
Aku memandang wajah itu, sedikit kusam dan terdapat lingkaran hitam di area mata. Kalau kebanyakan orang bilang seperti mata panda.
" Gak papa...dedek bayi pasti sedang penyesuaian. Boleh mbak gendong?"
" Tentu boleh mbak." Fatimah menyerahkan Afifah padaku.
Tanganku bergetar, ku dekatkan wajahku pada Afifah. Ku hirup wangi tubuhnya. Entah mengapa aku terharu dan menjadi berandai-andai.
Andai saja Afifah lahir dari rahimku, tentu aku dan mas Virhan adalah orang yang paling bahagia.
Aku mencoba menahan kristal yang memenuhi indera penglihatan agar tidak jatuh. Nyatanya aku gagal. Butiran kristal bening menetes berlomba-lomba untuk turun berdesakan.
" Allah...aku ingin bayi seperti ini..." ratap ku pilu dalam hati.
Fatimah mengusap punggung ku, " sabar mbak. Insya Allah..mbak akan menimang buah hati nantinya." Hibur Fatimah.
" Amin...ya Allah..."
Aku memberikan Afifah pafa Fatimah, kami mencari tempat duduk karena acara akan segera dimulai.
Sebagian orang menatapku penuh iba. Sebagian lagi ikut mencibir.
" Mandul sih..., Siapa yang ingin punya istri mandul, aku mah ogah punya mantu mandul."
Telingaku semakin panas berada disini. Namun aku mencoba sabar, ini acara sakral Fatimah dan mas Virhan. Aku tidak boleh merusak acara ini.
Acara hampir selesai, semua tamu di perbolehkan makan dan minum.
" Ara, aku mau makan." Bisik mas Firman.
" Sebentar ya, mas." Aku segera menuju meja prasmanan. mengambil beberapa menu makanan dan memasukkan kedalam piring.
Saat akan membawa nasi, aku berpapasan dengan mas Virhan, ia menatap tajam ke arah piring yang kubawa.
" Selera kalian sama ternyata." Sindir mas Virhan.
" Ada yang salah, mas?"
" Enggak, hanya heran saja. Secepat itu." Lagi-lagi ia menampilkan wajah sinis.
" Hai bung.." tiba-tiba saja mas Firman sudah berada disampingku,
Mas Virhan memasukkan tangannya kedalam saku celana, terlihat jelas jika ia tidak menyukai mas Firman.
" Jangan main-main dengan perempuan bung." Ucap mas Virhan tanpa melihat mas Firman.
" Tentu tidak, bung. Lusa kami akan menikah. Sekalian saya mengundang anda bung. Acaranya di rumah orang tua saya. Nanti saya share lokasinya, ya."
Ada keterkejutan yang terpancar di wajah mas Virhan.
" Lelucon mu tidak lucu bung."
" Itu bukan lelucon, mas. Aku dan mas Firman akan menikah lusa." Ucapku dengan tegas.
" Segampang itu kamu menjatuhkan pilihan? Apa kamu tidak mencari tahu bibit bebet bobotnya terlebih dahulu?"
__ADS_1
" Untuk apa mas? Nyatanya... mereka yang mengaku cinta tidak mampu mempertahankan rumah tangganya. Nyatanya mereka yang berpendidikan, tidak memiliki etika dalam kehidupan. Lalu apa yang mau di lihat mas? Bagiku bebet bibit bobot itu nomor sekian ratus."
" Sudah pandai berbicara kamu. Ckck..dia membawa dampak butuk untukmu."
" Mas Virhan tidak perlu menilai mas Firman, karena yang tahu sifat seseorang hanya Allah SWT. Ayo mas kita makan!" Ajakku pada mas Firman.
Jika semua bukan karena Fatimah, tentu aku tidak akan datang ke rumah ini. Sifat baik Fathimah lah yang membuat aku mau menyambung tali silaturahmi diantara kami.
***
" Sepertinya, Virhan belum melepas mu seratus persen."
Ucapan mas Firman membuat aku menatapnya, " apa kamu cemburu?"
" Tidak, untuk apa cemburu? Bukankah kalian sudah resmi bercerai di mata agama dan negara? Ara, aku hanya tidak ingin lelaki itu memberi harapan padamu. Melarangnya menjalin hubungan dengan lelaki lain. Seolah-olah dia bisa memberi janji akan membahagiakan kamu. Faktanya apa? Kamu tetap terluka hari ini. Apa lagi nenek sihir itu."
" Nenek sihir? Maksud kamu siapa sih, mas?"
