
" Mama mau ke Jogja? Ke rumah eyang?" Tanyaku terkejut.
" Iya, mama mau sebulan disana."
" Lama banget? Lalu Virhan bagaimana ma?" Tanyaku kebingungan.
" Kan ada Fatimah? Sudah punya istri kok masih bingung." Sahut mama jengkel.
" Cepat ganti baju!" Perintah mama.
Aku masuk ke kamar, ada Fatimah yang juga akan bersiap-siap. Tanpa malu-malu Fatimah melepas dasternya di hadapanku.
Kulit mulus nan putih terpampang nyata didepan mata ku.
Sebagai lelaki normal, lagi-lagi mataku tidak berkedip menatapnya.
Ah... Fatimah...apa yang ada dipikiran mu saat ini?
Fatimah dan Safarah jelas berbeda.
Meski delapan tahun sudah kami menikah, tapi aku masih ingat kala pertama kali aku membawanya kerumah ini. Meski aku dan Safarah sudah menikah, tapi ia masih malu-malu untuk memakai baju di hadapanku.
Lalau aku dihadapkan pada fatimah yang bar-bar.
Otakku mendadak ngelantur, mungkin karena sudah lama tidak mendapat transferan energi dari seorang wanita.
" Mas, ngapain berdiri disitu?"
" A-aku mau mengambil baju." Gila, mengapa aku menjadi gugup?
Fatimah tersenyum mendekat ke arahku.
Tiba-tiba saja, cup! Bibir Fatimah mendarat bebas di bibirku.
Apa-apaan ini? Mengapa kesannya aku yang dilecehkan?
Masih belum puas, Fatimah ******* bibirku. Lincah sekali Fatimah, sungguh berbeda dengan Safarah ku.
Jika bersama Safarah, aku adalah pemegang kendali, namun mengapa bersama Fatimah aku bak anak culun?
" Vir..Fat.. " panggilan mama menghentikan aktivitas senam bibir kami.
" Iya, ma... sebentar." Sahut Fatimah.
Fatimah tertawa kecil saat menatap wajahku. Dia terlalu pandai menggodaku.
Fatimah memberikan baju dan celana padaku. Setelahnya ia memakai jilbab dan keluar dari kamar.
" Ya Allah...." Gumamku pelan.
***
Kami sudah berada di jalan raya, lagi-lagi aku merasa aneh. Sejak kapan mama mau duduk di kursi kedua?
Saat aku bersama Safarah, mama selalu duduk di sampingku saat kami keluar bersama. Lalu bersama Fatimah? Mama tanpa ribet langsung duduk di kursi kedua. Apa yang salah pada Safarah ku? Kasihan sekali Safarah ku dulu... Tidak mendapatkan keadilan dari mama.
__ADS_1
Tanpa terasa kami sudah memasuki bandara, aku melambaikan tangan pada mama, " hati-hati ya ma.."
Mama sudah masuk, aku dan Fatimah pun memilih pulang.
Kami berjalan ke arah parkiran, tanpa sungkan Fatimah menggandeng tanganku, bergelayut manja.
Aku belum terbiasa dengan keagresifan yang ditunjukkan Fatimah.
***
Kami sudah tiba di rumah. Aku masih memilih duduk di teras. Menyesap sebatang rokok. Tidak lupa wajah Safarah bermain-main di pikiranku.
Safarah...gadis manis yang merebut hatiku. Sedang apa dia? Aku mencoba menghubungi, namun sampai detik ini nomorku masih di blok oleh wanita ku ini.
Sebatang tokok sudah habis, aku ingin istirahat di kamar, tapi aku ragu. Bagaimana kalau Fatimah lebih agresif lagi?
Aku tertawa sendiri. Lucu sekali diriku, sudah dewasa, tapi malah masih bimbang.
Krieet...!!
Aku membuka pintu kamar, benar saja. Fatimah sudah menanti dengan pakaian dinas yang menggoda.
Sebinal apa Fatimah hingga mampu menurunkan harga dirinya?
" Mas?" Panggil Fatimah dengan suara aduhai.
Tapi..yang dilakukan Fatimah memang tidak salah. Kami sudah sah menikah.
Dengan gugup aku mendekat 0ada Fatimah.
Untuk kedua kalinya..aku kembali mendapatkan keperawanan seorang wanita. Itu tandanya... Fatimah adalah gadis baik-baik, kalau ia menggodaku setelah menikah, tentu itu adalah hal yang wajar. Karena kami sudah sah di mata agama dan negara meski ada bagian yang terluka.
