
(1) Malaikat Katai tampak berdiri di depan gua kediamannya,seorang laki-laki bertubuh besar berdiri tak jauh di sampingnya," Gembong Kalimati muridku,kau harus berusaha untuk menghadirkan semua tokoh tua golongan putih untuk menghadiri peresmian Partai Tengkorak,saat itu akan jadi kiamat untuk mereka semua.."," Apakah semua rekan-rekan yang kau undang akan menyatakan turut serta..?" Sambungnya kemudian,laki-laki berpakaian merah memakai ikat kepala merah tampak mengangguk," Aku sudah mengirim empat sahabat untuk memancing mereka untuk hadir,Iblis Bungkuk Berantai,Pendeta Maut,Iblis Betina Penghisap Raga dan Mahluk Jin Hutan Kelam sudah ku utus untuk membuat kekacauan di acara pertemuan mereka di Perguruan Harimau Putih.." ucapnya menjelaskan. Malaikat Katai tersenyum,kemudian memandang jauh kedepan,"Kekacauan yang mereka buat,akan membuat para tokoh tua golongan putih muncul,saatnya untuk menghabisi mereka semua,kau akan memimpin Partai Tengkorak di bawah pengawasan ku..",Gembong Kalimati yang bergelar Raja Lanun Selatan mengangguk cepat," Semua akan sesuai dengan rencana yang kita buat guru,setelah semua berakhir,kita akan menyingkirkan tokoh-tokoh satu golongan yang tak mau tunduk pada Partai Tengkorak.."," Menurut laporan kakang Tongkat Baja,bahkan satu lagi tokoh hebat sudah bergabung bersama kita.." sambung nya kemudian," Siapa tokoh yang kau maksud.."," Seorang tokoh hebat bergelar Mahluk Alam Kubur,tentu guru cukup memgenalnya.."," Mahluk dahsyat ini ternyata masih hidup,kau harus hati-hati Gembong,dia setahuku susah di atur,jadikan dia umpan untuk menghabisi para lawan di pertemuan nanti,setelah itu kau sendiri yang harus menyingkirkan Mahluk Durjana itu.." Ucap Malaikat Katai sambil melangkah menuju ke arah mulut Gua kediamannya. sesaat Raja Lanun Selatan memperhatikan gurunya yang melangkah kedalam gua," Bukan cuma mereka,kau sendiri akan ku bunuh,jangan kau sangka aku akan mau selalu tunduk di bawah perintah mu,saatnya akan datang,kau akan memohon pada ku.." gumamnya pelan,kemudian Raja Lanun Selatan putar tubuh,dan segera berkelebat pergi ke arah barat..". Di sebuah ruangan yang di sesak oleh bau bangkai yang sangat menyengat,terlihat beberapa orang berkumpul,Si Tongkat Baja,Kelabang Merah,kemudian seorang laki-laki bertangan satu bergelar Maut Tangan Satu,dan tentunya Mahluk luar biasa bertubuh hitam hangus mengeluarkan bau yang sangat busuk Mahluk alam kubur." Tongkat Baja..untuk apa mahluk celaka ini kau undang,dia cuma merusak pemandangan,hilang selera makan ku menciun bau busuk tubuhnya..!!" Ucap Maut Tangan Satu,Si Tongkat Baja tampak mencoba tersenyum pada rekannya itu,Mahluk Alam Kubur adalah kawan satu golongan yang tentunya boleh ikut menjadi pengikut Partai Tengkorak.." Jawabnya kemudian,Mahluk Alam kubur tampak menatap garang pada Maut Tangan Satu," Kau minta mati berani menghina ku..!!" Ucapnya sambil siapkan Pukulan Tangan Mayat," Kau kira aku takut menghadapi mu,ayo jangan tunggu lagi,ayo serang aku dengan Pukulan Tangan Mayat mu..!!" Ucap Maut Tangan Satu sambil menantang maju,dengan satu teriakan keras Mahluk Alam Kubur hantamkan tangan kananya kedepan,satu gelombang cahaya hitam dengan hamparan bau sangat busuk