Safarah

Safarah
Safarah 25


__ADS_3

Setelah penampilan cukup menjanjikan, aku segera keluar dari kamar untuk menemui mama.


Meski ada rasa malu, tapi demi mama...sejenak aku hilangkan semuanya.


" Ara..." Mama melambaikan tangan ke arahku.


Aku tersenyum dan memdekat kearah mama,


Aku duduk di sebelah mama, menebar senyum.


Namun.. tidak lama senyum itu memudar dari wajahku karena seorang wanita paruh baya yang ku kenal menatapku penuh keterkejutan.


Tangan yang sudah ku ulur dibiarkan mengambang oleh wanita tua itu.


Apakah benci itu masih tertanam kokoh dihatinya?


" Ibu Ida, kenalkan ini menantu saya." Suara mama memecah suasana yang hampir membeku di ruangan ini.


Dengan angkuhnya mantan mama mertua ku menyentuh tanganku hanya secuil dan memerkan senyum sinis.


Berbagai perasaan bermunculan di kepalaku.


Setelah menyalami tamu mama, aku pun duduk disamping mama atas permintaan mama sendiri.


" Jeng, kamu tidak salah memilih menantu?" Tiba-tiba saja mantan mama mertua nyeletuk.


" Maksud buk Ida?" Tanya mama keheranan.


Sedangkan tamu yang lain tampak bingung melihat kesinisan yang terpancar dari wajah mantan mama mertua.


" Wanita ini kan mandul."


Perkataan yang keluar dari mulut mama mas Virhan seketika membuat yang hadir disini menatapku tajam. Aku menjadi pusat perhatian.


" Dari mana buk Ida tahu menantu saya? Apa buk Ida mengenalnya?" Mama melipat tangannya ke dada.


" Wanita mandul ini mantan istri anak saya. Delapan tahun menikah tapi tidak bisa hamil. Memalukan. Saya paksa mereka bercerai, untung saja anak saya nurut. Dan sekarang saya sudah punya cucu perempuan." Sahut mama bangga.


" Buk Ida, kamu gak boleh berbicara seperti itu." Salah satu tamu mama angkat bicara.


" Loh yang saya ceritakan ini benar adanya. Salahnya dimana?" Sahut mantan mama mertua ketus.


Aku masih diam, tapi air mataku mengalir. Aku malu rasanya karena pernah menjadi menantu dirumah wanita tua itu. Aku juga menyesal pernah berlaku baik pada wanita tua itu.


" Buk Ida yang terhormat, menantu saya bukan wanita mandul, lihat!" Mama membuka jilbab yang menutupi perutku.


" Lihatkan buk Ida? Menantu saya hamil. Jika dia tidak hamil ketika menikah dengan anak ibu Ida mungkin saja dia tertekan selama menjadi menantu ibu. Atau.. Allah mang tidak ingin menantu saya mengandung cucu dari ibu, mertua yang bermulut kejam seperti anda."


Betapa bahagianya aku mendengar pembelaan mama.


" Buk Ida... Menantu saya sudah melepas anak ibu, menantu saya sudah menikah dengan anak saya. Jadi... jangan pernah ungkit masa lalunya. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya bersama kami. Dan ibu sudah bahagia dengan kehidupan anak ibu dan menantu baru ibu." Ucap mama dengan sangat bijaksana.


" Ibu yang terhormat..." Dengan susah payah aku mencoba memberi paham pada wanita tua itu.


" Hubungan saya dengan anak ibu sudah selesai. Saya sudah mengembalikan anak ibu seutuhnya. Bu..saya sudah bahagia dengan hidup saya. Mengapa ibu usik lagi? Mengapa kebencian itu tetap kokoh bersarang di hati ibu? Salah saya apa buk?" Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku terasa sakit sekali.


" Ma...maaf aku harus istirahat hari ini." Aku berlari masuk ke kamar. Ku tumpahkan tangisanku didalam kamar. Dada ku terasa sesak hari ini. " Allah...kuatkan aku ..."

__ADS_1


***


Mentalku hari ini benar-benar di rusak oleh mantan mama mertua. Fisikku ngedrop. Aku yang masih hamil muda membuat mama semakin khawatir.


" Kita ke dokter ya, nak. Mama tidak bisa melihat kamu terbaring lemah."


Aku menggeleng lemah, hanya sudut mataku saja yang basah.


Mama terlihat sibuk dengan ponselnya, sesekali ngedumel karena teleoonnya tidak diangkat oleh seseorang.


" Mama nelpon siapa?"


" Firman. Tapi kok gak diangkat-angkat ya? Heran mama lihat anak satu itu." Mama mulai mengomel.


Aku melihat jam di dinding, " jam segini mas Firman kayaknya sibuk, ma. Biasanya nanti jam dua belas baru nelpon." Jelasku pada mama.


