
Tok..tok..tok..
Jendela kaca mobil di ketuk oleh Fatimah.
Aku menurunkan kaca, " sudah siap?" Tanyaku.
" Sudah mas. Boleh aku masuk?"
" Tentu.."
Aku membuka pintu mobil, Fatimah melenggang masuk.
" Mas gak pamit?" Tanya Fatimah.
" Iya, sebentar ya." Aku turun dari mobil. Ini adalah kesempatan emas. Safarah terkejut melihat aku turun.
" Safarah..." Aku mengulurkan tangan.
Safarah diam sejenak, lalu dia meraih tanganku.
Ku genggam tangan mungil Safarah.
Mengecupnya berkali-kali hingga Safarah menjadi salah tingkah.
Berat rasa hatiku meninggalkan Safarah disini. Melihat tubuhnya yang jauh lebih kurus membuat hatiku terkadang ingin berontak, tapi...janjiku pada papa membuat aku harus berfikir ulang kembali untuk meninggalkan mama.
" Bye Safarah..." Ingin rasanya aku mengecup bibir bibir manis Safarah yang sudah lama tidak tersentuh.
" Bye mas.." Safarah berusaha melepas genggaman tangannya.
" Malu sama Fatimah." Ucapnya lagi.
Aku mengernyitkan kening, kami masih sah suami istri, apa dia sudah lupa?
Safarah meninggalkanku tanpa kata, masuk ke dalam rumah.
Aku pun segera masuk ke dalam mobil
" sudah mas?" Tanya Fatimah dengan wajah datar.
Aku hanya mengangguk, perasaanku campur aduk hari ini. Jika tidak ingat mama, mungkin aku lebih memilih bermalam bersama Safarah.
" Antar aku pulang ya, mas." Pinta Fatimah.
Aku hanya mengangguk, melajukan mobilbdengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan aku tidak tertarik untuk membahas apa pun pada Fatimah. Untungnya Fatimah mengerti keadaanku. Dia lebih memilih diam. Mungkin juga dia sama sepertiku, berada di posisi yang sulit.
***
Demi mencari kesibukan, supaya otakku tak lagi memikirkan mas Virhan. Aku mencoba menggeluti usaha baru. Aku menjual bawang goreng. Aku menitipkan bawang goreng milikku dari warung ke warung. Dan usaha ini sudah berjalan selama tujuh hari. Dan aku berharap respon masyarakat baik dengan usaha ku ini.
Semua ku kerjakan sendiri menggunakan tanganku. Dari mengupas hingga mengirisnya dan menggoreng lalu mengepaknya. Sesekali Nadia membantu jika kafe tidak terlalu ramai.
Siang ini, ketika aku baru saja mengantarkan bawang goreng ke warung-warung, aku di kejutkan dengan kedatangan mas Virhan dan Fatimah.
Ada apa mereka datang berdua? Adakah hal yang serius? Aku sibuk bertanya-tanya sendiri.
Meski aku masih cemburu melihat suamiku semobil dengan wanita lain tapi aku mencoba untuk memupuk rasa sabar yang besar didalam hati. Aku berusaha bersikap saja, meski kobaran api cemburu memanas di dalam hati.
Mas Virhan dan Fatimah telah menghilang dari pandangan mata. Aku memutuskan untuk masuk. Dengan pandangan buram, ku ayunkan langkah kaki menuju peristirahatan ternyaman, yaitu di kamar.
Ya Allah...sampai kapan engkau menguji kesabaran hamba mu ini? Aku lelah ya Allah....
***
Surat undangan pernikahan sudah sampai di tanganku. Dua hari lagi mas Virhan resmi menjadi suami dari Fatimah.
Huft! Ku pandangi kertas berwarna biru, terdapat foto mas Virhan tersenyum berdua bersama Fatimah.
Lagi-lagi luka ku menganga.
" Mbak jadi hadir?" Tanya Nadia sambil membersihkan meja.
__ADS_1
" Menurut kamu?"
" Kalau mbak tidak merasa baik-baik saja, lebih baik tidak datang." Nadia memberikan sarannya.
" Nanti mbak fikirkan lagi, ya. Mbak masuk dulu. Mau istirahat." Ucapku berbohong.
Sampai kapan aku begini? Istirahat yang bagaimana? Nyatanya setiap malam aku tidak bisa tidur. Mataku tetap terjaga kala pagi menyongsong. Bahkan sekarang mataku sudah menghitam. Hampir sama seperti mata panda.
Sekarang, bajuku semuanya kebesaran. Efek berat badanku yang banyak susut.
Entahlah!
***
Huft! Setelah seharian berkutat dengan bawang akhirnya selesai juga. Aku mulai mengemas kedalam beberapa wadah. Mudah-mudahan banyak yang laku hari ini.
