Safarah

Safarah
Safarah 16


__ADS_3

"Virhan!"


Suara mama memekakkan telinga.


Aku menutupnya dengan bantal.


Karena tidak juga bangun, mama menggoyangkan tubuhku.


" Bangun! Ayo antar Fatimah kerumah sakit." Teriak mama di telinga.


Aku langsung bangkit ketika mendengar kata rumah sakit.


" Ayo segera siap-siap." Perintah mama.


" Fatimah kenapa, ma?"


" Dasar suami gak bertanggung jawab."


Mama meninggalkanku dengan repetan panjang.


Aku segera mencuci muka, dan segera menemui Fatimah di ruang tengah.


Wajahnya memucat, bahkan wajahnya sesekali menahan nyeri.


" Mas .. tolong aku." Pintanya melemah.


Aku memapah tubuhnya kedalam mobil.


Sementara mama keluar menenteng tas hitam.


Entah apa isinya.


" Vir, angkat tas yang ada di kamarmu. Ayo cepat."


Bagai orang bodoh aku menuruti kemauan mama.


Masuk ke kamar dan mendapati tas yang mama maksud.


Aku membuka sejenak, ternyata isinya perlengkapan bayi.


Setelah mengetahui isinya, aku segera membawa tas berisi Baju bayi.


" Lama sekali, Virhan!" Mama kembali ngedumel.


Aku segera melajukan mobil dengan kencang, tidak butuh waktu lama kami sudah tiba di rumah sakit.


Safarah menyambut kami. Fatimah masuk ke ruang bersalin.


Aku masuk bersama Fatimah. Entah mengapa melihat Fatimah kesakitan, hatiku merasa iba.


Untuk pertama kalinya, lisanku menyebut nama Fatimah dalam doaku.


" Ya Allah..tolong Fatimah... lancarkan persalinannya ya Allah..."


Safarah berada didalam ruangan.


Aku berdiri di samping Fatimah. Persalinan akan segera di lakukan.


Jika tidak malu, mungkin aku sudah menangis.


Cengeng sekali diriku.


Ku genggam tangan Fatimah, " Aku disampingku, Fatimah. Semangat...anak kita akan lahir.." bisikku di telinganya.


Demi apa pun...aku tidak pernah seromantis ini pada wanita kecuali kepada Safarah.


Tapi hari ini, melihat perjuangan Fatimah, naluri sayangku muncul untuknya.


Dan hari ini...dengan mata kepalaku sendiri, demi memberi gelar aku sebagai ayah, dan memberi gelar nenek pada mama. Dan demi melanjutkan generasi penerus keluarga ku, Fatimah rela mempertaruhkan nyawa.

__ADS_1


Dan hari ini di depan Safarah, aku mengecup kening wanitaku, istri sah ku, bahkan sebentar lagi dia akan menjadi ibu dari anakku.


Setelah melalui proses yang sulit, hingga jarum infus harus terpasang di pergelangan tangan Fatimah, suara bayi menangis memenuhi ruangan ini.


Suaranya begitu kencang. Mama menangis, aku pun menangis. Berkali-kali ku kecup kening Fatimah..." Kamu hebat sayang..." Ucapku memujinya.


Dan untuk hari ini...aku berjanji akan mencintai Fatimah seutuhnya...


Aku juga berjanji..akan menjaga Fatimah, membahagiakan Fatimah dan anak kami nantinya.


Fatimah masih di urus oleh Dokter.


Sus Ara atau Safarah, mantan istriku..memberikan bayi mungil kepadaku, " selamat ya, mas. Bayinya sehat.." suara Safarah bergetar.


Aku meraih bayi itu dari tangan Safarah, menempelkan hidungku pada wajahnya yang kemerahan.


" Nak..."


Air mataku menetes..


Ku lantunkan suara adzan di telinganya.


Setelah itu ku pegang dengan hati-hati permata hatiku.


Aku fokus pada malaikat kecilku. Setelah memberikan bayi padaku, aku tidak melihat sus Ara. Kemana dia?


Setelah beberapa jam, kami di perbolehkan pulang. Beruntung sekali kami tidak menginap disini.


***


Kehadiran putri kecil, seperti salju yang turun di padang pasir. Sejuk!


Bayi itu sedang tertidur lelap di ranjang kami.


Disebelahnya Fatimah bersender dengan meluruskan kaki.


Aku mendekat padanya, " Sayang.... Terima kasih telah melahirkan malaikat kecilku."


Mata Fatimah mengembun, " tidak perlu berterima kasih, mas. Ini sudah kehendak Allah." Ucapnya.


Bodoh sekali aku! Sudah mengabaikan Fatimah selama ini.


