Safarah

Safarah
Safarah 14


__ADS_3

"Sus, kamu mau enggak saya kenalin?"


" Sama siapa Dok? Dokter punya adik?" Aku tertawa kecil.


" Ada, pekerja tambang. Sampai sekarang belum punya pacar kayaknya. Kalau kamu berniat membuka hati, saya akan atur pertemuan kalian." Wajah dokter Faira berubah antusias.


" Adik Dokter belum tentu mau dengan wanita mandul, dok."


" Jangan putus asa, seseorang itu yang paling penting akhlaknya. Kalau akhlaknya bagus, Insya Allah, semua orang akan senang berada di dekatmu."


Dokter Faira segera berkemas. Jam kerjanya sudah selesai. Aku membereskan semua perlengkapan yang ada di meja dokter Faira.


" Sus Ara, saya pulang duluan ya.. sampai bertemu dengan adik saya." Dokter Faira melambaikan tangan dan mengedipkan matanya sebelah.


Apa masih pantas aku bahagia?


***


Hari ini Nadia sedang liburan. Karena Nadia tidak ada, jadi aku sengaja menutup kafe. Tanpa gadis itu, aku ternyata bukan siapa-siapa.


Karena hari ini aku libur, jadi kupastikan aku ingin berberes saja.


Rumput dihalaman juga sudah mulai tinggi.


Tapi...sebelum memulai aktivitas ponselku berdering.


Ada panggilan dari dokter Faira, " ada apa? Tumben sekali dokter Faira menelpon sepagi ini? Bukannya ini hari libur?"


Aku memilih menjawab telepon dari dokter Faira dari pada menahan tanya.


( Halo dok..)


( Sus, kamu siap-siap ya. Sebentar lagi adik saya datang menjemput.)


" Hah? Ini serius Dok? Jangan bercanda deh.)


( Hahaha...) Terdengar tawa renyah dari Dokter Faira.


(Dok, jangan buat saya cemas.)


( Saya gak mau tahu, lima belas menit lagi ada yang jemput kamu. Oke?)


(Oke dok.)


Aku merenung sejenak, kenapa bisa seserius ini sih?


Aku segera mandi, selesai mandi, ritual wanita yang paling lama adalah memilih baju dan makeup.


" Duh...harus bertanya pada siapa?" Aku mondar mandir didalam kamar. Andaikan ada Nadia pasti semua urusan lebih muda.


" Agggrhhhh... bismillahirrahmanirrahim.. mudah-mudahan baju ini tidak membuat aku malu."


Pilihanku jatuh pada gamis dan akan ku padukan dengan hijab berwarna senada. Makeup tipis namun segar. Tidak ketinggalan aku menggunakan sandal dan tas yang sesuai dengan pakaian yang ku gunakan.


Aku mematut tampilan di cermin. " Semoga tidak memalukan." Doaku dalam hati.


Terdengar suara mobil berhenti. Jantungku seperti orang sedang tawuran.


Duh...gimana ya?


Aku mengintip dari balik jendela kaca, seorang lelaki dengan kulit putih, rambut sedang dan tinggi keluar dari dalam mobil. Wajahnya persis dengan dokter Faira. Apakah ini adik dokter Faira yang akan di jodohkan denganku?


Ponselku berdering, dari nomor yang tidak di kenal.


" Angkat tidak..angkat tidak.." aku bimbang sendiri.


Hingga akhirnya, (aku sudah diluar )


Dan telepon langsung di putuskan.

__ADS_1


Dengan langkah berat aku membuka pintu. Tatapan kami bertemu. Lelaki itu mengulurkan tangan, " Firman."


Aku menyambut uluran tangan itu, " Safarah."


" Jangan takut, aku hanya disuruh jemput oleh kakakku."


" Dokter Faira?"


" Ya."


Aku pun segera masuk kedalam mobil.


" Masih kuliah?"


Aku tertawa, menutup mulut. Ada rasa malu karena masih di tanya soal perkuliahan.


" Tidak mas."


" Lalu?"


" Sudah bekerja." Jawabku singkat.


" Single atau..."


" Janda." Jawabku blak-blakan. Aku tidak mau menutupi setiap bagian ceritaku.


" Janda kok cantik." Gumamnya pelan, namun masih sangat jelas terdengar di telingaku.


" Punya anak?" Tanyanya lagi.


" Aku mandul, mas." Jawabku lebih asal.


" Ucapan itu doa."


Kami sudah tiba di rumah dokter Faira.


" Hai..." Dokter Faira menyambut ku ramah.


