SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
HANTU SERIBU NAFSU


__ADS_3

(1) Memasuki sebuah desa di ujung timur pesisir pulau jawa,Sadewa dan Nirmala berjalan di tengah keramaian hari pasar di desa itu,di berbagai tempat terlihat para pedagang menjual berbagai macam dagangan,tak jauh dari ujung pasar terlihat sebuah keramaian,orang banyak menonton berbagai pertunjukan kuda lumping dan hiburan lainya. Sadewa dan Nirmala terus berjalan ke arah sebuah kedai makan yang cukup ramai,ketika sampai di depan pintu kedai,beberapa orang terlihat memperhatikan sepasang muda-mudi yang baru masuk. " Silahkan den.." sapa pelayan kedai pada Sadewa dan Nirmala,kedua nya duduk agak kepojok bagian kedai,tak lama pelayan tua itu keluar dengan hidangan yang cukup banyak dan terlihat sangat enak," Silahkan den..semoga masakan kami cocok di lidah.." ucapnya sambil tersenyum,Sadewa dan Nirmala cuma mengangguk sambil tersenyum ke arah pelayan tua. " Kau terlihat sangat lelah,sebaiknya kita mencari tempat menginap di desa ini,supaya kau bisa istirahat dengan nyaman.." Ucap Sadewa pada Nirmala yang cuma membalas dengan anggukan kecil,Sadewa terlihat tersenyum," Kenapa kau tersenyum,apa ada yang lucu pada ku.." Tanya Nirmala sewot," Tidak,,,aku cuma ingin mencari tempat mandi,badan ku terasa lengket oleh peluh,bosan tiap hari mandi air kali.." jawabnya sambil tersenyum," Pantas bau mu sudah tak karu-karuan.." balas gadis itu kemudian tertawa. Sadewa dan Nirmala berjalan memasuki sebuah rumah yang cukup besar," Maaf den,,,kamar kami cuma tinggal satu. jadi aden dan nona ini bukan suami istri..?" Sadewa cuma tertawa mendengar ucapan pelayan penginapan,Nirmala terlihat jengah," Ya sudah,kami ambil satu kamar saja.." ucap Sadewa sambil menoleh pada gadis di sampingnya yang menatapnya dengan mata melotot," Sudah nanti kau yang tidur di kamar biar aku tidur di tempat lain.." ucap Sadewa sambil tersenyum,kemudian mengambil kunci kamar dan menarik tangan Nirmala menuju kamar. " Istirahat lah,aku akan keluar melihat-lihat desa ini,besok pagi aku tunggu di halaman penginapan ini," Sadewa kau mau kemana..?" ucap Gadis itu pada Sadewa yang sudah membalikan badan," Jangan tinggal kan aku,aku rasa kita bisa berbagi tempat,aku akan tidur di dekat jendela.." Ucap Nirmala sambil menunduk,Sadewa cuma tersenyum," Jangan bilang kau minta ku temani.."," Tidak...berbahaya,tangan ku suka kemana-mana kalau sedang tidur.." ucapnya sambil tertawa dan kemudian pergi meninggalkan gadis berpakaian hijau yang terlihat mukanya merah merona," Dasar pemuda kurang ajar.." gumamnya dalam hati,kemudian tersenyum melihat pemuda itu kian jauh. Di kamar Nirmala duduk termenung," Sadewa memang pemuda yang baik,selama sejalan dengan nya,tak sekalipun dia mencoba kurang ajar pada ku,apa aku suka padanya? lalu bagaimana dengan Ratna Ayu,apakah mereka..?",Nirmala larut dalam lamunan nya,di saat dia merebahkan tubuhnya,telinganya mendengar suara sesuatu di atas atap penginapan,Nirmala tampak waspada,namun tampa sempat mengetahui apa yang terjadi,asap hitam bergulung-gulung menerpa wajahnya,gadis itu merasakan kepalanya pusing,tak lama kemudian jatuh terkulai lemah di lantai,sayup-sayup Nirmala mendengar satu langkah kaki memasuki kamarnya," Sadewa.." Ucapnya