Safarah

Safarah
Safarah 17


__ADS_3

Mas Firman mengajak aku untuk makan malam di sebuah warung pinggir jalan. Tidak menu mewah, hanya pecel lele kesukaan kami berdua.


Selagi warung itu bersih, tidak menjadi kendala untuk kami.


Pesanan sudah datang, kami mengobrol sambil menikmati sepiring pecal lele.


" Sus Ara...maukah menikah denganku?


" Hah?" Aku terpelongo bak sapi ompong.


Jelek sekali bukan?


" Waktuku tidak lama disini. Sebentar lagi cuti ku akan berakhir."


Karena masih diam, mas Firman mengusap sudut bibirku, " ada sambalnya." Ucapnya sambil tertawa kecil.


Aku menjadi malu atas tindakan manis dari mas Firman.


" Aku tidak tenang meninggalkan kamu tanpa ada ikatan." Ucapnya sambil menyeruput es jeruk.


" Mengapa?" Tanyaku ingin tahu.


" Mantan suami mu meresahkan." Ucapnya lagi.


" Dia sudah bahagia, mas."


" Oh iya?"


" Ya. Dia sudah memiliki bayi sekarang, dan hubungan kami sudah lama selesai."


" Apa tidak tersisa cinta lagi?" Ia menatapku dengan tatapan mengintimidasi.


" Tentu saja tidak, mas." Ucapku berbohong.


" Tidak ada dusta?" Selidiknya.


Sepertinya lelaki yang ada di hadapanku cukup paham menganalisa wanita.


Aku hanya menanggapi dengan gelengan kepala. Jika mulut yang berbicara, tentu ia akan tahu semuanya.


Selesai makan kami sengaja pulang lebih cepat. Katanya, mas Firman ingin mengobrol di kafe saja.


Kami duduk berdampingan. Sepi..karena sampai hari ini kafe masih tutup. Entah sampai kapan akan buka.


" Kafe tutup?"


" Iya, mas. Nadia belum pulang."


" Lama sekali? Atau memang tidak pulang lagi." Tebaknya.


" Hmm..lebih tepatnya... Nadia tidak akan pulang kembali..?" Jawabku bimbang.


" Why?"


Aku hanya mengangkat bahu sebagai tanda tidak mengerti.


" Apa kalian ribut? Ada masalah serius?"


"Ya Allah..mas Firman..kamu ini perempuan apa laki-laki sih? Jiwa kepo mu terlalu tinggi, mas." Ungkap batinku sebal.


" Ayolah...kamu jangan pendam semua masalahmu sendiri! Sedikit saja berbagi denganku. Kamu tahu? Wanita yang suka menyimpan masalahnya akan lebih cepat tua dan keriput. Bukan begitu nona?" Mas Firman Menaik turunkan alisnya.


Aku terdiam sejenak? Mungkinkah aku harus berbagi pada mas Firman? Lelaki yang baru kukenal beberapa hari. Apa dia bisa di percaya?


" Apa aku kurang meyakinkan untuk dipercaya?"


" Hm.. bukan begitu. Oke..oke..aku akan cerita, Nadia memang tidak akan pernah kembali. Dia di jodohkan oleh orang tuanya. Jujur..aku merasa kehilangan sosok adik, teman..juga sahabat." Curhatku.

__ADS_1


Mas Firman manggut-manggut, entah apa artinya.


" Kalau kamu kehilangan sosok sahabat teman, jadikanlah aku temanmu sekarang."


" Tidak semudah itu, mas. Aku mandul. Siapa yang ingin menikah dengan wanita mandul? Tentu tidak ada kan?" Tegasku lagi.


" Tidak ada yang mustahil, sus Ara..kalau Allah sudah berkehendak."


" Entahlah mas." Sahutku singkat.


Jam sudah merangkak naik, " Aku pamit pulang ya. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa tutup pintunya dan kunci yang rapat."


" Iya mas."


Diluar dugaan, mas Firman hampir saja mengecup bibirku. Untung saja aku bisa mengelak.


Plak! Plak!


Aku mendaratkan dua tamparan di pipi mas Firman.


" Jangan berani menyentuhku, mas!" Jeritku tertahan. Darahku mendidih mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari mas Firman.


Seumur hidup ku, hanya mas Virhan yang berani menyentuh ku, itu pun karena kami sudah sah dimata Allah dan agama.


Lalu lelaki ini seenaknya?


" M..maaf Ara.. aku tidak bermaksud.."


" Cukup! Mulai sekarang jangan pernah hadir di depan mataku lagi. Silahkan pergi dari sini!" Usirku.


" Ara...maaf.."


Aku meninggalkan lelaki menyebalkan ini. Kubanting pintu rumahku.


" Ara..."


Panggilan dari luar masih terdengar. Namun sebisa mungkin ku tutup telingaku. Hatiku tidak bisa terbuka lagi untuk lelaki Dajjal seperti mas Firman.


