Safarah

Safarah
Safarah 12


__ADS_3

"Setelah mama meninggal dengan tragis, papa selingkuh dan hartanya habis, lalau papa menyusul mama, pernikahan mbak yang tidak di inginkan oleh mama mertua, pernikahan yang harus berakhir dengan perceraian." Mata ku menerawang, bayangan masa lalu berputar kembali.


" Dosa apa yang sudah mbak perbuat sehingga dunia ini terasa kejam?"


Nadia hanya bisa diam tanpa tahu harus bagaimana menanggapi curhatan ku.


" Sabar ya mbak..."


***


Hari ini aku mendapat giliran masuk pagi untuk menggantikan temanku yang mendadak ada kemalangan.


Dengan mengendarai sepeda motor matic, kulaju dengan kecepatan sedang. Aku takut jika tidak hati-hati maka akan mengalami kecelakaan.


Dari kaca spion, aku melihat ada sebuah mobil yang sejak tadi kurasakan mengikuti.


Siapa dia? Aku mencoba menambah laju motor matic ku, sang pengendaranya mobil pun ikut menambah laju kendaraan nya. Tidak ingin sesuatu buruk terjadi, aku menghentikan motor di tempat keramaian. Mobil hitam itu melaju, membunyikan klakson. Karena kaca mobil yang gelap, aku jadi tidak bisa menebak siapa pengemudinya.


Setelah merasa aman, aku kembali melajukan motorku. Sepertinya aku akan terlambat sampai di rumah sakit.


Motor kuparkir, aku segera memakai masker. Berjaga-jaga andai ada orang yang mengenal ku.


Namun, mataku terbelalak kala seorang lelaki sudah berdiri dihadapanku. Sejak kapan?


" Suster Ara..." Dia mengulurkan tangannya.


" Ka..kamu.." bibirku terasa beku untuk menyebut namanya.


" Apa kabar?" Tanyanya lagi. Tangan itu aku biarkan mengambang di udara.


" Boleh kita berbicara?"


" A..aku tidak bisa. Permisi." Kuambil langkah kaki besar-besar demi tak mengobrol dengannya.


Aku kembali menoleh pada sosok pria yang berdiri terpaku.


Sampai didalam, aku duduk sejenak sebelum memulai tugas.


" Kenapa Sus Ara?" Tanya Dokter Faira.


" Enggak papa dok." Jawabku berbohong.


" Kayak habis lihat hantu deh." Dokter Faira tertawa kecil.


Aku pun ikut tertawa.


Lucu saja, melihat lelaki yang pernah menjadi suamiku, tapi sekarang justru aku ketakutan melihatnya.


" Maaf ya..mas.. aku takut jatuh cinta lagi sama kamu. Hubungan kita sudah selesai enam bulan lalu."


Bertemu dengan mas Virhan membuat hari-hari ku menjadi tidak menyenangkan.


Aku kembali terngiang wajahnya, tatapannya...


Tapi melihat senyum bahagia Fatimah, membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa. Senyum kemenangan Fatimah, jelas terukir kemarin.


***


Tugas sudah selesai, rasanya lelah sekali. Aku segera pulang, mataku sudah terasa berat.


Namun, ada hal yang mengejutkan, mas Virhan masih menungguku di sebuah parkiran.


" Mas Virhan? Masih disini?" Tanyaku merasa aneh.


" Kalau punya waktu, aku ingin bicara dengan kamu."

__ADS_1


" Maaf mas, aku capek!" Segera aku menghidupkan motor ku.


" Safarah!" Panggilnya, namun aku tidak perduli. Kamu hanya bagian masa laluku mas.


Untuk menghindari mas Virhan, ku pacu laju motorku dengan kencang.


Sampai di kafe, aku segera memasukkan motor ke dalam.


Nadia terbengong-bengong menyaksikan aksi ku hari ini.


" Mengapa buru-buru, mbak? Kayak lagi lihat hantu saja." Nadia menggodaku.


" Tolong mbak ya.. kalau ada mas Virhan datang kesini, bilang saja aku belum pulang." Jawabku buru-buru masuk ke kamar.


" Ta..tapi kenapa mbak?"


Aku tidak memperdulikan Nadia,


Menyelamatkan hidupku jauh lebih penting.


***


Hari ini aku mengikuti Safarah. Benar saja, sekarang ia menjadi perawat di sebuah rumah sakit yang kemarin kami datangi bersama Fatimah. Feeling ku memang benar, suster Ara adalah Safarah.