melesat cepat ke arah Maut Tangan Satu,Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah segera melompat menjauh,sekejap lagi pukulan Tangan Mayat menyapu Maut Tangan Satu,dengan satu gerakan yang sangat luar biasa,Maut Tangan Satu kemudian meniup kedepan,sebuah gelombang angin badai melesat cepat bergemuruh menghantam Pukulan Tangan Mayat,satu dentuman keras mengguncang area sekitar,Mahluk Alam Kubur terseret mundur cukup jauh,Maut Tangan Satu berdiri dengan tubuh sempoyongan,wajahnya terlihat pucat. " Luar biasa... pukulan mahluk celaka ini sanggup mendorong Pukulan Seribu Badai ku.." Gumam Maut Tangan Satu. " Tahan..!! Apa yang kalian lakukan di istanaku..!!" Satu suara keras membentak bersama berkelebatnya satu sosok tubuh di antara Mahluk Alam Kubur dan Maut Tangan Satu. " Raja Lanun Selatan..!,bagus kau datang,kalau tidak mahluk celaka ini akan ku buat mampus..!!" Gembor Maut Tangan Satu," Ha..ha..bilang saja kau mulai gentar menghadapi ku..!" Jawab Mahluk Alam Neraka sambil tertawa keras,Maut Tangan Satu tampak maju mendekat dengan muka merah," Cukup..kembali ketempatmu,tak lama lagi kalian akan bertempur melawan para pendekar golongan putih,persiapkan tenaga kalian beberapa hari kedepan..!". (2) Sadewa melangkah ke arah Dewa Hati Suci," Paman..kau terluka,sebaiknya paman istirahat sejenak,biar aku yang menghadapi kakek tua ini.." Ucap Sadewa sambil tersenyum,Dewa Hati Suci sejenak menatap pemuda di sampingnya,kemudian mengangguk pelan. " Kau beruntung di selamatkan pemuda itu Dewa Hati Suci,namun kalian semua akan segera ku buat mampus,bersiaplah..!!" ucap Iblis Bungkuk Berantai sambil tersenyum mengejek. Tak jauh dari situ,pertempuran Si Tiang Langit dengan Mahluk Jin Hutan Kelam berlangsung sengit,Si Tiang Langit bergerak cepat menghindari pukulan musuh,dalam satu kesempatan Si Tiang Langit melompat sambil lepaskan Pukulan Tombak Dewa Api,satu cahaya merah memancarkan hawa sangat panas laksana sebuah tombak besar melesat cepat ke arah Mahluk Jin Hutan Kelam,sambil tertawa Mahluk berbulu hitam bertubuh Raksasa itu berkelebat sambil dorongkan dua tangannya kedepan,Dua gelombang Cahaya Hitam melesat ke arah Pukulan Si Tiang langit," Pukulan Selaksa Kelam..!!" Seru sebuah suara sambil tebaskan sebuah golok besar,satu cahaya merah berkiblat membentuk setengah lingkaran ke arah Pukulan yang di lepaskan Mahluk Jin Hutan Kelam,dentuman keras terdengar bergemuruh saat tiga pukulan beradu di udara,satu teriakan terdengar bersama tubuh Golok Setan yang terlempar jauh kebelakang dengan tubuh hangus hitam,sambil berusaha untuk bertahan hidup,sosok tinggi kurus berkelebat ke arahnya," Sahabat Golok Setan,kau berusaha menyelamatkan aku..!" serunya sambil meletakkan kepala Golok Setan di pahanya,Golok Setan tampak sedikit membuka mata,kemudian kepalanya tergolek pelan. " Ha..ha..Mampus kau Golok Setan,Kau sangka akan sanggup menghadapi pukulan ku..!!" Satu suara keras di iringi tawa,Si Tiang Langit segera berdiri menatap garang pada Mahluk Hitam besar yang berdiri tak jauh darinya. Di pertempuran lain " Siapa lagi yang mau minta mampus..!" Ucap Iblis Betina Penghisap Raga sambil berkacak pinggang,tak lama tiga sosok berkelebat kedepan,tampak