
" Kamu layak bahagia, Safarah. Lanjutkan hidupmu. Secepatnya aku akan mengurus surat perceraian kita. Cari lelaki yang benar-benar mencintai dan menyayangi. Carilah lelaki yang tidak takut menentang ibunya. Lupakan lelaki sepertiku yang tidak mampu membahagiakan mu."
Aku hanya bisa menangis dan menangis meratapi kisah cintaku.
" Mas... pergilah dari sini.. istrimu menunggu di rumah." Pinta ku lemah. Meski hati dan pikiranku tidak sejalan, namun hubungan kami sudah kandas sejak ijab qabul mas Virhan dan Fatimah.
Mas Virhan mengusap kepalaku.. selanjutnya ia berpaling dariku, meninggalkan ku dalam kelemahan yang tiada bertepi.
***
Setelah dua hari menjalani rawat inap, akhirnya aku boleh pulang. Lagi-lagi Nadia pasang badan. " Nad, mbak janji akan selalu mengingat jasamu sampai mbak mati." Ucapku dalam hati.
Taksi sudah menunggu, Nadia menuntunku untuk masuk kedalam taksi.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa terdiam. Begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan dari setiap cobaan yang menerpa hidupku.
Taksi berhenti di depan kafe. Kami turun. Setelah membayar taksi, kami bergegas masuk.
" Mbak mau istirahat?" Tanya Nadia padaku.
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum.
" Ingat mbak! Jangan banyak pikiran. Kalau mbak sudah sembuh, kita kelola kafe ini sama-sama. Kita cari kesibukan yang bermanfaat dan bisa mendatangkan cuan. Nanti kalau cuannya sudah banyak, kita beli rumah sesuai impian kita, semangat!! " Ucap Nadia.
Aku tersenyum meninggalkan Nadia.
" Nad .. Kalau luka hati mbak sudah sembuh...Mbak akan buktikan pada dunia kalau mbak adalah wanita yang kuat dan tegar." Ratap batinku pilu.
Aku memilih berbaring di ranjang. Tubuhku masih lemah. Handphone ku masih tergolek di atas meja sejak beberapa hari yang lalu.
Penampilan benar-benar amburadul. Bahkan baju yang kupakai seperti baju orang yang ku pinjam karena kedodoran.
" Allah...butuh berapa lama supaya aku bisa sembuh?" Menetes juga air mataku.
***
Aku merenung di ruang tamu. Kupandangi album di ponselku. Album yang berisi foto Safarah dan diriku.
Safarah dengan segala kesabarannya. Safarah dengan segala kebaikan dan kepatuhannya.
Hanya di sini aku bisa tenang menatap wajahnya. Hanya di ponsel ini yang masih menyimpan semua tentang Safarah.
Sesuai janjiku pada Safarah, aku sudah mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan. Dengan cara seperti ini, Safarah bisa menentukan rencana hidupnya. Tugasku sudah selesai mendampingi Safarah, meski di dalam setiap sujudku, selalu aku minta di persatukan kembali pada Safarah suatu hari nanti. Meski mustahil, tapi aku percaya akan kekuatan doa.
Siang itu...kala aku baru saja merenggut keperawanan Fatimah, baru saja siang itu kami merasakan surga dunia sebagai sepasang suami isteri. Sebuah panggilan masuk, dan ternyata itu dari Nadia. Nadia mengabarkan jika Safarah pingsan, dan dia panik harus meminta tolong pada siapa.
Tanpa basa basi ku tinggalkan Fatimah yang masih tergolek di ranjang. Bahkan aku tidak sempat meminta izin pada Fatimah. Kubiarkan ia dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya.
Bergegas aku memakai baju dan segera memacu mobilku menuju kafe Safarah. Benar saja, Safarah ku pingsan.
Wajahnya memucat, bibirnya kering, bahkan rambutnya acak-acakan,.
Ku gendong Safarah ku, namun tubuhnya tidak lagi memiliki bobot.
Ku bawa Safarah ke klinik. Safarah ku dehidrasi, semenjak pulang dari rumah mama, menyaksikan kami menikah, Safarah tidak makan dan minum.
__ADS_1
Kata Nadia, Safarah memilih mengurung diri di kamar.
" Maaf aku Safarah..."
Ku nyalakan sebatang rokok, ku hisap dan ku hembuskan dalam-dalam.
Haruskan aku menentang mama demi mengembalikan senyum Safarah?
Entahlah....
Fatimah menyambutku dengan wajah masam kala aku baru pulang dari klinik. Bahkan ia tidak bertanya sama sekali.
" Fatimah... Jika kamu keras.. mungkin aku bisa lebih keras. Safarah tidak seperti itu dalam menghadapi ku. Safarah akan menjadi air jika aku menjadi api."
