
(1) Hari itu suasana Teluk Penanjung terlihat ramai,umbul-umbul bergambar tengkorak hitam berjejer rapi di sisi jalan ke arah sebuah lapangan cukup luas," Besok acara besar akan di adakan,perketat semua penjagaan,tamu-tamu satu golongan akan banyak hadir hari ini,sambut mereka semua dengan ramah hidangkan jamuan terbaik..!",sosok tinggi besar berdiri gagah di tengah sebuah Aula besar," Sahabat Gembong Kalimati,berita yang ku dengar,beberapa sahabat yang membuat kekacauan di Perguruan Harimau Putih kemaren mengalami luka cukup parah,apa mereka akan hadir esok hari..? Kelabang Merah mengajukan pertanyaan sambil menatap ke arah Gembong Kalimati,sejenak Laki-laki bertubuh tinggi besar berpakaian merah,dengan sebuah topi tinggi di kepalanya tampak terdiam,seperti memikirkan sesuatu," Tak usah khawatir,akan banyak rekan-rekan satu golongan yang akan hadir,lagi pula,dengan adanya kakang Tongkat Baja,Saudara Kelabang Merah,Maut Tangan Satu,Mahluk Alam Kubur dan yang lain,kenapa kita musti risau.." jawab Gembong Kalimati sambil mengedarkan pandangan," Kita akan susun rencana malam ini dengan sahabat-sahabat yang lain..",Si Tongkat Baja dan yang lain serempak mengangguk,tak lama satu orang berpakaian merah tampak berlari ke arah Aula,setelah sampai di hadapan Gambong Kalimati," Ketua,,,menurut laporan mata-mata,para tokoh golongan putih sudah ada yang bergerak ke arah Teluk Penanjung ini.." ucapnya sambil berlutut hormat,Raja Lanun Selatan menoleh ke arah Maut Tangan Satu," Bagaimana pendapat mu Maut Tangan Satu,besok sepertinya mereka akan hadir di sini,sudah bisa di pastikan akan terjadi baku hantam antara kita dengan mereka..!",Maut Mata Satu terlihat mengusap dagunya,,mata nya memandang jauh kedepan," Setelah ku pikir-pikir,setelah kita resmikan pendirian Partai Tengkorak,kita habisi mereka semua..",ucapnya kemudian,Tongkat Baja dan Kelabang Merah kembali mengangguk setuju," Dan aku sudah bisa mengira siapa saja mereka yang kan hadir,tentunya Gembul Edan dan Dewi Gila Maut akan memimpin mereka seperti biasa.." Sambung Si Tongkat Baja,Gembong Kalimati terlihat tersenyum," Esok akan jadi hari berkabung untuk seluruh pendekar golongan putih,Neraka Di Teluk Penanjung akan jadi akhir dari perjalanan hidup mereka..!!" Ucap nya keras sambil tertawa. Tak lama satu sosok berkelebat cepat ke tengah Aula pertemuan,satu sosok pendek berpakaian hitam lebar telah berdiri di tengah-tengah Aula," Guru Malaikat Katai..!!" Seru Gembong kalimati alias Raja Lanun Selatan sambil melangkah cepat ke arah sosok pendek,sesampai nya di hadapan sosok yang cuma setinggi pinggangnya,Raja Lanun Selatan membungkuk hormat,di ikuti oleh tokoh-tokoh yang ada di Aula pertemuan. Malaikat Katai terlihat edarkan pandangan," Tongkat Baja,Maut Tangan Satu,Kelabang Merah,Mahluk dahsyat sahabatku bergelar Mahluk Alam Kubur,terima salam hormat ku untuk kalian semua.." Ucapnya kemudian," Kau terlihat semakin gagah Malaikat Katai.." Ucap Maut Tangan Satu sambil sedikit tersenyum," Besok peresmian Partai Tengkorak akan berlangsung,aku akan menunjuk muridku Raja Lanun Selatan untuk memimpin,apa ada di antara kalian yang keberatan..!" Ucap Malaikat Katai tegas pada semua yang hadir,suasana sejenak menjadi hening," Aku tak peduli siapa yang akan memimpin Partai Tengkorak,aku cuma datang dengan satu