
"Hai bung...Firman."
Dengan gentle nya mas Firman mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Setelah sedikit lama, mas Virhan mengulurkan tangannya juga, sekarang mereka saling menjabat.
" Virhan." Ucap mas Virhan lesu.
" Wah nama kita rupanya hampir sama bung." Mas Firman tertawa kecil.
Melihat wajah mas Virhan yang di tekuk, aku bisa membaca pikiran mas Virhan. Pasti ada hal yang sedang tidak ia sukai.
Mas Virhan meminjam ponsel milik Fatimah.
" Apa sih yang akan dilakukan oleh lelaki ini?" Gumamku dalam hati.
Tring!
Pesan satu masuk dari nomor ponselnya Fatimah,
( kamu hutang penjelasan, safarah.)
Aku menatap mas Virhan, tapi ia pura-pura cuek.
" Penjelasan apa yang kamu mau, mas?" Ucap batinku lagi.
Apa mas Virhan cemburu dengan kehadiran mas Firman disini?
Sepanjang kami bertemu, mas Virhan hanya diam. Sesekali dia memainkan ponselnya. Sepertinya ia tidak minat untuk berbicara dengan banyak hal.
Lain hal dengan mas Firman, ia seseorang yang humoris.
Bukan aku saja yang ikut tertawa mendengar banyolannya, Fatimah pun ikut tertawa bersama kami.
Mas Virhan melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, " kita pulang."
" Hm...iya mas. Mbak, mas, kami pulang duluan ya. Mas Firman, percaya sama aku, mbak Safarah orang baik."
" Aku tahu. Doain kami langgeng ya... Bisa sampai halal." Mas Firman mengedipkan matanya.
Apa-apaan ini...kenapa sampai ke halal? Pembicaraan kami belum sampai kesana.
Mas Firman dan mas Virhan bersalaman, mereka seperti berbisik-bisik dan disusul tawa oleh mas Firman.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
***
Aku dan Fatimah memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai. Sial! Mengapa aku melihat sosok Safarah bersama lelaki lain?
Api cemburu membuncah di dadaku. Jika tidak ingat sudah bercerai, mungkin aku sudah menarik tangan Safarah dari sini. Dan tidak lupa meninggalkan bogem mentah pada lelaki yang berani mengajak jalan wanita impianku.
Namanya Firman, lelaki tinggi dan putih. Aku hanya menebak-nebak pekerjaannya. Sepertinya...ia pekerja tambang. Aku paham lelaki model seperti Firman.
Lelaki dengan banyak banyolan, membuat aku merasa muak berlama-lama berada di dekat mereka.
Iseng-iseng aku mengirim pesan pada Safarah. Aku meminta penjelasannya.
Tunggu saja Safarah...aku akan menemuimu dan meminta penjelasan dari mu.
***
Setelah seminggu menahan cemburu, akhirnya aku memilih untuk menemui Safarah.
Lebih cepat lebiha baik.
__ADS_1
Aku datang menemuinya di kafe.
Dia yang masih menyapu halaman, tampak anggun dan sederhana, padahal dia hanya mengenakan daster rumahan.
Dia tampak terkejut melihat aku datang sendiri tanpa Fatimah.
" Mas? Ada apa?"
Tanpa menunggu di persilahkan dengan santainya aku duduk di kursi.
Safarah meletakkan sapu yang ada di tangannya.
" Mau minum, mas?"
Ah. Safarah...hatiku terasa terenyuh kala ia masih menawarkan aku minuman.
" Enggak usah repot-repot." Tolakku halus.
Dia duduk di seberang. " Ada perlu, mas?"
" Siapa Firman? Sudah sedekat apa hubungan kalian?"
" Penting buat kamu, mas?" Tanya Safarah tanpa melihatku.
" Penting. Aku perlu tahu Safarah."
" Kita sudah bercerai, mas. Kamu sudah melanjutkan hidup bersama Fatimah. Sementara aku.. aku masih jalan di tempat mas. Aku masih terpenjara, terkurung. Apa kamu tidak rela aku melanjutkan hidup?" Safarah menatap ku dengan tatapan menyelidik.
Aku bergidik ngeri. Tidak pernah aku mendapatkan tatapan ekstrem dari Safarah.
" Safarah...bukan itu yang ku maksud. Aku...aku tentu ingin kamu bahagia. Tapi...aku perlu tahu lelaki seperti apa yang mendekati mu?"
