
"Mbak...aku mau kasih suprise.." ucap Fatimah antusias.
" Suprise? Apa itu?"
Aku memandang Safarah dalam-dalam.
" Mbak...aku hamil."
" Wah..selamat ya Fatimah..." Safarah dengan tulus memeluk Fatimah.
Selalu begitu Safarah... Memeluk seseorang dengan tulus meski aku tahu ada yang terluka.
***
Setelah mati-matian menghindari mas Virhan, kini aku mendapat pesan dari Fatimah. Dia ingin berjumpa denganku. Menolaknya jelas tidak mungkin. Meski tanpa sepengetahuan mas Virhan, kami masih sering berkirim kabar.
Fatimah adalah wanita yang baik. Dia memberi kabar padaku, bahwa ia sekarang sudah hamil.
Aku memeluknya, memberikan selamat pada istri mantan suamiku.
Fatimah tidak pernah salah ada diantara kami. Dan aku tidak pernah membenci Fatimah sedikit pun.
Banyak hal yang di ceritakan padaku, termasuk tingkah konyol mas Virhan yang masih suka suka mengigau menyebut namaku dalam tidurnya.
Aku dan mas Virhan saling memandang.
Tidak tahu harus memberi tanggapan apa.
" Aku kagum pada mas Virhan, " ucapnya lagi.
" Kagum apanya?" Tanya mas Virhan dengan wajah penasaran.
" Cinta mas Virhan pada mbak Safarah tidak luntur. Aku yakin, suatu saat kalian pasti akan bersatu kembali."
" Fatimah.. apa kamu memgalami perubahan sekarang?" Aku mengalihkan pembicaraan kami.
" Aku hanya sering mual dan pusing, mbak. Selera makanku jauh menurun sekarang." Wajah Fatimah berubah murung.
" Di semester awal, hal itu sering dirasakan oleh ibu hamil kok. Itu masih wajar. Nanti kalau sudah menginjak di semester ke dua,nafsu makan kamu akan kembali normal. Nah tugas kamu nih, mas. Harus lebih perhatian pada Fatimah."
Mas Virhan masih memandang ku, bahkan ia tidak percaya jika aku mengajaknya ngobrol.
Tanpa terasa waktu semakin beranjak, Fatimah dan mas Virhan berpamitan untuk pulang.
Sebelum pulang, Fatimah memelukku erat, " mbak, aku akan menyatukan kalian kelak." Bisiknya di telingaku.
Aku mematung mendengar penuturan Fatimah, badanku menegang.
Apa maksud Fatimah?
Fatimah tersenyum padaku.
Kami saling melambaikan tangan.
Setelah mobil mereka menghilang, aku memilih masuk ke dalam.
Ada Nadia yang senyam senyum, " kenapa senyam-senyum?" Tanyaku keheranan.
" Lucu sama ekspresi mas Virhan."
" Apanya yang lucu?"
__ADS_1
" Sepanjang mbak dan Fatimah ngobrol, pandangan mas Virhan tidak terlepas sedikitpun dari mbak. Segitu cintanya ya, mbak."
" Kamu perhatiin?" Aku mendaratkan bokongku di kursi kasir.
" Penasaran aja." Nadia cengar-cengir mirip kerbau di sawah.
" Nad, tadi mbak merasa ganjil sama ucapan Fatimah." Curhatku.
" Memangnya Fatimah bilang apa mbak?"
" Katanya.. dia bakal buatbak dan mas Virhan balikan."
" Serius?" Nadia terkejut.
" Mbak berharap hubungan mereka langgeng, Nad. Mendengar mas Virhan akan punya anak saja...mbak cukup senang. Meski ada sedikit kecewa, karena sekarang mbak tahu kalau mbak mandul."
" Jangan bicara seperti itu, mbak. Belum tentu mbak mandul."
" Ah. Dunia ini memang penuh sandiwara, ya." Ucapku mengakhiri pembicaraan ku dengan Nadia.
****
Setelah beberapa bulan, aku kembali ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu dengan mama, mas Virhan dan Fatimah.
Mereka sedang memeriksakan kandungan Fatimah.
" Bapak Virhan dan ibu Fatimah.." panggilku.
Kali ini aku tidak memakai masker. Fatimah tampak terkejut, apa lagi mama. Sedang mas Virhan terlihat lebih santai.
" Ka..kamu kerja disini, Safarah?" Tanya mama kikuk.
