Safarah

Safarah
Safarah 24


__ADS_3

"Ibu Ara, kalau Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Bu Ara, hidup itu penuh cobaan, penuh tanjakan, penuh tikungan, bahkan kita tidak bisa menebak-nebak. Ada yang sudah berharap mati-matian, tapi kalau Allah bilang belum, semua takkan terjadi. Tapi ketika sudah pasrah, sudah siap menerima takdir Allah, sudah jungkir balik menghadapi ujian Allah, maka Allah akan gantikan kesedihan kita dengan kebahagian. Saya sangat terharu dan ikut bahagia, akhirnya ibu Ara bisa hamil. Jangan setres, jaga kesehatan ya bu Ara." Pesan dokter.


Butiran bening mengalir deras dari kedua mataku. Allah...inikah pelangi yang telah engkau persiapkan untukku?


***


" Mas..." Aku menghambur ke dalam pelukan mas Firman.


Mas Firman menarikku dalam pelukan. Akhirnya...rasa rinduku terobati.


Meski belum cinta seratus persen, bukan berarti tak ada rasa rindu di hati.


Cup..cup..cup


Mas Firman menghadiahkan beberapa ciuman.


" Maaf...membuatmu seperti ini."


" Mas...aku hamil." Tanpa sabar aku memberitahukan pada suamiku.


" Kamu serius?"


" Kamu tidak percaya?"


" Alhamdullilah..." Mas Firman mengusap perutku yang masih rata.


" Terima kasih ya Rabb karena memberi kepercayaan kepada kami."


Selama masa kehamilan begitu banyak makanan yang tidak kusukai. Dan anehnya, banyak juga makanan yang awalnya aku tidak suka sekarang malah menjadi makanan favorit ku. Aneh sekali! Tidak ada habis-habisnya jika dipikirkan.


Seminggu bersama mas Firman, aku dijadikan ratu olehnya.


Seperti pagi ini, " sayang.. kamu lagi pengen makan apa?"


" Makan apa ya mas?" Aku berfikir sejenak.


" Minum susunya dulu, nanti keburu dingin."


" Terima kasih sayang..." Ucapku sambil mencubit pipi mas Firman dan segera meminum susu itu hingga habis tanpa tersisa.


Mas Firman menggeser kursinya yang didudukinya, tangannya mengusap perutku. Selama aku hamil, hampir setiap hari ia melakukannya, " anak ayah... sehat-sehat ya... Banyak makan biar bundanya gak sakit, gak lemas... Adik mau maka apa? Bubur ayam? Siap bos...ayah beliin ya..." Telinga mas Firman menempel di perutku yang rata.


" Yang, adik mau makan bubur ayam." Ucap mas Firman kepadaku.


Aku tidak menanggapi ucapan mas Firman. Hanya dadaku yang terasa sesak. Sebahagia ini menjadi calon ibu dan ayah. Sampai hari ini butiran kristal itu masih suka berjatuhan kala mendapat perhatian kecil dari mas Firman.


Tapi tangisan ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Jika dulu adalah tangisan kesedihan, maka sekarang adalah tangisan kebahagiaan.


" Jangan nangis sayang..." Mas Firman mengusap pipiku yang basah.


" Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, apa pin yang terjadi. Kita akan bergandengan bersama adik nanti."


Kata-kata manis dari mas Firman membuat tangisku semakin kencang. Semenjak hamil perasaan ku jauh lebih sensitif, apakah itu salah satu bawaan kehamilan?


***


Setelah hampir satu minggu di rumah, waktu kebersamaan aku dan mas Firman harus berakhir.


Kami kembali menjalani hubungan LDR. Meski berat, namun aku tidak menunjukkan didepan mas Firman. Bagaimana pun, mas Firman adalah kepala keluarga. Dia harus bekerja sebagai bukti tanggung jawabnya sebagai suami kepada istri dan calon ayahnya.


Kami masih di kamar. Berpelukan erat.

__ADS_1


" Jangan sakit-sakit. Jangan telat makan. Apa yang kamu sukai silahkan beli. Aku bekerja untuk kamu. Nanti aku minta kak Faira untuk sharing sama kamu, ya."


" Iya mas, cerewet banget sih."


" Anak ayah, ayah pamit kerja dulu ya... Baik-baik di perut bunda ya."


Mas Firman berpamitan. Yang aku tahu hobinya sekarang adalah mengecup perutku.


Aku mengantar mas Firman sampai depan pintu.


" Hati-hati, mas."


"Iya sayang...."


Dan kini...mas Firman telah hilang dari pandangan ku.


Sedih sekali rasanya di tinggal oleh suami.


***


Meski masih lemah, namun aku tidak ingin hanya berdiam diri di kamar.