tiga orang wanita telah mengurungnya,Dewi Tangan Seribu,Ratna Ayu,dan seorang gadis berpakaian hijau yang bukan lain Nirmala sudah berdiri mengurung nenek tua bergincu merah. " Bagus,, kalian mau maju langsung bertiga,ayo maju siapa yang akan minta mati cepat..!!" Ucapnya sambil tertawa,Dewi Tangan Seribu segera melompat cepat sambil lepaskan Pukulan Tapak Seribu,bersama dorongan tangan nya,tampak ribuan cahaya merah melesat mengurung Iblis Betina Penghisap Raga,Ratna Ayu sudah siapkan pedang birunya di tangan kanan,dengan sangat cepat segera tusukan pedang birunya,dengan jurus Pedang Biru Samudra,pedang di tangan nya seperti curah hujan menghujam cepat ke arah Iblis Betina penghisap Raga,Ratna Ayu yang bergelar Dewi Pedang Biru seperti bayangan biru berkelebat sangat cepat,di sampingnya Nirmala tak mau ketinggalan lepaskan Pukulan Lahar Merapi,sinar merah panas melesat cepat ke arah Iblis Betina Penghisap Raga,sambil tertawa keras nenek tua yang sudah banyak pengalaman dalam bertempur terlihat tenang,kemudian dengan gerakan yang sukar di lihat,tangannya berputar cepat membendung banyak pukulan yng datang,cahaya hitam pekat menyerbu cepat kedepan,awas Pukulan Dentuman Paku Bumi,benturan banyak pukulan di udara tak terhindarkan,suara dentuman keras bergemuruh dahsyat,Ratna Ayu terlempar kebelakang kemudian muntah darah,Tabib jari petir segera berlari cepat mendekati Dewi Pedang Biru,Dewi Tangan Seribu terdorong jauh dengan tangan bergetar,setelah mengamati sejenak,terlihat kedua tangannya bengkak membiru,Nirmala tak kalah sial,tubuhnya terbanting keras,sejenak pandangannya terlihat berkunang-kunang,kemudian tampa sempat tau apa yang terjadi tubuhnya jatuh pingsan. Iblis Betina Penghisap Raga berdiri dengan dua kaki menghujam dalam tanah sebatas mata kaki,wajahnya pucat,dari hidung nya darah tampak mengalir," Aku terluka dalam.." Gumamnya lirih. (3) Kembali ke pertarungan Si Tiang Langit dan Mahluk Jin Hutan Kelam,setelah tertawa keras mahluk hitam bertubuh raksasa hantamkan tinjunya melepas Pukulan Selaksa Kelam,kembali Cahaya hitam melesat cepat ke arah Si Tiang Langit,sambil melompat tinggi orang tua tinggi kurus hantamkan dua tangan nya kedepan,di kanan Pukulan Tombak Dewa Api melesat cepat,di tangan kirinya Pukulan Cakrawala Merekah melesat bergemuruh bersama melesatnya cahaya merah terang,tak cuma itu dari samping dua sosok bayangan ikut melompat lepaskan Pukulan ke arah Mahluk Jin Hutan Kelam,Senopati Kebo Amuk lepaskan Pukulan Cambuk Malaikat,sebuah sinar panjang melesat seperti mencambuk ke arah Mahluk Jin Hutan Kelam,di sisi lain seorang Pemuda berompi putih di iringi tawa bergelak Dewi Gila Maut berkelebat cepat lepaskan Pukulan Neraka Mengamuk,lesatan bunga api bertabur di udara mengurung pukulan yang dilepaskan Mahluk Jin Hutan Kelam,di gempur banyak pukulan,dentuman keras di iringi percikan bunga api bergemuruh keras mengguncang halaman luas Perguruan Harimau Putih,raungan dahsyat terdengar bersama terlemparnya tubuh raksasa Mahluk berbulu hitam,kedua tangannya putus sebatas siku,darah menyembur dari mulut nya yang bertaring besar,rambutnya terbakar mengeluarkan bau sangit,dengan susah payang mahluk hitam berusaha berdiri. Tubuh kurus