lirih,kemudian jatuh pingsan. (2) Sadewa berjalan di malam hari mengitari desa itu,saat akan memasuki sebuah kedai kopi,matanya melihat satu kelebatan bayangan hitam cepat berlari dari arah penginapan,Sadewa sejenak menatap arah bayangan itu berlari,tampa pikir panjang Sadewa segera mengejar bayangan itu. Di satu tempat yang agak tinggi Sadewa memperhatikan bayangan hitam itu memasuki sebuah pondok kayu di sebuah tepian sungai,Sadewa dengan gerakan yang sangat ringan mencoba mengamati,namun setelah mengintip di dinding bilik pondok itu Sadewa terkejut," Nirmala.." Gumamnya," Siapa orang itu,sepertinya dia habis menculik Nirmala..?",tampa pikir panjang Sadewa segera melabrak masuk dalam pondok kayu," Kurang ajar,apa yang akan kau lakukan pada temanku..!!" bentak Sadewa,tak jauh di hadapannya seorang laki-laki tua berdiri cuma dengan memakai celana hitam,baju hitam nya sudah tergeletak di lantai,Nirmala tampak tersandar di sebuah karung berisi jerami tampa menggunakan pakaian yang layak,pakaian hijaunya di sebelah atas sudah terbuka lebar,celana hijaunya sudah merosot sampai sebatas lutut,kemarahan Sadewa bukan alang kepalang,dengan satu gerakan kilat Sadewa hantamkan tinju kanan nya,Pukulan Tinju Naga Perkasa melesat di sertai suara raungan Naga murka,gelombang cahaya hijau terang menghantam cepat kedepan,laki-laki tua bertubuh kerempeng kaget bukan kepalang,dengan melompat mundur,tangan kanan nya menghantam kedepan,sinar merah bertabur kedepan menghantam pukulan sakti Sadewa,dentuman keras terdengar bergemuruh,Sadewa terlempar keluar pondok,saat berhasil berdiri dengan cepat segera melesat kembali kedalam pondok yang sudah porak-poranda,Sadewa cuma menemukan Nirmala yang masih tergolek di lantai pondok," Kurang ajar,kemana manusia biadab tadi.." Sadewa edarkan pandangan ke setiap sudut,terlihat ceceran darah di lantai. " Nirmala..Nirmala..!" Sadewa terus memanggil,kemudian setelah memeriksa bagian tubuh gadis sahabatnya,dengan satu sedotan kuat,Sadewa menghisap asap hitam yang masih keluar di hidup Nirmala,kuatnya hisapan Sadewa membuat Nirmala tersadar. Mata nya sayu memandang wajah tampan di dekatnya," Sadewa..apa yang kau lakukan.." ucapnya lirih,belum sempat Sadewa menjawab,Nirmala tersentak melihat pakaian nya,dengan satu bentakan keras gadis ini segera lepaskan tendangan kedepan,Sadewa terlempar jauh terhantam tendangan Nirmala di bagian dada,dadanya berdenyut sakit,darah mengalir dari sudut bibirnya," Nirmala,kanapa kau menyerangku..!" serunya kemudian," Dasar jahanam,kau mau mencoba menodai ku..!!" bentak Nirmala kemudian buru-buru menutup bagian-bagian tubuhnya yang tadi terbuka," Sabar Nirmala..!,kau salah sangka,aku justru menemukan mu di bawa seseorang kemari..", Nirmala memandang Sadewa dengan tatapan marah," Kau masih berdalih mencari alasan,kurang ajar..!!" Bentak Nirmala sambil lepaskan Pukulan Lahar Merapi," Nirmala kau mau membunuhku..!" gelombang cahaya merah mengeluarkan hawa panas melesat cepat ke arah Sadewa yang coba menghindar,tubuh Sadewa tersapu angin keras pukulan Nirmala,tubuh nya terlempar jauh kebelakang,terduduk di tanah muntah kan darah segar,Nirmala segera mengejar dengan kemarahan yang memuncak," Tahan..tahan..!!" satu suara keras di iringi