Safarah

Safarah
Safarah 11


__ADS_3

" Ma.."aku menepuk bahu mama.


Mama sedikit terkejut, " belum berangkat kerja?"


" Belum."


" Terus mau ngapain? Minta uang jajan?"


" Bukan, ma. Fatimah sakit."


" Sakit apa? Sekarang dimana?" Mama langsung meletakkan gembor ( alat seperti cerek besar yang di gunakan untuk menyiram tanaman).


" Dikamar."


Mama langsung masuk ke kamar ku, mendapati Fatimah yang menunduk sambil memijit dahinya.


" Kamu kenapa, nduk?"


" Pusing, mual ma." Jawab Fatimah.


Mata mama berbinar-binar, bahkan kini mama tersenyum bahagia. Aneh! Menantunya sakit kok malah senang.


" Nduk... jangan-jangan...kamu ..."


Safarah mendongakkan kepalanya,


" Nduk...nanti kamu hamil!"


Sontak perkataan mama membuat aku dan Fatimah saling pandang.


" Kamu sudah kedatangan tamu bulanan?" Tanya mama mengintrogasi menantu kesayangannya.


" Belum ma."


" Cepat kalian periksa ke Dokter...mama yakin Fatimah pasti hamil.."


" Vir, kamu cuti saja hari ini. Antar Fatimah periksa ke dokter kandungan." Perintah mama.


" Ayo nduk! Kamu siap-siap, biar diantar sama suami mu."


Wajah senang mama jelas tidak bisa di tutupi, apa yang mama inginkan sepertinya akan di kabulkan Allah.


Fatimah sudah siap, kami segera berangkat ke rumah sakit terdekat.


Tidak butuh waktu lama hanya sekita lima belas menit saja.


Kami menunggu nomor antrian. Ternyata banyak para pasien yang sedang mengantri.


Untuk membuang suntuk, aku memilih memainkan ponsel.


" Mas.." panggil Fatimah.


" Hmm?" Jawabku tanpa melihatnya.


" Apa kamu senang jika aku hamil?"


Pertanyaan Fatimah seketika membuat aku mematikan ponsel dan menyimpannya di saku.


" Mengapa bertanya seperti itu?" Tanyaku pada Fatimah.


Ia merenung sejenak, " aku..aku melihat kamu tidak bahagia, mas." Jawab Fatimah.


Aku meraih tangan Fatimah, menggenggamnya erat.

__ADS_1


" Jangan menyimpulkan hal - hal yang belum pasti. Bukankah kita sedang belajar untuk saling memahami? Semua butuh proses, Fatimah." Semoga jawabanku bisa membuat dia tenang.


Saat sedang berbicara dengan Fatimah, ada seorang suster yang menggunakan masker lewat di depan kami. Sekilas aku seperti mengenalnya.


Suster tersebut hampir terjatuh karena pandangannya ke arah kami.


Dari matanya, bentuk tubuhnya...seperti tidak asing. Tapi... " Tidak mungkin."


Aku menghalau pikiranku.


Tidak mungkin Safarah bekerja menjadi suster.


Meski aku tahu dia punya izajah pada bagian kesehatan.


" Bapak Virhan dan ibu Fatimah.." panggil suster tersebut dengan suara bergetar.


Entah telingaku yang rusak, suara suster itu bergetar memanggil nama kami.


" Apa suster tersebut belum makan?"


Ah. Aku memijit pelipis ku, " jalan pikiranmu kemana sih Vir?" Batinku sibuk mengoceh sendiri.


Kami memasuki ruang praktek Dokter Faira, sejenak aku melirik pada suster yang tadi hampir jatuh, membaca nama yang terpasang di dada sebelah kanan.


" ARA"


Oh..rupanya namanya suster Ara.


Ara.... Safarah... Hampir.


Hampir mirip. Jika tidak ada aturan, mungkin saja aku sudah membuka paksa masker milik suster Ara.


Dokter melakukan USG pada perut Fatimah. Entah mengapa aku lebih fokus pada suster Ara yang berdiri di samping Fatimah. Aku seperti memiliki ikatan batin padanya. Apalagi saat pandangan kami bertemu, mata suster Ara tidak asing lagi untukku.


Ada apa dengan ku? Mengapa suster Ara menarik perhatianku? Apa benar yang di hadapanku sekarang Safarah?


