SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 35 - Genting -


__ADS_3

Dua pasang mata menatap dua orang berbeda umur di depan. Seorang anak berusia delapan tahun tengah berdebat dengan sang ayah. Asal permasalahan adalah kurangnya lembaran uang yang dibawa sang kakak.


Pertama suara sang ayah pelan, bicara baik-baik walau beberapa kali memukul meja. Tak lama sang kakak berujar pelan-pelan, namun tamparan di pipi dia terima. Setelah itu suara bentakan, makian, sampai beberapa benda melayang begitu saja.


Dua anak kecil di pojok kamar saling berpelukan, tubuh keduanya gemetar. Tidak ada yang berani bicara, atau melerai pertengkaran hebat di depan mata. Mereka hanya mampu menunggu, sampai sang kakak datang menghampiri, memeluk, dan mengatakan semua baik-baik saja.


Namun malam itu, semua tidak lagi bisa baik-baik saja. Sang ayah mengamuk, memukuli anak sulungnya dengan ikat pinggang, dengan benda tumpul, tidak peduli wajah anak laki-lakinya memar dan bibirnya sobek.


“Abang….” lirih sang adik.


Suara itu mengalihkan perhatian sang ayah, membuat pria itu beranjak dari tubuh anak sulungnya dan mendekati dua anaknya yang lain.


“Hentikan, bapa…,” anak sulung memohon dengan nafas putus-putus.


Namun pria itu tidak berhenti, malah mengangkat botol kosong bekas alkohol. Sang ayah telah dibutakan oleh amarah dan setengah sadar. Jalannya sempoyongan, tatapannya gelap dan tidak fokus. Dia menyeringai, menatap dua putra kecilnya yang ketakutan.


“Kalau saja kalian semua tarada, hidup beta seng begini!”


Pria itu mengayunkan botol dengan sekuat tenaga, seakan hendak menghancurkan hal paling menjengkelkan dalam hidupnya. Botol siap menghantam kepala sang anak, sampai suara jeritan memekakan telinga menghentikannya.


Raungan dari seorang nenek tua menyeramkan, berbadan kurus, dan salah satu kakinya berbentuk kaki kuda. Sang anak sulung menatap sosok yang berdiri di sampingnya dengan rahang hampir jatuh. Sebelum dia tersadar, lalu susah payah bangkit untuk menyelamatkan kedua adik laki-lakinya.


Semenjak hari itu, tiga anak berumur dibawah sepuluh tahun mulai hidup di jalanan. Ini lebih baik, setidaknya tidak ada yang memukuli mereka setiap malam. Ini lebih baik, setidaknya mereka tidak kelaparan. Dan lebih baik karena mereka selalu bersama.


Ivano menghembuskan nafas pelan seakan tengah menarik kembali ingatan lama itu. Kini manik hitamnya memandang lurus ke arah Mande, pria yang dulu pernah dia anggap ayah.


“Ale seng butuh ade-ade, ale ada perlu dengan beta.” Ivano berujar lantang.


Mande tertawa, kembali menepuk tangan. “Benar, bapa seng butuh mereka. Yang bapa butuhkan adalah kamu, Ivano!”


Ivano mengerjap tidak mengerti, apa lagi yang pria ini inginkan darinya.


“Kemari, nak. Bapa kenalkan pada orang yang lebih hebat, berkuasa, dan bisa memberikan kita banyak uang, lebih dari Serikat Nusantara tawarkan.”


Ivano tertawa pendek, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Bodoh sekali dia tidak memahami tujuan Mande.

__ADS_1


“Benar, tidak ada yang lebih penting daripada uang bagi bapa.”


“Itu tidak benar, anakku!” Mande mulai melangkah maju. “Di Sabung Suku, ale juga akan mendapatkan kejayaan. Lebih daripada seorang pemenang Piala Suku.”


Kening Langit mengerut dalam. ‘Sabung Suku’ kata-kata ini tidak asing baginya. Dimana dia pernah mendengarnya.


“Hentikan omong kosong ini, dan serahkan diri bapa. Kita akhiri hubungan ini selama-lamanya.”


Mande tiba-tiba berteriak, urat lehernya sampai timbul akibat tekanan emosi yang melonjak. “Ale harus ikut dengan bapa. Ale harus masuk ke Sabung Suku.”


“Beta seng mau!”


“Bapa bawa ale dengan paksaan, tangkap dia!” Seru Mande.


Bersamaan teriakan Mande, pria besar di sampingnya berjalan ke arah Ivano. Tidak hanya dia, dari dua arah, muncul lima penjaga lain. Langit dan Yatna memasang posisi siaga, punggung saling bertemu, menjaga satu sama lain sementara mata waspada musuh di depan.


Dua pria menyerang, satu membawa tongkat besi panjang dan seorang lagi membawa parang kayu. Pria kurus itu mengayunkan besi secara vertikal namun berhasil ditahan oleh Langit. Namun mereka bukanlah preman sekadar nama, pengalaman mereka dalam pertarungan jalanan lebih banyak ketimbang Langit.