Si Tiang Langit terlempar menghantam tiang besar di halaman bangunan besar,Senopati Kebo Amuk jatuh terhenyak sambil pegangi tanggannya yang kesemutan,sementara Surolaga nampak jatuh tertungging terkentut-kentut,kepalanya benjut besar berdarah terbentur batu,gelak tawa Gembul Edan,Juwita Maut dan Dewi Gila Maut melihat keadaan muridnya," Bocah geblek,di suruh bertarung kau malah menungging terkentut-kentut..!!" ucap Dewi Gila Maut menunjuk muridnya. Pendeta Maut yang sejak tadi terdiam," Kalian beraninya main keroyok,dasar tidak tau malu..!!",Ucapnya marah melihat keadaan Mahluk Jin Hutan Kelam,tak lama Gembul Edan telah berdiri di depannya," Kau mau lawan..?,aku lawan mu Pendeta Sontoloyo..!" Ucapnya sambil tertawa-tawa," Gendut tak tau diri,kau cuma sendiri,kenapa dua kawan mu yang lain tak ikut maju,apa mereka takut..?" balas Pendeta Maut sambil tersenyum mengejek," Ha..ha..Pendeta gila,kau hadapi aja dulu bocah bongsor bau ketiak itu,kami tak perlu mengeroyokmu.!" seru Dewi Gila Maut sambil tertawa," Kepala kalian sama-sama gundul,bermain lah berdua di situ.." sambung juwita Maut smambil tertawa ,dengan wajah marah terus mendapat ejekan lawan,sambil melompat cepat Pendeta Maut lepaskan Pukulan Dewa Menyembah Langit,pukulan yang selama ini jarang di gunakan Pendeta Maut,sebuah cahaya putih terang berkelebat cepat ke arah Gembul Edan,sambil bergaya seperti kerbau yang mau menyeruduk,di iringi gelak tawa Juwita Maut,Dewi Gila Maut dan Ki Ranapati,Gembul Edan berlari cepat kedepan sambil hantamkan tangan kanan,sebuah cahaya gemerlap laksana kincir angin berwarna ungu melesat ke arah pukulan Pendeta Maut," Pukulan Cakra Ungu..!" Seru Ki Ranapati,beradunya dua pukulan di udara keluarkan dentuman keras,lagi-lagi pelataran Perguruan Harimau Putih laksana di hantam gempa dahsyat,murid-murid yang sudah berdiri jauh,berhamburan lari menghindar,sebagian ada yang terlempar jauh tersapu angin pukulan. Pendeta Maut terlempar kebelakang,tubuhnya menghantam batu besar berbentuk patung kepala Harimau di halaman Perguruan,darah menyembur dari mulutnya,dari tepian mata,lubang hidung dan lubang telinganya darah juga mengalir,tengah berusaha untuk berdiri,satu bayangan bergerak cepat ke arah nya,tampa sempat menghindar,satu tendangan bersarang telak di kepalanya,kembali Pendeta Maut terlempar jauh,kemudian jatuh tergeletak tewas dengan kepala pecah. Gembul Edan berjalan cengar-cengir sambil menggaruk ketiaknya," celananya tampak melorot kebawah karena tali pengikatnya terlepas waktu Gembul Edan menendang lawan,sambil berjalan memdekati Dewi Gila maut," Menjauh dari ku gendut sialan,aku mual mencium bau ketiak mu..!!" Seru Dewi Gila Maut melotot," Tolong kau bantu ikatkan tali celana ku Kunti,sekalian kau periksa apa tak ada sesuatu yang terbang dari dalam celana ku.." Ucapnya sambil menyodorkan tubuhnya di bawah pinggang pada Dewi Gila Maut,suara tawa bergelak kembali riuh,Dewi Gila Maut terlihat menjauh sambil menyumpah panjang pendek. (4) Pertarungan Iblis Bungkuk Berantai dan Sadewa berlansung paling sengit,kedua nya berkelebat laksana dua bayangan yang melompat dan saling menyerang dengan gerakan yang sangat cepat,Rantai berduri di tangan Iblis Bungkuk