Safarah

Safarah
Safarah 21


__ADS_3

Hari...aku sudah resmi di persunting oleh mas Firman.


Sekarang aku adalah nyonya Firman. Fatimah dan mas Virhan datang. Dia hanya diam, tanpa memberikan ucapan selamat. Lain hal dengan Fatimah, " selamat ya mbak Safarah...semoga segera di beri momongan ya, mbak. Juga langgeng dunia akhirat." Fatimah memelukku dan mengucapkan doa yang baik.


Sepanjang acara berlangsung, dadaku selalu berdegup kencang. Setelah sekian lama tidak di sentuh oleh laki-laki, sekarang...


Aku ketakutan untuk bertemu malam. Apa yang harus kulakukan nanti?


***


Para tamu sudah pulang, mas Virhan dan Fatimah juga sudah pulang. Kak Faira pun akan pulang.


" Kakak pulang sekarang?"


Tangan kak Faira berhenti berkemas, " kakak harus pulang, besok harus kerja. Lagian..kakak tidak mau mengganggu pengantin baru. Iya kan, mas?" Kak Faira mengedipkan mata pada suaminya.


Aku menjadi malu karena candaan dari kak Faira.


" Jangan sungkan sama mama dan papa." Pesan kak Faira.


" Iya, kak."


" Bye Tante Ara...besok kita jumpa lagi ya..." Anak-anak kak Faira sangat ramah padaku.


Kami melambaikan tangan pada mereka.


Dan sekarang rumah ini menjadi sepi kembali.


Aku masih sedikit canggung kepada keluarga ini.


Sore sudah menyapa, " mau kemana?"


" Mau mandi, mas."


" Dandan yang cantik. Sudah tahu kamarku, kan?"


" Belum."


" Yuk!"


Mas Firman menarik tanganku.


Kami masuk kedalam kamarnya. Luas sekali.


"Baju kamu masukkan disini, ya."


Aku menurut saja, memasukkan beberapa stel pakaian kedalam lemari kosong itu.


Masih hening antara kami, mungkin masih asyik bermain-main dengan pikiran masing-masing.


" Mas, jadi kapan kamu berangkat bekerja?"


" Besok pagi. Untuk sementara kami tinggal disini dulu ya.. gak papa kan?"


" Kamu lama, mas?"


" Sekitar tiga bulanan."


Baru nikah, tapi sudah di paksa LDR-an? Gila banget sih.


" Kamu setiakan?" Tanya mas Firman sambil merangkulkan tangannya di perutku.


" Menurut kamu?"


Tanpa menjawab, mas Firman sudah menghujaniku dengan kecupan.


" Apa harus sekarang?"


Hatiku galau sendiri.


Tanpa di minta mas Firman bekerja sendiri. Sedangkan aku? Aku hanya bisa pasif menerima dan menikmati sentuhan dari mas Firman.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, kami sudah bergulung di bawah selimut. Untung saja kamar ini memiliki pendingin ruangan. Tapi...tetap saja tubuh kami basah oleh keringat.


Tanpa menunggu malam datang, sore pertama kami sudah terlewati.


Mas Firman memelukku, " masih sempit."


" Apanya?"


" Kasih tahu enggak ya?"


" Huh..." Aku mencubit perutnya.


Mengapa harus dibahas sih? Aku kan malu.


Aku menutup tubuhku dengan selimut. Berniat untuk membersihkan tubuh.


" Sayang...aku sudah lihat kok. Gak perlu ditutup-tutupi lagi." Mas Firman meledekku.


" Mas ..." Aku merengut karena menjadi korban bully dari suami sendiri.


***


Sebagai pengantin baru, yang kami lakukan hanya di kamar dan di kamar. Apalagi besok pagi mas Firman akan pergi dengan waktu yang lama.


Malam ini..kami menghabiskan waktu bersama.


" Aku pasti rindu malam-malam indah bersama mu," ucap mas Firman.


Matanya menatap langit-langit kamar.


" Bekerjalah yang baik, mas. Yang paling penting saat kita berjauhan kamu selalu percaya, selalu jujur. Begitu pun denganku. Meski berat...tapi pekerjaan mu adalah tanggung jawab."


" Nanti kalau aku sudah menemukan rumah yang cocok buat kita, aku akan bawa kamu kesana."


" Janji?"


" Janji sayang..." Mas Virhan memelukku erat.


Pagi sudah datang. Meski mata terasa sepat, namun tetap kupaksakan untuk bangun.


