
"Selera saya memang buruk. Tapi MAAF..SAYA TIDAK JADI MEMBELI. SEMUA GAUN DAN KEBAYA DISINI JELEK." ucap ku tajam.
" Kamu mau tinggal disini mas? Aku bisa pulang sendiri." Aku berjalan meninggalkan tempat yang tidak bisa menghargai pembeli.
" Ara..." Mas Firman menggapai tanganku.
" Kita pulang." Dia menarik tanganku masuk kedalam mobil.
Setelah jauh meninggalkan tempat aneh itu, " sebenarnya ada apa?"
" Aku tidak suka dengan teman mu, mas. Apa tidak bisa dia menghargai pembeli? Atau...dia memiliki rasa padamu. Jika seleraku jelek, mengapa ia tidak membantuku? Mengapa ia malah menghinaku?" Ucapku berapi-api.
Mas Firman tidak menanggapi ocehanku, ia hanya menepikan mobilnya di depan sebuah penjual es tebu. Ia menurunkan kaca mobilnya, dan memesan es tebu dua cup.
" Minumlah!" mas Firman memberikan satu cup es tebu padaku.
Tanpa basa basi aku langsung meminumnya sampai habis.
" Bagaimana? kepalamu sudah dingin?" Tanya mas Firman tersenyum mengejek kearahku.
" Seberapa bejat kisah masa lalu mu mas?"
Pertanyaan ku yang blak-blakan, seketika merubah wajah tampan itu menjadi merah padam.
" Ah. Sial!" Mas Firman malah memukul stir mobil. Tanpa menjawab pertanyaan ku, mas Firman malah menghidupkan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. hingga kami tiba di kafe.
" Apa masih ingin menyembunyikan sesuatu dari ku? Jika iya, mari kita batalkan pernikahan ini!" Ancamku tidak main-main.
" Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang tidak jujur. Aku juga tidak ingin kembali gagal untuk ke dua kalinya dalam berumah tangga." Aku siap untuk keluar dari mobil, hingga tanganku di tarik oleh mas Firman.
" Oke...aku adalah lelaki bejad, lelaki status lajang namun tidak perjaka. Dan aku hampir tidur kepada semua perempuan yang dekat denganku.
Aku mencampakkan semua perempuan seperti sampah jika aku mulai bosan. Tapi denganmu...mengenalmu .. aku tidak bisa Ara...aku jatuh hati sejak pandangan pertama. Aku jatuh hati sejak mama sayang padamu. Aku jatuh hati sejak engkau menolak untuk ku cium. Aku jatuh hati sejak engkau menolak untuk disentuh. Aku jatuh hati dengan segala kekurangan dan kelebihan mu Ara. Apa aku salah? Aku ingin memulai hidup baru denganmu, bersamamu, meski nanti kita belum tentu di percaya. Aku pendosa, ya..aku pendosa. Bahkan papa sempat tidak mengakui aku sebagai anak. Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik bersamamu, Ara."
Betapa aku terkejut mendengar penuturan mas Firman. Begitu liar dan tidak terarah sekali hidupnya.
" Apa kamu terjangkit penyakit, mas?" Tanyaku tanpa basa-basi. Pertanyaan ini jauh lebih penting dari apa pun.
" Sumpah demi apapun, Ara. Aku tidak sakit apa pun. " Mas Firman membela dirinya sendiri.
" Oke, terima kasih atas kejujuranu, mas." Aku segera turun dan memilih masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan mas Firman.
Hari inibaku merasa lelah. Banyak sekali cobaan hari ini. Dari hati yang teguh, merasa mas Firman adalah jodoh kiriman Tuhan, namun rasa keyakinan itu kembali goyah kala bertemu dengan Sandra.
__ADS_1
Cobaan apa lagi ini?
***
Pelan-pelan aku mulai mencintai Fatimah. Menyentuh Fatimah dari hati bukan karena nafsu. Mengecup bibir Fatimah menjadi candu.
Bukankah cinta hadir karena terbiasa?
Hari ini kami membuat acara pemberian nama anak kami. Afifah Sabrina menjadi pilihan nama untuk bayi kecil kami.
Semua tamu undangan yang hadir memberi selamat dan semangat bagi kami karena sudah menjadi orang tua baru.
Namun... Hari ini mood ku sangat kacau kala aku melihat Safarah bergandengan mesra dengan lelaki itu.
Firman, ya nama lelaki itu Firman. Hampir mirip dengan namaku.