Berantai berkelebat kian kemari mengincar titik-titik kematian di tubuh Sadewa,dengan Jurus Langkah Dewa Angin nya,Sadewa menghindar dan balas menyerang dengan cepat,pertarungan keduanya menyita banyak mata yang memandang,Sadewa dengan Perisai bercahaya biru yang berputar cepat mengeluarkan suara mendesing nyaring memekakkan telinga terus menggempur lawan yang bersenjatakan Rantai panjang berduri,dalam satu kesempatan dengan sangat cepat,Iblis Bungkuk Berantai hantamkan Pukulan Payung Pusara dengan kekuatan penuh,Sadewa yang segera melompat tinggi hantamkan dua tangan nya,tangan kirinya melepaskan Pukulan Lentera Dewa Langit,sedangkan tangan kanan nya menyusul dengan Pukulan Tinju Naga Perkasa,gelombang Cahaya biru terang melesat cepat di iringi raungan Naga murka, gelombang cahaya biru melesat cepat menghantam Pukulan Payung Pusara,dentuman keras lagi-lagi mengguncang area sekitar Perguruan Harimau Putih,lubang besar terbentuk akibat beradunya tiga pukulan di udara,Sadewa tampak mencoba bertahan dari sapuan angin pukulan sambil palangkan Perisai Dewa di depan tubuhnya,Perisai sakti ini berputar cepat mengeluarkan suara bergemuruh dahsyat membentuk Tameng Raksasa di depan tubuh Sadewa,tubuh Sadewa terdorong jauh kebelakang,sedangan Iblis Bungkuk Berantai coba bertahan dengan hujamkan dua kakinya ketanah,tubuhnya meliuk keras kebelakang menahan derasnya angin pukulan. Kedua nya kembali berdiri berhadapan," Kau lumayan kuat anak muda,tapi umurmu cuma sampai di sini,bersiap lah..!!" Serunya sambil lemparkan rantai berduri cepat kedepan,Pukulan rantai di tangannya seakan berubah menjadi seekor ular yang sangat besar," Kau tak akan sanggup menahan serangan Rantai Sanca Neraka..!" Seru iblis Bungkuk Berantai,dengan sangat cepat meluncur deras menerkam Sadewa yang sejenak tercekat melihat dahsyatnya serangan lawan,lalu sambil lemparkan Perisai Dewa dengan kekuatan tenaga dalam penuh,Pukulan Tameng Sakti Dewa Langit melesat sangat luar biasa cepat,sambil meraung keras Sadewa hantam kan dua tangannya lepaskan Pukulan Tinju Naga Perkasa,tiga pukulan lagi-lagi beradu di udara,dentuman yang jauh lebih keras dari sebelumnya kembali bergemuruh,bangunan besar Perguruan Harimau putih luluh lantah oleh sapuan angin pukulan yang menyebar luas ke sekitar hutan di bawah tebing,pohon-pohon bertumbangan tersapu angin pukulan. (5) Sadewa terlempar jauh,darah menyembur dari mulutnya,pakaian putihnya robek besar,dengan susah payah Sadewa mencoba duduk untuk mengatur jalan darahnya,pandangannya gelap,kedua tangannya bergetar dan tampak bengkak membiru,sama hal nya dengan iblis Bungkuk Berantai yang tersapu jauh kebelakang,tubuh nya ambruk begitu membentur batu besar,senjata Rantai berduri terlihat hancur meleleh,sambil mencoba berdiri namun kembali jatuh terguling,satu sosok bayangan berkelebat menyambar tubuhnya," Beberapa hari kedepan,kami tunggu kalian di Teluk Penanjungan,kalian semua akan binasa sebagai tumbal berdirinya Partai Tengkorak..!!" Satu suara perempuan terdengar keras di kejauhan,Iblis Betina Penghisap Raga mendukung Iblis Bungkuk berantai di bahu kanannya berlari cepat di iringi Mahluk Jin Hutan Kelam yang berlari sambil terus meraung kesakitan kehilangan