niat,membunuh para pendekar golongan Putih..!" Ucap Mahluk Alam Kubur dari sudut ruangan,semua memandang pada Mahluk dahsyat di pojok Aula pertemuan. " Semua nya sudah siap guru,sebaiknya kita istirahat sambil menunggu rekan-rekan yang lain,hiburan untuk kalian semua sudah ku siap kan.." kemudian Raja Lanun Selatan bertepuk,dari dalam ruangan besar keluar beberapa gadis cantik,berjalan ke arah Aula besar," Nikmati lah malam ini dengan bersenang-senang..!!" Ucap Raja Lanun Selatan keras sambil tertawa. (2) Esok harinya hujan turun sangat deras,petir menyambar kian kemari dengan suara keras bergemuruh,ombak bergulung-gulung besar menghantam batu karang di tepian pantai Teluk Penanjung,dalam hujan yang sangat deras nampak bebarapa bayangan berkelebat cepat ke arah lapangan Luas di mana terdapat Aula Pertemuan dan sebuah bangunan yang cukup besar. " Selamat datang para tokoh hebat golongan hitam,Trisula Setan,Dewa Maut Mata Hitam,Lanang Sewu bergelar Pendekar Pedang laknat,dan banyak tokoh lainnya..!!" Seru Raja Lanun Selatan menyambut para tamu yang datang,sekeliling lapangan luas tampak para bajak laut anak buah Raja Lanun Selatan berbaris berjejer dengan senjata berupa golok,pedang dan tombak di tangan. Sadewa terlihat berlari cepat,di depannya Dewi Gila Maut dan Surolana yang berlari sambil pegangi pinggang celananya," Bocah kurang ajar,kau berlari dengan celana melorot,pantatmu sehitam kuali kau pamerkan pada ku..!! Semprot Dewi Gila Maut pada muridnya,Surolana tampak tertawa-tawa," Eyang yang salah,celana butut longgar ini yang kau wariskan pada ku,mau ku ganti dengan yang lain eyang marah.." jawabnya sambil terus tertawa," Bocah geblek,,kau curi celana orang sedang mandi,apa aku tak marah,bisa kau bayangkan seperti apa jadinya kalau tak kau kembalikan celananya.." Ucap si nenek sambil tertawa-tawa," Perabotannya akan gondal-gandil kemana-mana,syukur-syukur kalau anjing liar tak menggigit Anunya.." sambung si nenek,tawa mereka riuh terdengar sambil berlari. " Sadewa,,sepertinya Gembul Edan dan temannya banci kurang ajar itu sudah ada di pinggir lapangan luas.." Bisik Dewi Gila Maut yang berada di sebelahnya,dari atas sebuah batu yang cukup tinggi mereka mengamati lapangan luas tempat pertemuan," Nirmala dan bibi Dewi Tangan Seribu juga sudah ada.." Sambung Surolana sambil senyum-senyum menatap jauh ke arah Nirmala," Sejak kapan Dewi Tangan seribu jadi bibimu..!" Semprot nenek Kunti Ambar sambil menjewer telinga Muridnya yang mengaduh kesakitan,Sadewa layangkan pandangan jauh dengan ilmu pemberian Sri Hanuman padanya,terlihat di sekitar lapangan luas orang-orang yang sudah di kenalnya berdiri berkelompok,selain yang di sebutkan Dewi Gila Maut dan Surolana,terlihat berdiri Ki Ranapati atau Pendekar sapu jagat,Tabib Jari Petir,dan Ratna Ayu,kemudian Senopati Kebo Amuk dan beberapa orang pengawalnya,Harimau Besi dan beberapa orang muridnya. Di sebelah depan Aula nampak berjejer Si Tongkat Baja,Kelabang Merah,Maut Tangan Satu,dan banyak yang lain. " Ayo,,,sepertinya acara peresmian akan segera di mulai..!" Seru Dewi Gila Maut pada Sadewa dan Surolana,ketiganya segera berlari cepat ke arah lapangan luas. " Selamat datang para tamu undangan,hari ini kita akan meresmikan berdirinya sebuah Partai Besar,yaitu Partai Tengkorak..!!,Gembong Kalimati membuka