sesosok bayangan melesat dan kemudian berdiri beberapa langkah di hadapan Nirmala," Gadis ayu tahan serangan mu,pemuda itu tak berbohong,lihat pakaian hitam di lantai itu,kau di culik Hantu Sejuta Nafsu..!" Nirmala perhatikan nenek tua di depannya,wajahnya bersih masih menyisakan kecantikan di usia muda,pakaiannya berwarna putih panjang,sebuah seruling terselip di pinggangnya," Siapa kau..apa maksud mu membela pemuda mesum itu..!!" Bentak Nirmala sangat marah,nenek tua maju selangkah," Pemuda itu memang bermaksud menyelamatkan mu,yang membawamu kesini seorang tokoh sangat jahat yang bergelar Hantu Sejuta Nafsu.." nenek itu menerangkan,sejenak Nirmala memandang tajam padanya,kemudian menoleh ke arah Sadewa yang masih terkapar,darah membasahi baju putihnya,muka nya penuh dengan darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya," Percayalah pada ku,pemuda itu memang bermaksud menyelamatkan mu..",kemudian nenek itu segera berjalan ke arah Sadewa," lukamu sangat parah anak muda,kau harus cepat ku bawa ke air terjun terdekat,cuma dengan itu luka mu akan bisa di obati..",ucapnya pada Sadewa,kemudian menoleh pada Nirmala," Kau ikut dengan ku,racun asap birahi di tubuhmu belum semuanya musnah,itu akan merusak tubuhmu kalau kau biarkan..".(3) Sadewa terbaring lemah,dadanya tampak menghitam,wajahnya terlihat sangat pucat,Nirmala duduk di samping pembaringan,wajah nya cemas menatap pemuda di depannya," Maafkan aku Sadewa,aku benar-benar tolol menuruti amarahku.." ucapnya lirih sambil terisak pelan," Tak usah risau,pemuda itu baik-baik saja,setelah lima hari tubuhnya di hantam derasnya air terjun ini,seluruh aliran darahnya akan pulih,dan racun Pukulan Lahar Merapi akan musnah.." satu suara terdengar dari belakang tubuh Nirmala," duduk lah di sini ada hal yang akan aku sampaikan padamu ..",Nirmala menoleh ke arah si nenek,kemudian melangkah ke arah nenek tua itu duduk," Kau murid Sekar Arang..?"," Bagaimana nenek tau,apa kau kenal guruku..?" si nenek tersenyum,kemudian mengeluarkan sesuatu,di tanganya si nenek tua sudah memegang sebuah Kitab kecil berwarna putih," Ini adalah Kitab langlang buana yang di cari gurumu.." Nirmala terkejut,matanya berganti memandang si nenek tua dan Kitab kecil di tangannya," Ketahuilah,Kitab ini tak pernah berjodoh dengannya,tapi ku rasa berjodoh dengan mu.." ucapnya kemudian,Nirmala tampak bingung,setelah cukup lama terdiam," Siapa kau sebenarnya nek,bagaimana kau bisa tau guruku sangat mencari keberadaan Kitab itu..?",si nenek tertawa pelan,kemudian sambil memegang sebuah seruling di tangannya," Aku adalah nenek guru mu,Sekar Arang dan Larasati adalah dua muridku..",Nirmala terkejut bukan kepalang,lidahnya mendadak kelu,tubuhnya gemetar,wajahnya pucat pasi," Bidadari Seruling Rajawali.." ucapnya sangat lirih,si Nenek cuma tersenyum," Ya,itulah gelarku,Bidadari Seruling Rajawali,sekarang katakan siapa namamu..?"," Nama saya Nirmala nek.." Jawab Nirmala cepat. Pagi itu Nirmala terbangun oleh suara kokok ayam,gadis itu terkejut Sadewa tak lagi ada di atas pembaringan,dengan cepat gadis itu keluar pondok,matanya segera tertuju ke arah air terjun,tak jauh dari aliran air terjun yang cukup deras,seorang pemuda tampa menggunakan baju duduk di atas sebuah batu," Sadewa..!" seru