Safarah

Safarah
Safarah 7


__ADS_3

Mas Virhan berjalan mendekat kearah ku.


" Sudah mas?"


" Sudah." Jawabnya dengan raut wajah berubah.


Dia kembali memegang ponselnya, menghidupkan lalu menekan tombol mati.


" Mengapa dimatikan?" Tanyaku keheranan.


" Aku tidak mau diganggu hari ini."


" Memangnya mama bilang apa, mas?"


" Seperti biasalah, Virhan kamu dimana? Sudah mau menikah kok malah kerja. Ah. Sampai kapan aku bis sabar menghadapi mama, Safarah. Demi mama, terlalu banyak yang ku pertaruhkan." Curhatnya padaku


" Bukankah ibumu surgamu?"


" Lalu, apa masih ada surga di telapak kaki ibu jika seorang ibu meminta anaknya bercerai? Bukankah Allah membenci perceraian?" Tanya Virhan lagi.


" Safarah... sampai detik ini...setiap sujud aku selalu meminta pada Allah agar kelak menyatukan kita lagi. Cuma itu doaku, Safarah.." suara mas Virhan mulai bergetar.


" Sabar, mas. Kita tidak bisa melawan takdir."


" Safarah...kita pergi saja dari sini, yuk?"


" Maksud kamu apa mas?"


" Kita pindah dari sini. Kita hidup berdua. Memulai kehidupan dari nol."


" Lalu mama? Kamu tega memilih hidup denganku dan membiarkan mama yang sudah tua hidup sendiri? Bagaimana kalau tiba-tiba mama sakit? Atau lebih parahnya jatuh? Kamu bayangin mama tinggal sendirian dirumah gede kaya gitu? Ckck..mas kalau mau ngomong itu ya mbok di pikir baik-baik." Nasihatku pada mas Virhan.


Aku juga tidak ingin membuat mas Virhan menjadi anak durhaka.


" Kita lupakan mama. Aku bertemu denganmu, karena rindu."


" Duh...calon pengantin baru pandai gombal sekarang." Ejek ku pada mas Virhan.


Mas Virhan memencet hidung ku, " sakit mas."


Sejenak kami sama-sama terdiam.


" Kita belanja yuk?"


"Belanja apa?"


" Baju, perhiasan."


" Tidak perlu repot-repot, mas."


" Repot bagaimana? Kamu punya hak atas diriku dan hartaku."


Tanpa menunggu respon dariku, mas Virhan membawa aku ke pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Kami berputar-putar tanpa tujuan.


Mas Virhan menarik tanganku kesebuah toko baju, " bajunya menarik. Pilihlah beberapa."


" Beberapa? Gila kamu, mas." Aku terkekeh.


Mas Virhan memilihkan sebuah gamis mewah. " Buat kamu."


" Terima kasih, mas." Ucapku penuh haru.


Setelah menghabiskan waktu bersama, akhirnya waktu kebersamaan kami berakhir.


" Cepat sekali berlalu, "


Kami saling menatap,


Cup! Mas Virhan mendaratkan kecupan tepat dibibirku.


" Dasar jahil " aku merengut.


" Kangen." Mas Virhan nyengir,


" Aku turun ya, mas. Selamat menempuh hidup baru ya, mas. Semoga langgeng dan cepat dapat momongan."


" Boleh peluk?"


Aku memeluk mas Virhan, lama dan meresapi setiap kulit kami yang bersentuhan.


Aku mencium pipi suamiku untuk terakhir kalinya dan segera turun dari mobil.


Jujur..saat ini aku menahan tangis. Aku tidak ingin mas Virhan memergoki air mataku jatuh.


***


Hari yang mendebarkan sudah di depan mata. Sejak pagi, aku hanya termangu. Bingung, mau datang atau...dirumah saja. Jika aku hadir...maka aku harus mempersiapkan diri. Jangan sampai tamu yang datang justru memandang iba ke arahku.


" Mbak..belum siap juga?" Nadia menghampiri ku dengan tampilan yang sudah rapi.


" Menurut mu, mbak harus hadir?" Aku meminta pendapat pada gadis belia yang kuanggap jauh lebih dewasa.


" Kalau menurut aku ya mbak harus hadir. Buktikan pada mereka jika mbak otu adalah wonder woman." Ucap Nadia sembari mengangkat kedua tangannya.


" Begitu ya?"