Aku menangis sendiri dalam kesepian.


Apa karena statusku janda? Hingga lelaki dengan mudah merendahkan martabat ku.


Aku ingin .. status janda tidak lagi di pandang rendah oleh siapa pun.


Aku ingin menjadi janda terhormat. Hanya itu.


***


Pagi-pagi aku sudah mandi. Hari ini aku akan bekerja. Mataku sembab karena terlalu lama menangis. Bagaimana ini? Jangan sampai orang tahu jika tadi malam aku menangis hingga kelelahan dan tertidur.


Ku sapu wajahku dengan makeup, agak sedikit tebal.


Setelah bersiap aku segera berangkat. Tidak lupa ku kunci pintu.


Kugunakan helm, kupacu kuda besi beroda dua di jalan raya.


Aku sedikit menepi kala sebuah mobil memepet kuda besi Roda dua milikku.


Sesosok wajah menyembul dari balik kaca, " Safarah!"


Panggilan itu sontak membuat aku beralih ke sumber suara.


" Mas Virhan..." Desisku.


Mas Virhan menghentikan mobilnya. Mau tidak mau aku juga menghentikan kuda besi roda dua milikku.


" Kerja?"

__ADS_1


" Iya mas."


" Mau kasih ini..." Mas Virhan memberikan selembar undangan.


" Datang ya..."


" Insya Allah, mas." Ucapku sembari menerima kertas undangan dari tangan mas Virhan.


" Fatimah sehat mas?"


" Alhamdullilah..."


" Alhamdullilah kalau begitu. Bagaimana? Adek bayi suka begadang?" Tanyaku.


" Duh...luar biasa, setiap malam maunya begadang. Umi sama ayahnya sudah ngantuk." Mas Virhan menggelengkan kepala sembari tersenyum.


" Bayi memang seperti itu mas. Jam tidurnya belum teratur. Biasanya masa penyesuaian selama hampir dua bulan, mas. Di nikmati saja..yang penting jangan lupa selalu support ibunya yah.." pesanku pada mas Virhan.


" Terima kasih ya, Safarah." Ucap mas Virhan.


" Sama-sama, mas. Aku duluan ya..." Pamitku.


" Safarah... hati-hati.."


" Oke mas." Jari jempolku terangkat ke udara.


Hidup itu memang aneh ya, mau cinta seperti apa pun, kalau Allah tidak berkehendak maka tetap saja tidak bersatu.


Aku sudah tiba di tempat kerja. Dokter Faira sudah tiba lebih dahulu.


" Hai sus Ara.." sapa dokter Faira menyapaku.


" Selamat pagi dok.. sehat?"


" Alhamdullilah... Tumben sekali makeup nya tebal?"


" Hah? Ini...em..." Aku kikuk sendiri dan tanganku memegang wajah.


" Tidak perlu di hapus. Cantik kok." Dokter Faira tersenyum. Dan kami memulai pekerjaan dengan baik.


***


Huft ..akhirnya selesai...


Aku segera berkemas. Seharian bekerja membuat tubuhku terasa letih.


" Sus Ara... Sudah mau pulang?"


" Iya, Dok."


" Ini ada titipan permintaan maaf dari Firman." Dokter Faira menyerahkan sebuket mawar bertuliskan kata maaf dan tidak mengulanginya lagi.


" Dia galau.." ucap dokter Faira lagi.


" Galau? "


" Dia curhat tadi malam tentang kamu. Sus Ara. Dia merasa bodoh! Dia pikir, sus Ara bisa di perlakukan seperti perempuan yang pernah di temuinya. Jadi..dia menitipkan bunga ini untuk sus Ara. Maafkan adik saya, ya. Kalau sus tahu, Firman adalah adik saya yang paling nakal sejak dulu. Mohon maafkan adik saya ya, Sus."


Aku merasa tidak enak pada dokter Faira. Demi adiknya, dia rela meminta maaf pada perempuan sepertiku. " Dok, tidak perlu meminta maaf...saya sudah memaafkan."


" Terima kasih ya sus Ara." Ucap Dokter Faira.


Aku melangkah keluar dengan berbagai ledekan dari rekan kerja di rumah sakit ini.


Tentu mereka penasaran dengan bunga yang kubawa dari ruangan Dokter Faira.


Sebelum sampai di parkir, seseorang berdiri membawa spanduk bertuliskan, ( MAAF...AKU BERJANJI TIDAK AKAN MENGULANGI PERBUATAN BODOH. TOLONG NOMOR PONSELKU JANGAN DIBLOKIR)

__ADS_1


Aku memang tidak bisa melihat wajah seseorang di balik spanduk.Tapi tentu aku mengenali lelaki itu. Lelaki itu adalah....


Siapakah lelaki itu,? Yuk follow aku dan jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya...


__ADS_2