SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
GENDERUWO AGUNG


__ADS_3

(1) Sadewa cuma terdiam,kemudian kembali membolak-balikan ikan di tangannya,Arum tampak kesal,Dwiguna sesaat berpikir,kemudian melangkah ke arah Sadewa yang masih duduk di depan perapian kecil," Pendekar..kita tunda dulu urusan kita,perut ku lapar,apa aku bisa minta ikan bakar mu?,ku rasa kau tak akan bisa menghabiskan dua ikan bakar itu..",Sadewa sejenak cuma terdiam,kemudian mengangguk pelan," Kakak Arum,duduk di sini,kita isi dulu perut kita,dari tadi pagi kita belum makan apapun..!" serunya pada gadis yang masih terlihat kesal di depannya,Arum cuma diam,namun kemudian menatap ke arah Sadewa yang juga sedang menoleh ke arahnya," Lupakan dulu segala dendam,ayo makan dulu,nanti urusan dendam kita teruskan.." Ucap Sadewa pada gadis di depannya,gadis berpakaian merah kemudian melangkah ke arah pohon yang cukup besar,kemudian duduk sendiri. Arum diam-diam menatap pemuda berpakaian putih yang duduk cukup jauh di depannya,Sadewa terlihat berbicara cukup akrab dengan Dwiguna,sesekali mereka terlihat tertawa,Arum cuma terlihat aneh melihat bagaimana adik seperguruannya mendadak terlihat dekat dengan Sadewa," Kalau di pikir,betul kata Dwiguna,aku tak bisa menyalahkan pemuda itu di kematian guru,tapi apa kami akan jadi murid durhaka kalau tak membalaskan dendam nya.." Gumamnya dalam hati,kemudian terlihat Arum menghela nafas berat. Sadewa dan Dwiguna melewati malam itu dengan bercakap-cakap,sedangkan Arum terlihat sudah memejamkan mata tersandar ke sebuah batang pohon," Pada dasarnya kak Arum gadis baik,dia cuma merasa sangat terpukul dengan kematian guru,mungkin karena guru sangat menyayangi nya. kami pun tak menyangka guru akan bertindak seperti itu,sangat berbeda dengan cara guru terhadap kami murid-muridnya selama ini.." Ucap Dwiguna sambil menatap jauh ke arah gelapnya malam," Mungkin ada alasan yang membuat guru mu berubah.." Jawab Sadewa,Dwiguna kembali menatap ke arah Arum yang terlihat tertidur sambil menyandar pada sebatang pohon," Kata Paman guru,beliau pergi sejak mendengar beredarnya perihal Kitab Pusaka Dasar Samudra. Apa menurutmu kitab pusaka itu memang ada..?" ucapnya kemudian menoleh pada Sadewa,pemuda berpakaian putih di sampingnya cuma mengangkat bahu," Aku memang pernah mendengar perihal kitab itu,tapi aku pun belum pernah melihatnya.." jawab Sadewa kemudian," Apa rencana kalian selanjutnya..?" sambung,Dwiguna menggeleng pelan," Aku tak tau,mungkin besok kak Arum yang akan menentukan langkah kami selanjutnya..". Pagi itu Arum terbangun setelah mendengar suara kokok ayam hutan,hidungnya mencium harumnya daging di panggang,Dwiguna menatap padanya," Kakak sudah bangun,ayo kita makan,daging kelinci ini sepertinya sangat lezat.." ucapnya sambil tersenyum ke arah gadis itu," Mana pemuda itu..?",Arum tiba-tiba mengajukan pertanyaan,Dwiguna cuma menggeleng,kemudian memberikan selembar kertas bertuliskan sesuatu," Mohon maaf aku harus meninggalkan kalian ada urusan penting yang harus aku kerjakan,semoga daging kelinci hutan ini bisa sedikit mengisi perut saudara berdua..",Arum cuma menatap kertas lusuh di tangannya,pandanganya jauh kedepan," Pemuda ini sangat baik,dia tak ada dendam sedikitpun,walaupun di awal kami berniat membunuhnya.." gumamnya dalam hati," Ayo makan kakak,perjalanan kita