Aku sempat mengikutinya, namun ia seperti tahu. Dan aku sengaja menunggu di parkiran.


Wajahnya memucat seperti melihat hantu, " apakah aku menyeramkan baginya?"


Entahlah...


Aku hanya ingin mengobrol padanya, namun...ia seperti menutup akses untuk aku kembali menjalin silaturahmi.


Tidak putus asa, aku menunggunya seharian di parkiran. Saat tahu ia pulang, kembali aku menemuinya. Namun... lagi-lagi ia menolak berbicara denganku.


" Safarah...apa kini kamu sudah menemu kan pengganti ku?"


Jika benar...berarti Safarah berhasil melupakan aku.


Aku mengejar Safarah ke kafe, namun aku malah menemui Nadia.


Aku tahu Nadia tengah berbohong. Ia sangat gugup ketika mengatakan jika Safarah belum pulang. Padahal ada sepatu Safarah di depan. Sepertinya mereka lupa menyembunyikan sepatu itu.


Aku tersenyum kecewa, Safarah selalu saja pandai berbohong.


Aku masih menunggu sejenak di depan kafe ini... Tidak ada harapan jika Safarah akan menemuiku.


Enam bulan menahan rindu.


Andai kamu tahu Safarah, setiap doa yang ku ucap selalu atas nama mu. Bahkan sekalipun aku tidak meminta doa atas nama Fatimah. Tanoa meminta pin Fatimah selalu hidup mujur.


***


Aku memilih pulang, Fatimah menyambut ku dengan senyuman tulus.


" Kamu sudah makan mas?"


Hal yang tidak pernah ia lupakan adalah selalu bertanya makan. Perhatian kecilnya itu tidak mampu membuat hatiku meluluh.


Aku memeluk Fatimah, Fatimah membalas pelukanku dengan erat.


Aku memperhatikan perut Fatimah yang masih rata. Andai yang kupeluk ini Safarah, tentu aku akan mengelus perutnya.


" Mas... Boleh aku meminta sesuatu?"


" Minta saja."

__ADS_1


" Aku ingin berjalan-jalan."


" Kemana?"


" Ke...rumah mbak Safarah."


" Hah? Mengapa harus ke rumah Safarah?"


" Aku ingin menyambung tali silaturahmi yang terputus."


" Bagaimana kalau Safarah tidak mau menemui mu?"


" Mbak Safarah tidak akan seperti itu. Hati mbak Safarah sangat lembut, mas. Yuk..."


Mau tidak mau akhirnya... Aku menuruti permintaan Fatimah. Orang mengidam memang aneh-aneh.


Fatimah sudah tampil cantik. Mama keheranan melihat kami yang akan pergi.


" Mau kemana Fat?"


" Mau ke rumah mbak Safarah?" Mata mama hampir meloncat dari tempatnya.


" Mau ngapain?" Tanya mama penasaran.


" Rindu sama mbak Safarah."


Mama menatap ku penuh arti, seolah meminta penjelasan dariku.


Aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku.


Kami melenggang, perasaanku bercampur aduk.


Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


Kami sudah tiba, kafe sedang ramai-ramainya, dari kejauhan aku langsung menemukan Safarah yang sedang sibuk melayani.


Tanpa menunggu persetujuan dariku, Fatimah langsung turun.


Aku mengamati dari dalam mobil, Safarah begitu ramah menyambut kedatangan Fatimah. Bahkan mereka berpelukan bak sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


Aku memilih turun, memilih tempat duduk sedikit jauh dari mereka..


Yang aku dengar mereka tertawa cekikikan.


" Mas..." Fatimah melambai ke arahku.


Aku mendekat dengan perasaan ragu-ragu.


" Ya Allah...akhirnya aku bisa melihat wajah Safarah dari dekat."


Aku duduk di sebelah Fatimah, Safarah masuk sebentar dan mengeluarkan segelas jus alpukat kesukaan ku.


" Di minum mas!" Safarah tersenyum.


Berbeda sekali dengan wajah yang ku temukan pagi dan sore tadi.


" Mbak...aku mau kasih suprise.." ucap Fatimah antusias.


" Suprise? Apa itu?"


Aku memandang Safarah dalam-dalam.


" Mbak...aku hamil."


" Wah..selamat ya Fatimah..." Safarah dengan tulus memeluk Fatimah.

__ADS_1


Selalu begitu Safarah... Memeluk seseorang dengan tulus meski aku tahu ada yang terluka.


__ADS_2