Fatimah tersenyum kepadaku, " Fatimah..terima kasih sudah menjaga kesucian mu untuk ku. Apa kamu ikhlas?" Tanyaku.
" Kenapa perlu berterima kasih, mas? Ini hak mu, sudah sepatutnya kamu dapatkan." Ucap Fatimah sambil memelukku dan bergelayu manja.
"Aduh Fatimah...jangan sampai ada ronde kedua ya..." Batinku ribut sendiri.
***
Aku masih terpuruk di kamar sempit ini. Bertarung antara mati dan hidup. Sebelum mas Virhan menikah, aku tidak pernah seperti ini. Tapi kala bibir suamiku itu mengucapkan ijab qabul atas wanita lain, dunia ku terasa runtuh. Harapan yang sempat kugantung jatuh menimpa diriku sendiri. Satu pelajaran yang kudapat adalah jangan pernah berharap pada siapapun terkecuali kepada Allah SWT.
Hal yang paling mengganggu pikiran ku adalah, kini mas Virhan sudah mempunyai teman tidur. Mereka berbagi selimut bersama, bermandikan keringat bersama, dan semua hal dilakukan bersama.
" Allah...aku bisa gila memikirkan ini semua." Teriakku jengah.
Menarik rambut sekuat mungkin, tidak lagi kurasakan sakitnya. Bahkan hatiku jauh lebih sakit saat ini. Jika tidak beragama, mungkin aku sudah memilih jalan pintas. Bunuh diri misalnya. Tapi perbuatan itu adalah salah satu dosa besar. Dan aku tidak ingin melakukan itu.
Tok..tok..tok...
" Mbak..." Panggil Nadia.
" Mbak, kita makan yuk..." Lagi-lagi Nadia membujukku untuk makan.
Sejak pulang menghadiri pernikahan mas Virhan aku hanya mengurung diri di kamar. Tidak makan juga tidak mandi, bahkan rasa untuk buang air kecil dan besar hilang.
__ADS_1
Aku hanya berbaring, sesekali duduk, menatap diri di kaca. Rasa kepercayaan diriku hilang di telan bumi.
" Mbak..."
Aku membuka pintu kamar karena Nadia tidak kunjung berhenti memanggil.
" Mbak..." Nadia menangis memelukku.
Aku juga menangis dipelukan Nadia. Ternyata cuma dia yang perduli padaku.
" Nad.." aku menangis sesenggukan.
" Mbak... Mbak pucat sekali. Mbak makan ya..aku suapi.."
" Mbak gak lapar, nad." Jawabku lemah.
Detik berikutnya pandanganku buram... Aku bersandar lemas di dinding ranjang.
" Mbak.... Mbak... Bangun..."
Aku masih sempat mendengar teriakan Nadia, tapi suara itu semakin lama semakin menjauh.
***
" Auw.." aku merasakan sakit di tangan.
Sudah terpasang infus di pergelangan tangan. Nadia tertidur lelap di sofa ruangan ini.
Ternyata aku sudah berada di klinik.
Apa keadaan ku cukup mengkhawatirkan sehingga Nadia berniat membawa aku kesini?
" Mas...andai kamu tahu keadaan aku yang terpuruk." Air mataku kembali meleleh.
Aku sesenggukan sendirian tanpa suara.
Kriet...
Pintu klinik terbuka, ku usap wajahku yang basah. Aku masih membelakangi pintu.
Kepalaku terasa di usap.
Aku berbalik, alangkah terkejutnya aku mendapati mas Virhan sudah berdiri didekat ku. Jadi...yang mengusap kepalaku adalah mas Virhan.
Mas Virhan duduk di sebelahku, " jangan bodoh Safarah."
" Jangan melukai diri sendiri hanya karena.." kalimat itu menggantung tak berkelanjutan. Mas Virhan menunduk sedih.
" Kamu layak bahagia, Safarah. Lanjutkan hidupmu. Secepatnya aku akan mengurus surat perceraian kita. Cari lelaki yang benar-benar mencintai dan menyayangi. Carilah lelaki yang tidak takut menentang ibunya. Lupakan lelaki sepertiku yang tidak mampu membahagiakan mu."
Aku hanya bisa menangis dan menangis meratapi kisah cintaku.
" Mas... pergilah dari sini.. istrimu menunggu di rumah." Pinta ku lemah. Meski hati dan pikiranku tidak sejalan, namun hubungan kami sudah kandas sejak ijab qabul mas Virhan dan Fatimah.
Mas Virhan mengusap kepalaku.. selanjutnya ia berpaling dariku, meninggalkan ku dalam kelemahan yang tiada bertepi.
__ADS_1