Aku kembali melanjutkan rencana tanaman mawar ku yang terbengkalai.


" Ara, mama bawa orang nih." Tahu-tahu mama muncul dengan menggandeng seorang wanita muda.


" Dia siapa ma?"


" Dia anak tetangga, rumahnya di ujung gang. Kalau kamu tidak keberatan, dia bisa membantu kamu."


" Tentu Aku akan senang, ma.


Dita mulai membantuku. Anaknya sangat rajin dan cekatan. Semuanya di kerjakan dengan sangat hati-hati, dan hasilnya pekerjaannya sempurna sekali. Aku suka dengan Dita.


Kami bekerja sangat baik.


***


Pagi ini aku bangun kesiangan. Mungkin karena badan yang masih kurang fit. Usia kandunganku sudah menginjak tiga bulan. Rasa pusing dan mual kerap kali datang mengganggu. Sampai detik ini pun aku masih kesulitan tidur.


Mungkin juga efek LDR dengan mas Firman.


Setelah mandi dan berhias ala kadarnya, aku keluar dari kamar. Mama terlihat sibuk sekali di dapur. Ada Dita juga yang membantu.


" Mama.." sapaku. Aku duduk didekat mama.


" Ra, bagaimana? Masih mual?" Tanya mama tanpa melihatku. Tangan mama tampak cekatan mengirisntipis bawang merah.


" Masih lemas saja bawaannya, ma. Mual pusing masih setia menemani


" Curhatku.


" Sabar ya , Ra. Pengorbanan menjadi ibu itu sangat luar biasa. Mama yakin kamu kuat. Semangat ya!" Ucap mama sambil tersenyum.


Aku tersenyum malu. Baru di uji yang ringan saja sudah malu. Padahal ujian-ujian yang lalu jauh lebih sakit. Dasar manusia!


"Hari ini mama ada acara?"


" Iya, mama semalam lupa bilang sama kamu. Nanti siang teman-teman arisan mama akan datang."


" O.." aku manggut-manggut kayak ikan cucut. Hihi...

__ADS_1


Aku tidak melakukan apa-apa, semuanya dilarang oleh mama. Kata mama tuan putri duduk saja yang manis.


Nikmat tuhan mana lagi yang ingin ku dustakan? Jika mertua kali ini saja aku diberikan yang baik.


Aku memilih masuk ke kamar. Mataku terasa berat sekali. Namun aku tidak ingin tidur. Jadi aku menelpon mas Firman saja.


Setelah melakukan dua kali panggilan, akhirnya terdengar juga suara lelaki yang sangat kurindukan. Sejak hamil, aku jadi bucin pada mas Firman.


(Halo sayang...)


( Halo mas. Sedang apa? )


( Aku sedang dilapangan. Berpanas-panas ria.)


( Oh iya? Kasihan sekali. )


( Bagaiman kabar anakku? Apa dia nakal? )


( Dia tidak nakal, mas.)


( Apa dia masih membuat bundanya tifak selera makan?)


( Tidak mas. Alu sudah mulaimaN tng nanti aku telpon lagi ya.)


( Oke mas.)


Sambungan telepon sudah diputus oleh mas Firman. Karena mataku tidak bisa diajak kompromi, akhirnya aku pun memilih untuk tidur.


***


Aku terbangun, melihat jam dinding, ternyata cukup lama aku tertidur.


Tok..tok..tok..


Pintu kamar di ketuk seseorang.


Aku segera bangkit untuk membuka pintu itu.


" Dita? Ada apa?" Aku terkejut melihat wajah Dita dibalik pintu.


" Disuruh ibu keluar mbak buay ketemu teman-teman ibu. Jangan lupa dandan yang cantik." Pesan Dita sambil memainkan matanya.


" Oh Iya, bilang sama ibu sebentar lagi ya."


" Oke mbak." Dita berlalu dari hadapanku.


Aku pun segera merias wajah dan mengganti pakaian yang lebih baik dan temtunya sopan. Bagaimana pun harga diri mama patu di jaga.


Setelah penampilan cukup menjanjikan, aku segera keluar dari kamar untuk menemui mama.


Meski ada rasa malu, tapi demi mama...sejenak aku hilangkan semuanya.


" Ara..." Mama melambaikan tangan ke arahku.


Aku tersenyum dan memdekat kearah mama,


Aku duduk di sebelah mama, menebar senyum.


Namun.. tidak lama senyum itu memudar dari wajahku karena seorang wanita paruh baya yang ku kenal menatapku penuh keterkejutan.


Ada yang tahu siapa dia? Yuk follow aku dan jangan lupa komen dan like yaaa

__ADS_1


__ADS_2