dua tangannya. " Biarkan mereka pergi..!" Seru Dewa Hati Suci menahan beberapa orang yang mau coba mengejar,sambil terbaring lemah Dewa Hati Suci memandang ke arah Sadewa," Anak muda... Syukur kau selamat,Iblis Bungkuk Berantai adalah salah seorang dedengkot golongan hitam,ilmunya sangat tinggi,terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawa tua ini.." ucapnya terdengar lirih," Kau terluka parah Dewa Hati suci,berbaringlah aku akan mencoba mengobati mu.." Ucap Tabib Jari Petir yang sudah duduk di sampingnya,Dewa Hati suci tersenyum sambil menggeleng lemah,kemudian memandang Pendekar Harimau Besi di sampingnya," Kuserahkan Perguruan ini pada mu adikku,umurku mungkin tak akan lama lagi,tapi aku lega niat baik kita sempat tercapai. Para pendekar golongan putih harus segera bersatu,jangan sampai terpecah belah.." Ucapanya cuma sampai di situ,kepalanya terkulai di atas pangkuan pendekar Harimau Besi," Kakang...!!" Ucapnya lirih menahan isak tangis,suasana menjadi hening,Sadewa berdiri berdampingan dengan Ratna Ayu dan Tabib Jari Petir,tak jauh Dewi Tangan Seribu tampak duduk memangku Nirmala yang masih pingsan,Si Tiang Langit dan Ki Ranapati berdiri di sebelah kanan kirinya. Gembul Edan,Juwita Maut,Surolana dan gurunya Dewi Gila Maut tampak berdiri sambil merunduk sedih,Senopati Kebo Amuk berkumpul tak jauh bersama para prajuritnya. Esok harinya,setelah pemakaman Dewa Hati Suci,dan korban lainya selesai,tampak para pendekar berkumpul di sebuah ruangan cukup luas, pSenopati Kebo Amuk berdiri di depan bersama Si Tiang Langit dan Dewi Gila Maut," Kita tak punya banyak waktu,saat peresmian Partai Tengkorak sudah dekat,kita harus menyusun rencana. Ini akan jadi akhir dunia persilatan kalau kita biarkan.." Ujarnya tegas," Tuan Senopati Kebo ngamuk.."," Kebo Amuk..bukan kebo ngamuk..!" potong Juwita Maut pada Gembul Edan sambil melotot,Dewi Gila Maut tertawa geli,yang lain bahkan Senopati Kebo Amuk sendiri cuma tersenyum," Ya itu..aku setuju dengan usulan tuan Tuan Senopati.." sambungnya kemudian sambil tersenyum," Satria Perisai Dewa..Apa pendapatmu.." ujar Senopati kebo Amuk sambil menoleh ke arah Sadewa,sejenak Sadewa menoleh ke arah Tabib Jari Petir dan Ratna Ayu yang wajahnya tampak pucat," Tuan Senopati,,,saya baru memulai pengembaraan saya,saya belum tau apa yang dapat saya usulkan,mungkin tokoh-tokoh tua lainnya yang lebih pantas menyampaikan pendapat.." Ratna Ayu memandang pemuda di sampingnya dengan tatapan penuh kagum,Tabib Jari Petir dan Ki Ranapati cuma mengangguk,Dewi Gila Maut menatap Sadewa," Pemuda ini sangat rendah hati,aku harus berusaha untuk bicara padanya.." Ucap nya dalam hati,Nirmala mencuri pandang pada Sadewa,cuma jadi tersenyum geli melihat Surolana yang sibuk tengah membetulkan celananya yang sedikit kedodoran," Bagaimana pun juga kita harus menghentikan Rencana Raja Lanun Selatan dan pengikutnya untuk mendirikan Partai Tengkorak.." Si Tiang Langit ikut bersuara. (6) " Menurutku kau lebih baik pergi bersama Dewi Gila Maut,biarlah Ratna Ayu bersama ku dan Ki Ranapati,dia butuh perawatan,lukanya cukup parah.." ujar Tabib Jari Petir," Ada apa nenek Kunti Ambar begitu kuat menyuruhku ikut dengannya.." jawab Sadewa