"Ya sudah, mama kirim pesan saja sama Firman." Ucap mama sambil masih memegang ponselnya.


Dengan tubuh lemah, aku mencoba menghirup udara sore. "Cobaan hidup yang tiada habisnya" Gumamku sambil meraba perutku. " Kita kuatkan, nak?" Aku mengajak mengobrol pada calon bayi yang ada di rahimku.


"Kita pasti akan berjumpa, sayang.. buktikan pada dunia, bahwa bunda tidak hamil. Cukup kamu yang bungkam mulut- mulut rusak mereka, nak." Aku terisak kembali.


***


Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibirku. Aku membuka mata, ada wajah lelaki yang ku rindukan.


"Mas..kamu..." Aku bangkit dari tidurku.


"Ini benaran kamu?" Aku menangkup wajahnya dengan tanganku.


Dia tidak berbicara, mas Firman malah menghujaniku dengan ciuman yang memabukkan.


"Mas..ini benaran kamu?" Rengekku manja.


Wajah tampan yang ada di hadapnku hanya cengar cengir.


"Mas..kalau kamu masih diam saja...jangan salahkan kalau aku akan..." Tanganku terangkat ke udara.


" Jangan marah-marah sayang... Sejak kapan kamu jadi tukang pukul, hm?" Mas Firman memegang tanganku,dan mengecupnya.


Ah...sekarang aku yakin jika lelaki ini adalah mas Firman, bukan hantu jadi-jadian.


"Kenapa pulang mas?" Tanyaku sambil berbaring di dadanya.


" Aku kangen, sayang. Gak tahan puasa lama-lama."


" Gombal..!" Aku mencubit pinggang.


Mas Firman meminta ampun dan mengadu kesakitan, tapi sebentar saja. Selanjutnya ia kembali mencumbuku dan kami bercinta lagi.


"Mas..kamu pulang kok aku jadi sehat ya... Badanku gak lemas lagi."


"Kamu mau tahu kenapa?"


"Kenapa mas?" Aku penasaran.


"Karena kamu merindukan siraman dari suami mu yang ganteng. Hehe.." mas Firman terkekeh.

__ADS_1


"Lebay!"


***


Kepulangan mas Firman membuat aku kembali sehat. Hari ini kami memutuskan untuk berjalan-jalan menyegarkan pikiran.


Kami pergi ke suatu tempat yang sangat cocok untuk bersantai.


Banyak orang yang membawa buah hatinya berlibur ke tempat ini.


" Dek, nanti kalau kamu sudah lahir, ayah akan ajak kamu ketempat ini." Mas Firman mendekatkan bibirnya ke arah perutku.


Sejak tahu hamil, kebiasaan mas Firman adalah ngobrol dengan perutku.


Aneh! Tapi aku suka dengan kebiasaan mas Firman.


Saat sedang menikmati secangkir teh hangat, tiba-tiba saja aku di kejutkan oleh sepasang suami istri yang sedang berusaha mendiamkan anaknya.


"Afifah.. sayang umi..."


Aku terdiam sejenak, suara itu seperti tidak asing. " Afifah..seperti nama..." Aku mencoba mengingat- ingat...


Mas Firman menatapku heran, " kamu kenapa, yang?"


" Afifah... Jangan nangis dong..umi bingung nak..." Terdengar suara itu semakin putus asa.


"Mas.. kamu kenal suara itu?" Tanyaku pada mas Firman.


Mas Firman hanya mengangkat ke dua bahunya," Memangnya suara apa, yang?"


"Suara wanita itu..yang sedang membujuk anaknya?"


Karena penasaran yang terlalu besar, akhirnya aku pun mendatangi wanita yang sedang menggendong anaknya.


" Mbak..anaknya kenapa menangis saja?" Tanyaku sambil menyentuh bahunya.


Wanita itu menoleh, " Mbak Safarah?"


"Hah? Fatimah?"


Betapa terkejutnya aku bertemu istri mantan suamiku di tempat ini.


Aku menggendong bayi yang menangis ini.


"Cup..cup..cup..Sayang...kamu kenapa menagis?" Aku mencoba mendiamkannya.


Sementara Fatimah sedang mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.


Aku menimang-nimang bayi ini penuh kasih sayang, ajaib! Afifah tertidur di dalam buaian ku.


" Fatimah, dia mengantuk." Ujarku.


" Dia tidak pernah rewel seperti ini, mbak."


" Kamu sama siapa ke sini?"


" Sama mas Virhan, tapi dia sedang ditoilet."

__ADS_1


Fatimah bisa bernapas lega karena putrinya sudah tidur didalam pangkuanku. Dari jauh sosok suami Fatimah berjalan ke arah kami. Jika Fatimah bisa bermapas lega, lalu mengapa jantungku masih berdegup kencang?


__ADS_2