Nirmala sambil melompat ke atas batu tempat Sadewa duduk,Sadewa menoleh sesaat ke arah gadis berpakaian hijau yang masih berdiri di sampingnya," Kenapa kau tak jadi membunuhku..?" ucap Sadewa sambil menatap air terjun yang bergemuruh,Nirmala duduk tak jauh di sisi kanan Sadewa," Maafkan aku,aku menghajarmu tampa berpikir dulu,aku mengaku salah.." ucapnya lembut,Sadewa cuma diam,kemudian berdiri dan melangkah ke arah pondok,Nirmala segera mengejar,dan mencoba menarik tangan pemuda itu,Sadewa cuma diam saat Nirmala memegang tangannya," Sadewa maafkan aku,aku sangat menyesal sekali,aku tau sakit yang kau rasakan.." ucapnya lirih menahan tangis,namun air matanya tetap mengalir di kedua pipinya," Aku belum bisa memaafkan mu,lepaskan tangan ku.." Nirmala cuma pasrah saat Sadewa menarik tangannya,kemudian pergi kedalam pondok dan keluar membawa perisai di punggungnya. Nirmala sesaat cuma terpaku melihat pemuda yang diam-diam mulai di cintainya berlari kian jauh menuruni lereng bukit,air matanya kian deras mengalir,isaknya pecah saat melihat Sadewa sudah tak tampak lagi. " Jangan menangis cucu ku,kau mencintainya..?" satu suara terdengar,satu tangan lembut membelai kepala Nirmala," Memang sesuatu yang sangat sulit di terima apa yang di alami pemuda itu,tapi kau tak boleh menyerah,kejar pemuda itu,bawa Kitab Langlang Buana ini,pelajari di jalan,isi Kitab ini akan banyak membantumu kelak bila kembali berhadapan dengan Hantu Seribu Nafsu. Cuma satu pesan ku,jangan kau bunuh dia.."," Kenapa aku tak boleh membunuhnya nek..?,"tanya Nirmala kemudian," Nanti kau akan tau.." jawab si nenek,sambil melesat cepat meninggalkan tempat itu. Nirmala sesaat masih duduk di atas batu,kemudian segera bangkit,simpan Kitab pemberian nenek gurunya,lalu berlari cepat ke arah Sadewa pergi. (4) Satu sosok tinggi kurus berdiri di atas batu,tak jauh darinya sesosok wanita tampa sehelai benang pun tergolek di atas batu sambil meringis kesakitan,darah mengalir dari bagian bawah perutnya,beberapa bagian tubuhnya terlihat penuh dengan gigitan," Kau sangat hebat gadis desa,aku benar-benar puas dengan pelayananmu.." ucap laki-laki bertubuh kurus tinggi sambil tersenyum," Sekarang terima bayaranmu gadis binal..!" ucapnya keras,lalu hantamkan kaki kirinya ke kepala wanita muda di atas batu,wanita itu tak sempat menjerit,wanita itu tewas dengan kepalanya pecah. Hari mulai gelap,gerimis mulai perlahan membasahi bumi,Sadewa masih berlari kencang ke arah pondok tempat nya sepuluh hari lalu bertarung dengan Hantu Seribu Nafsu,setelah cukup lama berlari akhirnya di kejauhan pondok di tepi aliran sungai mulai tampak,Sadewa melesat cepat ke atas sebuah pohon yang cukup tinggi," Aku akan menunggumu di sini kau pasti kembali ke tempat ini,aku yakin..",ucap Sadewa dalam hati,setelah menunggu selama tiga hari,sesosok bayangan hitam terlihat berlari kencang sambil menggendong sesosok tubuh di pundaknya,sejenak sosok yang bukan lain Hantu Sejuta Nafsu menatap ke area sekitar,Sadewa segera menyelinap di kerimbunan pohon tempat nya bersembunyi. Tak lama Hantu Seribu Nafsu segera turunkan dari pundaknya seorang gadis berambut panjang,gadia muda itu tampak dalam keadaan pingsan,setelah melakukan dua kali totokan,si gadis tampak siuman,setelah