SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 30 - Reuni -


__ADS_3

Acara penerimaan murid baru Akademi Wilayah Indonesia Barat, digelar di pagi hari yang cerah. Anak-anak mengenakan kemeja putih dengan bawahan biru dongker. Di saku mereka terdapat lambang akademi berupa segitiga dan ditengahnya terdapat huruf WIB.


Anak-anak masuk teratur ke dalam aula sekolah yang sangat besar dan luas. Bangunan itu tampak seperti cangkang telur berwarna silver dari luar. Dari 400 peserta ujian masuk, akademi ini hanya menerima 250 peserta. Dan dari banyaknya anak-anak baru, Langit berhasil menjadi perwakilan murid baru untuk melakukan pidato.


Langit menghembuskan nafas kasar, berdiri berbaris dengan perasaan gugup bercampur senang. Ivano berdiri di belakangnya, menahan tawa melihat tuan muda sekaligus teman karibnya gelisah, seperti cacing kepanasan.


“Berikutnya adalah kata sambutan dari Kepala Sekolah, Bapak Benyamin Saidi.”


Mendengar nama yang tidak asing itu, Langit mengangkat kepala. Manik biru membulat sempurna, melihat sosok yang selama ini hanya dapat dilihat di televisi. Dia adalah Benyamin Saidi , jawara dari suku betawi, sekaligus pemenang kejuaraan Piala Suku Dunia tiga tahun lalu.


Seorang pria berumur pertengahan tiga puluhan, rambutnya hitam ikal dengan senyum ramah.


“..., semuanya adalah aspek dari pertemuan. Setelah kalian berhasil lulus ujian masuk yang ketat.”


Astaga, Langit mencoba menyadarkan dirinya. Dia tidak sadar telah mengabaikan hampir separuh isi pidato kepala sekolah. Itu semua dikarenakan dirinya yang terlalu larut dalam kekaguman melihat sosok idolanya.


“..., belajar memang keharusan. Namun membangun hubungan bersama teman dan menikmati masa sekolah juga tidak kalah penting. Karena itu, semoga Akademi Wilayah Indonesia Barat menjadi tempat, dimana apa yang kalian harapkan bisa kalian dapatkan di sini.”


Riuh tepuk tangan terdengar usai pidato dari kepala sekolah berakhir. Langit menjadi salah satu dari banyaknya murid yang bertepuk tangan dengan menggebu-gebu. Ivano hampir ingin menghentikan temannya itu.


“Perwakilan murid baru, Langit Sanjaya.”


“Baik!”


Langit segera keluar dari barisan begitu namanya dipanggil. Ivano memandang punggung temannya dengan bangga. Maniknya tanpa sengaja melihat sosok Malik, memandang kesal dan cemburu ke arah Langit. Membuat remaja ambon itu menyeringai, merasa puas.


Setiba di depan kepala sekolah, untuk sejenak Langit seperti lupa caranya bernafas. Sosok Benyamin terlihat semakin berkilau ketika jarak mereka hanya terpaut dua ubin. Remaja bermata biru itu menelan ludah gugup, kemudian membuka kertas berisi pidato yang sudah disiapkan.


“Bersama dengan kehangatan sinar mentari pagi ini, kami 250 murid berdiri pada upacara masuk Akademi Wilayah Indonesia Barat. Saya mewakili kelas ingin menyampaikan terima kasih kepada Anda semua atas upacara luar biasa hari ini. Hati kami saat ini diluapi harapan dan ketakutan.”


“Namun lebih dari perasaan itu, saya merasa diberkahi dapat masuk sekolah yang menghargai kebebasan, kemandirian, dan tekad diri. Dan yang tidak kalah pentingnya, kepada para guru dan senior… Kami sebagai murid baru sangat mengharapkan bimbingan dan pengawasan Anda semua.


Suara tepuk tangan untuk yang kedua kalinya dipagi ini terdengar. Langit berhasil membawakan pidato sebagai perwakilan murid baru dengan baik. Tidak terbata, dan tidak ada kesalahan kecil. Langit menghembuskan nafas lega dan memberikan salam hormat kepada Benyamin sebelum turun dari atas podium.


“Kerja bagus, Tuan Muda.” Ivano melemparkan ledekan kecil.


“Terima kasih, Ajudan.” dan dibalas Langit dengan senyum lebar.


Setelah menyelesaikan upacara murid baru, para guru segera membimbing anak muridnya menuju kelas masing-masing. Langit dan Ivano menuju ke lantai dua di bangunan barat laut. Mereka segera mengambil tempat di meja ketiga dari depan. Dan ternyata, keberuntungan mereka sedikit diuji, karena Malik Waruk juga berada dikelas yang sama.

__ADS_1


Malik memasuki kelas dengan langkah penuh percaya diri, senyumnya tetap terjaga dan sesekali bertegur sapa. Ivano duduk di samping Langit, menatap remaja beralis tebal itu dengan alis terangkat. Sepertinya ada yang berbeda dengan Malik, seperti dia lebih kalem?


“Mungkinkah dia malu, karena dia hanya peringkat dua?” Ivano lebih bertanya pada dirinya sendiri, namun Langit menimpali.


“Atau dia tidak mau cari gara-gara denganmu, yang seorang Jawara?”


“Seng mungkin, jam terbang ale lebih banyak dari beta.”


Langit terkekeh pelan, “Kau tahu ini bukan soal itu.”


“Tepat sekali!” Ivano mengedik bahu tidak peduli.