masih jauh..!" Seru Dwiguna pada Arum. (2) Sadewa berjalan menyusuri sebuah jalan desa yang lumayan lebar,sambil bersiul-siul tak karuan,pemuda ini kemudian berhenti sejenak melihat cempedak hutan yang berbuah banyak dan terlihat sudah matang," Kebetulan..perutku sudah cukup lapar,mungkin cempedak ini bisa untuk mengganjal perut ku.."ucapnya sambil berjalan ke arah batang cempedak hutan," Jangan kau ambil sesuatu yang bukan milikmu anak muda..!" sebuah seruan terdengar di kejauhan,tak lama kemudian seseorang berlari ke arahnya,Sadewa perhatikan seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berpakaian biru gelap di depannya," Siapakah kisanak,kenapa melarangku mengambil cempedak hutan ini,apakah pohon cempedak ini milikmu..?" tanya Sadewa kemudian," Aku Sanjaya,aku utusan seseorang untuk menemui mu.." Sadewa menatap laki-laki di depannya dengan penuh selidik," Siapa orang tua gagah ini,aku merasa tak pernah mengenalnya,bagaimana bisa dia sengaja menemui ku..?",gumam nya bertanya dalam hati," Tak usah bingung anak muda,aku tau siapa engkau,seseorang menunggu mu,ayo ikut aku..!",ucapnya kemudian,Sadewa masih berdiri mematung,namun orang tua bernama Sanjaya sudah berkelebat berlari ke arah luar desa,sejenak Sadewa larut dalam bingung,kemudian segera berlari menyusul,setelah cukup lama berlari keraguan mulai menyelimuti Sadewa," Kemana orang tua ini akan membawaku,tempat apa ini..?" gumam Sadewa yang terus berlari ke arah sebuah ngarai yang cukup dalam,namun orang tua di depannya terus berlari tampa menoleh ke arahnya,setelah berlari cukup lama tak jauh fi depan Sadewa terlihat sebuah rumah panggung tampa dinding,orang tua berpakaian biru gelap berhenti di depan anak tangga menuju ke atas rumah panggung,kemudian menoleh ke arah sadewa yang telah berdiri di sampingnya," Siap kan diri mu anak muda,mungkin pertemuan mu dengan orang tua ini akan merubah takdir hidupmu.."ucapnya kemudian," Apa maksud kakek,aku tak mengerti..?",jawab Sadewa singkat. (3) Sambil membungkuk hormat," Inyiak Junjungan Agung..aku sudah membawa pemuda yang kau maksud ke sini,dia sekarang ada di sini inyiak..",ucapnya pada seseorang yang terlihat duduk bersila di tengah rumah panggung,Sadewa menoleh ke arah rumah panggung,di tengah rumah panggung terlihat duduk seorang yang sangat tua,tubuh nya sudah terlihat bungkuk,duduk dengan sebuah jubah tebal berwarna hijau berenda di tepiannya," Naiklah kemari anak muda,duduk lah di depan ku..!",serunya dengan suara datar,Sanjaya kemudian menoleh ke arah pemuda di samping nya,kemudian menggerakan leher ke arah rumah panggung," Naik lah anak muda,jangan biarkan beliau menunggu.." ucapnya pelan pada Sadewa yang masih terlihat bingung," Siapa orang tua sepuh ini kek..?",tanyanya pada kakek gagah di samping kanan nya," Nanti kau akan tau,lekas naik..",jawabnya singkat,Sadewa berlahan menaiki anak tangga menuju ke atas rumah panggung,kemudian duduk di depan kakek berjubah hijau,Sadewa mengamati orang tua bungkuk di depannya dengan pandangan takjub,kakek tua di depannya duduk beralaskan sebuah kain beludru berwarna merah,di tangan kanan nya terlihat sebuah tasbih batu giok berwarna hijau terang,di pangkuannya terlihat sebuah Al quran," Anak muda,kau yang bernama Sadewa,bergelar Satria Perisai Dewa..?" tanya nya lembut pada pemuda yang duduk di depannya,Sadewa diam sejenak