Safarah

Safarah
Safarah 23


__ADS_3

"Berarti mas Firman mirip papa ya, ma."


" Ya..mereka sangat-sangat mirip sekali. Dari wajah hingga makanan kesukaan, style fashion, semua sama, Ara." Jelas mama mertua.


Aku tersenyum memandang mama. Jika dibandingkan dengan mama mas Virhan jelas jauh berbeda. Jika diibaratkan mungkin mereka berdua bak langit dan bumi. Bak nenek sihir dan ibu peri.


Aku terkekeh sendiri membayangkannya.


" Ara.. mengapa tertawa sendiri?


Duh... kepergok mama mertua sedang senyum-senyum sendiri. Apa yang harus kulakukan?"


" Enggak, ma." Jawabku kikuk.


Karena sudah mendapatkan izin dari mama, akhirnya aku memutuskan untuk memulai rencana ku untuk membuat taman.


Aku mulai memesan tanah dan mempersiapkan segala sesuatunya.


Bibit bunga mawar sudah datang


Hari ini aku mulai mengisi pot plastik dan menanam bunga mawar berbagai warna.


Dengan cara seperti ini aku bisa mengusir rasa jenuh karena menjalani LDR.


***


Meski rasa pusing dan mual melanda, tidak menyurutkan semangat ku untuk membuat taman di depan rumah.


Setiap pagi dan sore aku tidak pernah letih untuk menyiram dan memberi pupuk.


Pagi ini, rasa pusing dikepala tidak bisa kutahan. Aku berjalan sempoyongan, dan hampir saja terjatuh. Untungnya aku masih bisa meraih meja yang ada didekatku.


Semua yang kupandang bergoyang hingga aku tidak sanggup lagi untuk mengangkat wajah.


Aku masih berdiri sambil menutup mata. Ingin berjalan namun aku takut terjatuh hingga rasa lelah membuatku pelan-pelan memilih terduduk di tempat.


Entah pada siapa aku akan meminta pertolongan, bahkan untuk mengeluarkan suara saja terasa sulit.


" Ya Allah..ada apa denganku? Mengapa semua berputar-putar?" Keluhku dengan suara bergetar. Aku pasrah jika sesuatu hal buruk menimpaku.


" Mbak Ara...ya Allah...kamu kenapa mbak?" Suara bik Ani seperti oase di padang tandus.


" Bik.." panggil ku lemah.


" Mbak..sabar ya.. saya panggil ibu sebentar." Terdengar langkah kaki berlari menjauh.


" Allah..beri aku pertolongan..." Doaku dalam hati.


" Ara...kamu kenapa nak? Wajah kamu pucat sekali. Papa...cepat siapkan mobil! Kita harus bawa Safarah ke rumah sakit.


Mendengar suara mama, aku merasa lega. Pertolongan sudah datang. Ku pejamkan mata, hingga aku tidak sadar kejadian apa saja yang terjadi padaku.


***


Yang aku tahu sekarang tanganku sudah terpasang infus. Aku sudah terbaring di ruangan yang serba putih dan beraroma obat-obatan.


Aku terbaring sendiri. Dimana mama dan papa?

__ADS_1


Apa yang terjadi padaku?


Pandangan tidak lagi berputar-putar. Mungkin karena sudah mendapaot penanganan.


Tanpa sadar air mataku meleleh, sedih rasanya.


Kriek! Pintu di buka, " Ara..kamu sudah bangun, nak?" Mama memelukku erat.


Seharusnya kamu cerita pada mama kalau kamu sakit. Mama sudah memberitahu Firman, hari ini dia memutuskan untuk pulang."


" Ma..aku baik-baik saja. Mas Firman tidak perlu pulang. Bukankah tidak lama lagi menunggu waktu satu bulan setengah?"


" Assalamu'alaikum..." Suara nyaring Kak Faira membahana di ruangan ini.


" Sayangku..apa kabarmu? Mengapa sampai di infus seperti ini?" Kak Faira memelukku.


" Aku gak tahu kak." Jawabku lemah.


" Loh kok bisa gak tahu?" Kak Faira tampak terkejut dengan pengakuan ku.


" Ara tidak pernah cerita apa-apa sama mama, Fai." Ucap mama sewot.


" Bener Ra?" Tanya kak Faira padaku.


Aku mengangguk.


" Ara..kamu jangan pernah sungkan untuk cerita apa pun pada mama. Terus mengapa mama gak nelpon Fai?"


" Fai, mama tuh panik lihat Ara sudah pucat bersender di dinding. Dia saja tidak sadar waktu dibawa kemobil. Dia pingsan, Fai." Curhat mama pada anak sulungnya.


" Dua minggu yang lalu aku seperti masuk angin kak, mulai pusing, mual. Aku pikir tidak bakal seperti merepotkan mama dan papa. Tapi... akhirnya malah nyusahin papa dan mama." Ucapku penuh penyesalan.


