
" Hati-hati, mas."
" Iya..kamu baik-baik disini ya. Jangan pernah takut curhat dengan mama, insya Allah mama bukan mertua yang ada di sinetron." Pesan mas Firman.
Mama dan papa yang mendengar perkataan anaknya yang konyol hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aku melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan suamiku.
Aku Pasti bisa melewati semuanya.
Bukankah aku wanita kuat?
Malam sudah datang, hanya sepi yang menemani. Mas Firman baru saja selesai menelpon, sepanjang obrolan kami, dia selalu bilang rindu.
Bagaimana tidak rindu, kami kan pengantin baru...
***
Setelah hampir sebulan di tinggal mas Firman, hari ini aku memutuskan untuk bersih-bersih sejenak di kafe. Karena tidak di tempati, akhirnya aku memutuskan untuk menyewakan. Menurut ku itu lebih baik. Kalau untuk menjual, jelas tidak mungkin. Itu adalah satu-satunya harta yang ku punya.
Harta peninggalan almarhum papa yang bisa di selamatkan.
Kafe itu akan berguna nantinya apabila sesuatu terjadi pada rumah tanggaku.
Dengan mengendarai kuda besi kesayangan, ku pacu dengan kecepatan sedang menuju kafe.
Sebelum sampai, aku memutuskan untuk singgah sebentar membeli minum dan cemilan, namun aku harus bersembunyi, karena disana ada mas Virhan dan Fatimah. Sepertinya mas Virhan sedang menemani Fatimah berbelanja bulanan. Itu terlihat karena mas Virhan menggendong Afifah.
" Duh...apa yang harus ku lakukan?" Posisi ku sangat sulit sekali.
Aku mengendap-endap, bersembunyi di balik rak.
Aku tidak ingin bertemu dengan mereka.
Aku memegang dadaku yang berdegup kencang. Sedikit bernapas lega karena Fatimah sudah berdiri di kasir. Sedangkan mas Virhan pasti sudah keluar bersama Afifah.
" Huft!" Aku menghela napas. Mengusap sedikit keringat yang keluar.
" Seperti berjumpa dengan hantu saja." Gumamku.
" Safarah!"
Alamak...suara itu..mengapa ada di belakangku? Sejak kapan?
" Mengapa bersembunyi disini?"
Mau tidak mau aku berbalik arah ke sumber suara.
" Mas.. Virhan.."
Mas Virhan mengulurkan tangannya,
" apa kabar Safarah? Sehat?" Tanya mas Virhan lagi.
" Sehat, mas." Jawabku singkat.
" Umi..." Mas Virhan memanggil Fatimah.
Fatimah menoleh karena panggilan mas Virhan, Fatimah tampak terkejut melihat aku ada di sini juga.
Dia menghampiri ku, memelukku erat, " mbak sudah lama? Kok aku tadi tidak nampak ya?"
" Kalau bukan aku yang melihat, sudah pasti Safarah menghindar, umi." Sindir mas Virhan.
__ADS_1
Aku terbengong mendengar kalimat mas Virhan.
" Mbak, kita makan dulu yuk... Biar mas Virhan yang traktir." Fatimah mengedipkan mata pada suaminya.
" Siap!" Sahut mas Virhan. Senyumnya mengembang.
Aku tidak berkutik sama sekali.
Karena aku pakai motor, jadi kami memilih tempat yang dekat-dekat saja.
Kami memilih sebuah warung lesehan dengan menu nasi padang.
Afifah di gendong oleh Fatimah , bayi itu sepertinya tidur.
" Mbak, rencana mau kemana hari ini?"
" Aku..mau ke kafe. Rencana mau bersih-bersih, tapi mau beli cemilan dan minum dulu. Eh, malah bertemu kalian disini."
" Mengapa sendiri? Tega sekali Firman membiarkan kamu bersih-bersih kafe sendiri. Dasar!"
Suasana langsung menjadi dingin. Aku menatap mas Virhan dengan tatapan datar.
Mengapa harus berfikir buruk? Mengapa tidak bertanya terlebih dahulu.
Mendapat tatapan dariku, mas Virhan jadi salah tingkah. Ia tahu jika aku tidak suka atas perkataan barusan yang baru saja keluar dari mulutnya.
" Mas..kamu tidak boleh berfikir negatif. S.. seharusnya kamu bertanya perihal mas Firman, bukan malah menyudutkan."
Fatimah ikut-ikutan menatap mas Virhan.
