
Aku melangkah keluar dengan berbagai ledekan dari rekan kerja di rumah sakit ini.
Tentu mereka penasaran dengan bunga yang kubawa dari ruangan Dokter Faira.
Sebelum sampai di parkir, seseorang berdiri membawa spanduk bertuliskan, ( MAAF...AKU BERJANJI TIDAK AKAN MENGULANGI PERBUATAN BODOH. TOLONG NOMOR PONSELKU JANGAN DIBLOKIR)
Aku memang tidak bisa melihat wajah seseorang di balik spanduk. Tapi tentu aku mengenali lelaki itu. Lelaki itu adalah....
Mas Firman.
Nekat sekali dia, untung saja parkiran hari ini sepi. Jadi tidak ada yang melihat tingkah konyol mas Firman.
Mas Firman masih berdiri di sana.
Aku berjalan mendekatinya, kuambil spanduk itu. Nampak wajah murung.
" Maaf..." Ucapnya.
" Iya, jangan di ulangi lagi ya..."
" Iya...tapi buka blokirnya dong...aku gak bisa nelpon kamu." Rengeknya persis seperti anak yang tidak mendapat jajan.
" Iya...besok aku buka."
" Sekarang!"
" Besok."
" Sekarang!"
" Iya... sekarang." Aku mengeluarkan ponsel dan membatalkan memblokir nomor mas Firman.
" Nih!" Ku tunjukkan ponselku pada mas Firman.
Ia terkekeh, " terima kasih sayang..." Tangannya mulai jahil ingin menjawil dagu ku.
" Mas...!" Mataku melotot.
" Huuuu. Maaf." Mas Firman memukul tangannya sendiri.
" Lu jangan nakal, ni cewek bukan sembarang cewek." Gumam mas Firman pelan, namun masih terdengar jelas di telinga.
" Kita jalan-jalan dulu, yuk!" Ajak mas Firman.
" Kemana?"
" Makan... "
" Kayaknya gak bisa deh." Tolakku secara halus.
" Apa ada yang pebih penting dari ku?" Wajah masam mulai terpancar di wajahnya.
" Hm...oke deh... Jemput aku jam delapan. Sekarang aku pulang dulu. Mau istirahat."
Ku hidupkan kuda besi beroda dua. Tanpa menunggu jawabannya, aku melaju dengan kecepatan sedang.
Sampai di rumah, tanpa mandi dan membersihkan wajah, aku langsung nyungsep di aras kasur. " Allah..aku lelah sekali hari ini."
***
Tring..tring..tring..
Ponselku beberapa kali berbunyi, namun mataku tidak bisa di ajak kompromi. Akhirnya aku mengabaikan panggilan telepon entah yang entah dari siapa aku tidak perduli.
Akhirnya mataku kembali tertutup dengan rapat. Bunyi panggilan di ponselku tetap tidak berhenti. Setelah merasa puas dengan tidurku, aku mengecek ponsel,
" ya Allah... Panggilan tidak terjawab dari mas Firman sebanyak dua ratus tiga panggilan."
Buru-buru aku menelpon balik. Sambungan langsung terpasang, " h..halo mas.." sapa ku gugup.
__ADS_1
" Kamu masih bernyawa?" Sindirnya.
" Ada apa menelpon, mas?"
" Bukankah kamu dan aku sudah membuat janji akan bertemu jam delapan? Aku sudah menunggu mu selama dua jam, Ara..." Suara mas Firman terdengar datar.
" Hah?" Secepat mungkin aku berlari membuka pintu tanpa menutup telepon.
Ya Allah! Benar saja, lelaki itu sudah ada didepan. Dia turun dari mobil.
Kini ia sudah berdiri di hadapanku. Lelaki berkulit hitam itu menghisap rokoknya dalam-dalam, ia menelisik penampilan ku, " belum mandi?"
" Hah? A..aku.." ada rasa malu karena sudah semalam ini aku masih memakai baju dinas kerja. Pasti wajahku tampak kucel sekali.
" Sudah tidak perlu dijawab, pergilah mandi biar wangi. Aku tunggu di depan ya." Mas Firman duduk di kursi. Ia memainkan ponselnya.
Aku bergegas masuk dan segera mandi.
Tidak butuh waktu lama, kini aku sudah tampil fresh.
Saat aku ingin menemui mas Firman, betapa terkejutnya aku, karena dihadapan mas Firman sudah ada nasi hangat yang menggugah selera.
" Kamu pesan mas?"
" Kita tidak punya waktu banyak untuk keluar. Jadi aku memutuskan untuk memesan makanan. Yuk makan!" Ajaknya.
Lelaki itu mencuci tangan di air kran yang tersedia di halaman.
Aku sedikit heran dengan lelaki yang ada di hadapanku, ia makan dengan lahap menggunakan tangan.