" Orang tua Virhan sangat-sangat tidak menyukaimu. Aku heran denganmu,mengapa masih mau menginjakkan kaki ke rumah penuh duri itu? Jika aku menjadi kamu, tentu aku akan menutup akses yang berhubungan dengan keluarga toxic."
" Mas...aku hadir ke rumah itu, menjalin tali silaturahmi semua karena Fatimah. Jika bukan karena wanita baik itu, tentu hal yang ada dalam pikiranmu sudah kulakukan. Tapi...sejak bertemu dengan Fatimah...di beda dari wanita mana pun.
" Sudahlah.. ini terakhir kali kita membahas Virhan. Aku ingin setelah ijab qabul ku ucapkan, kamu bisa melanjutkan hidup bersama ku."
" Iya, mas."
Mas Virhan membelokkan mobilnya ke sebuah rumah.
" Turun yuk!"
Dia menarik tanganku, " kamu akan tahu nanti."
Taraaa....
Mas Firman membawaku ke sebuah rumah yang menyediakan khusus baju pengantin. Mas Firman disambut ramah sekali dengan wanita ini. Apa mereka berteman? Nanti saja kutanyakan.
" Hei, apa kamu benar Firman?" Perempuan itu tertawa terkekeh.
" Bisa saja lu, ini cewek gue, lusa kami akan nikah. Aku mau kamu pilihkan baju terbaik untuknya."
" Dan terbaik untukmu tentunya." Perempuan itu masih terkekeh-kekeh. Entah apa yang lucu.
" Akhirnya, lu datang juga ketempat gue
Gie kira lu cuma nikmati anak orang doang tanpa membawanya ke pelaminan."
" Sssstttt."
Mas Firman meminta perempuan itu diam sambil sesekali ia melirikku.
" Apakah lelaki ini playboy?" Batinku sibuk berbicara sendiri.
" Perkenalkan namaku Sandra, teman Firman. Sudah kenal lama sama Firman?" Tanyanya.
" Baru dua bulan, mbak." Jawabku polos.
__ADS_1
" Hah? Dua bulan? Yakin milih dia? Ckck...segampang itu memilih lelaki untuk di jadikan teman seumur hidup."
" Maksud mbak?"
" Aku tidak mungkin memberi tahu keburukan temanku dari mulutku sendiri. Biar pasangannya sendiri yang akan mengetahui dan menilainya. Jika pernikahan tidak terjadi dalam waktu dekat, mungkin saja aku sudah membeberkan keburukannya."
Aneh sekali mbak Sandra. Membuat orang penasaran saja.
" Aku sih berharap banyak kalau Firman sudah berubah." Ucapnya lagi.
Aku hanya diam. Entah mengapa aku tidak tertarik untuk berbicar lebih banyak pada Mbak Sandra.
" Mbak, aku mau yang ini."
Aku memilih kebaya berwarna putih.
Aku sudah tidak mood untuk berlama-lama di tempat ini.
" Yakin yang ini? Ternyata seleramu buruk sekali."
Heran! Ada masalah apa dia denganku?
Aku meninggalkan Sandra dan menemui mas Firman.
Mas Firman sedang merokok di depan.
" Kita pulang sekarang. Aku tidak jadi memilih disini."
" Kenapa? Apa semua jelek?" Tanya mas Firman heran.
" Fir...selera calon istri mu buruk sekali. Dia memilih kebaya seperti ini." Mbak Sandra menunjukkan kebaya pilihan ku tadi.
Darahku terasa mendidih karena dianggap memiliki selera yang buruk. Dia pikir dia siapa? Seenaknya merendahkan seseorang.
" Selera saya memang buruk. Tapi MAAF..SAYA TIDAK JADI MEMBELI. SEMUA GAUN DAN KEBAYA DISINI JELEK." ucap ku tajam.
" Kamu mau tinggal disini mas? Aku bisa pulang sendiri." Aku berjalan meninggalkan tempat yang tidak bisa menghargai pembeli.
" Ara..." Mas Firman menggapai tanganku.
" Kita pulang." Dia menarik tanganku masuk kedalam mobil.
Setelah jauh meninggalkan tempat ameh itu, " sebenarnya ada apa?"
" Aku tidak suka dengan teman mu, mas. Apa tidak bisa dia menghargai pembeli? Atau...dia memiliki rasa padamu. Jika seleraku jelek, mengapa ia tidak membantuku? Mengapa ia malah menghinaku?" Ucapku berapi-api.
" Sabar! Kita berhenti sejenak ya.."
Mas Firman memesan dua es tebu di pinggir jalan.
" Minumlah!"
Aku langsung meminumnya sampai habis.
" Sekarang jelaskan jati dirimu sebenarnya mas!"
__ADS_1