acara,tak lama sesosok laki-laki bertubuh pendek dengan pakaian hitam maju kedepan," Aku menobatkan muridku Gembong Kalimati yang bergelar Raja Lanun Selatan menjadi ketua Partai Tengkorak,ku harap kalian semua tunduk pada nya..!!" Seru Malaikat Katai,yang awalnya suara terdengar ribut,mendadak menjadi senyap," Siapa yang menolak,silahkan maju untuk menjemput maut..!" Sambung nya sambil menatap tajam pada para pendekar golongan putih yang berdiri di pojok sebelah kanan lapangan luas," Kalau memang Raja Lanun Selatan yang kau pilih,aku mengajukan diri untuk jadi pendampingnya..!" Juwita Maut berseru dengan sikap genit," Banci tak tahu diri.." bisik Gembul Edan,kemudian terdengar suara beberapa orang tertawa,semua mata para tokoh golongan hitam menatap garang pada Juwita Maut yang tadi bicara," Ku rasa kau memang cocok dengan monyet besar baju merah itu sobatku banci kaleng,cepat kau beri hormat pada monyet hitam pendek itu,dia calon bapak mertua mu..!" Kembali tawa riuh terdengar setelah ucapan Gembul Edan,para tokoh golongan hitam banyak yang sudah melangkah maju dengan muka marah," Tetap di tempat kalian,biarkan para calon mayat itu puas tertawa,setelah peresmian selesai,mereka akan dapat bagian..!" Seru Malaikat Katai," Ha..ha..monyet katai,kau cuma mimpi bisa mendirikan Partai Tengkorak,kalian cocok kalau mendirikan paguyuban ketoprak keliling..!" satu suara terdengar bersama berkelebatnya tiga sosok tubuh ketengah lapangan luas," Dewi Gila Maut..!" Seru Si Tongkat Baja," Satria Perisai Dewa..!! Seru Kelabang Merah,para tokoh Golongan hitam nampak menatap tajam pada Sadewa," Bagus..kau yang ku tunggu sudah datang,Satria Perisai Dewa aku akan membalas kematian muridku Raja Racun Utara..!!" Seru Malaikat Maut sambil melompat ke tengah lapangan luas di ikuti para tokoh golongan hitam. (3) Melihat para pendekar golongan hitam di pimpin Malaikat Katai dan Raja Lanun Selatan maju,para tokoh golongan putih pun segera maju," Tetap di tempat kalian semua,urusan ku dengan Malaikat Katai belum selesai..!!" Satu seruan terdengar,bersama berkelebatnya sesosok bayangan putih ke tengah lapangan,Malaikat Katai tersurut mundur,satu sosok sangat tinggi berpakaian serba putih sudah berdiri tak jauh di hadapan Malaikat Katai. " Tiang Langit..!" gumamnya dalam hati," Malaikat Katai,aku di utus guru mencari mu,kembalikan Kitab Pusaka Dasar Samudra padaku..!" Seru si Tiang Langit," Kitab itu sudah lenyap,kitab itu sudah ku hancurkan..!" Jawab nya," Jangan berdusta,sebelum kau kembalikan dan menerima hukuman,jangan harap kau bisa menghindar dari ku.." ucap si Tiang Langit kemudian," Kurang ajar,kau minta mati di negeri orang..!" Seru Malaikat Katai,kemudian lepaskan pukulan Tombak Dewa Api,sambil melompat tinggi Si Tiang Langit juga lepaskan Pukulan Tombak Dewa Api,di susul Dewi Gila maut yang ikut melompat lepaskan pukulan Neraka Mengamuk,tiga pukulan beradu di udara,dentuman keras bergemuruh,melihat gurunya sudah menyerang," Tunggu apa lagi,cari lawan masing-masing..!!",Raja Lanun Selatan segera melompat maju kehadapan Sadewa, Si Tongkat Baja segera mendapat lawan Juwita Maut,Dewa Mata Hitam melawan Ratna Ayu,Kelabang Merah melawan Surolana,Maut Tangan Satu berhadapan dengan Ki Ranapati,Trisula Setan melawan Gembul Edan,Mahluk Alam Kubur di keroyok Dewi Tangan Seribu