Jelas jauh berbeda dengan mas Virhan.
" Mengapa tidak makan? Apa melihatku saja sudah membuat perut mu kenyang?"
" Hm... "
" Jangan heran lihat aku makan tidak menggunakan sendok. Aku merasa nikmat saja makan menggunakan tanganku sendiri. Coba saja kalau tidak percaya!" Ucapnya sambil terkekeh.
" Bagaimana? Nikmat bukan?"
Aku tersipu malu. " Alhamdullilah...sudah terasa kenyang." Ucapku sambil mengusap perut. " Terima kasih ya, mas."
" Iya. Safarah?"
" Hem?"
" Bolehkah aku melamar mu?"
" Apa tidak terlalu cepat mas? Dan..apa kamu sudah yakin? Aku bukan lagi, mas. Jika kamu mau, kamu masih bisa mendapatkan seorang gadis dan tentunya perawan."
" Aku tidak butuh perawan, Ara. Aku hanya butuh perempuan yang sayang dengan ku, dengan orang tuaku, juga keluarga ku. Dan semua itu ada pada kamu... Mama merasa cocok dengan kamu. Lusa aku akan berangkat bekerja kembali. Dan aku akan kembali enam bulan lagi."
" Ja..jadi..." Ah. Berat sekali menerima kenyataan. Lamaran, lalu dia akan pergi selama setengah tahun. Apa dia bisa setia?
" Kenapa? Kalau kamu keberatan, kita bisa langsung menikah tanpa acara lamaran.
Tapi..kamu harus bisa menerima menikah tanpa pesta. Yang terpenting kita sah di mata agama dan nanti menyusul dimata negara."
" Mas, kasih aku waktu untuk berfikir ya..."
" Waktunya hanya besok Safarah..." Mas Firman mengingatkan lagi.
" Sudah jam sebelas, aku pulang dulu.. baik-baik dirumah ya."
Aku melambaikan tangan pada mas Firman.
Allah..apa mas Firman adalah lelaki yang engkau kirim untuk menemani hidupku?
***
__ADS_1
Entah tahu dari mana mas Firman, tahu-tahu dia sudah menjemput ku.
" Pakai ini ya, aku ingin couple sama kamu."
Tanpa membantah aku menuruti permintaan mas Firman.
" Cantik.." puji mas Firman.
" Terima kasih mas."
" Sudah punya jawaban atas pertanyaan ku semalam?"
" Sudah." Jawabku mantap.
" Apa?"
" Aku ingin kita menikah tanpa lamaran."
" Meski tanpa acara mewah?"
" Iya."
" Alhamdullilah..."
Cup! Mas Firman mengecup pipiku.
" Mas...." Bentakku.
" Maaf Safarah..aku bahagia." Ucap mas Firman.
" Huuuu."
***
Kami sudah tiba di rumah mantan mama mertua atau mamanya mas Virhan.
" Safarah..pegang tanganku."
" Untuk apa mas?"
" Sebagai pembuktian pada mantan mama mertua mu."
Aku mengernyitkan dahi, apa dia tahu sikap mama mertua? Tapi dari mana?
Mas Firman menggenggam tanganku paksa.
" Jangan lupa senyum." Bisiknya.
Aku mengikuti perintah mas Firman.
Ternyata...banyak sekali tamu undangan yang menghadiri acara pemberian nama anak mas Virhan.
Fatimah menyambutku dengan ramah tamah sambil menggendong bayi mungil buah cinta mereka. Cinta? Apa mereka saling mencintai? Tapi.. hadirnya bayi ini menjawab semuanya. Tanpa di jelaskan, orang dewasa pun akan tahu.
" Fatimah..sehat?" Sapaku dengan senyum merekah.
" Alhamdullilah sehat, mbak. Hanya saja Afifah masih suka begadang." Keluhnya.
Aku memandang wajah itu, sedikit kusam dan terdapat lingkaran hitam di area mata. Kalau kebanyakan orang bilang seperti mata panda.
" Gak papa...dedek bayi pasti sedang penyesuaian. Boleh mbak gendong?"
" Tentu boleh mbak." Fatimah menyerahkan Afifah padaku.
Tanganku bergetar, ku dekatkan wajahku pada Afifah. Ku hirup wangi tubuhnya. Entah mengapa aku terharu dan menjadi berandai-andai.
Andai saja Afifah lahir dari rahimku, tentu aku dan mas Virhan adalah orang yang paling bahagia.
Aku mencoba menahan kristal yang memenuhi indera penglihatan agar tidak jatuh. Nyatanya aku gagal. Butiran kristal bening menetes berlomba-lomba untuk turun berdesakan.
__ADS_1
" Allah...aku ingin bayi seperti ini..."