" Mas..."
Panggilan Fatimah mengejutkanku. Dengan sigap ku tutup ponselku.
" Ada apa?" Tanyaku singkat.
" Aku boleh berbicara?"
" Boleh. Duduklah."
" Kamu dari mana?"
" Aku terdiam, bingung harus jujur atau malah berbohong. Kalau jujur pasti Fatimah yang akan ikut terluka. Jika berbohong..akan banyak lagi kebohongan yang akan sering kulakukan.
" Apa ada masalah pada mbak Safarah?" Tebak Fatimah.
" Mbak Safarah sakit?"
" Ya."
" Sakit apa?"
" Sudah sembuh sekarang."
" Apa aku boleh menjenguknya?"
Aku menggeleng, " tidak perlu Fatimah. Yang Safarah butuhkan saat ini adalah memyembuhkan lukanya. Dia tidak butuh kita, tidak butuh aku atau pun kamu apa lagi mama." Jelasku.
Fatimah terdiam. Mungkin ada secuil hatinya yang tersingung oleh kata-kata ku. Tapi itu lebih baik jika hanya secuil. Sedangkan Safarah? Bukan hanya hatinya, seluruh hidupnya merasa tersakiti karena mama.
Mulai detik ini aku berjanji akan menjauh dari kehidupan Safarah. Memang berat diawal, tapi aku percaya..akan mudah jika diniatkan.
Menjauhi Safarah bukan berarti lupa mendoakan. Nama Safarah tak luput dari doa yang kusebutkan. Aku sudah tidak bisa menjaganya, jadi melalui jalur langit aku meminta agar Allah sendirilah yang menjaganya, aku juga mendoakan Safarah agar selalu murah rezeki, panjang umur, sehat selalu, dan aku meminta kesempatan kedua agar suatu saat nanti kami di persatukan kembali, meski rambut kami sama-sama sudsh putih, atau tubuh kami yang mulai keriput. Tapi aku berharap doaku di jabah oleh Allah. Aku ingin mengganti masa luka delapan tahun saat bersama ku, menjadi delapan tahun yang menyenangkan di sisa umurku nanti.
***
Tidak terasa, usia pernikahan ku dengan Fatimah sudah berjalan enam bulan.
Kehidupan rumah tangga kami, normal-normal saja. Mama dan Fatimah tidak pernah terlibat cekcok. Mereka akur bak lem dan prangko. Kebutuhan pribadi ku terpenuhi dengan baik oleh Fatimah. Tidak ada yang buruk di mataku, Fatimah nyaris sempurna, pelan-pelan aku mula membuka hati untuknya. Belum seratus persen tapi itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Posisi Safarah masih bertahta di tempatnya.
__ADS_1
***
Huek..huek...
Terdengar dari kamar mandi seperti orang muntah.
Tok..tok...
" Fatimah..." Panggilku.
Namun tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.
Aku menunggu sang empu keluar, berdiri dengan gelisah. Fatimah adalah wanita tahan banting, tidak pernah sakit. Paling kencang cuma flu biasa saja.
Pintu kamar mandi dibuka. Fatimah berjalan sambil memegang perutnya,
" kamu kenapa?"
Dia hanya menggeleng lemah, " enggak."
Suaranya lemah, wajahnya juga sedikit pucat, " kita ke Dokter?"
" Tidak perlu, mas."
Ia memilih duduk di pinggir ranjang sambil menutup wajahnya.
Karena bingung, akhirnya aku meminta bantuan mama.
Mama masih asyik menyiram tanamannya di kebun belakang. Sejak aku menikah dengan Fatimah, mama memiliki hobi baru, yaitu bercocok tanam. Sepertinya mantu kesayangannya itu, memiliki hobi yang sama dengannya.
" Ma.."aku menepuk bahu mama.
Mama sedikit terkejut, " belum berangkat kerja?"
" Belum."
" Terus mau ngapain? Minta uang jajan?"
" Bukan, ma. Fatimah sakit."
" Sakit apa? Sekarang dimana?" Mama langsung meletakkan gembor ( alay seperti cerek besar yang fi gunakan untuk menyiram tanaman).
" Dikamar."
Mana langsung masuk ke kamar u, mendapati Fatimah yang menunduk sambil memijit dahinya.
" Kamu kenapa, nduk?"
" Pusing, mual ma." Jawab Fatimah.
Mata mama berbinar-binar, bahkan kini mama tersenyum bahagia. Anek! Menantunya sakit kok malah senang.
" Nduk... jangan-jangan...kamu ..."
Hayo...ada yang tahu enggak nih?
__ADS_1