dan Tabib Jari Petir,Senopati Kebo Amuk melawan pendekar Pedang laknat,Nirmala dan Harimau Besi memimpin penyerangan pada anak buah Raja Lanun Selatan dan para tokoh golongan hitam lainnya. Dalam sekejap lapangan luas di Teluk Penanjung berubah jadi arena pertempuran,darah dan mayat- mayat mulai bergelimpangan,Senopati Kebo Amuk mengamuk sejadi-jadinya,Harimau Besi bersama para murid pilihannya menerkam kesana kemari ke arah anak buah Raja Lanun Selatan. Pertarungan Si Tiang langit dan Dewi Gila Maut dengan Malaikat Katai berlangsung sangat sengit,ketiganya beradu pukulan dan tendangan dengan sangat cepat hingga pada satu kesempatan Malaikat Katai lepaskan pukulan yang selama ini jadi andalannya,satu gelombang sinar biru melesat cepat ke arah Si Tiang Langit dan Dewi Gila Maut," Pukulan Gelombang Samudra Biru,awas..!!" Seru Si Tiang Langit pada Dewi Gila Maut,sambil melompat ke samping dengan dua tangan sekaligus Si Tiang Langit lepaskan pukulan Tombak Dewa Api di tangan kanan,dan pukulan Cakrawala Merekah di tangan kiri,Dewi Gila Maut tak tanggung-tanggung lepaskan pukulan Letusan Puncak Gunung Dewa,satu dentuman keras menyertai lesatan cahaya merah panas membara,empat pukulan sakti dengan tenaga dalam tinggi beradu di udara,dentumannya sangat keras bergemuruh,lapangan luas sekejap berhawa sangat panas,raungan dan teriakan banyak anak buah Raja Lanun Selatan dan murid Perguruan Harimau Putih terdengar menggidikan tersapu angin panas pukulan,mereka tewas dengan tubuh hangus,ketiga jago tua terlempar di sapu angin pukulan. Si Tiang Langit muntah darah,pandangannya gelap,lukanya cukup parah. Dewi Gila Maut masih tergeletak,kedua tangannya terasa kaku,tangan nya bengkak membiru sampai sebatas siku,dari lubang hidung,lubang telinga,dan tepian mulutnya darah mengalir,Malaikat Katai cuma terguncang hebat,setelah dapat menguasai diri,kemudian menoleh ke arah pertarungan Sadewa dan Raja Lanun Selatan yang sudah di puncak nya,keduanya sudah melepaskan pukulan sakti,Sadewa lepaskan pukulan Sinar Lentera Dewa,gelombang cahaya biru terang melesat cepat kedepan,Raja Lanun Selatan sambil melompat lepaskan Pukulan Badai Angin Selatan,satu gelombang angin badai dengan cepat menyapu kedepan,bentrokan dua pukulan tak terhindarkan,dentuman keras lagi-lagi mengguncang Teluk Penanjung,Raja Lanun Selatan dan Sadewa terlempar jauh kebelakang. Pertarungan berlangsung kian sengit,keduanya terus beradu pukulan maut tingkat tinggi,area sekitar pertarungan mereka sudah porak-poranda,dalam satu benturan hebat keduanya kembali terlempar jauh kebelakang,setelah berhasil menguasai keadaan,Raja Lanun Selatan segera menyerang dengan sebuah pedang besar di tangan,benturan pedang besar dan Perisai di tangan kiri Sadewa,akibatkan percikan-percikan bunga api,pertarungan keduanya semakin memasuki titik akhir,pada satu kesempatan Raja Lanun Selatan babatkan pedang besar dengan di iringi tenaga dalam penuh,satu cahaya hitam berkelebat cepat membentuk setengah lingkaran ke arah Sadewa,tampa tunggu waktu Sadewa dengan cepat lemparkan Perisai Dewa dalam Jurus Tameng Dewa Langit,Perisai di tangan kiri Sadewa melesat sangat cepat di iringi bunyi berdesing nyaring,kilatan cahaya biru terang dengan cepat menyapu sabetan Pedang Raja Lanun Selatan,dentuman keras terdengar,di susul Pukulan Pusaran