kemudian mengangguk pelan," Benar kakek,nama ku Sadewa,siapakah kakek ini,untuk apa kakek sanjaya membawa ku menemui mu..?",kakek tua di depannya cuma tersenyum," Aku akan menjawab semua pertanyaan mu. Orang memanggil ku Inyiak Junjungan Agung,aku berasal dari tanah seberang,tepatnya dari tanah minangkabau,aku dan sanjaya murid ku sengaja ke tanah jawa ini dengan maksud mencari mu anak muda..",Sadewa menoleh ke arah kakek Sanjaya yang masih berdiri di halaman rumah panggung," Kalau kakek Sanjaya adalah muridnya,berapa umur orang tua ini..?" gumamnya dalam hati,kakek tua di depannya kembali tersenyum," Umurku sudah dekat dua ratus tahun.." ucapnya kemudian,Sadewa tersentak," Bagaimana kakek ini tau apa yang ku pikirkan.." gumamnya dalam hati," Anak muda..aku sengaja mencari mu dengan satu maksud,aku harap kau mau mendengarkan kata-kata ku..",Sadewa kembali menatap orang tua di depannya,kemudian duduk mendengarkan," Dahulu kala tanah Minangkabau pernah mengalami prahara yang sangat luar biasa yang di timbulkan oleh seorang mahluk maha sakti yang berdiam diri di gunung Merapi,mahluk dahsyat itu bernama Datuk Tinggi Alam Nan Gaib. aku bersama beberapa tokoh tua tanah minang berhasil mengalahkan nya,tapi tak bisa membunuhnya,karena mahluk itu di takdirkan berumur panjang,kami cuma dapat mengurungnya di sebuah tempat di kawasan Gunung Merapi. Beberapa waktu yang lalu aku mendapat mimpi,dalam mimpi itu guru ku datang memberi tahu,bahwa mahluk maha sakti itu akan segera terbebas dari kurungannya,seseorang telah dapat membebaskannya. Dalam mimpi itu pun aku di beri perintah untuk mencari mu,karena cuma kau seorang yang dapat mengalahkannya kelak.."," Karena itu anak muda,aku mencari mu dengan maksud meminta bantuanmu untuk membantu kami para pendekar tanah minangkabau,kalau di biarkan,bukan cuma tanah minangkabau,pulau Andalas dan bahkan pulau Jawa ini dalam marabahaya besar.." Sadewa cuma duduk diam,setelah cukup lama kemudian mengangkat kepalanya menatap ke arah kakek tua di depannya," Aku cuma pemuda yang suka luntang-lantung kek,aku tak punya kemampuan apa-apa untuk membantu.." ucapnya lembut,kakek di depannya kembali tersenyum," Aku takjub dengan kerendahan hati mu anak muda,tugasku cuma menyampaikan pesan,semua terserah pada mu,kalau kau ada waktu mampirlah ke Danau Singkarak,mungkin kau akan menemukan sesuatu yang penting di hidupmu di sana.."," Mudah-mudahan aku bisa menjengukmu ke tanah minangkabau.." ucap Sadewa sambil membungkuk menyalami kakek tua di depannya dengan takzim,Inyiak Junjungan Agung di depannya kemudian meniup ke arah kepala Sadewa,sejenak kepala dan wajah Sadewa terlihat bercahaya,Sadewa merasakan sesuatu masuk dalam tubuhnya,pandangannya semakin tajam dan tubuhnya terasa seringan kapas,Sadew segera membungkuk hormat," Terima kasih kakek atas berkat yang kau beri kan..",Kakek tua di depannya cuma mengangguk,kemudian menoleh ke arah Sanjaya yang masih berdiri di halaman," Ayo kita segera kembali ke kampung halaman kita,ku rasa urusan kita di tanah jawa ini sudah selesai untuk saat ini..!",serunya kemudian,kakek Sanjaya cuma mengangguk kemudian melangkah menaiki anak tangga ke arah atas rumah panggung," Sadewa..melangkah lah ke arah timur,jangan menoleh kebelakang sebelum langkah ke sepuluh,aku mohon pamit,semoga kita dapat bertemu kembali.." ucap kakek Sanjaya