
Tepat di area parkir gedung Serikat Harum, bus pariwisata berhenti. Anak-anak mulai berisik ingin segera turun. Seorang wanita paruh baya dengan bibir mengerucut dan berkacamata segera berdiri, siap memberi instruksi. Bu Donna, wali kelas 1-A dengan suara lantang menarik perhatian anak didiknya.
“Diharapkan untuk turun dengan teratur, kemudian langsung berbaris. Tidak ada saling menyalip, ataupun keluar dari barisan setelah ini. Paham, anak-anak?”
“Paham, Bu!” seluruh anak-anak menjawab serentak.
Bu Donna lebih dulu turun, kemudian barisan kanan menyusul turun sampai ke bangku terakhir. Setelah itu barulah barisan kiri turun dengan teratur. Langit turun dari bus dan manik biru sudah mengerjap kagum pada bangunan Serikat Harum.
Gedung ini hampir seluas Serikat Nusantara, bentuknya minimalis dengan paduan warna hitam putih. Kaca besar dan lebar diletakan di bagian depan. Membuat bentuknya seperti helm raksasa tapi lebih panjang. Rerumputan juga dipangkas rapi. Ada pohon dengan daun tipis yang ditanam di beberapa tempat, sehingga memberi kesan asri. Langit langsung jatuh hati dengan lingkungan serikat ini.
Puas memperhatikan sekitar, remaja laki-laki itu segera bergabung dengan barisan. Kemudian dipandu oleh wali kelas masing-masing, mereka memasuki lobi utama.
Dinding serta plafon berwarna putih gading dengan banyaknya lampu tertanam di atas. Lantainya berwarna coklat seperti kayu, terlihat bersih. Rombongan murid kelas satu Akademi diantar menuju ruang latihan para jawara.
Sebuah ruangan besar dan luas dengan dinding putih dan lantai berwarna hijau lumut. Di sana sudah ada beberapa jawara yang tengah berlatih tanding, latihan dasar, dan pemanasan.
Seorang pemuda berumur sekitar dua puluh lima tahun menghampiri rombongan study tour. Pria itu memiliki tubuh tinggi, berisi, dan ototnya sudah terbentuk sempurna. Langit diam-diam memberikan nilai selayaknya seorang pelatih.
“Selamat pagi anak-anak, kenalkan. Beliau adalah salah satu Jawara Serikat Harum, Kak Setio.” Bu Donna memperkenalkan.
“Selamat pagi, adik-adik!” sapa Setio ceria.
Anak-anak membalas sapaan penuh semangat.
“Selama kalian berada di sini, aku yang akan menemani kalian dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian.”
“Bagaimana rasanya menjadi Jawara?!” salah satu anak bertanya penuh semangat.
“Apakah Kak Setio sudah pernah bertemu dengan Benyamin?!” Anak lain ikut bertanya.
“Bagaimana caranya agar aku bisa masuk Serikat?!”
Semakin lama banyak anak-anak yang melemparkan pertanyaan. Membuat Setio sedikit kewalahan menjawab. Sementara itu Ivano diam-diam menarik Langit untuk mundur sampai ke barisan belakang. Remaja itu mulai berbisik, hendak melanjutkan percakapan mereka sebelum terputus karena kehadiran Yatna.
__ADS_1
“Ale tidak akan percaya ini,” Ivano menggigit bibir bawahnya, seakan tidak sabar untuk bercerita. “Menurut informasi yang beta dapatkan, Sabung Suku sebenarnya adalah sebuah permainan berbahaya di dunia bawah.”
Langit segera menghentikan Ivano untuk bicara lebih lanjut. “Bisa kau jelaskan dulu, apa itu dunia bawah?”
Ivano hampir menepuk dahi, lupa bahwa teman karibnya ini terlalu polos. “Dunia bawah itu tempatnya orang-orang korup, penuh tindak kejahatan. Seperti pencucian uang, penipuan, transaksi jual-beli barang ilegal dan masih banyak lagi. Waktu kita tidak akan cukup, jika harus beta jelaskan satu-satu!”
Langit segera menyikut Ivano saat nada suara temannya itu meninggi. Untungnya tidak ada orang yang tertarik dengan isi obrolan mereka berdua. Seluruh anak lebih tertarik bertanya dan mendengar cerita dari Jawara Serikat Harum.
Ivano kembali berkata, “Intinya, Sabung Suku itu sejenis permainan yang dimainkan sepuluh pemain dan terbagi dari dua tim. Para penonton Sabung Suku kebanyakan para penguasa di dunia bawah. Mereka menjadikan permainan itu sebagai ajang pamer kekayaan dan kepemilikan pemain terkuat.”
“Apa maksudmu dengan kepemilikan pemain terkuat?”
Sejenak Ivano terdiam, ragu mengatakannya. “Ini terdengar kejam, karena maksudnya adalah seperti ale dan beta saling adu ayam. Membiarkan dua ekor ayam itu saling menyerang sampai salah satu mati atau kalah. Namun bedanya, bukan ayam yang diadu, melainkan manusia.”