Gelombang Samudra di lepaskan oleh Raja lanun selatan,Sadewa sambil melompat tinggi hantamkan Pukulan Tinju Naga Perkasa,kemudian di susul lesatan cepat Perisai Dewa dalam jurus Tameng Sakti Dewa Langit,kelebatan sinar hijau bergulung laksana seekor Naga melesat cepat kedepan,raungan Naga mengamuk terdengar keras di tengah kecamuk pertempuran,dentuman keras kembali terdengar keras bergemuruh,Raja Lanun Selatan meraung di saat Perisai Dewa menembus pukulannya,terus berputar cepat laksana Cakra Raksasa memotong tubuh besar nya,Raungan kematian calon pemimpim Partai Tengkorak itu terdengar sangat menggidikkan. (4) Si Tongkat Baja dengan cepat lakukan serangan-serangan mematikan ke arah Dewi Juwita Maut,dengan tenang Juwita Maut bergerak cepat dalam jurus Bidadari Turun Mandi,gerakannya seperti menari cuma sangat cepat dan ganas,sambil melompat Tongkat Baja lepaskan Pukulan Tongkat Dewa Maut,tongkatnya berkelebat cepat menghantam dari atas ke bawah dengan keluarkan cahaya hitam,Juwita Maut sambil melompat,menyambut dengan Pukulan Pelangi Senja,sebuah sinar pelangi melesat menggulung Tongkat Baja,dentuman keras terdengar,tongkat di tangan Si Tongkat Baja berderak patah beberapa bagian,tubuh nya terlempar tersapu pukulan Pelangi Senja menghantam gundukan batu karang,kepala nya pecah setelah terbentur keras batu di depannya,Juwita Maut terlempar jauh kebelakang,kemudian berlutut muntahkan darah segar,pandangan nya gelap,badannya terasa hancur tak bisa di gerakan. Dewa Mata Hitam dengan sangat marah menyerang Ratna Ayu dengan serangan-serangan ganas,Ratna Ayu dengan jurus Seribu Mata Pedang Biru membalas dengan serangan yang tak kalah hebat,mata pedang birunya laksana berubah ribuan jumlahnya,menusuk titik-titik kematian Dewa Mata Hitam,di saat keadaannya sudah benar-benar terdesak,dengan satu bentakan keras,Dewa Mata hitam sentakan kepalanya kedepan,dua jalur sinar hitam berkelebat cepat dari kedua matanya yang hitam pekat," Pukulan Sinar Kemala kembar,hati-hati Ayu !!.." Seru Ki Ranapati yang sedang bertarung dengan Maut Tangan Satu. Ratna ayu segera melompat cepat kedepan sambil lepaskan Pukulan Tinju Sakti Raja Gunung,dentuman keras mengguncang Teluk Penanjung saat Pukulan Seribu Mata Pedang Biru di susul Pukulan Tinju sakti Raja Gunung dan Sinar kemala kembar beradu di udara,Dewa mata putih menjerit keras,tangan dan dadanya remuk,tubuhnya terlihat seperti saringan,darah mengucur di setiap lubang tusukan pedang di tubuhnya,sejenak Dewa Mata Hitam masih berdiri,kemudian jatuh tertelungkup di tanah dengan nyawa melayang. Ratna Ayu terlempar jauh kebelakang,pedang nya terlepas,sejenak mencoba untuk tetap berdiri,dari hidung dan mulutnya darah menyembur,kemudian Dewi Pedang Biru Jatuh pingsan. Sementara itu pertarungan Kelabang Merah dan Surolana pun sudah di puncak nya,kedua nya sudah sama-sama terluka,Kelabang Merah lepaskan Pukulan Tujuh Racun,Surolana melompat lepaskan Pukulan Neraka Mengamuk,dentuman keras terjadi,Surolana terlempar jauh,dadanya berdenyut sakit,nampak darah merah kehitaman mengental keluar dari mulutnya,setelah mencoba bangkit,namun kembali roboh tergeletak tak bernyawa,Kelabang Merah tak lebih baik,tubuhnya terlempar jauh dalam keadaan hangus gosong. Di tempat lain,Maut Tangan Satu yang bertarung melawan Ki Ranapati atau Pendekar