pada Sadewa yang masih duduk,kemudian segera berdiri dan melangkah menuruni anak tangga rumah panggung,ingat akan pesan kakek tua di atas rumah tadi,pada langkah kesebelas Sadewa baru menoleh ke arah belakang,betapa terkejutnya Sadewa mendapati rumah panggung tempat dia dan Inyiak junjungan Agung tadi berbicara sudah menghilang," Astagfirullah,bagaimana rumah panggung tadi bisa menghilang.." gumamnya dengan wajah di basahi peluh dingin. (4) Siang itu di kejutkan oleh suara teriakan keras dan sumpah serapah,tak jauh di sebuah dataran rumput yang cukup luas terlihat pertarungan dua orang yang berlangsung sengit,seorang wanita berumur empat puluhan berpakaian putih berwajah cantik terlihat sedang menggempur seorang laki-laki bertubuh raksasa yang cuma mengenakan sebuah celana panjang hitam tampa menggunakan baju,tubuh nya kekar berotot,dengan bulu lebat di sekitar lengan dan dadanya,pertarungan berlangsung seru,wanita yang bukan lain Dewi Tangan Seribu terlihat sangat ingin segera melumpuhkan lawannya,sedangkan laki-laki bertubuh Raksasa yang bukan lain Genderuwo Agung cuma berusaha bertahan dan menghindar," Hentikan Larasati,apa kau berniat membunuh ku..!",serunya sambil terus melompat dan menangkis serangan lawan," Aku memang berniat membunuh mu,sudah ku peringatkan kau untuk menjauhi Nirmala..!!" bentak ya dengan suara keras," Nirmala adalah keponakan kandung ku,dia anak adiku perempuan ku,apa hak mu melarangku. Aku tau kau cuma mencari alasan untuk membalaskan sakit hati mu pada ku karena urusan lama..", jawabnya,Dewi Tangan Seribu makin terlihat marah," Apa kata mu,aku mencampur adukan urusan Nirmala dengan urusan kita di masa lalu...!!,jangan harap aku mau mengingat urusan dengan mu raksasa jahanam..!!"" Larasati cukup,kau sudah gila,kau mau membunuhku dengan pukulan sakti mu..!" seru Genderuwo Agung sambil melompat cepat ke belakang begitu melihat wanita di depannya sudah menyiapkan pukulan sakti di tangan kanan nya,kemudian segera berlari cepat ke arah belakang," Jangan lari kau keparat..!!" seru Dewi Tangan Seribu sambil mengejar," Tahan bibi..!",Satu sosok berpakaian hijau sudah berdiri di antara Dewi Tangan Seribu dan Genderuwo Agung,Dewi Tangan Seribu menatap tajam gadis berpakaian hijau yang tak lain Nirmala yang berdiri di depannya," Kenapa bibi ingin membunuh nya,apa salahnya,aku tau laki-laki bertubuh Raksasa itu selalu mengikuti kita,tapi tak ada yang salah dengan apa yang di lakukannya pada kita.."," Diam kau Nirmala,kau tak tau siapa jahanam itu,sudah lebih sepuluh hari dia mengikuti kita,kalau tidak dengan maksud jahat,apa lagi..?",ucap Dewi Tangan Seribu dengan muka merah menahan marah," Apa maksud mu Larasati,kapan aku bermaksud jahat pada mu,apa lagi pada gadis keponakan ku ini.."," Diam kau..!!" potong Dewi Tangan Seribu begitu Genderuwo Agung menyebut Nirmala keponakannya,Nirmala pun sejenak tertegun menatap ke arah Genderuwo Agung," Apa maksud mu,siapa yang kau gadis keponakanmu..?" ucapnya pada Genderuwo Agung," Nirmala bukan keponakan mu,dia tak punya paman jahanam seperti mu,sebaiknya kau ku bunuh saat ini juga..!!"," Tahan bibi..!,biarkan dia menjawab tanya ku..!" Seru Nirmala,kemudian gadis cantik ini segera melangkah ke arah Genderuwo Agung yang masih berdiri agak jauh dari Dewi Tangan Seribu," Jawab pertanyaan ku,siapa yang kau maksud gadis keponakan