" Iya..maaf..aku salah." Ucap mas Virhan sambil membuang pandangannya.
***
Jika aku tidak punya kafe? Dimana aku akan berteduh? Menikah delapan rahun dengan mas Virhan, tidak membuat aku mempunyai harta gono gini. Saat masuk kerumah mas Virhan, aku gak punya apa-apa, begitu pun saat keluar, aku tidak ingin membawa apa-apa. Aku tidak ingin mama mas Virhan semakin tidak menyukai ku. Toh meski begitu, ia tetap tidak menyukaiku.
Entahlah, ada dendam apa mama mas Virhan padaku.
Aku memulai membereskan satu persatu, pelan-pelan namun pasti. Tidak lupa setelahnya, aku menempelkan selembar kertas bertuliskan DISEWAKAN.
Setelah selesai aku memutuskan pulang.
" Hm..semoga saja ada yang berminat untuk menyewa." Gumamku.
***
Ini sudah hampir dua bulan usia pernikahan ku dengan mas Firman.
Rasa rindu di dada mulai menggebu.
Aku jadi sering cemburu, sering marah-marah tidak jelas.
Terkadang aku merasa aneh pada diriku sendiri.
Sejak kapan aku menjadi seorang pencemburu?
Ponselku berdering, nama mas Firman tertera di layar,
( Halo.. assalamu'alaikum sayang...)
Mas Firman menyapaku dari seberang. Hal rutin yang kami lakukan ada melakukan panggilan video call.
( Waalaikumsalam, mas.)
__ADS_1
Jawabku sambil mengurut keningku.
( Kamu sakit, yang? Kok wajahnya pucat?)
( Enggak, mas. Cuma sering pusing saja. Kayaknya masuk angin)
( Sudah berobat? Atau minum obat?)
( Tidak perlu mas, nanti juga sembuh sendiri. Lagian sudah malam. Kamu sudah makan, mas?)
( Sudah. Kangen deh pengen ehem ehem..)
( Mas..malu ngomong kayak begitu. Nanti didengar oleh orang loh.)
( Biarin saja, yang. Namanya juga pengantin baru.)
Tidak berapa lama terdengar sorakan teman-teman mas Virhan.
" Huuuuu pulang-pulang....."
Mereka menyoraki mas Firman untuk pulang.
( Mas sudah coba ajukan cuti seminggu, tapi tidak bisa. Nunggu tiga bulan baru bisa ambil cuti. Padahal mas sudah merasa di ubun-ubun.)
( Sabar mas. Akan ada pelangi setelah turun hujan. Bukan begitu?)
( Iya...kamu jaga kesehatan ya. Jangan lupa selimutan,. Nanti masuk angin.)
( Kamu juga ya, mas. Bye mas..good night)
( Bye sayang...)
Panggilan telepon kami tutup..
Aku memilih memoles badanku menggunakan minyak kayu putih sebelum tidur. Pendingin ruangan sengaja ku matikan.
Bukan karena hemat, entah mengapa sejak beberapa hari ini badanku merasa tidak enak.
Aku memilih tidur cepat. Berharap esok bisa bangun dengan tubuh fit dan sehat.
***
Pagi sudah menyapa, aku memutuskan untuk membantu mama menyiram tanaman, " ma..kalau boleh aku mau menanam bunga disini boleh?"
" Tentu saja, Ara. Mengapa perlu meminta izin. Ini rumah kamu sekarang. Jafi kamu bebas."
Duh.. menantu mana yang tidak tersanjung mendengar perkataan mama.
" Rencananya Ara mau mencari kesibukan. Ara bosan, ma. Tidak boleh bekerja oleh mae Firman." Keluhku.
" Mama mengerti, sayang. Mama dulu sempat berontak pada papa karena dipaksa untuk berhenti bekerja." Mama tersenyum kecil mengenal masa lalunya.
" Berarti mas Firman mirip papa ya, ma."
" Ya..mereka sangat-sangat mirip sekali. Dari wajah hingga makanan kesukaan, style fashion, semua sama, Ara." Jelas mama mertua.
Aku tersenyum memandang mama. Jika dibandingkan dengan mama maa Virhan jelas jauh berbeda. Jika diibaratkan mungkin mereka berdua bak langit dan bumi. Bak nenek sihir dan ibu peri.
Aku terkekeh sendiri membayangkanya.
" Ara.. mengapa tertawa sendiri?
Duh... kepergok mama mertua sedang senyum-senyum sendiri. Apa yang harus mulakukan,?"
__ADS_1