Setelah kelas hampir terisi penuh, seorang anak datang terakhir. Dia adalah remaja perempuan dengan rambut hitam kecoklatan, panjang rambutnya, memakai bandana hitam menutupi kening. Sorot matanya tajam dan penuh perhitungan, mengedar ke seluruh ruangan sebelum berhenti tepat ke meja ketiga dari depan.


Ivano lebih dulu menyadari tatapan dari remaja itu. Dia balik menatap sengit, seakan memberitahu bahwa Ivano tidak segan memulai perkelahian, tanpa memandang dia perempuan atau laki-laki. Namun seakan tidak terintimidasi, gadis itu melangkah semakin dekat ke arah Langit dan Ivano.


“Hei, kau si anak beasiswa itu, bukan?” namun langkahnya terhenti, terhalang seorang remaja laki-laki berkulit gelap.


“Minggir,” suaranya rendah, dan datar.


“Kau juga peringkat ke-tiga. Ada sedikit tips dan trik untuk kami?” Sayangnya anak laki-laki itu tidak kunjung pergi. Dia malah memanggil teman-temannya dan mengelilingi gadis itu.


Suasana kelas yang semula cerah, seketika berubah tegang. Beberapa anak berbisik, saling dorong, mencoba mencari orang yang mau menghentikan tiga anak itu. Malik memperhatikan dari kejauhan, dia tidak mau ikut campur, ataupun berhubungan dengan gadis itu. Tetapi mengingat citra dirinya hancur di hari ujian masuk, akhirnya memutuskannya untuk membantu.


“Hei, kalian henti–”


Sayangnya, gadis itu tidak membutuhkan bantuan Malik.


Suara Brak! terdengar dari tubuh remaja yang terbanting ke lantai. Gadis itu menghembuskan napas kesal, menarik kembali tinjunya. Seluruh anak terkejut, menyaksikan perkelahian kecil terjadi di hari pertama masuk sekolah.


“Aku tahu kau bodoh, tapi ternyata kau juga tuli.”


“Apa kau bilang?!” anak yang habis dipukul itu berteriak marah.


“Benar kataku, kau tuli. Sudah ku bilang minggir, masih saja menghalangi!” Tanpa ada rasa takut, gadis itu menyahut santai.


Wajah remaja laki-laki itu sudah semerah kepiting rebus. Dibantu kedua temannya, dia berdiri, hendak membalas pukulan gadis di depannya sebelum sebuah suara menghentikannya.


“Berapa kali, teh Salsa bilang. Tidak semua masalah selesai dengan tinju.”

__ADS_1


Seluruh anak sontak menoleh ke arah wakil murid baru. Langit berdiri dengan senyuman lebar, dia segera menghampiri dan memeluk gadis itu. Ivano bahkan hampir menjatuhkan rahangnya, saking kagetnya.


“Lama tidak bertemu, Yatna!”


Gadis itu tersenyum hangat, sepasang manik coklat berkilat menahan tangis sejak dia menjejakan kaki di kelas ini.


“Senang bertemu denganmu lagi, Langit!”


Tiga remaja yang mencari masalah dengan Yatna, sontak mundur. Mereka tidak ingin menjadi musuh dari pewaris Serikat Nusantara. Beberapa anak sibuk saling berbisik, bertanya-tanya hubungan antara Langit dan Yatna. Dan Malik, remaja itu kembali duduk, memperhatikan mereka berdua lekat-lekat.


***


“Jadi bagaimana kabarmu?” Langit bertanya tidak sabar.


Langit segera mengajak Yatna untuk duduk bersamanya, dia bahkan tega menendang Ivano untuk memberikan tempatnya. Remaja ambon itu mendengus kesal, namun menurut dan pindah duduk ke belakang.


“Baik, dan lebih baik lagi karena akhirnya kita bertemu!”


Remaja bermata biru itu tersenyum lebar, namun sedetik kemudian rautnya berubah sendu. Ada banyak hal yang ingin Langit ceritakan. Tetapi benaknya masih menjaga satu pertanyaan yang terjaga selama ini.


“Mengapa kau tidak lagi berkirim surat?”


Sejenak hening, bahkan Ivano memilih menjauh dan menyibukan diri. Merasa obrolan mereka berdua akan lebih dalam. Yatna sendiri tidak langsung menjawab, seperti mencoba merangkai kata. Sebelum dia malah menghela napas pelan dan menatap lurus ke arah manik biru itu.


“Ada banyak hal yang terjadi sejak aku diadopsi. Karena itu aku tidak bisa berkirim surat, apa kau mau memaafkan temanmu ini?”


“Benar, kau diadopsi bersama Nyoman. Lalu mengapa anak-anak itu bilang kalau kau tidak punya orangtua?”


“Soal itu…,” Yatna menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus mengatakannya seperti apa. “Bisakah kita tidak membahasnya? aku belum siap cerita.”


Langit menatap lekat-lekat sosok teman masa kecilnya dulu. Gadis periang, dan sedikit tomboy itu, kini tumbuh tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya saja kekosongan selama tiga tahun tidak bertemu tetap terasa. Ada rahasia, ada cerita yang tidak ingin Yatna ceritakan padanya.


“Baiklah, jadi kau berhasil membangkitkan Darah Suku?” Langit mengganti topik pembicaraan.


“Tentu saja, kalau tidak, aku tidak mungkin diterima.” Akhirnya gadis itu kembali tersenyum.


Dan itu lebih dari cukup bagi Langit.


Continue…

__ADS_1


__ADS_2