mu..?",ucapnya setelah berdiri beberapa langkah di depan sosok raksasa Genderuwo Agung. (5) Sejenak Genderuwo Agung menoleh ke arah Dewi Tangan Seribu yang masih menatap garang padanya,kemudian menoleh ke arah Nirmala," Kau adalah keponakan ku Nirmala,aku adalah paman mu,ibu mu Nyi Ayu lintang adalah adik kandungku..",ucapnya menjelaskan,Nirmala terkejut luar biasa,bumi laksana gempa buat Nirmala,tubuhnya terlihat sempoyongan," Apa aku tak salah mendengar,laki-laki bertubuh Raksasa ini adalah paman ku,kakak dari ibu kandungku..?",gumamnya dalam hati," Jangan kau harap dengan tau nya Nirmala siapa kau,gadis itu akan mengakui mu sebagai paman nya,manusia durjana,kau yang sudah menghukum ibunya sampai akhir nya meninggal dalam kesengsaraan...!",seru Dewi Tangan Seribu marah,Nirmala terlihat terguncang,dalam suasana yang sedang kacau itu,berkelebat sesosok bayangan putih,yang segera berkelebat menangkap tubuh Nirmala yang hendak terjatuh," Sadewa.." Ucap Nirmala lirih setelah tau siapa orang yang menahan tubuhnya," Kau harus tabah,terima kenyataan ini dengan sabar,aku yakin paman mu sudah menyesali perbuatan nya.." ucap Sadewa lembut," Bawa Nirmala pergi dari sini Sadewa,biar aku yang menyelesaikan urusan dengan Raksasa jahanam ini..!!"," Tunggu anak muda,aku mohon beri aku kesempatan menjelaskan semua pada keponakan ku..!" Seru Genderuwo Agung pada Sadewa,pemuda ini cuma terdiam,Nirmala yang masih terlihat las dalam dekapannya cuma mengangguk," Biarkan dia bicara,aku mau kejelasan semua ini,aku mohon.." ucapnya sambil menahan isak nya,Sadewa cuma mengangguk," Apa lagi yang akan kau jelaskan,apa kau bisa mengembalikan kebahagiaan gadis itu..!" seru Dewi Tangan Seribu geram,Genderuwo Agung melangkah ke arah Nirmala dan Sadewa," Keponakan ku..aku menyadari kesalahan ku,ibu mu meninggal betul karena hukuman yang aku berikan,tapi semua benar-benar di luar kuasa ku,aku terpaksa menghukum ibu mu karena kesalahan yang di perbuat nya. Aku menyesali tindakan ku menghukum nya,aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya,aku sudah hampir delapan belas tahun hidup dalam penyesalan,aku meninggalkan Kerajaan Arung Samudra karena rasa bersalahku pada adiku. Aku bahagia ternyata masih bisa bertemu dengan mu keponakan ku,ayo kita kembali ke Kerajaan Arung Samudra,aku akan menyerahkan tahta ku untuk mu,buka kan aku pintu maaf Nirmala,aku benar-benar menyesal,kau adalah keponakan ku satu-satu nya,kau adalah pewaris sah tahta kerajaan ku.." ucapnya dengan tubuh gemetar menahan perasaannya,tak lama terdengar isak tangisnya. Sadewa cuma tertunduk,Dewi Tangan Seribu terlihat beberapa kali mengusap air matanya,tubuh Nirmala terguncang dalam isak tangis,tenggelam dalam pelukan pemuda yang diam-diam di cintainya. Setelah sekian lama suasana menjadi hening,tiba-tiba terdengar suara tawa keras bersama berkelebatnya tiga orang laki-laki,sesaat kemudian di tempat itu sudah berdiri tiga orang laki-laki," Pendekar Tapak Bisa,Pendekar Karang Selatan,dan Manusia Gila Darah. Apa keperluan mereka ke tempat ini.." gumam Dewi Tangan Seribu," Setelah mencari sekian lama,akhirnya kau kami temukan anak muda,kau yang bergelar Satria Perisai Dewa..?" ucap seorang laki-laki berpakaian hitam,bertubuh tinggi besar. Sadewa sejenak manatap ketiga orang di depannya,kemudian segera berbisik pada Nirmala," Mundur lah