menatap sosok laki-laki tua bertubuh tinggi besar di depannya,gadis muda itu menjerit keras,sambik tertawa Hantu seribu Nafsu tiupkan asap hitam bergulung ke wajah gadis muda di depannya,tak lama si gadis muda terkulai di halaman pondok. Hantu Seribu Nafsu segera bopong tubuh di depannya dengan nafsu yang sudah memuncak,sesaat lagi gadis muda itu ternoda,satu bayangan putih melesat cepat sambil hantamkan sebuah benda bulat bercahaya biru terang," Perisai Dewa..!" seru Hantu Seribu Nafsu sambil melompat menjauh,dengan posisi seperti orang menyembah,dua tangannya di dorongkan kedepan," Pukulan Sembah Dewa Perang..!,menyingkir Sadewa..!!" satu suara berseru kencang,sambil berkelebatnya sesosok bayangan yang langsung menghantam Pukulan Sembah Dewa Perang dengan Pukulan Cahaya Surya Langit,satu cahaya sangat terang memancar di iringi hawa yang sangat panas,dentuman keras bergemuruh,Perisai Dewa terdorong kebelakang,Sadewa segera menyambut Perisai Dewa yang terus berputar kencang mengeluarkan suara berdesing nyaring. Hantu Seribu Nafsu terlempar jauh kebelakang,nafasnya memburu,wajahnya pucat pasi. " Adikku Gandamayit bertobatlah,kau sudah terlalu jauh terpengaruh ilmu sesat yang kau pelajari,aku akan membantumu.." Hantu Seribu Nafsu menatap nenek tua di depannya," Jangan campuri urusan ku,aku tak mau membunuh saudara sendiri..!!" serunya keras pada Dewi Seruling Rajawali,nenek tua cuma tersenyum,"Ikutlah dengan ku,aku akan membantu menghapus ilmu hitam yamg selama ini kau pelajari.."," Kau jangan mimpi aku akan membuang ilmu yang sekian lama ku pelajari,sebentar lagi ilmu ku sempurna,selanjutnya aku akan jadi raja di dunia persilatan tanah jawa..!!"," Rasa keyakinan mu yang akan membawa mu ke Neraka.." seru Sadewa keras pada Hantu Seribu Nafsu. (5) " Satria Perisai Dewa,kau akan mati sia-sia,terima kematian mu..!!" Jawab Hantu Seribu Nafsu,kemudian melompat cepat lepaskan Pukulan Sembah Dewa Perang,lesatan cahaya hitam laksana ribuan pisau melesat cepat ke arah Sadewa,pemuda ini bertahan dengan Jurus Tameng Sakti Dewa Langit,Sadewa hantamkan tangan kanan nya,Pukulan Sinar Lentera Dewa menyapu cepat kedepan,dentuman keras lagi-lagi terdengar bergemuruh,sinar biru dan hitam bertabur di udara,Sadewa coba bertahan dari sapuan angin pukulan dengan lintangkan Perisai di depan tubuhnya,Hantu Seribu Nafsu terdorong kebelakang sambil umbar tawa keras," Kau tak akan bisa menang pendekar keparat..!,para tokoh golongan hitam akan berterima kasih padaku karena telah membunuhmu..!!",kemudian lepaskan dua pukulan sekaligus ke arah Sadewa,tangan kanan melepas Pukulan Sembah Dewa Perang,tangan kirinya melepas Pukulan Kabut Hitam Neraka. Di hantam uda pukulan sekaligus Sadewa segera pasang kuda-kuda kuat,sambil ayunkan Perisai Dewa Kedepan untuk membendung Pukulan Lawan,dua tangannya lalu menghantamkan Pukulan Tinju Naga Perkasa,dan Sinar Lentera Dewa sekaligus. Perisai Dewa melesat cepat laksana Cakra raksasa berputar menyapu dua pukulan lawan,serangan Sadewa menghantam telak tubuh Hantu Sejuta Nafsu,dentuman keras bergemuruh berulang-ulang,area pertarungan sudah porak-poranda,pohon di sekitar pertarungan hangus terbakar,lobang besar menganga di mana-mana. Sadewa berdiri dengan tubuh sempoyongan,darah mengalir