Sapu jagat pun sudah berakhir,Maut Tangan Satu tewas di hantam Pukulan Tapak Halilintar Ki Ranapati,dengan tubuh penuh luka,Ki Ranapati mencoba untuk mengatur jalan darahnya. Trisula Setan pun sudah terkapar tak bernyawa dengan senjata nya sendiri menembus jantungnya,Gembul Edan segera melesat ke arah pertarungan Si Tiang Langit dan Dewi Gila Maut yang mengamuk setelah tau muridnya tewas. Pertarungan Mahluk Alam kubur yang di keroyok Dewi Tangan Seribu dan Ki Tabib Jari Petir berlangsung sangat seru,Dewi Tangan Seribu tampak sudah terluka parah,dari mulut dan hidungnya mengucur darah segar, Tabib Jari Petir pun sudah terlihat sempoyongan,melihat lawan sudah terdesak,dalam satu serangan Mahluk Alam Kubur lepaskan Pukulan Tangan Mayat dan Pukulan Dinding Kubur Runtuh bersamaan dengan dua tangan,di saat keadaan sangat genting itu lah terdengar Raungan yang sangat dahsyat,kemudian melesat satu cahaya biru terang berputar cepat seperti Tameng Raksasa membendung dua pukulan Mahluk Alam Kubur,dentuman keras bergemuruh dahsyat terdengar,Mahluk Alam Kubur tersapu gelombang cahaya biru dari Perisai Dewa yang mendadak muncul di depan Tabib Jari Petir dan Dewi Tangan Seribu,tubuhnya hancur menjadi potongan-potongan kecil meninggalkan bau sangat busuk," Raungan Dewa Langit.." Malaikat katai menatap Sadewa yang tadi meraung dengan sangat dahsyat," Apa mungkin pemuda ini memiliki ilmu yang sangat langka itu..?" gumam nya dalam hati. (5) Di pertarungan lain,Senopati Kebo Amuk tampak mengamuk luar biasa,tubuh besarnya bagaikan seekor gajah besar yang menghancurkan apapun yang kena hantam tangan dan kaki nya,Lanang Sewu yang bergelar Pendekar Pedang Laknat pontang-panting menghindari serangan Senopati kerajaan Mataram itu,dalam satu lompatan cepat bahkan Senopati Kebo Amuk berhasil menyarangkan sebuah tendangan keras ke punggung Pendekar Pedang Laknat,melihat tubuh lawan yang limbung terkena tendangannya,tampa tunggu waktu Senopati bertubuh tinggi besar itu segera lepaskan Pukulan Cambuk Malaikat,sinar terang panjang laksana cambuk raksasa melesat cepat kedepan mengeluarkan suara berdentum keras,tak sempat melompat menjauh Pendekar Pedang Laknat babatkan pedang di tangannya dalam serangan jurus Pedang lembayung Senja,sinar redup kemerahan bertabur seiring sabetan pedang di tangannya,beberapa kali terdengar suara dentuman di sertai memerciknya bunga api ke segala penjuru,karena jaraknya yang sudah terlalu dekat,Pendekar Pedang Laknat tersapu keras kebelakang,kibasan sinar Cambuk Malaikat terus memburu,Lanang sewu tak sempat lagi menghindar,lehernya terjerat putus di hantam Pukulan Cambuk Malaikat,tubuh nya melayang dengan kepala terpenggal. Sejenak pertempuran terhenti oleh jeritan Malaikat Katai yang melihat jasad muridnya Raja Lanun Selatan yang sudah terpotong-potong,di sisi lain juga terdengar isak tangis Dewi Gila Maut melihat bagaimana Surolana terbujur tak bernyawa. Malaikat Katai menatap tajam ke arah Sadewa,Si Tiang Langit,Dewi Gila Maut,dan Gembul Edan yang sudah berdiri mengelilingi nya," Kalian semua minta mati,beraninya main keroyok,dasar tak punya malu,ayo lekas maju aku akan binasakan kalian semua..!!" Sambil berkelebat cepat kedepan,Sadewa dan yang lain yang sudah tau tingkat kehebatan Malaikat Katai segera hantamkan Pukulan sakti,Sadewa lepaskan