Nirmala,aku rasa ketiga orang ini datang dengan maksud kurang baik.." bisik nya pelan,Nirmala segera mundur ke arah Dewi Tangan Seribu," Dewi Tangan Seribu,apa kabar mu sudah puluhan tahun kita tak bertemu,kau masih terlihat cantik seperti biasanya..",tiba-tiba satu suara terdengar dari seorang bertubuh gemuk berkulit hitam yang terlihat cengar-cengir sambil satu tangan menggaruk ke dalam celana,Dewi Tangan Seribu terlihat jengkel menatap tajam ke arah manusia yang bergelar Manusia Gila Darah," Basa-basi mu cukup baik manusia edan,belum juga hilang kiranya sakit gatal mu. Dasar manusia tak tau malu,di depan kami para perempuan kau masih menggaruk..!" Jawabnya ketus,Manusia gemuk berkulit hitam cuma ketawa," Tetap lah di situ,setelah urusan kami dengan pemuda ini selesai,kita akan lanjutkan perbincangan kita.." ucapnya sambil melirik pada Nirmala," Genderuwo Agung,kau boleh tetap di sini,tapi jangan campuri urusan ku dengan pemuda ini,dia sudah membunuh rekan-rekan satu golongan ku,dia harus mendapat hukuman saat ini juga..",ucap Pendekar Karang Tengah yang berdiri di samping Manusia Gila Darah,kemudian mereka bertiga segera melangkah ke arah Sadewa," Siapa kalian,aku merasa tak pernah ada urusan dengan kalian bertiga.." ucapnya pada tiga orang di depannya,ketiganya tertawa keras," Perkenalkan,aku Pendekar Tapak Bisa,ini temanku Pendekar Karang Selatan,dan yang gemuk kurang ajar itu bernama Manusia Gila Darah. Sekarang kau tak akan mati dengan penasaran Satria Perisai Dewa..". (6) " Katakan dengan jujur,aku tau siapa kalian,siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh pemuda itu..!",satu suara berat terdengar dari arah belakang Sadewa,ketiga orang di depan Sadewa segera menoleh ke arah datangnya suara," Itu bukan urusan mu Genderuwo Agung,sudah ku bilang jangan ikut campur..!!",bentak Pendekar Karang Selatan," Pemuda itu sahabat keponakan ku,kalau kalian berniat jahat padanya,aku tak akan tinggal diam..!!" jawab Genderuwo Agung keras sambil melangkah besar-besar ke arah samping Sadewa," Ha..ha..Jadi gadis baju hijau itu keponakan mu,aku pun sudah mengira,karena sekilas wajahnya mengingatkan ku pada Nyi Ayu Lintang..",jawab Pendekar Karang Selatan sambil menoleh dan tersenyum ke arah Nirmala,Genderuwo Agung terdengar menggembor marah,Sadewa segera maju dua langkah ke depan," Kalau kalian ada urusan dengan ku,ayo kita selesaikan,tunggu apa lagi.."ucapnya segera bersiap dengan Perisai Dewa di tangan kirinya,tampa menunggu lama ketiga pendekar suruhan segera mengurung Sadewa dari tiga arah,namun satu bayangan besar berkelebat menghadap Pendekar Karang Selatan," Aku lawan mu,manusia cabul..!!" gembor Genderuwo Agung pada Pendekar Karang Selatan," Jahanam,bersiap lah untuk mati..!!" jawabnya Pendekar Karang Selatan sambil melompat ke cepat kirimkan serangan pada Genderuwo agung,Pendekar Tapak Bisa dan Manusia Gila Darah pun segera lakukan serangan pada Sadewa,dataran rumput cukup luas itu tak lama kemudian sudah jadi arena pertarungan,Sadewa bergerak cepat membendung serangan Manusia Gila Darah yang meski gemuk tapi punya gerakan sangat cepat,dengan Jurus Langkah Dewa Angin Sadewa dapat menghindar dan balas menyerang,serangan bergelombang Pendekar Tapak Bisa dan Manusia Gila Darah cukup membuat Sadewa bekerja keras,pada jurus ke enam puluh Pendekar Tapak Bisa lepaskan