" Iya, ma." Jawabku tersenyum ramah. Meski sering menyakiti, aku tidak ingin membalasnya. Hubunganku dan anaknya sudah usai, jadi tidak ada lagi perbuatan jahat yang harus kubalas.
" Yuk.." aku membantunya untuk berbaring.
Lagi-lagi mas Virhan lebih fokus ke arah ku, " sampai kapan kamu akan seperti itu mas?"
Mama menepuk bahu mas Virhan, sepertinya ia paham apa yang ada didalam pikiran putranya.
Setelah selesai kembali aku membantu Fatimah untuk bangun.
" Bayinya sehat, jenis kelaminnya perempuan."
Betapa girangnya mama, hingga satu kalimat meluncur dari mulut mama, " Dok, ini cucu yang saya tunggu-tunggu setelah sekian lama. Dulu menantu saya mandul."
Semua yang ada di ruangan ini terkejut mendengar ucapan mama.
Tidak bosan-bosannya mama membenciku. Sampai aku tidak punya hubungan lagi dengan putranya pun, ia masih menyindirku.
Ckck...aku menggelengkan kepala, miris rasanya. Sudah tua, namun tidak bisa menjaga etika.
" Mama...cukup." bentak mas Virhan. Ini kali pertama aku mendengar mas Virhan membentak mama.
" Ibu...kita tidak boleh mengambil kesimpulan. Barangkali saja belum waktunya mantan menantu ibu di beri kepercayaan oleh Allah." Dokter mencoba menengahi.
" Loh ini fakta Dok. Contohnya suster ini." Mama menunjuk kearah ku.
Dokter terkejut, sedangkan aku hanya menunduk.
" Ibu, silahkan keluar. Pemeriksaan sudah selesai." Ucap Dokter dengan nada dingin.
__ADS_1
Fatimah menarik tangan mama, " ayo ma kita keluar."
" Dok..maafkan mama saya. Suster Ara...maafkan mama."
Aku hanya mengangguk, dan mad Virhan keluar dari ruangan ini.
Dokter Faira membuka kaca matanya, " kamu ada masalah dengan mereka?"
" Dia mantan suami saya Dok." Jawabku singkat.
" Mantan suami? Berapa tahun menikah?"
" Delapan tahun, tapi ..aku tidak bisa mengandung, Dok." Jawabku malu.
" Sudah coba periksa?"
" Belum, kata mama mertua percuma, cuma ngabiskan uang anaknya." Ucapku sambil tertawa kecil.
Aku sedih jika mengenang masa itu.
" Tajam sekali mulut mantan mertuamu."
Ucap dokter Faira sambil menyenderkan badannya di kursi.
" Aku yakin delapan tahun itu ujian terberat untukmu."
Aku hanya tersenyum kecil.
" Gak coba buka hati?" Tanya dokter Faira menyelidik.
" Takut dok, "
" Takut apa?"
" Takut tidak bisa di terima dengan baik."
Dokter Faira hanya manggut-manggut, entah apa yang ada didalam fikirannya.
" Sus, apa kamu masih mencintai mantan suami mu?" Pertanyaan dokter Faira membuat aku tercengang.
Aku sendiri masih bingung, perasaan apa yang ada di dalam hatiku sebenarnya?
Perasaan marah atau malah cinta?
" Kalau melihat tatapan mata mantan suami mu, dia masih menyimpan rasa yang besar."
" Dok, kami berpisah bukan karena tidak saling mencintai, kami berpisah karena kehendak mama suamiku. Aku dianggap mandul dok." Jelasku lagi.
" Sus, kamu mau enggak saya kenalin?"
" Sama siapa Dok? Dokter punya adik?" Aku tertawa kecil.
" Ada, pilot. Sampai sekarang belum punya pacar kayaknya. Kalau kamu berniat membuka hati, saya akan atur pertemuan kalian." Wajah dokter Faira berubah antusias.
" Adik Dokter belum tentu mau dengan wanita mandul, dok."
" Jangan putus asa, seseorang itu yang paling penting akhlaknya. Kalau akhlaknya bagus, Insya Allah, semua orang akan senang berada di dekatmu."
Dokter Faira segera berkemas. Jam kerjanya sudah selesai. Aku membereskan semua perlengkapan yang ada di meja dokter Faira.
" Sus Ara, saya pulang duluan ya.. sampai bertemu dengan adik saya." Dokter Faira melambaikan tangan dan mengedipkan matanya sebelah.
__ADS_1
Apa masih pantas aku bahagia?