertas berwarna merah muda jatuh ke tangan sang gadis.


“Terima kasih, Langit!” Yatna berseru riang, sesekali melompat sambil meledek Ivano.


“Ale jang banyak drama,” Langit menepuk bahu Ivano. “Ale tahu sendiri, kita sebagai laki-laki bisa apa di depan perempuan?” Langit berujar, meledek dengan bahasa ambonnya yang masih pas-pasan.


Ivano menepis tangan Langit, masih bertahan dengan dramanya. Malik segera mengeluarkan dompet, lalu memberikan selembar kertas warna merah pada Ivano. Dua sahabat itu bergantian melihat uang dan Malik. Ditatap seperti itu, membuat alis tebal pemiliknya mengkerut samar.


Belum sempat Malik menarik kembali uangnya. Ivano lebih dulu menyambar, senyum remaja itu merekah.


“Beta terima uangmu, Tuan Muda!” Ivano melompat riang di depan Langit dan Malik. “Ada untungnya punya dua Tuan Muda. Oi, Yatna!” lalu pergi menyusul Yatna yang sudah di depan pedagang corn dog.


Langit menggelengkan kepala, tertawa kecil. “Kau tidak akan memanjakannya, jika sudah kenal tabiatnya. Tapi, terima kasih!”


“Kau tidak perlu ganti uangnya!” Malik segera mendorong tangan Langit saat remaja itu memberikannya uang. “Anggap saja…, rasa terima kasih karena sudah membiarkan aku masuk grup kalian.”


Sejenak manik biru itu menatap lekat sosok Malik. Langit menaruh kembali uangnya, dan ikut berjalan santai, menyusul Yatna dan Ivano.

__ADS_1


“Apa kau tidak bertanya-tanya?” Langit melirik saat Malik mengajaknya bicara. “Aku yakin, kau heran dengan perubahan sikapku.”


“Kesan pertama itu penting, dan jujur saja aku dan Ivano tidak suka denganmu.” Langit menjawab jujur, “Tapi memang, aku sedikit heran dengan sikapmu belakangan ini. Sayangnya kita tidak cukup dekat untuk saling bertegur sapa, bukan?”


Malik tersenyum masam, menggaruk belakang kepalanya karena gugup. “Ya, kau benar. Sikapku buruk, dan aku tidak minta kau untuk memahami atau memaafkanku.”


Langkah keduanya berhenti, tepat sekitar lima meter dari Ivano dan Yatna. Malik berbalik, menatap lurus mata biru Langit. Sepasang iris secerah cakrawala, dan luasnya samudra. Indah sekaligus dalam, kau tidak akan bisa membaca isinya sepenuhnya.


“Tapi kalau boleh, bisakah kita berteman?” Tanya Malik, mengulurkan tangan, dan menatap Langit gugup.


Tidak sampai sedetik, tangan Malik sudah diraih Langit. Remaja itu menjabatnya erat dengan senyuman tulus yang baru kali ini Malik dapatkan.


“Dengan senang hati!”


Malik tertegun sesaat sebelum tersenyum miring. Anak ini terlalu naif, atau memang sudah sifatnya tidak menaruh curiga. Padahal Langit dan Malik memiliki latar keluarga yang mengharuskan diri untuk bersikap waspada, penuh penilaian, dan tidak mudah percaya. Tapi, hei! bukankah memang Malik mengharapkannya. Berteman tanpa melihat status, keuntungan, dan latar belakang.


“Ayolah, kalian serius sedang bahas kerjaan di sini?” tiba-tiba Ivano datang dengan tangan penuh corn dog berbagai variasi. “Kita sedang study tour, dan sedang piknik. beta seng paham dengan pikiran para tuan muda.”


Langit hanya tertawa, dia mengabaikan celetukan Ivano dan memilih fokus menentukan varian apa yang hendak dia makan. Yatna berdiri di samping Malik dan memberikannya satu porsi corn dog.


“Jadi, kau akhirnya berani mengajaknya berteman?”


Malik agak terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka, Yatna mampu memahami gelagat anehnya belakangan ini. Malik mengangguk, menerima cemilan yang terbuat dari sosis dan tepung itu.


“Itu bagus. Aku hampir menyeret paksa jika kau tidak kunjung berani bicara.” Malik terbatuk, makanannya hampir saja salah masuk lubang. “Bersikap menyebalkan hanya karena tidak tahu harus bagaimana bertindak, berbicara. Aku jelas tahu bagaimana frustasinya, karena salah satu temanku mirip denganmu.”


Sejenak Malik dapat merasakan perasaan sedih dari pancaran mata Yatna. Sedetik kemudian hal itu sirna, tergantikan dengan tatapan ceria.


“Sekedar mengingatkan, aku tidak akan tinggal diam jika kau macam-macam pada Langit.”


Tanpa sadar tubuh remaja itu tegang, keringat dingin turun perlahan di tengkuknya. Yatna berkata riang dengan senyuman lebar. Namun aura dari gadis itu berhasil membuat Malik merinding.


Malik mengangguk paham, dan Yatna kembali seperti seorang gadis remaja pada umumnya. Riang, naif, dan menyenangkan.

__ADS_1


Continue…


__ADS_2