***


Kami sudah tiba di rumah, mama menangis bahagia menyambut kabar gembira yang disampaikan oleh menantu kesayangannya itu.


Mereka berpelukan erat. Aku sendiri tidak tahu harus berekspresi seperti apa?


" Vir.. pilihan mama tidak pernah salah."


Ah. Mama selalu menyinggung Safarah.


" Kamu tidak bahagia Vir?"


" Bahagia, ma. Aku sangat bahagia."


Ucapan yang keluar dari mulutku, membuat bibir Fatimah tertarik untuk tersenyum.


" Kita harus mengadakan syukuran sekarang." Sahut mama antusias.


" Ma.. hangan terlalu muluk-muluk, takutnya malah sesuatu buruk terjadi."


" Aku setuju dengan mas Virhan, ma. Nanti saja kalau kandunganku sudah besar,"


Lega rasanya aku mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut Fatimah.


***


Setelah melewati masa-masa terpuruk, perlahan-lahan aku mulai bangkit. Akta perceraian sudah di tanganku, itu artinya aku tidak boleh berharap pada mas Virhan.

__ADS_1


Pertama -tama yang kulakukan adalah memyembuhkan luka, menenangkan pikiran. Yang aku tahu saat ini adalah, aku layak bahagia.


Enam bulan sudah perpisahan antara aku dan mas Virhan.


Setelah terkungkung dalam belenggu sepi, dengan bekal dan izajah yang ku punya, aku melamar pekerjaan sebagai perawat di sebuah rumah sakit.


Aku memperkenalkan nama panggilan kecilku adalah ARA.


Ya..aku suka dengan nama Ara, lebih simple seperti hidupku sekarang.


Badanku menggigil kala mendapatkan sepasang nama suami istri yang ku kenal.


Sepasang suami istri yang berbahagia diatas penderitaan ku.


Nama suami Virhan dan nama istri Fatimah.


Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalaku. Apa Fatimah berhasil hamil?


Aku mengenakan masker saat akan bertemu dengan dua orang yang ku kenal. Aku juga mencoba merubah nada suaraku, saat akan memanggil mereka masuk.


Benar saja ..saat mereka masuk...aku mengenalnya...


Dia mas Virhan...orang yang setiap malam ku rindui.


Beberapa kali pandangan kami bertemu. Tandakah ia dengan mantan istrinya ini? Apa ia masih mengenalku?


Bagai petir disiang bolong saat Dokter menyatakan Fatimah hamil sudah enam minggu. Sementara mereka baru saja menikah selama enam bulan. Sementara saat bersamaku, hampir delapan tahun menikah, namun tidak jua di beri momongan.


Sebegitu naifnya dunia ini. Perjanjian apa yang ku sepakati dulu bersama Allah saat akan terlahir kedunia hingga cobaan yang ditakdirkan pada hidupku benar-benar tiada akhir.


Aku hampir saja menangis, masih tidak rela mas Virhan bisa sebahagia itu dengan Fatimah.


Mataku memanas kala mas Virhan menggandeng tangan Fatimah dengan mesra.


Kenapa harus bertemu kembali dengan mas Virhan? Jika Allah menghendaki perceraian kami, seharusnya aku dan mas Virhan tidak bertemu kembali.


***


Aku duduk di depan kafe, merenungi kembali perjumpaan kami tadi.


Nadia duduk di sampingku, " ada masalah di kerjaan, mbak?"


" Nad..tadi mbak ketemu sama mas Virhan dan Fatimah."


" Serius mbak?" Mata Nadia terbelalak tidak percaya dengan kata-kata yang meluncur bebas dari mulutku.


" Mas Virhan dan Fatimah memeriksa kandungan."


" Fatimah hamil mbak?"


Aku mengangguk, yang tersisa hanya perih di dada.


" Ternyata mbak mandul ya Nad."


" Hus! Jangan ngomong seperti itu mbak."


" Setelah mama meninggal dengan tragis, papa selingkuh dan hartanya habis, lalau papa menyusul mama, pernikahan mbak yang tidak di inginkan oleh mama mertua, pernikahan yang harus berakhir dengan perceraian." Mata ku menerawang, bayangan masa lalu berputar kembali.


" Dosa apa yang sudah mbak perbuat sehingga dunia ini terasa kejam?"


Nadia hanya bisa diam tanpa tahu harus bagaimana menanggapi curhatan ku.


" Sabar ya mbak..."

__ADS_1


__ADS_2