" Sudah di periksa dokter?" Tanya kak Faira.


" Dokternya belum datang, Fai. Cuma di beri pertolongan pertama kata susternya."


" Oke..coba kakak cek ya."


Kak Faira memegang perutku, sedikit di tekan.


Tiba-tiba saja wajah kak Faira menegang.


" Ra... Kamu..." Ucapan kak Faira menggantung di udara.


" Kenapa kak?" Aku sedikit panik. Mungkinkah ada penyakit serius yang bersarang di perutku?


" Fai..perutnya kenapa? Kamu jangan bikin takut deh." Mama mendekat kepada kami.


" Ma.. ini gak salah lagi deh."


" Apanya yang gak salah lagi, Fai? Ngomong yang jelas dong!" Mama mengguncang bahu kak Faira.


" Ra.. kapan terakhir datang bulan?"


" Sebelum menikah kak" jawabku jujur.


" Kalau benar apa yang prediksi memeng kuasa Allah tidak ada yang menandingi. Kita tunggu dokter ya, supaya nanti lebih jelas hasilnya." Ucap kak Faira sambil menutup perutku.

__ADS_1


" Kak..ada apa denganku?" Tanyaku semakin lemah.


" Kamu sudah telepon Firman? Suruh pulang saja deh!" Perintah kak Faira.


" Tapi tanggung, kak. Satu bulan setengaj lagi."


" Biar kakak yang nelpon." Kak Faira mengambil ponsel, dan mulai berbicara dengan mas Firman.


(Pokoknya kamu harus pulang sekarang! Ini masalah serius.)


Kata-kata penutup kak Faira begitu menyeramkan.


Ada apa sebenarnya ini? Mengapa semua harus dipaksakan? Apakah keadaanku begitu mengkhawatirkan?


***


Dokter sudah datang, kini aku akan melakukan USG.


Mama, papa dan kak Faira ikut berkumpul didalam ruangan.


Didalam hatiku sungguh cemas.


Kalau hamil jelas tidak mungkin. Delapan tahun menikah dengan mas Virhan dan selalu melakukan *** rutin demi tumbuhnya seorang bayi didalam rahimku, Lalu jika dibandingkan sekarang, hanya berhubungan dimalam pengantin, setelahnya kami LDR-an, jelas tidak mungkin aku hamil. Mustahil dan tentu saja itu bagai mimpi intuk diriku sendiri.


Dokter mulai melakukan USG, dokter tersebut tersenyum, " sudah berapa bulan menikah buk?"


" Sudah satu bulan setengah dok." Jawabku jujur.


" Beruntung sekali, ibu. Baru menikah tapi sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan."


Mama dan kak Faira berpelukan, sementara papa tersenyum bahagia.


Aku masih belum paham arah pembicaraan dokter tersebut.


" Maksud dokter?" Tanyaku bingung.


Suster membantuku bangun, selanjutnya aku duduk menunggu penjelasan dari dokter.


" Selamat ya bu, ibu hamil sudah tiga Minggu." Dokter tersebut mengulurkan tangannya.


Aku terperangah, tidak percaya dengan perkataan dokter tersebut.


Hamil? Manaungkin aku hamil.


" D..dokter..saya ti..tidak mungkin h..hamil." ucapku terbata-bata.


" Saya MANDUL dok." Ucapku lagi dengan penuh penekanan.


Dokter tersebut membuka kaca matanya.


" Apa ibu pernah melakukan pemeriksaan? Sehingga ibu bisa memvonis diri ibu sendiri mandul?" Tanya dokter tersebut sambil menatap aneh.


" Dok, maafkan adik saya. Mungkin adik saya masih syok karena pernah delapan tahun menikah, namun tidak kunjung hamil. Sedangkan sekarang baru sebulan setengah menikah, dan sedang menjalani LDR dengan suaminya, lalu dengan cepatnya soerang calon bayi tumbuh di rahimnya." Kak Faira angkat bicara.


" Ibu Ara, kalau Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Bu Ara, hidup itu penuh cobaan, penuh tanjakan, penuh tikungan, bahkan kita tidak bisa menebak-nebak. Ada yang sudah berharap mati-matian, tapi kalau Allah bilang belum, semua takkan terjadi. Tapi ketika sudah pasrah, sudah siap menerima takdir Allah, sudah jungkir balik menghadapi ujian Allah, maka Allah akan gantikan kesedihan kita dengan kebahagian. Saya sangat terharu dan ikut bahagia, akhirnya ibu Ara bisa hamil. Jangan setres, jaga kesehatan ya bu Ara." Pesan dokter.


Butiran bening mengalir deras dari kedua mataku. Allah...inikah pelangi yang telah engkau persiapkan untukku?

__ADS_1


__ADS_2