di sudut bibirnya,Perisai di tangan kirinya berputar cepat bercahaya biru terang," Kau tak akan bisa membunuhku anak muda,ayo pukul aku semau mu,pilih bagian tubuh ku yang kau mau..!!" seru Hantu Sejuta Nafsu sambil tertawa keras,nenek tua yang bukan lain Bidadari Seruling Rajawali melompat ke samping Sadewa," Kau terluka anak muda,mundurlah..". " Kintan..kau selalu ikut campur setiap urusan ku,sekali lagi ku peringatkan,pergi dari sini..!!" Seru kakek tua bertubuh tinggi kurus,nenek tua cuma tertawa pelan," Aku ingin menyelamatkan mu,sebagai saudara tentunya ku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mu. Sadarlah adiku,tinggalkan semua ini..",ucapnya lembut. " Persetan dengan semua ucapanmu,kali ini aku mengalah,lain kali aku tak akan segan melukaimu..!!" Ucapnya keras,lalu balikan tubuh berkelebat cepat ke arah barat. (6) Sadewa menoleh pada Nenek tua di sampingnya,kemudian menatap Hantu Seribu Nafsu yang kian jauh berlari ke arah barat," Dia saudaramu nek..?" bisik Sadewa pelan,Nenek tua di sampingnya cuma mengangguk,tak lama sesosok bayangan hijau berlari cepat ke arah dua orang yang masih berdiri,melihat siapa yang datang Sadewa cuma menatap jauh ke arah sungai,Nirmala sesaat terlihat canggung," Kau tak apa-apa nek,aku mendengar suara dentuman keras dari arah sini..?",Nenek Bidadari Seruling Rajawali cuma mengangguk," Kalian berdua ikut aku,ada hal penting yang akan ku sampaikan,berhubungan dengan Hantu Seribu Nafsu.." Ucapnya kemudian melesat cepat ke arah hulu sungai. Sadewa cuma berdiri,Nirmala sesaat menundukan wajahnya,setelah cukup lama saling diam,Nirmala melangkah ke arah pemuda di depannya," Sadewa...kau masih marah pada ku..?",pemuda di depannya cuma diam,kemudian setelah cukup lama menoleh ke arah Nirmala,sesaat mereka saling menatap,kemudian Sadewa melangkah ke arah yang di tempuh Bidadari Seruling Rajawali,gadis berpakaian hijau cuma diam menundukkan kepala,tak lama Sadewa berbalik,kemudian melangkah cepat ke arah Nirmala,dan memeluk gadis di depannya dengan sangat erat,tubuh Nirmala tenggelam dalam dekapan pemuda yang mulai di cintai nya,Nirmala menangis terisak di pelukan Sadewa. Hari mulai gelap,pondok itu cukup terang oleh dua lampu minyak,Sadewa duduk di samping Nirmala,di hadapan mereka Bidadari Seruling Rajawali duduk di atas sebuah tikar butut,suara aliran sungai terdengar deras mengalir," Anak muda,dan kau cucu ku,dengarkan apa yang ku katakan,Hantu Seribu Nafsu adalah adik kandung ku,yang termakan hasutan seseorang untuk mendalami sebuah Kitab kuno berisi ajaran Ilmu hitam. Aku tau suatu saat tak akan bisa mencegah tindakan para tokoh golongan putih akibat kejahatan adiku selama ini,aku sudah mencoba banyak cara untuk menyadarkannya,tapi ku rasa waktu ku sudah tak banyak,kalau tak di segera halangi,adiku pasti akan dapat menyempurnakan ilmu sesat yang di pelajarinya,dan itu akan jadi musibah besar untuk dunia persilatan. ketahuilah,kalian tak akan dapat membunuhnya hanya dengan mengandalkan pukulan sakti,ilmu sesat itu membentengi tubuh nya dengan ilmu kebal,tak satu pun bisa melukainya..",sejenak semua diam,Sadewa dan Nirmala menyimak dengan seksama,tak lama kemudian Nenek tua berdiri ke pojok ruangan,kemudian mengambil sesuatu,di tanganya