
Fatimah adalah korban dari keegoisan mama. Dan aku tidak pernah menyimpan dendam sedikit pun pada Fatimah. Aku percaya, Fatimah adalah perempuan baik-baik yang bisa mengurus mas Virhan jauh lebih baik ketimbang diriku.
Fatimah mendekat kearah kami. Kami berpelukan bertiga. Pada saat ini kami tidak perduli tentang pabdangan orang lain.
" Mbak...maafkan aku mbak..." Fatimah menangis sesenggukan."
" Ti-tidak perlu meminta maaf, Fatimah...kamu tidak salah. Jadilah istri yang baik buat mas Virhan." Pesanku pada Fatimah.
Sungguh! Ini adalah momen yang paling mengharu biru didalam hidupku...
Setelah tangis-tangisan, sesi foto di mulai.
Fotografer mengarahkan mas Virhan dan Fatimah untuk berpose. Mas Virhan memeluk Fatimah dari belakang. Mas Virhan sempat melirikku, namun aku membuang pandanganku. Pura-pura sibuk ngobrol bersama Nadia.
Sesekali Nadia mengusap punggungku, " sabar ya, mbak..."
***
Acara pernikahan mas Virhan belum usai, namun aku memilih untuk berpamitan lebih dulu. Jalan ini ku pilih agar hatiku tidak semakin tersakiti melihat kemesraan yang di tampilkan oleh Fatimah.
Aku memberikan kado pada mas Virhan, " aku pamit pulang ya..." Ku salami tangan mas Virhan, " aku tinggu ketukan palu di meja hijau mas." Pesanku pada mas Virhan.
Kemudian aku memeluk Fatimah, " selamat ya..."
" Terima kasih mbak.."
Setelah berpamitan dengan keluarga mas Virhan, aku memilih untuk pulang bersama Nadia.
Didalam mobil, ku tumpahkan tangisanku. " Allah...apa aku mampu..." Ratap ku pilu. Bukan hanya hatiku saja yang kacau, aku yakin penampilanku pun sudah acak-acakan.
***
Ditempat yang berlainan, Virhan baru saja selesai mandi.
Acara pernikahannya dengan Fatimah baru saja selesai.
Malam semakin merangkak. Semua keluarga masih berkumpul di rumahnya. Banyak yang menggoda mereka agar segera bersemendi di kamar.
Fatimah sedang asyik mengobrol dengan para sepupunya yang hadir.
Aku memilih masuk ke kamar. Sejenak aku mencium baju Safarah yang masih tertinggal. Baju yang masih beraroma parfum dan tubuhnya menjadi obat yang mujarab bagiku. Obat kangenku pada Safarah.
Sejak Safarah pergi, aku tidak pernah mengganti pengharum di kamar ini. Pengharum kesukaan Safarah masih menjadi favoritku.
Aku mengetik nomor Safarah, berniat untuk menelponnya.
Namun nomornya sama sekali tidak bisa di hubungi, " ada apa dengannya?"
Untung saja aku punya nomor Nadia, segera aku menghubungi nomor Nadia,
(Halo mas Virhan..)
Terdengar sambungan di seberang.
(Nad, mas mau hubungi mbak Safa. Tapi
kok gak bisa ya?)
( Oh.. mbak Safarah? Sudah tidur mas sejak tadi.)
__ADS_1
( Tolong bilangan sama mbak Safarah agar jangan memblokir nomor mas.)
( Iya, mas, nanti Nadia sampaikan.)
Setelah mengucapkan terima kasih pada Nadia, aku segera menutup telepon.
" Safarah....apa kamu akan memutuskan tali silaturahim diantara kita?"
Aku melempar ponsel keatas kasur.
Agggrhhhh...aku menjambak rambutku yang tidak panjang. " Andai kamu tahu Safarah...bukan kamu saja yang galau...aku pun galau dengan takdir kita..." Aku ngedumel sendiri.
" Mas...kamu kenapa?" Tiba-tiba saja Fatimah sudah berada didalam kamar ini.
" Kamu sudah lama?" Tanyaku balik.
" Em.. maaf kalau aku lancang." Fatimah tampak menyesali sikapnya.
" Enggak.. enggak papa.. ini kamar kita. Kamu bebas disini." Jawabku gugup.
Fatimah membawa pakaian ganti, masuk kedalam kamar mandi. Tidak lama ia keluar dengan pakaian tidur berbahan satin berwarna pink.
Jilbabnya sudah ia lepas, berganti dengan rambut hitam sepinggang terurai menggoda.