pelan pada Tabib Jari Petir," Kau akan mendapatkan penjelasan Sadewa,segeralah berangkat,jangan menunggu waktu lagi.." Sadewa sejenak manoleh ke arah Ratna Ayu,gadis itu mengangguk pelan sambil tersenyum,Nirmala yang melihat itu cuma mengalihkan pandangan ke arah lain," Sepertinya mereka ada hubungan dekat.." ucapnya dalam hati,sedang larut dalam lamunan," Apa kau tak mau ikut kami sekalian.." Ucap seseorang yang sudah berdiri di sebelahnya sambil cengar-cengir,Nirmala menoleh pada seorang pemuda tampan tapi konyol di dekatnya," Namamu Surolana..?",Surolana mengangguk sambil tersenyum,Nirmala tertawa geli melihat pemuda yang punya tingkah lucu ini," Lain kali aku akan ikut dengan mu,saat ini aku dan bibi masih punya urusan lain.." Jawab Nirmala kemudian," Boleh ku tau nama mu..?"," Namanya Nirmala.." Jawab seseorang di belakang Surolana,pemuda itu segera balikan badan,kemudian membungkuk hormat pada Dewi Tangan Seribu yang terlihat tersenyum padanya," Bocah geblek,apa kau masih akan berlama- lama di situ..!!" Seru Dewi Gila Maut pada muridnya,kemudian segera melesat pergi di iringi Sadewa,Surolana yang jadi bingung cuma melirik sesaat pada Nirmala,kemudian sambil tarik celananya ke atas segera berkelebat menyusul gurunya. Di suatu tempat di kaki sebuah bukit,tampak Sadewa,Surolana dan Dewi Gila Maut duduk berhadapan," Sadewa..kau mungkin bertanya,apa maksud ku membawamu..",Sadewa sesaat menoleh ke arah Surolana," Ketahuilah Sadewa,mendiang guru ku Kyai Jalak Kumbara bergelar Maharajo Mato Putiah,pernah menitipkan sesuatu pada ku dan kakak seperguruanku Tabib Jari petir. Sesuai perintahnya akan di berikan pada seorang yang kelak bergelar Satria Perisai Dewa..",setelah cukup lama diam," Apakah itu nek..?aku tak paham maksud mu.." ucap Sadewa sambil sedikit merunduk," Aku akan sedikit berkisah pada mu,dengarkan Sadewa. Dahulu kala,cerita guruku beliau pernah bersahabat dengan seorang Ulama dari tanah seberang lautan yang sangat jauh,yang datang ke tanah jawa ini dalam mengemban tugas mulia untuk mendidik seorang pendekar yang kelak bersenjatakan sebuah Perisai,mereka saling membantu dalam banyak hal,guruku merasa sangat berhutang nyawa padanya. Hingga akhirnya beliau bersumpah akan mewariskan pengawal gaib beliau pada murid sahabatnya itu.."," Aku dan Tabib Jari Petir sepakat,yang di maksud guruku adalah kau Sadewa,Satria Perisai Dewa,aku siap memberikan apa yang di titipkan guruku pada mu..",Sadewa cuma tersenyum," Terima kasih nenek Kunti,aku sangat menghargai niat baik mu,cuma mungkin aku tak bisa menerima amanat itu,aku rasa Surolana lebih pantas mendapatkannya,dia adalah murid tunggal mu.." Jawab Sadewa sambil sedikit merunduk,Surolana tertawa," Bocah geblek kenapa kau tertawa..!" Bentak Dewi Gila Maut pada muridnya," Sebaiknya kau pertimbangkan dulu Sadewa,aku tak mau dapat Warisan itu setelah tau apa yang mau di wariskan.."," Kenapa begitu..?" tanya Sadewa bingung," Eyang..sebaiknya perlihatkan apa yang akan eyang berikan pada nya,tapi aku mau kabur dulu.." Ucap Surolana sambil bergegas mau pergi," Tetap di tempatmu bocah setan..!!" Sedewa tersenyum melihat kelakuan pemuda yang sudah jadi sahabatnya itu. " Sadewa..guru ku mewariskan pada mu