terlihat sebuah paku hitam yang pada ujung lancipnya tampak putih berkilat," Ini adalah Paku Putih Pemasung Asura,ini adalah satu-satunya benda yang dapat melumpuhkan adiku..",kemudian Nenek tua menoleh ke arah Nirmala,cuma kau yang bisa melakukannya,mendekat kemari syarat yang harus kau penuhi.." ucapnya sambil membawa Nirmala keluar pondok,tak lama mereka kembali masuk,Nirmala terlihat pucat,wajahnya basah oleh peluh,gadis itu tak sedikitpun menoleh pada Sadewa,duduk sedikit menjauh dari pemuda di sampingnya. " Sadewa..kalau kau berhadapan dengan adiku,kau dan Nirmala harus bisa bertarung dalam jarak dekat dengannya,dalam satu kesempatan yang pas,Nirmala yang akan menyelesaikan pertarungan itu.." Ucap Bidadari Seruling Rajawali sambil menoleh ke arah Nirmala,Sadewa masih terlihat bingung,Nirmala terlihat menatap ke arah atap pondok. " Nirmala,,sejak semalam kau bersikap aneh,apa yang terjadi..?",Nirmala menoleh sesaat pada pemuda di sampingnya,kemudian kembali menatap ke arah depan," Kita harus mencari Hantu Sejuta Nafsu.." ucap Sadewa kemudian," Belum saatnya,sepuluh hari lagi baru kita bisa mencarinya..",Sadewa mendadak berhenti,lalu menatap Nirmala yang masih berjalan," Kenapa gadis ini,sejak habis bicara di luar dengan Nenek Kintan terlihat aneh..". Malam mulai merayap,hujan turun dengan sangat deras,petir menyambar kian kemari,gelegar suara halilintar terdengar keras bergemuruh,Sadewa duduk di depan perapian di dalam sebuah gua,harum daging kelinci panggang menyebar,Nirmala duduk sedikit menjauh sambil menatap pemuda itu dalam gelap," Makan lah dulu.." Ucap Sadewa sambil memberikan daging kelinci yang sudah matang,Nirmala menerima nya lalu kembali ke pojokan duduk di tempat yang agak gelap. Malam kian larut,suara binatang malam terdengar nyaring di luar gua,Sadewa duduk bersila sambil pejamkan mata,di pojok gua Nirmala tertidur pulas,udara malam terasa dingin mencucuk tulang,Sadewa membuka mata saat Nirmala tiba-tiba memeluk tubuh nya dari arah belakang," Kau kenapa tak tidur.." ucap Sadewa lembut,Nirmala cuma diam lalu rebahkan kepalanya ke dada pemuda di depannya,Sadewa memeluk Nirmala dengan sangat erat," Aku ingin bertanya pada mu Nirmala,apa yang di sampaikan Nenek Kintan pada mu kemaren malam..?" Wajah Nirmala merona merah dan terlihat jengah,bibirnya tersenyum,kepalanya menggeleng," Aku tak bisa memberi tahu mu,rahasia.." jawabnya sambil tersenyum,Sadewa menatap bingung gadis sangat cantik di depannya," Kau penasaran..? Aku malu mengatakannya..",sambungnya kemudian,Sadewa cuma diam sambil menggaruk kepala,Nirmala nampak tertawa kecil melihat pemuda pujaan hatinya terlihat bingung,kemudian menarik Sadewa ke pojok gua tempatnya berbaring,malam itu terasa panas bagi mereka berdua. Pagi itu dua bayangan berkelebat cepat ke arah tepian hutan,Sadewa melesat cepat dengan ilmu Langkah Dewa Angin,Nirmala di sampingnya berlari tak kalah cepat," Kita harus cepat sampai di pondok tepi hutan,ku rasa Hantu Seribu Nafsu ada di situ.." ucap Sadewa sambil berlari,gadis di sampingnya cuma mengangguk. Tak jauh di belakang mereka,derap kaki kuda dalam jumlah banyak terdengar,tak lama terlihat lima belas warga desa bersenjata golok dan tombak memacu kuda ke arah tepian hutan..Bersambung..


__ADS_2