Hal pertama yang kulakukan adalah membersihkan diri. Lalu memakai daster panjang, tidak lupa memakai jilbab.


Aku segera pergi ke dapur.


Ternyata pembantu rumah tangga di rumah ini sudah datang.


" Eh, ibu Ara sudah bangun." Sapanya ramah.


" Jangan panggil ibu, panggil Ara saja. Bik."


" Mbak Ara mungkin lebih enak." Jawab perempuan yang mengaku bernama bik Ani.


" Biar saya saja yang masak, bik."


Aku berinisiatif untuk memasak hari ini. Masakan sederhana untuk sarapan, yaitu nasi goreng.


Tidak butuh waktu lama untuk menyiapkan. Tinggal sat set sat set..jadi deh...


Mas Firman sudah mandi.


Aku melirik sebentar, " ternyata tampan." Ucap batinku.


Cup! Mas Firman mendaratkan satu ciuman dipipi ku.


" Mas..." Aku melotot padanya.


Meski sudah sah, tapi tidak baik menunjukkan kemesraan didepan bik Ani.


" Kita sudah sah, sayang. Ini juga buat simpanan nanti selama tiga bulan." Sahutnya kesal.


Mama dan papa sudah bergabung bersama kami di meja makan.

__ADS_1


" Nasi goreng beda deh."


" Kamu yang masak, yang?"


" Kayak bukan masakan bik Ani."


Mereka semua mulai berkomentar.


Duh...harus jawab apa nih..


" Yang...kok diam? Kamu yang masak ini?"


" I..iya mas. Aku kira kalian akan suka." Jawabku murung.


" Seharusnya aku tidak selancang ini. Sok-sokan masak, padahal tidak enak." Keluhku dalam hati.


" Mama tidak percaya jika masakan menantu mama bisa seenak ini loh.."


" Hah? Ini serius? Apa aku tidak salah dengar?" Lagi-lagi batinku ngeromet sendiri.


" Kamu beruntung Firman punya istri yang pandai masak." Papa ikut angkat suara memujiku.


" Ini serius, ma pa?" Tanyaku tidak percaya.


" Apa wajah kami seperti pembohong?" Tanya papa.


Tentu saja aku terharu dengan kejadian hari ini.


Bertahun- tahun aku menjadi menantu di keluarga mas Virhan, tidak pernah sejarah nya mama mas Virhan memujiku, bahkan untuk sekali saja menyentuh masakan tidak pernah dilakukan.


Bahkan mama mas Virhan sengaja memasak dan memaksa mas Virhan untuk memakan masakannya.


Demi menjaga perasaan mamanya, mas Virhan membiarkan makanan yang ku masak dingin tanpa tersentuh.


Dan kisah makanan yang ku masak berakhir di tempat sampah.


Ah. Kenapa pikiranku harus kembali ke masa lalu? Apakah karena terlalu sakit?


Sudut mataku berair.


Sekarang semua berbanding terbalik, dari awal pertemuan dan perkenalan, aku sudah di terima dengan baik. Bahkan aura yang terpancar adalah aura yang positif.


" Jangan menangis, sayang. Yakinlah akan ada pelangi setelah badai berlalu." Mas Firman mengeluarkan kata-kata mujarab untuk menghiburku.


Mungkin dengan cara seperti ini Allah mengujiku. Melalui kesakitan dan akan menggantinya dengan kesenangan melalui keluarga kak Faira.


***


Mas Firman bersiap untuk berangkat.


Hatiku terasa berat untuk melepasnya. Bayangkan , selama sembilan puluh hari aku tidak akan bertemu dengannya. Apa lagi kami adalah pengantin bari yangasih hangat-hangatnya.


" Hati-hati, mas."


" Iya..kamu baik-baik disini ya. Jangan pernah takut curhat dengan mama, insya Allah mama bukan mertua yang ada di sinetron." Pesan mas Firman.


Mama dan papa yang mendengar perkataan anaknya yang konyol hanya bisa geleng-geleng kepala.


Aku melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan suamiku.


Aku Pasti bisa melewati semuanya.


Bukankah aku wanita kuat?


Malam sudah datang, hanya sepi yang menemani. Mas Firman baru saja selesai menelpon, sepanjang obrolan kami, dia selalu bilang rindu.


Bagaimana tidak rindu, kami kan pengantin baru...


Kalau kamu jadi Safarah, kira-kira mau tidak menikah satu hari langsung LDR-an?


Yuk follow aku, jangan lupa tinggalin jejak like dan komen ya... terima kasih

__ADS_1


__ADS_2