" Nad, mbak pergi dulu ya..." Pamitku pada Nadia.
" Hati-hati mbak..." Sahut Nadia.
Aku mengangkat jari jempol kearah Nadia.
Aku sengaja duduk di pinggir jalan. Menunggu angkot langgananku lewat.
Namun dari kejauhan ada mobil yang melaju pelan dan akhirnya berhenti tepat di depanku.
" Hai.. yuk naik!"
Aku mendongak ke arah kaca jendela mobil yang terbuka.
" Mas Virhan? "
" Naik yuk!" Ajaknya.
Aku menggeleng lemah, " Terima kasih, mas. Nunggu angkot saja."
" Naik...atau aku batal menikah?" Ancamnya.
Dengan berat hati aku naik kedalam mobil mas Virhan.
Mas Virhan tersenyum penuh kemenangan.
" Mau kemana?" Tanya mas Virhan. Matanya melirik kearah keranjang yang ku bawa.
" Mau nganter ini mas." Aku menunjukkan setoples bawang goreng padanya.
" Buka usaha baru?"
" Coba-coba, mas. "
" Semoga sukses ya..."
" Aminn..terima kasih doanya, mas."
Aku memberi tahu alamat yang akan kami tuju.
Setelah selesai mengantar bawang goreng, " kita jalan-jalan dulu yuk?"
" Jalan kemana? Kamu loh dua hari lagi menikah." Aku mengingatkan.
" Terus ada masalah?"
" Kalau ada yang lihat bagaimana?"
" Kamu istriku, sayang..."
" Hampir jadi M-A-N-T-A-N." Sindirku.
Mas Virhan mengusap kepalaku yang tertutup hijab. Wajahnya berubah sendu.
" Maafkan mama ya, yang."
__ADS_1
" Jangan terus meminta maaf.. mama tidak salah. Aku yang salah."
" Ah. Safarah...sejak dahulu kamu selalu mengalah pada mama. Maafkan aku ya..."
" Mas... Jangan sedih. Sebentar lagi kamu akan bahagia. Percaya padaku." Sahutku memberi semangat pada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami wanita lain.
Mas Virhan memberhentikan mobilnya di taman kota. " Turun yuk!"
Tanpa banyak bertanya, aku mengikutinya.
" Mau sate?"
" Mau."
" Tunggu disini." Mas Virhan pergi ke tempat penjual sate.
Tidak lama ia membawa dua piring sate dan dua gelas es teh.
" Hemm... Wangi."
" Lapar ya.." godanya.
" Hehehe..." Aku hanya bisa cengar cengir tapi tidak mirip kebo di sawah ya...
" Makan yang banyak! Bila perlu tambah lagi." Ucap mas Virhan sambil memasukkan suapan sate ke mulutnya.
" Nanti di kira rakus lagi "
" Kamu kurusan loh, yang. Lihat bajumu kedodoran."as Virhan menunjuk baju yang kupakai.
" Sok tahu banget sih? Aku loh sudah langsing.
" Tapi dulu tidak kutilng darat, Safarah."
" Kutilang darat apa, mas? Kamu kira aku burung? Hah?"
" Kurus, tinggi, langsing, dada rata hahaha...." Mas Virhan tertawa terbahak-bahak, untung saja tidak sampai tersedak makanan.
" Huhu..dasar!" Makiku sebal.
Disela-sela kami bercanda, ponsel mas Virhan berbunyi, dia melihat sejenak.
" Siapa mas?"
" Mama."
" Angkat dong mas."
" Aku sedang ingin bersama kamu tanpa ada yang ganggu, Safarah."
" Tapi mengangkat telepon dari mama juga penting, mas."
"Oke...sebentar ya." Mas Virhan menjauh dariku.
Sesekali aku mencuri pandang pada lelakiku yang sedang menerima telepon dari mamanya. Dari gurat wajahnya, ia seperti menahan jengkel.
Mas Virhan berjalan mendekat kearah ku.
" Sudah mas?"
" Sudah." Jawabnya dengan raut wajah berubah.
Dia kembali memegang ponselnya, menghidupkan lalu menekan tombol mati.
" Mengapa dimatikan?" Tanyaku keheranan.
" Aku tidak mau diganggu hari."
" Memangnya mama bilang apa, mas?"
" Seperti biasalah, Virhan kamu dimana? Sudah mau menikah kok malah kerja. Ah. Sampai kapan aku bis sabar menghadapi mama, Safarah. Demi mama, terlalu banyak yang ku pertaruhkan." Curhatnya padaku.
__ADS_1
" Bukankah ibumu surgamu?"