Aku memeluknya...


Aku menyesali perbuatan ku padanya. Betapa tidak, aku mendatangi Fatimah kala aku butuh menyalurkan hasrat. Aku juga jarang mengajaknya berbicara.


Tapi hari ini...aku akan merubah semua kebiasaan buruk yang ada pada diriku.


" Mas...apa kamu sudah punya nama untuk bayi kita?"


" Nama?"


" Ya, nama."


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Bodoh sekali aku, kenapa sampai lupa mempersiapkan nama, sih.


" Sedikit berkorban untuk anakmu, mas." Fatimah membuang pandangannya.


" Ya Allah...karena terlalu sibuk dengan diriku sendiri, hingga aku lupa mempersiapkan nama untuk putriku." Gumamku dalam hati.


" Mas..." Fatimah membuyarkan lamunanku.


" Kamu ada saran?" Akhirnya aku melemparkan tanya pada Fatimah.


" Afifah?"


" Avifah...?" Gumamku.


" Iya, A nya anak, Vi nya Virhan, dan Fah nya... Safarah.."

__ADS_1


" Hah? Tidak salah?" Aku mengernyitkan dahi. Apa maksud Fatimah?


" Hahahaha...."


Terdengar derai tawa Fatimah.


" Bersyanda..."seru Fatimah girang.


Wajahnya terlihat senang karena berhasil memberikan prank padaku.


Aku mengusap pipi Fatimah. Pipi kemerahan yang baru hari ini ku perhatikan dengan seksama.


Fatimah..seorang wanita yang memiliki kesabaran yang luas.


Mengapa baru kali ini aku terpesona melihatnya?


Ku kecup bibir ranum Fatimah dengan sedikit cinta yang mulai timbul.


" Cukup mas, aku masih masa nifas." Tolaknya.


Aku menghela napas berat karena mendapat penolakan dari Fatimah.


Disaat kami saling bertatapan, permata hatiku tiba-tiba saja menangis dengan sangat kencang.


" Mungkin dia haus, tolong ambilkan mas!"


Aku mengangkat permata hati belahan jiwa dengan hati-hati. Kuberikan bayi mungil ini dengan ibunya.


" Anak Umi haus ya?" Fatimah berbicara sendiri.


Melihat mulut mungil itu seperti mencari-cari susu, Fatimah memberikan ASI pada permata hatiku.


Aku memperhatikan mereka, Fatimah tanpa canggung menyusui bayinya.


" Ah...kenapa jiwaku begitu tersentuh?"


***


" Allah .. mengapa aku masih cemburu? Mengapa aku masih merasa sakit hati? Mengapa rasa itu tidak hilang?"


Masih ku ingat wajah haru mas Virhan kala ia menemani Fatimah melahirkan.


Kala mas Virhan mengecup Fatimah, kala mas Virhan menggenggam tangan Fatimah, dan aku merasa Fatimah adalah perempuan yang beruntung.


Sambil membantu persalinan Fatimah, aku juga menahan kristal bening yang sudah menggunung di mataku.


Aku melihat pancaran cinta yang begitu besar yang di tunjukkan oleh mas Virhan untuk Fatimah.


Ini sudah kesekian kali aku menahan agar tidak cemburu, namun yang ada hanyalah kesakitan.


Melihat mas Virhan dan mama menangis kala suara bayi itu memenuhi ruangan persalinan.


Aku menjadi orang yang sangat kecil pada saat itu. Delapan tahun mereka menantikan bayi yang akan tumbuh di rahimku. Nyatanya itu semua mereka dapatkan dari Fatimah.


Semalaman aku tidak tertidur. Otakku berpikir keras, ada rasa tidak rela jika mas Virhan akan bahagia.


Mas Virhan maju selangkah dibanding diriku. Mas Virhan sudah menemukan kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya. Sedangkan aku? Siapa yang akan perduli? Mungkin sekarang aku sedang menjadi bahan pembicaraan di lingkungan keluaraga mas Virhan.


Nasib...nasib...


***


Mas Firman mengajak aku untuk makan malam di sebuah warung pinggir jalan. Tidak menu mewah, hanya pecel lele kesukaan kami berdua.


Selagi warung itu bersih, tidak menjadi kendala untuk kami.


Pesanan sudah datang, kami mengobrol sambil menikmati sepiring pecal lele.


" Sus Ara...maukah menikah denganku?

__ADS_1


Hayo...tebak... kira-kira sus Ara mau tidak ya? Yuk follow aku... Jangan lupa tulis di kolom komentar dan tinggalkan like kalian ya.... terima kasih...


__ADS_2