" Jangan panggil dok, panggil kakak saja."


" Baik kak."


Aku menyalami semua anggota keluarga kak Faira yang hadir.


" Ara, ini mami dan papi." Kak Faira mengenalkannya orang tuanya padaku.


" Oh...jadi ini yang namanya Safarah?" Maminya kak Faira memelukku.


" Cocok nih buat Firman, " papinya ikut berbicara hingga ruangan ini sedikit lebih ramai.


" Panggil saya mami."


" Iya , mi."


" Faira sudah banyak bercerita. Jika kamu tertarik pada anak kami, Firman. Tentu kami sangat senang sekali."


" Mi.. lebih baiknya kita melakukan perkenalan terlebih dahulu. Karena seperti yang mami ketahui, aku bukan gadis, mi. Aku adalah seorang janda yang terpaksa cerai karena aku tidak mampu memberi keturunan pada keluarga suamiku." Jelasku lagi.


" Mami dan papi sudah tahu. Kak Faira sudah cerita tentang itu. Tidak ada wanita yang salah jika tidak bisa mengandung. Karena anak itu titipan Tuhan, benar toh?"


Aku menatap wajah kedua orang tua kak Faira yang sudah tua. Benarkah masih ada orang yang bisa berpikiran waras?


Kak Faira bergabung bersama kami, " biar saja mereka saling mengenal, mi. Kita tidak usah ikut memaksa. Mereka masih muda."


Mas Firman bergabung bersama kami,


" Safarah, kita jalan-jalan yuk?"


Aku memandang kak Faira, bagaimana pun aku tidak mengenal mas Firman.

__ADS_1


" Pergilah Ara, percaya pada kami, Firman lelaki baik-baik."


Karena kak Faira sudah meyakinkan akhirnya aku dan Firman pergi keluar untuk sekedar jalan-jalan.


Kami memilih bersantai di pinggir pantai.


Angin laut yang sepoi-sepoi, membuat kami memilih duduk di bawah gubuk. Tidak lupa kami memesan dua es kelapa muda.


" Kak Faira, sudah menceritakan tentang perjodohan kita?" Mas Firman membuka pembicaraan.


" Apa kamu setuju? Aku bukan wanita sempurna. Selain itu aku masih trauma untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria."


Firman tersenyum mendengar penuturan dariku. Sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan Mas Firman, dari kejauhan aku melihat ada Fatimah dan mas Virhan.


Mereka ke pantai juga?


Mengapa aku menjadi panik?


Seperti orang yang kepergok sedang selingkuh.


Pandang Fatimah kearah mu.


" Ya Allah..apa yang harus ku perbuat?" Gumamku.


" Kenapa Ara?" Tanya mas Firman. Mungkin ia merasa aneh melihat tingkahku.


" Mbak...mbak Safarah..." Fatimah berlari kecil ke arahku. Sementara mas Virhan berjalan santai di belakangnya.


Kami cupika cupiki, " sehat?" Tanyaku sambil mengusap perut buncit Fatimah.


" Sehat, mbak. Cuma sedikit sesak saja."


" Nikmati saja. Duduk. Mau pesan apa?"


" Hm... sebentar ya mbak. Pesannya nunggu mas Virhan."


" Oke."


Setelah menanti akhirnya mas Virhan datang, " mas mau pesan apa?" Tanya Fatimah.


Bukannya menjawab pertanyaan Fatimah, mas Virhan malah menatap ku tajam.


Aku menunduk serba salah.


" Hai bung...Firman."


Dengan gentle nya mas Firman mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


Setelah sedikit lama, mas Virhan mengulurkan tangannya juga, sekarang mereka saling menjabat.


" Virhan." Ucap mas Virhan lesu.


" Wah nama kita rupanya hampir sama bung." Mas Firman tertawa kecil.


Melihat wajah mas Virhan yang di tekuk, aku bisa membaca pikiran mas Virhan. Pasti ada hal yang sedang tidak ia sukai.


Mas Virhan meminjam ponsel milik Fatimah.


" Apa sih yang akan dilakukan oleh lelaki ini?" Gumamku dalam hati.


Tring!


Pesan satu masuk dari nomor ponselnya Fatimah,


( kamu hutang penjelasan, safarah.)


Aku menatap mas Virhan, tapi ia pura-pura cuek.


" Penjelasan apa yang kamu mau, mas?" Ucap batinku lagi.

__ADS_1


Apa mas Virhan cemburu dengan kehadiran mas Firman disini?


__ADS_2