“Maksudmu…, mereka mengumpulkan Jawara untuk diadu dan kematian adalah hukuman jika kalah?” Langit bertanya lamat-lamat.
Ivano juga mengangguk pelan, keduanya menelan ludah. Astaga, mereka tidak sadar kalau selama ini nyawa mereka hampir terancam. Langit tiba-tiba saja teringat dengan Sarda, penculik tiga tahun lalu. Laki-laki itu juga hendak menjual Ivano dan Langit ke Sabung Suku. Dan kejadian lalu, ayah Ivano juga ingin membuat anaknya bermain di permainan berbahaya itu.
“Gila…, sungguh gila!” Langit benar-benar dibuat tercengang.
***
Sebuah pukulan keras melayang, membanting seorang remaja hingga jatuh terduduk. Pipi putihnya merah, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Remaja beralis tebal segera duduk berlutut, tidak berani mengangkat wajah.
“Berani sekali kau membuatku malu!” bentakan keras dilontarkan dari seorang pria paruh baya dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. “Mau ditaruh dimana wajah, Bapak! sudah membuat keributan di depan banyak orang, malah pulang tanpa membawa ranking satu!”
“Ma-maafkan aku, Pak! Malik salah, Malik bersalah!”
Anak laki-laki itu segera sujud di bawah kaki sang ayah, meminta maaf. Suara decakan keras membuatnya tersentak, makin ketakutan.
“Mengapa kau sangat berbeda dengan Hayan, kakakmu?!” Kaki panjang itu menepis tangan Malik, hampir mengenai wajahnya. “Kau ini cuma bisa bikin malu keluarga, tidak berbakat! dan hanya membuat sakit kepala.”
“Masuk ke kamar! jangan keluar dan introspeksi dirimu!” Pria paruh baya itu membuka pintu ruang kerjanya. Memanggil kepala pelayan yang sudah bekerja pada keluarganya puluhan tahun. “Jangan beri dia makan dua hari!”
__ADS_1
Pria tua membungkuk hormat. “Baik, Tuan Besar.”
Malik masih berdiam diri di atas karpet beludru milik sang ayah. Tangannya terkepal erat, berusaha menahan air mata. Dia tidak akan menangis, Malik sudah bersumpah tidak akan menangis.
“Tuan Muda. Mari, saya antar ke kamar.”
“Tidak perlu,” Malik segera berdiri, berjalan keluar dari ruang kerja sang ayah.
Berjalan melewati lorong panjang yang sepi dan dingin. Matanya merah, pipinya berdenyut perih, dan hatinya terluka untuk kesekian kali.
“Malik, kau berdarah!” seorang pemuda menghampirinya dengan raut khawatir.
Dia adalah hayan Waruk, putra sulung keluarga Waruk dan kakak laki-laki Malik.
“Ayah lagi-lagi memukulmu, kali ini masalahnya apa?” Hayan bertanya cemas.
“Ini tidak ada urusannya dengan kakak. Tinggalkan aku sendiri,” Malik melangkah meninggalkan Hayan.
“Tidak bisa, setidaknya biarkan aku mengobati lukamu.” Hayan menyusul, hendak meraih tangan adiknya.
Malik menepis tangan itu, giginya terkatup rapat. “Pergilah! ini semua gara-gara kakak! aku lelah dibandingkan denganmu terus menerus!”
“Malik itu tidak benar. Ayah seperti itu karena mengharapkan banyak hal darimu. Karena kau berbakat, kau hebat!”
“Setiap hari, setiap bulan, setiap tahun aku berusaha tapi itu semua tidak cukup!” Malik tertawa, setitik air mata akhirnya jatuh. “Aku sudah berusaha mengembangkan diriku, aku capek! dan kakak sama saja seperti ayah, tidak mau mengerti aku.”
“Malik memang begitu cara ayah mencintai kita. Dia hanya ingin yang terbaik untuk kita!”
Remaja itu sekali lagi menepis tangan Hayan. Dia sudah muak dengan keluarga ini, persetan harga diri, Malik bahkan tidak bisa memiliki teman tulus tanpa memandang statusnya. Semua kehidupan ini terasa palsu.
Tiba-tiba saja sosok Langit dan Ivano terlintas di kepalanya. Dua remaja seumuran dengannya namun sangat berbeda. Mereka menjadi Jawara di usia muda, salah satunya seorang pewaris serikat terbaik di Indonesia. Seorang lagi hanya seorang anak yatim piatu, namun persahabatan mereka terlihat kuat.
Malik iri.
__ADS_1
Dia juga ingin punya teman yang bisa diajak senang dan sedih bersama. Bukan seorang teman tersenyum penuh kepalsuan. Maupun mengikuti apa saja kata-katanya seperti seorang bawahan.
Continue…