
Susah payah Ivano melepaskan cengkraman pria besar di depannya. Remaja itu memukul, mencakar, sampai menendang, namun semua sia-sia. Sampai teriakan Langit terdengar samar-samar, pria itu akhirnya melepaskannya. Ivano segera jatuh ke tanah, terbatuk beberapa kali.
“Ano!” Yatna berseru menghampiri, bahkan menyeretnya mundur beberapa meter.
Mande memperhatikan dengan raut ngeri, melihat bagaimana Langit melangkah mendekat. Sepasang mata biru dingin dengan tatapan seakan mampu membunuhnya dengan sekali jentikan tangan. Pria itu melangkah mundur, ketakutan dan dia berteriak pada pria yang sudah dibayar mahal untuk jadi penjaganya.
“Apa yang ale lakukan?! serang anak itu! kenapa malah diam saja?!”
“Heh! percuma, Langit sudah mengutuknya!” Ivano menyahut dengan suara serak.
Pria besar itu diam membeku, hanya matanya yang bergerak liar sebagai tanda bahwa dia berusaha untuk bergerak. Namun kesaktian ucapan suku palembang tidak diragukan lagi. Masih untung Langit hanya mengutuknya diam, sayangnya Mande tidak tahu. Dan pria tua itu termasuk manusia bodoh.
“Aargh!” Mande berteriak keras, berlari ke arah Langit dengan tongkat besi.
Laki-laki itu mengayunkan tongkat dengan gerakan asal dan banyak celah. Langit tidak perlu susah-susah menghindar. Remaja itu menendang perut Mande, membuatnya terbanting ke tanah dan mengerang pelan.
“Jangan pernah dekati Ivano dan adik-adiknya lagi!” Langit berucap lamat-lamat, penuh intimidasi.
“Ale tidak bisa melarang beta! mereka anak beta! mereka milik beta dan beta bebas melakukan apapun pada mereka!” Mande berusaha bangkit, kembali menyerang Langit. “Harusnya mereka berterima kasih sudah beta urus! harusnya mereka membalas jasa-jasa beta yang sudah susah payah membesarkan mereka!”
Mande meludah sembarang, menunjuk Ivano yang masih lemas dengan tongkat besi. “Tapi lihat! anak itu malah durhaka pada bapaknya! hanya karena…, dia membangkitkan darah suku! harusnya dia berterima kasih pada beta karena menikahi ibunya yang penyakitan itu! dia bisa punya darah murni karena beta!”
Langit selalu percaya bahwa di dunia ini tidak ada orang tua yang tidak mencintai anak mereka. Bertemu dengan Fuji dan Regi semakin menambah keyakinannya, bahwa pada dasarnya orang tua akan selalu menerima anak mereka, baik anak itu darah daging mereka atau bukan. Mereka pasti memiliki alasan atas setiap tindakan yang dilakukan. Namun malam ini, Langit menyadari betapa naif pemikirannya itu.
Remaja bermata biru itu menoleh ke arah sahabat karibnya, Ivano. Manik hitam yang selalu bersinar ceria, penuh jenaka, kini terlihat sendu, kosong, dan penuh luka. Dia beranjak dengan tertatih, mendekat ke arah Mande.
“Jadi selama ini apa yang beta lakukan, belum cukup bagi bapa?” bibir Ivano bergetar ketika bertanya. “Beta bangun subuh-subuh, ke pasar untuk cari kerja sama pedagang. Siang beta kerja sebagai tukang cuci piring di tempat makan, dan sore beta keliling desa jualan kue. Pulang beta masih harus urus rumah, bersih-bersih, masak untuk bapa dan ade-ade sementara bapa…”
Ivano menarik nafas berat dan menyeka air mata yang jatuh. “Bapa hanya tiduran depan televisi! sibuk berjudi, sibuk minum-minum! dan sibuk memukuli beta saat uang yang beta kasih tidak cukup untuk beli minuman sialan itu!”
“Karena memang itu yang harusnya ale lakukan!” Mande balik berteriak marah. “Ale pikir karena siapa hidup beta jadi berantakan? karena ale! ibumu itu mati tanpa meninggalkan apa-apa selain tiga beban hidup! harusnya beta bisa memulai hidup baru kalau bukan karena kalian–!”
__ADS_1
Mande jatuh tersungkur setelah sebuah pukulan mengenai rahangnya. Ivano menatap Yatna tidak berkedip, kaget dengan tindakan gadis itu. Remaja ambon itu lebih kaget lagi ketika mendapati Langit memeluknya sambil menangis.
“Aku pikir sudah kenyang bertemu sampah selama ini,” kata Yatna sambil meniup keningnya kasar. “Tidak aku sangka, masih ada bangkai busuk sepertimu di dunia ini.”
Tidak lama kemudian, suara sirine mobil polisi terdengar di kejauhan. Mande dengan wajah biru lebam dan berdarah terlihat panik, berusaha melarikan diri. Yatna segera menarik kerah laki-laki itu, tidak membiarkannya kabur. Langit dan Ivano menoleh ke arah cahaya merah berkedip sebelum mobil polisi terlihat.
“Mau kemana? sudah dijemput kok, malah lari.”
“Le-lepaskan beta! lepaskan beta anak sialan!”