Pria kurus itu menarik kembali tongkatnya, kemudian memutarnya dengan lincah, dan berhasil menghantam kepala Langit. Pukulan berikutnya mendarat di paha, lalu di tulang kering, membuat remaja bermata biru menjatuhkan kakinya.


Yatna disisi lain ternyata lebih baik kondisinya, dia selalu berhasil menghindari setiap serangan dari pria bertubuh gemuk. Parang kayu melesat di atas hidung ketika gadis itu berhasil mengelak. Kemudian Yatna balik menyerang, dengan ilmu silat bercampur karate, gadis itu memukul telak rahang keras lawannya. Membuat badan besar itu sedikit limbung sebelum balik menyerang.


Ivano, remaja ambon itu melawan pria besar dengan otot kekar dan kepala botak. Mirip seperti salah satu aktor aksi yang pernah dia tonton bersama Langit. Pria itu menyerang dengan tangan kosong, namun Ivano yakin, pukulannya pasti sakit sekali. Dan pemikiran itu segera dibenarkan saat pukulan berat mendarat di lengan Ivano.


“Aduh! sialan, sakit sekali, bung!” Ivano mengaduh sambil mengibaskan lengan.


“Jangan cengeng, Jawara. Tanganmu belum patah,” pria besar itu menyahut santai.


“Wow, beta masih butuh tangan. Tidak sepertimu, ale tidak butuh hidung, bukan?” usai bertanya dengan nada usil, Ivano memberikan pukulan keras di wajah lawannya. Dan setidaknya itu berhasil, tenaga Ivano bukanlah isapan jempol.


Pria besar itu terhuyung ke belakang, memegang hidungnya yang patah dan berdarah. Dia kemudian meraung seperti seekor beruang coklat, menyerang Ivano membabi buta. Ivano merunduk, berguling ke kanan, mengelak tiap serangan dan menendang ulu hati lawannya.


“Anak sialan!” raungnya lebih keras penuh amarah.


“Ale pernah mendapat makian lebih buruk dari itu.” Ivano mengedik bahu dan merunduk saat pukulan kembali menyerangnya.

__ADS_1


Pukulan telak mengenai dagu Langit saat dia lengah. Entah apa yang terjadi padanya, mungkin lelah bertanding, namun yang pasti remaja itu merasa hari ini bukan hari terbaiknya. Entah sudah berapa kali, Langit mendapatkan pukulan dan tidak berhasil memukul balik.


“Hah! aku sempat takut saat dengar kau itu jawara hebat. Tapi ternyata omong kosong!” pria tua mengayunkan kembali tongkat besi, memukul dua kaki Langit hingga terjatuh.


“Langit, fokus!” Yatna berseru.


“Aku fokus, Yatna!” Langit balik berseru.


Remaja itu meludahkan sisa darah, menyeka bibir dan menghela nafas kasar. Jika tubuhnya tidak mau bergerak, maka biarkan kata-katanya yang memerintah. Langit menunjuk pria kurus itu dan mengutuknya.


“Tidur kalian berdua!”


Dan tidak sampai sedetik, dua pria termasuk pria kurus jatuh tertidur. Langit tersenyum penuh kemenangan. Sementara itu Yatna masih bergelut dengan tiga pria lainnya.


Gadis itu kesal bukan kepalang. Setelah dia berhasil menyerang dan selalu mengelak. Dua pria itu memanggil temannya yang tengah menghajar Langit untuk membantu. Seriuslah, tiga pria dewasa melawan anak gadis? sangat jantan.


“Kau mati, gadis kecil!” teriak pria berkumis dengan tongkat bisbol di tangan.


“Tidak hari ini, Tuan Kumis.” Yatna memukul hidung dan menendang perut sebelum dia menggunakan badan pria itu sebagai tumpuan, dan melakukan salto ke belakang.


Dua orang berusaha menangkapnya, dan gadis itu meluncur di sela kaki salah satu dari pria tersebut, kemudian menendang kaki dan memukul wajahnya. Pukulan telak, satu tumbang, sisa dua.


“Hei, kalian tidak lupa denganku?” tiba-tiba Langit muncul di belakang, mengejutkan salah satu pria sebelum memukulnya keras..


Yatna menghajar pria yang tersisa, menendang selangkangannya dan membenturkan kepala mereka berdua. Langit yang menyaksikan ikut merasa ngilu.


“Aw…, ayolah, Yatna!”


“Kenapa, kau juga mau coba?”


Langit buru-buru menggeleng, kemudian mereka berdua balik badan untuk melihat bagaimana keadaan Ivano. Sialnya, keadaan teman mereka ternyata lebih buruk dari yang dibayangkan. Sekitar lima meter, Ivano tengah melayang di udara dengan leher dicekik sepasang tangan besar. Nafas bocah itu mulai putus-putus, namun masih berusaha melawan.


“Ivano!”


Continue…

__ADS_1


__ADS_2