" Yup! Sekarang mbak mandi terus dandan yang cantik." Nadia mendorong tangan badanku.


Aku pun bergegas mandi.


Yah..inilah saatnya aku membuktikan pada mama mertua bahwa sampai detik ini aku masih tetap tegak berdiri.


Aku memberikan polesan makeup pada wajahku, polesan bernuansa santai tetapi tetap terlihat segar.


Baju pemberian sekaligus pilihan mas Virhan menemani petualangan ku hari ini.

__ADS_1


" Are you ready!" Suara Nadia selalu memberikan efek semangat.


" Bismillahirrahmanirrahim...semoga tidak ada drama air mata." Harapku dalam hati.


Aku dan Nadia memesan mobil rentalan untuk sampai di rumah mas Virhan.


Setelah menempuh beberapa menit, akhirnya kami sampai pada sebuah rumah yang terpasang janur. Akad nikah kali ini dilaksanakan dirumah mas Virhan sesuai permintaan mama.


Rumah tersebut sudah ramai dengan para tamu. Jantungku berdegup kencang. " Ya Allah...jangan sampai aku terlihat lemah."


Aku menyalami mama. Mama menyambut ku dengan senyum ramah.


Pelukan seorang ibu mertua yang baru kali ini kurasakan sepanjang pernikahan.


" Safarah... Terima kasih sudah melepas Virhan." Ucap mama dengan lelehan air mata. Entah apa yang membuat wanita paruh baya ini menangis.


" Demi kebahagiaan mama, aku rela mengembalikan seutuh mas Virhan pada mama. Semoga pernikahan mas Virhan langgeng bersama Fatimah. Dan...semoga mas Virhan dan Fatimah bisa segera memberikan mama cucu." Doaku dengan tulus.


" Mama minta maaf...karena sudah menyakiti hati kamu selama menjadi menantu mama."


Mama...andai pelukan ini aku dapatkan dahulu sewaktu menjadi istri mas Virhan...


Tentu aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.


Ijab kabul akan segera dimulai. Mas Virhan dan Fatimah sudah duduk bersanding. Tetangga disekitar rumah mama mulai kasak-kusuk. Tak jarang sebagian memandang aku iba.


Mas Virhan sudah menjabat tangan seorang pria yang menjadi wali nikah Fatimah. Sepertinya itu abangnya.


" Saya terima nikahnya Fatimah binti Subroto dengan mas kawin tersebut tunaiiii...." Sekali tarikan napas, mas Virhan berhasil mengucapkan ijab qabul.


" Sah...." Terdengar dengan jelas ucapan dari saksi yang hadir.


Butiran kristal jatuh meleleh membasahi wajahku. Tidak bisa kubendung laju air mata ini.


Tidak pernah ku bayangkan jika suatu saat mas Virhan akan mengucapkan ijab qabul bersama wanita lain.


Aku menunduk. Tidak mampu rasanya untuk menatap dunia. Satu kebodohan ku adalah hadir diacara pernikahan suamiku.


" Safarah..." Panggil mas Virhan.


Aku tidak percaya jika mas Virhan mendatangi aku.


Mas Virhan memelukku erat. Kami saling bertangisan. Aku tak kuasa untuk menahan rasa sesak di dada.


" Maafkan aku Safarah.." mas Virhan terisak memelukku. " Ini bukan kemauan ku, tolong jangan pernah sakit hati padaku, Safarah..."


Suasana pernikahan kali ini seperti drama yang ada di sebuah tayangan ikan terbang. Semua yang hadir ikut menangis bersama kami. Termasuk Fatimah. Aku juga yakin, tidak ada yang ingin berada di posisi Fatimah.


Fatimah adalah korban dari keegoisan mama. Dan aku tidak pernah menyimpan dendam sedikit pun pada Fatimah. Aku percaya, Fatimah adalah perempuan baik-baik yang bisa mengurus mas Virhan jauh lebih baik ketimbang diriku.


Fatimah mendekat kearah kami. Kami berpelukan bertiga. Pada saat ini kami tidak perduli tentang pabdangan orang lain.


" Mbak...maafkan aku mbak..." Fatimah menangis sesenggukan."

__ADS_1


" Ti-tidak perlu meminta maaf, Fatimah...kamu tidak salah. Jadilah istri yang baik buat mas Virhan." Pesanku pada Fatimah.


Sungguh! Ini adalah momen yang paling mengharu biru didalam hidupku...


__ADS_2