Yatna menghentak tangan, membuat Mande terbatuk karena tercekik. Gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu, berbisik pelan.
“Siapa yang menyuruhmu? sebut atau aku putus lidahmu itu!” ancaman Yatna benar-benar mengejutkan Mande.
Tubuh pria itu bergetar ketakutan, dia sadar betul bahwa gadis ini tidak main-main. Entah mengapa aura yang dipancarkan jelas berbeda dari sebelumnya. Mande yang tidak kunjung bicara membuat Yatna geram, bersiap menarik lidah pria itu.
“Beta seng tahu!” teriak Mande buru-buru tapi malah ditampar oleh Yatna.
“Jangan teriak. Sebut namanya pelan-pelan dan jangan berani berbohong.”
Yatna diam sejenak, tidak percaya dan hendak menarik lidah Mande saat seseorang memanggilnya. Gadis itu terpaksa berhenti, menengok ke arah Langit yang menatapnya.
“Polisi sudah sampai, kita serahkan urusan ini ke mereka.”
Yatna mengangguk paham, tersenyum manis, lalu melepaskan kerah Mande. Dia membiarkan dua petugas menahan pria itu, memborgol dan membawanya paksa ke mobil polisi. Yatna menghampiri Ivano dan Langit, melihat teman ambonnya masih dalam kondisi tertekan.
“Tuan Muda!”
Langit segera menoleh ketika namanya dipanggil. Seorang pemuda datang menghampiri, Yohan menatap pewaris keluarga Sanjaya cemas. Manik hitamnya kini beralih pada Ivano, remaja itu menunduk dengan mata merah.
“Untunglah kalian baik-baik saja,” ujar Yohan sambil tersenyum tipis. “Mari ke mobil, saya antar pulang ke asrama.”
__ADS_1
“Pak Yohan,” Ivano memanggil sambil menatapnya. “Apa ade-ade baik?”
Yohan berjalan menghampiri Ivano, menatap lekat pada remaja yang kini sudah setinggi dadanya. Masih segar ingatan pemuda asal Sumatera Selatan itu saat tubuh kecil Ivano bergetar namun tidak dengan tatapannya.
Pria itu menepuk pundak Ivano, “Percayalah, kadang aku heran mengapa energi mereka tidak habis-habis.”
Ivano tertawa kecil mendengarnya, Dino dan Bayan memang punya semangat tinggi. Kadang dirinya juga lelah menemani mereka bermain. Yohan memegang kedua pundaknya dan menatap lurus ke arah Ivano.
“Karena itu kau tidak perlu khawatir. Belajarlah dengan giat, bermainlah sepuasmu, dan datang temui adik-adikmu dengan senyuman, kau paham?”
Ivano mengangguk, akhirnya senyuman lebar khas dirinya merekah. Yohan ikut tersenyum, mengacak pelan rambut hitam ikal itu sebelum balik badan menatap dua remaja lainnya.
“Sebenarnya aku ingin memarahi kalian karena bertindak gegabah.” Yohan berujar dengan nada tegas, ekor matanya melirik Langit. Remaja itu sontak tersentak dan menunduk ketakutan. “Tapi kali ini aku maafkan, selama kalian mau segera pulang dan beristirahat.”
Langit menghela nafas lega, kentara sekali hingga membuat Ivano dan Yatna tertawa. Yohan menatap Yatna sejenak, dan sang gadis sadar akan tatapan itu segera mengenalkan dirinya.
“Halo, kita bertemu lagi. Aku Yatna dari Panti Asuhan Bakung.”
“Benar, kau gadis kecil itu. Senang bertemu denganmu lagi, nak.” Yohan mengulurkan tangan, mengajak Yatna berjabat tangan. “Dan apa boleh aku asumsikan kalau kau juga murid Akademi?”
Kali ini Ivano yang menyahut, “Dia murid beasiswa dengan peringkat ke-tiga. Dia hebat sekali Pak Yohan dan beta sudah meminta Langit untuk mengajaknya bergabung dengan Serikat Nusantara. Beta yakin dengan kehadiran Yatna, serikat kita semakin kuat dan mungkin bisa masuk babak semi final!”
“Woah~ pelan-pelan Ivano.” Yohan terkekeh melihat anak itu bicara dengan sekali tarikan nafas. “Semua keputusan tetap ada di tangan Yatna. Dia bebas memilih untuk bergabung atau tidak.”
Langit dan Ivano sontak menoleh ke arah Yatna, keduanya memberi tatapan memohon. Gadis itu tanpa sadar mundur selangkah, tidak enak hati namun terpaksa menolak.
“Aku ingin fokus belajar, dan belum ada minat untuk masuk serikat.”
“Ale yakin tidak mau masuk? ale jadi tidak bisa sering ketemu Langit, loh!”
Sejenak Yatna terdiam, enggan juga memikirkan dia tidak bisa sering bertemu Langit. Yohan yang menyadari kesulitan Yatna, segera menghentikan Langit dan Ivano untuk tidak menekan gadis itu.
__ADS_1
“Baiklah, pembahasan ini bisa dilanjut kapan hari. Hari sudah semakin larut dan kalian semua ada kelas pagi besok. jadi, kita pulang sekarang.”
Continue…