pengawal gaib nya,setelah kau menerima nya,kau akan bisa memanggilnya di saat kau membutuhkan bantuan,cuma kau yang bisa memanggilnya. Aku cuma bisa memanggilnya sampai aku memberikannya pada mu,setelah itu tidak bisa lagi,itu lah ketentuan nya menurut mendiang guruku.." Dewi Gila Maut menjelaskan,setelah cukup lama terdiam," Sadewa..aku akan segera memberikan amanat besar ini pada mu,bersiap lah..","Tapi Nenek Kunti..?"," Sudah terima saja Sadewa,ku rasa kau memang berjodoh dengannya..","Apa maksud mu Suro,apa Nenek Kunti akan memberikan ku pengawal wanita..?" Surolana dan Dewi Gila Maut tertawa keras,kemudian tak lama setelah cukup puas tertawa," Kalian berdua pemuda sama-sama tolol,sekarang bersiap lah Sadewa,aku akan segera memanggil Datuk Raja Hitam..",ucap Dewi Gila Maut,Surolana tersurut mundur dengan wajah pucat. Setelah membaca mantra pemanggil,suasana sekitar mendadak menjadi sangat hening dan berkabut,udara menjadi sangat dingin,tak lama tempat itu di guncang suara Auman yang sangat dahsyat,tanah dan pohon sekitar bergetar,dalam kabut berlahan muncul sesosok tubuh luar biasa besar berbulu belang hitam pekat,matanya bermata biru menyorot tajam ketiga orang yang masih duduk berhadapan,Surolana sudah menungging ketakutan,Sadewa terlihat sangat pucat,hanya Dewi Gila Maut yang masih terlihat tenang. Seekor Harimau bertubuh sangat besar mendadak sudah berjalan mengitari mereka,gerengan nya menggetarkan area sekitar," Datuk Rajo Hitam,pemuda di depanmu adalah Satria Perisai Dewa yang akan jadi sahabatmu selanjutnya,kau akan jadi pelindungnya,kau akan muncul di saat dia membutuhkan mu.." Ucap Dewi Gila Maut pada Harimau besar Hitam yang terus berputar mengelilingi mereka,kemudian dia berhenti di depan Sadewa,menatap tajam pada pemuda di depannya,Sadewa merasa nyawanya terbang,mahluk luar biasa dahsyat telah berada tepat di depan wajahnya,Harimau besar bermata biru terang,sepasang taring tajam sangat besar tampak putih melengkung di mulutnya,kemudian Auman dahsyatnya kembali terdengar sangat dahsyat,setelah itu Datuk Rajo Hitam tampak menjilat wajah Sadewa dengan lembut,Sadewa merasakan wajahnya terasa sejuk,hembusan nafas Harimau besar yang awalnya membuat matanya perih,tak lama membuat penglihatan Sadewa jauh lebih tajam," Datuk Rajo Hitam,aku Sadewa sangat berterima kasih kau mau menjadi sahabatku.." Ucap Sadewa pelan,kemudian berlahan membelai lembut kuduk binatang besar itu," Sadewa..kau sudah menerima apa yang jadi hak mu,aku merasa lega sudah menjalankan amanat guruku..",kemudian kabut berlahan menghilang bersama lenyapnya Datuk Rajo Hitam. Sadewa membungkuk hormat pada nenek sakti di depannya," Terima kasih nenek Kunti,semoga aku dan Datuk Rajo Hitam bisa saling membantu.." Kemudian kembali terdengar Auman di kejauhan," Datuk Rajo Hitam senang kau jadi sahabatnya.." ucap nenek tua,kemudian semua kembali diam," Kurang aja,bocah gila,bau apa ini..!!"," Maaf eyang,aku kencing di celana,aku benar-benar ketakutan.." jawab Surolana sambil lari menjauh,si nenek tua tampak menyumpah panjang pendek,Sadewa cuma bisa tersenyum melihat si nenek mengejar muridnya dengan tongkat kayu,Surolana berlari tunggang langgang takut kena gebuk...Bersambung