Wangi tubuhnya menguar memenuhi indera penciumanku.
Sebagai lelaki normal, aku tidak bisa menolak pesona Fatimah.
" Mas... Aku boleh tidur di sana?" Fatimah menunjuk ranjang besar milikku dan Safarah.
" Bo- boleh." Jawabku gugup.
" Apakah aku harus berbagi selimut dengan Fatimah malam ini?"
***
Pagi-pagi sekali Fatimah sudah bangun, rambutnya sudah terurai basah. " Untuk apa keramas? Bukankah kami tidak melakukan apa pun malam ini? Bahkan malam pertama kami berlalu begitu saja."
" Kamu keramas, Fat?" Tanyaku.
" Iya mas. Kenapa? Ada yang salah?"
" Enggak." Jawabku singkat.
" Menjaga perasaan mama jauh lebih penting dari apa pun, mas." Ucap Fatimah menyindirku.
Detik selanjutnya ia sudah berlalu dari hadapanku.
Otakku masih mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Fatimah, " menjaga perasaan mama?"
Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku mencoba mengintip aktivitas mama dan Fatimah.
Fayimah begitu pandai mengambil hati mama. Melayani mama dengan sepenuh hatinya. Mama sudah duduk santai di meja makan, dihadapannya sudah tersedia segelas susu.
Sesekali aku melihat dan mendengar tawa dua perempuan yang terpaut usia yang sangat jauh.
Hal yang tidak kutemui saat aku masih bersama Safarah.
Mama tidak pernah duduk di meja makan. Mama juga tidak ingin jika Safarah membantunya dalam mengolah masakan.
__ADS_1
Aneh!
" Virhan! Ngapain berdiri disitu?"
Panggilan mama sontak membuat aku terkejut.
Malu rasanya kepergok sedang mengamati dua wanita itu.
" Ya Allah, mas.. ngapain disitu? Sini duduk!"
Karena aku masih diam terpaku, akhirnya Fatimah berjalan kearah ku. Dia menarik tanganku.
Bak kerbau yang di cucuk hidungnya, aku menurut.
" Kopi hitam, kopi susu, atau teh manis? Fatimah menawarkan minuman padaku.
" Virhan lebih suka kopi hitam." Sahut mama.
Mama memberitahukan minuman kesukaan ku pada menantu kesayangannya.
" Oke, sebentar ya, mas. Aku buat dulu."
Aku hanya mengangguk, dan mama tersenyum penuh kemenangan menatapku.
Kopi hitam sudah tersedia, makanan juga sudah tersaji, Fatimah dengan santainya langsung duduk disamping ku, mengambil piring dan mengisinya dengan nasi lalu menaruh dihadapanku. Ia juga mengisi piring satu lagi melakukan hal yang sama dan meletakkan didepan mama.
" Makasih ya, nak." Ucap mama.
Hal yang tidak pernah mama lakukan saat aku masih menjalin pernikahan bersama Safarah. Lalu mengapa mama bisa berubah secepat ini? Mama bisa berlaku baik pada Fatimah, tapi tidak untuk Safarah.
" Makan mas, jangan cuma dilihat saja." Senggolan di tanganku membuat lamunanku buyar .
Akhirnya aku memasukkan makanan sesuap demi sesuap hingga habis.
Fatimah mengambil alih, lalu membereskan semua peralatan bekas memasak dan sarapan kami tadi.
Amu memilih duduk di teras, menikmati udara pagi tanpa Safarah. Sedang apa wanita ku itu?
" Vir..." Panggil mama.
" Di teras ma." Sahutku.
Mama menghampiri ku dengan pakaian yang sudah rapi., " segera bersiap, mama mau ke Jogja. Tolong antar mama ke bandara, ya?"
" Mama mau ke Jogja? Ke rumah eyang?" Tanyaku terkejut.
" Iya, mama mau sebulan disana."
" Lama banget? Lalu Virhan bagaimana ma?" Tanyaku kebingungan.
" Kan ada Fatimah? Sudah punya istri kok masih bingung." Sahut mama jengkel.
" Cepat ganti baju!" Perintah mama.
Aku masuk ke kamar, ada Fatimah yang juga akan bersiap-siap. Tanpa malu-malu Fatimah melepas bajunya di hadapanku.
Kulit mulus nan putih terpampang nyata didepan mata ku.
Sebagai lelaki normal, lagi-lagi mataku tidak berkedip menatapnya.
__ADS_1
Ah... Fatimah...apa yang ada dipikiran mu saat ini?