Pukulan Tinju Naga Perkasa,Dewi Gila Maut tak mau menunggu lagi segera hantamkan Pukulan Neraka Mengamuk dengan sekuat tenaga dalamnya,Si Tiang Langit langsung hantamkan dua pukulan sekaligus,Pukulan Tombak Dewa Api di kanan,dan Pukulan Cakrawala merekah,Gembul Edan pun tak kalah hebat,dengan sangat cepat sosok gendut itu lepaskan Pukulan Cakra Ungu,Malaikat Katai segera hantamkan Pukulan Gelombang Samudra Biru di tangan kanan dan Pukulan Tembok Istana Iblis sebagai pertahanan di tangan kiri,dentuman yang sangat keras terdengar bergemuruh,Teluk Penanjung laksana di landa gempa dahsyat,sangat luar biasa Pukulan Tembok Istana Iblis dan Pukulan Gelombang Samudra Biru dapat menahan banyak nya pukulan yang di lepaskan Sadewa dan kawan-kawan,hawa sepanas Neraka di Teluk Penanjung makin menjadi-jadi,api sudah membakar Aula dan bangunan besar yang ada di situ,mayat bergelimpangan tak terhitung jumlahnya.(6) Pendekar Harimau Besi pandangi mayat yang bergelimpangan,tak satu orang muridnya pun yang tersisa,begitupun Senopati Kebo Amuk yang berjalan gontai ke arah mayat para prajurit kerajaan Mataram yang tewas di tengah pertempuran hebat. Kini yang tinggal hanya pertarungan Malaikat katai yang di keroyok Gembul Edan,Dewi Gila Maut,Si Tiang Langit dan Sadewa,pertempuran sudah memasuki masa-masa kritis,Dewi Gila Maut sudah terluka parah,Si Tiang Langit terlihat pucat dengan kedua tangan gemetar,Gembul Edan walau masih bertarung sambil tertawa-tawa keadaannya tak lebih baik,mukanya babak belur,darah mengucur dari mulut dan hidungnya,Sadewa walaupun masih terlihat lumayan segar,tapi pakaiannya sudah robek besar,satu sayatan memanjang di punggungnya,pakaiannya basah oleh darah,di satu kesempatan Malaikat Katai yang sudah terkuras tenaganya lepaskan Pukulan Gelombang Samudra Biru dan Pukulan Tombak Dewa Api bersamaan,Tiang Langit membalas dengan Pukulan Cakrawala merekah,Gembul Edan lepaskan Pukulan Rajam Dewa kematian,cahaya merah bergulung membentuk puluhan bola api memburu Malaikat Katai,Dewi Gila Maut dengan tenaga yang tersisa kembali lepaskan Pukulan Neraka Mengamuk,bertemunya sekian banyak pukulan akibatkan dentuman keras kembali bergemuruh,batu-batu karang berhamburan di sapu angin pukulan,Teluk Penanjung kembali di landa Gempa dahsyat,tubuh Malaikat Katai tersapu jauh kebelakang,sambil berlutut mencoba untuk bertahan,namun kembali roboh dengan tubuh penuh luka dan hangus di beberapa bagian. Si Tiang Langit terkapar dengan luka bakar yang sangat parah,wajah dan sebagian tubuhnya mengelupas,Dewi Gila Maut tergeletak tak bernyawa tak jauh dari jasad muridnya,Gembul Edan terlempar jauh menabrak batu karang di tepian Pantai di Teluk Penanjung,sosoknya sudah tak karuan,dengan sangat lemah berusaha untuk terus berdiri,Sadewa masih berdiri tegak sambil memegang Perisai Dewa yang berputar cepat mengeluarkan cahaya biru terang di tangan kirinya,dari mulut dan hidungnya darah mengucur deras,rambut panjangnya awu-awutan,pakaiannya sudah robek di sana-sini. Tiang Langit melangkah pelan ke arah Malaikat Katai," Katakan di mana kau simpan Kitab Pusaka Dasar Samudra..?" suaranya lembut,Malaikat Katai coba menoleh ke arah Si Tiang Langit,sorot matanya terlihat sayu," Aku menyembunyikannya di suatu tempat di Lereng Gunung Bromo,aku tak akan menunjukan di mana tempatnya,aku