" Mas, lelaki baik pun tidak menjamin dia bisa membelaku di depan keluarganya."
Aku merasa tersindir dengan dengan kata-kata Safarah.
" Mas, doakan saja kami bahagia. Kami langgeng, doakan saja Dia bisa membimbing aku dan yang paling penting bisa menerima segala kekurangan ku."
" Safarah..salahkah jika aku masih mencintaimu?"
" Tentu salah mas. Kamu harus membunuh rasa cinta yang ada di hatimu. Kamu harus prioritaskan Fatimah dan calon anakmu yang akan lahir dari rahim Fatimah."
" Aku tidak bisa Safarah..aku tidak bisa membunuh rasa cinta ini. Lebih tepatnya aku tidak mampu." Aku gusar melihat Safarah tidak mencintaiku lagi.
" Pulanglah, mas! Kembali pada Fatimah. Percaya padaku, jika Fatimah adalah pilihan mama. Dia akan membawa dampak positif untuk mama dan untuk mu sendiri. Anggap kita tidak pernah menikah. Dan jika Allah membuka jalan, aku akan menjalin hubungan serius dengan mas Firman."
Safarah meninggalkanku sendiri di luar. Setega itu Safarah sekarang padaku.
Cara apa yang harus ku perbuat agar Safarah tidak berhubungan dengan lelaki lain?
Aku termangu di depan kafe Safarah. Rasa gundah menyelimuti hatiku.
Apa aku termasuk lelaki serakah yang menginginkan dua wanita dalam hidupku?
Tok..tok...tok...
" Safarah.. tolong buka pintunya.
Baru kali ini aku mengemis di depan seorang wanita.
" Kita butuh bicara Safarah..." Ucapku dengan suara melemah. Kuharap safarah akan keluar jika melemah. Nyatanya aku salah, Safarah berubah seiring luka hatinya.
Setelah putus asa, aku memilih pulang, namun langkahku di hentikan oleh kedatangan Lelaki yang akan merebut perhatian Safarah.
" Hai bung..." Sapanya ramah.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis. Mood ku menghilang.
" Ada perlu dengan Safarah?" Tanyanya menyelidik.
" Bukan urusanmu, Safarah sedang tidak di rumah." Bohong ku.
" Oh iya?"
Tampak lelaki ini tidak percaya.
" Aku duluan bung." Ucapku sambil berlalu dari hadapan lelaki ini.
Mobil ku lajukan dengan kecepatan tinggi.
Sial!!!!
***
Hari-hari yang kujalani terasa uring-uringan. Ingin marah, tapi tidak tahu akan di lampiaskan pada siapa. Untuk berbicara dengan Fatimah pun yang ada hanya rasa enggan.
Ku lihat Fatimah muncul dari dapur, wajahnya penuh dengan keringat. Sesekali aku melihat ia menahan sakit.
" Dari mana?" Tanyaku penasaran.
Dia tidak menjawab, sesekali menghembuskan napas.
Ia semakin mendekat padaku, " Mas...tolong doakan aku sekali ini saja.."
Aku mematung mendengar permintaannya. Apa ia tahu doa apa yang kusebutkan setiap waktu?
" Jika berat meminta atas namaku, setidaknya buat anak yang ada di rahimku." Ucapnya sambil tersenyum.
" A..aku pasti mendoakan, mu." Dusta ku.
" Terima kasih ya, mas..." Ucapnya sambil mencium pipiku.
Tumben sekali! Ada apa dengannya? Jika aku yang bukannya memulainya, maka ia akan menjadi salju, dingin dan membeku.
***
" Virhan!"
Suara mama memekakkan telinga.
Aku menutupnya dengan bantal.
Karena tidak juga bangun, mama menggoyangkan tubuhku.
" Bangun! Ayo antar Fatimah kerumah sakit." Teriak mama di telinga.
Aku langsung bangkit ketika mendengar kata rumah sakit.
" Ayo segera siap-siap." Perintah mama.
" Fatimah kenapa, ma?"
" Dasar suami gak bertanggung jawab."
Mama meninggalkanku dengan repetan panjang.
Aku segera mencuci muka, dan segera menemui Fatimah di ruang tengah.
Wajahnya memucat, bahkan wajahnya sesekali menahan nyeri.
Ada apa dengan Fatimah ya?
__ADS_1
Yuk komen...