pukulan sakti,cahaya hitam pekat menyerbu cepat kedepan," Pukulan Kerak Neraka..!!" Serunya sambil melompat,Manusia Gila darah pun tak mau ketinggalan segera menyusul lepaskan Pukulan Gendewa Langit,sinar merah membersit dari kedua tangannya laksana ribuan anak panah, Sadewa yang sudah waspada sejak awal segera hantamkan Perisai Dewa kedepan dalam jurus Tameng Sakti Dewa Langit,menyusul lepaskan Pukulan Tinju Sakti Naga Perkasa,cahaya hijau terang berkelebat cepat kedepan di iringi raungan Naga murka,dentuman keras bergemuruh saat pukulan mereka beradu di udara,pendekar Tapak Bisa dan Manusia Gila Darah terdorong keras ke belakang,Sadewa jatuh terduduk dengan wajah pucat. Setelah dapat menguasai keadaan masing-masing ketiganya kembali berhadapan dengan menyiapkan pukulan sakti masing,dengan saru teriakan keras,sambil melompat Pendekar Tapak Bisa dan Manusia Gila Darah kembali hantamkan pukulan Kerak Neraka dan Pukulan Gendewa Langit dengan tenaga dalam penuh,dua gelombang cahaya merah dan hitam kembali melesat cepat ke arah Sadewa,sambil melompat tinggi Sadewa kembali hantamkan Perisai Dewadi tangan kiri nya kedepan untuk membendung serangan lawan,lalu susul hantam kan dua tangannya melepas Pukulan Sinar Lentera Langit dan Pukulan Badai Gurun,kembali dentuman dahsyat terdengar keras bergemuruh,Perisai Dewa berdesing cepat membentuk putaran besar cahaya berwarna biru terang,dentuman keras kembali menyusul membuat tanah sekitar kembali bergetar laksana gempa,Sadewa tersungkur dengan mulut menyemburkan darah segar,Pendekar Tapak Bisa terdorong keras menghantam pohon besar,kemudian tergeletak dengan tubuh hangus,Manusia Gila Darah meraung keras terlempar jauh ke samping,dua tangannya putus sebatas siku," Kurang ajar,aku tak bisa menggaruk lagi..!!" raungnya kesakitan. Di pertarungan lain nya,Pendekar Karang Selatan dan Genderuwo Agung pun sudah memasuki tahap akhir,Pendekar Karang Selatan lepaskan Pukulan Batu Karang,cahaya hitam sebesar batu berukuran besar melesat cepat kedepan,Genderuwo Agung menggembor marah,lalu hantam kan tangan kirinya melepas Pukulan Cahaya Inti Samudra,dua pukulan beradu di udara di sertai dentuman bergemuruh dahsyat,Pendekar Karang Selatan terlempar jauh kebelakang,tubuhnya tampak hangus sebagian,raungan nya sangat menggidik kan,Genderuwo Agung cuma terdorong mundur beberapa langkah,setelah sesaat mengatur jalan nafas nya,lalu melangkah kedepan ke arah Pendekar Karang Selatan,kemudian dengan satu tendangan cepat," Kau berani memandang mesum pada keponakan Genderuwo Agung,terima bagian mu..!!" tubuh pendekar Karang selatan terlempar dengan kepala pecah. Dewi Tangan Seribu melangkah cepat ke arah Manusia Gila Darah yang masih meraung kesakitan,dengan satu gerakan cepat segera menotok beberapa bagian tubuh Manusia Gila Darah,totokan yang membuat darah berhenti mengalir dan menghilangkan sedikit rasa sakit," Manusia edan,sebaiknya kau cepat pergi,sebelum pikiran ku berubah..!" ucapnya kemudian,sosok gemuk di depannya cuma mengangguk,kemudian sambil menahan sakit segera berlalu dari tempat itu. Sadewa sudah tampak duduk,di sampingnya Nirmala memandang dengan wajah cemas,Genderuwo Agung melangkah ke arah Sadewa," Kau terluka anak muda,telan obat ini,mungkin sedikit bisa membantu.." ucapnya sambil memberikan sebuah benda bulat berwarna putih. Bersambung..


__ADS_2