" Kenapa sih harus mengajak Firman?" Tidak bisakah ia datang ke acara ini hanya sendiri?" Hatiku sibuk ngedumel bagai emak-emak yang sedang datang bulan.
Apa lagi kala aku melihat Safarah mengambilkan nasi untuk lelaki itu. Enak sekali dia, berani-beraninya mengatur Safarah.
Istrinya bukan sok mengatur Safarah.
Iseng-iseng, aku sengaja mendekati Safarah. Semakin terkejut rasanya aku, isi piring itu sama. Apakah selera mereka sama? Sejak kapan? Sok yes sekali mereka.
Semakin terkejutnya aku kala mendengar Safarah dan Firman akan melangsungkan pernikahan. Secepat itu Safarah percaya pada janji lelaki yang baru di kenalnya. Apakah ia sekarang menjadi bodoh? Atau jangan-jangan sekarang Safarah sudah menjadi murahan.
***
( Safarah.. datang ke rumah kakak sekarang ya..)
Pesan singkat dari kak Faira.
" Ada apa ya? Apa ada hal serius? Atau.. mas Firman sudah curhat pada kak Faira." Aku menebak-nebak sendiri.
Ku pacu kuda besi menuju rumah kak Faira.
Kak Faira menyambut ku, " kamu habis nangis? Kok matanya sembab?"
Duh...kenapa sih kak Faira harus sedetail itu memperhatikan aku.
" Yuk masuk! Kakak sudah siapin makanan."
Kak Faira menari aku ke meja makan.
Dan disana sudah terhidang sajian sate plus lontong.
__ADS_1
" Ini kak Faira yang masak?" Aku takjub melihat kak Faira. Seorang Dokter, tapi jago dalam hal masak memasak.
" Biasa saja, Ara. Kalau kamu sudah jadi ibu, kamu akan paham."
Aku terdiam, ada jiwaku yang tersentil karena ucapan kak Faira.
" Ups! Maaf bukan maksud kakak. Maksud kakak, kamu akan mengerti jika suami mu nanti doyan makan." Kak Faira meralat ucapannya.
Aku duduk di samping kak Faira, dan mulai menyantap sate yang ada didepanku.
" Ara...?"
" Iya kak." Aku menghentikan aktivitas makan.
" Apa kamu ragu untuk menjalin hubungan dengan Firman? Bukan maksud kakak untuk mencampuri urusan kalian, hanya.. kakak dan keluarga sudah merasa cocok jika bersanding dengan Firman. Yang Firman butuhkan ada pada kamu, Ara."
Aku terdiam sejenak. Bimbang. Harus maju atau mundur. Berbeda sekali saat menjalin hubungan dengan mas Virhan yang jelas-jelas mamanya tidak menerima aku. Sedangkan mas Firman? Keluarganya dengan sangat terbuka menerima kehadiran ku untuk mendampingi anaknya.
" Kak.. aku mau menikah dengan mas Firman."
" Yes!" Terdengar suara seorang laki-laki bersorak kegirangan.
Sepertinya aku tidak asing dengan suara itu? Tapi...apa dia disini? Apa dia menguping pembicaraan kami? Kak Faira memukul jidatnya sendiri.
" Seperti suara mas..."
" Dia dibawah meja." Ucap kak Faira, tangannya menunjuk kebawah.
" Hah?"
Secepatnya aku melongok. Benar saja, ada wajah mas Firman disana sedang menunduk malu.
"Ckck...ada-ada saja kelakuanmu, mas."
Akhirnya aku tertawa terbahak-bahak. Seniat itu dia bersembunyi dibawah meja demi mendengar obrolan kami berdua.
" Maaf Ara." Mas Firman merasa bersalah. " Demi kamu, aku menjadi gila, Ara."
" Gombal!" Aku mencubit pinggang mas Firman.
****
Hari ini...aku sudah resmi di persunting oleh mas Firman.
Sekarang aku adalah nyonya Firman. Fatimah dan mas Virhan datang. Dia hanya diam, tanpa memberikan ucapan selamat. Lain hal dengan Fatimah, " selamat ya mbak Safarah...semoga segera di beri momongan ya, mbak. Juga langgeng dunia akhirat." Fatimah memelukku dan mengucapkan doa yang baik.
__ADS_1
Sepanjang acara berlangsung, dadaku selalu berdegup kencang. Setelah sekian lama tidak di sentuh oleh laki-laki, sekarang...
Aku ketakutan untuk bertemu malam. Apa yang harus kulakukan nanti?