akan menitis pada seseorang yang kelak akan mewarisi Kitab itu.." ucapnya lemah,kemudian jatuh terkulai dengan nyawa melayang. Si Tiang Langit cuma terdiam,suasana menjadi sangat hening,Sadewa melangkah ke arah Ratna Ayu yang telah siuman di bantu Tabib Jari Petir," Bagaimana keadaan mu Ayu..?" tanyanya lembut,Ratna Ayu cuma mengangguk pelan sambil tersenyum,Gembul Edan di bantu Juwita Maut berjalan ke arah Si Tiang Langit," Kau baik-baik saja tonggak hidup..?" tanyanya sambil tersenyum,Tiang Langit cuma membalas dengan mengangkat bahu sambil mencoba tersenyum," aku terpaksa pergi mendahului kalian,aku harus mengurus jasad Malaikat Katai,bagaimanapun dia adalah kakak seperguruanku.." ucapnya kemudian,setelah membungkuk hormat pada semua orang,Tiang Langit melesat cepat membawa jasad Malaikat Katai. Dewi Tangan Seribu nampak berjalan di iringi Nirmala ke arah Jasad Dewi Gila Maut dan Surolana,kemudian di ikuti Sadewa dan yang lain," Kita harus menguburkan mereka dengan layak.." Ucapnya lirih,kemudian Tabib Jari Petir mendekat ke arah Dewi Tangan Seribu," Kau terluka parah Nyi Larasati,biarkan kami yang mengurus jasadnya.." Nyi Larasati cuma mengangguk,setelah menoleh ke arah Nirmala dan Sadewa,kemudian membungkuk hormat pada yang lain,melesat pergi ke arah timur. Tak lama kemudian di kejauhan terlihat debu pekat beterbangan di iringin derap kaki kuda berjumlah sangat banyak,tampak Tumenggung Damarjati dan sekitar seratus prajurit sudah mengurung Teluk Penanjung," Ayah..!" Seru Ratna Ayu begitu melihat Tumenggung Damarjati melangkah ke arah mereka semua,Sadewa kaget melihat gadis di sampingnya memanggil ayah pada Tumenggung Damarjati," Kakang Ranapati,Ki Tabib,dan semua orang gagah dunia persilatan,biarkan prajurit di bantu warga yang akan membereskan tempat ini.." Ucapnya kemudian," kalau begitu kami mohon diri,ada tugas lain yang harus kami kerjakan,ayo anak gajah,jangan cuma meringis,ayo jalan..!" Seru Juwita Maut pada sosok gemuk di sampingnya,sebelum pergi Gembul Edan mendekati Sadewa," Pandai-pandai kau di depan calon mertua mu.." Ucapnya sambil tertawa,setelah menepuk pundak Sadewa segera melesat menyusul Juwita Maut yang sudah jauh berlari. Setelah penguburan Surolana dan Dewi Gila Maut selesai,Tabib Jari Petir dan Pendekar Harimau Besi mohon diri,Ratna Ayu dan Sadewa menemui Tumenggung Damarjati dan Ki Ranapati," Pendekar..ku rasa kau harus bertemu dengan Sri Baginda,aku akan melaporkan semua ini pada Raja Mataram..",Sadewa cuma tersenyum," Saya rasa paman Ranapati,paman Senopati Kebo Amuk dan Ratna Ayu akan jadi wakil yang pantas mewakili kami semua,saya harus melanjutkan pengembaraan saya.." jawabnya sambil sedikit membungkuk hormat," Kau akan meninggalkan Ratna Ayu anak muda..?" ucap Ki Ranapati sambil tersenyum,Sadewa sejenak menatap Ratna Ayu,gadis baju biru yang di tatap cuma tersenyum dan mengangguk," Sadewa masih banyak tugas penting di luar sana paman,biarkan dia lanjutkan perjalanan nya.." Ucap Ratna Ayu sambil tersenyum,Sadewa menatap Ratna Ayu dengan pandangan lembut," Insya allah kita akan bertemu lagi.." ucapnya kemudian pada Ratna Ayu yang cuma mengangguk sambil menunduk menyembunyikan butiran air mata yang mengalir membasahi pipinya,setelah membungkuk hormat pada semua orang,Sadewa melesat cepat ke arah timur... Bersambung.