
(1) Di tengah lautan,sebuah kapal dagang besar tampak berlayar di tengah cuaca yang kurang baik,gelombang dan angin laut bertiup kencang,kapal tampak terombang-ambing di hantam gelombang,tak lama kemudian " Tuan,lihat kapal hitam di kejauhan itu..!!",seru seorang anak buah kapal,Nahkoda kapal tampak sudah berada di haluan kapal,tampak di kejauhan sebuah kapal berwarna hitam berbendera tengkorak melaju ke arah mereka," Itu kapal perompak yang di kenal dengan julukan Raja Lanun Selatan,kita dalam bahaya..!!" seru anak buah kapal," Segera bersiap,kita lawan mereka..!!" Seru Nahkoda kapal memberi semangat anak buah nya. Tak lama di kejauhan tampak kapal besar hitam bergerak kian mendekat,sorak-sorai terdengar riuh dari kapal tersebut,seorang berpakaian merah bertopi tinggi tampak berdiri gagah di haluan kapal,sosok nya tinggi besar,dengan badan penuh otot,kumis tebal tampak menghias wajahnya yang terlihat sangar. " Rampas isi kapal itu,bunuh semua yang coba melawan,jangan ada yang tersisa..!!" serunya keras di balas gemuruh suara teriakan-teriakan para anak buah nya," Tuan Nahkoda,,,mereka sangat banyak,sepertinya tak kurang lima puluh orang,apa kita tak lebih baik mencoba menghindar saja..",Ucap seorang anak buah kapal dagang pada seorang laki-laki berbadan gemuk pendek di depannya," Kami akan membantu,kami tak akan tinggal diam kalau memang kita harus bertempur melawan mereka.." Suatu suara lain dari sebelah kanan Nahkoda kapal,semua anak buah kapal tampak menoleh ke arah asal suara," Siapakah Kisanak ini..?" tanya Sang Nahkoda sambil menoleh ke arah seorang laki-laki tua berpakaian putih,bertubuh sangat tinggi kurus. " Aku cuma salah seorang penumpang di kapal mu,aku melihat bahaya yang mengancam kita semua,aku berniat membantu.." Jawabnya sambil sedikit membungkuk hormat," Selain sahabat Tiang langit,aku si Golok Setan juga siap membantu..!" kemudian melompat ketengah perdebatan,seorang laki-laki bertelanjang dada,bercelana hitam lebar,membekal sebuah Golok Besar di pinggangnya. Semua anak buah kapal dagang nampak menatap kedua orang yang mengajukan bantuan," Aku berterima kasih kisanak berdua bersedia membantu. Aku paham kekhawatiran semua awak kapal dagang ini,cuma kita tak akan bisa menghindar,kapal mereka jauh lebih ringan dan cepat di bandingkan kapal dagang ini,kita cuma punya satu pilihan,yaitu melawan mereka.." Ucap Nahkoda kapal sambil menatap seluruh anak buahnya," Mari kita berdoa meminta keselamatan,semoga allah memberi kita kekuatan untuk selamat dari bahaya ini..!!"," Kalaupun kita harus gugur,insya allah kita gugur sebagai syahid,kita gugur dalam membela kebenaran..!!" Sambung sosok berpakaian serba putih bergelar Si Tiang Langit. Tak lama kapal hitam besar tampak kian dekat,sorak-sorai para anak buah kapal terdengar riuh,di tangan mereka pedang dan golok tampak teracung tinggi,tak lama kedua kapal kian merapat," Serang..!!!",satu suara keras memberi perintah,bersamaan dengan berkelebatnya bayangan merah ke kapal dagang besar,bayangan merah berkelebat cepat menyerang para anak buah kapal yang mencoba menghalangi,tiga orang anak buah kapal dagang terlempar kebelakang di makan tendangan bayangan merah dengan kepala pecah," Aku lawan mu Raja Lanun Selatan..!!" Satu sosok melompat menghadang sosok berpakaian merah. " Nahkoda,,,sebaiknya kau menyerah,tak guna kalian memberi perlawanan..!!" Suaranya keras di tengah pertempuran yang mulai berkecamuk di atas kapal dagang," Jangan mimpi kami akan menyerah..!" Balasnya sambil melompat cepat lepaskan pukulan,tak lama pertarungan Nahkoda gemuk dan sosok tinggi besar berpakaian merah sudah berlangsung sengit,sampai di jurus ke dua puluh,tampak Nahkoda kapal mulai kewalahan,beberapa kali pukulan dan tendangan Raja Lanun Selatan bersarang di tubuhnya,tubuh nya terhuyung ke samping,di saat mencoba untuk menguasai keadaan,satu serangan cepat menyusul,tinju Raja Lanun Selatan berkelebat cepat ke arah kepala Nahkoda kapal,sesaat lagi kepalanya akan di hantam pukulan lawan. (2) " Pertemuan para tokoh golongan putih di Perguruan Harimau Putih tinggal beberapa hari lagi,apakah Ratna Ayu akan hadir..?" Gumam seorang pemuda berpakain putih,rambut hitam panjang nya nampak berkibar di tiup angin. Pemuda yang tak lain Sadewa nampak melihat jauh ke arah mentari senja yang mulai memerah," Dua hari berpisah jalan,kenapa aku sepertinya merindukan gadis itu. Semoga dia dapat menemui ayahnya,siapa ayahnya..?" Sadewa nampak larut dalam lamunan,Sadewa kemudian meraba punggungnya,di mana tergantung sebuah benda bulat tipis berwarna perak," Apakah kau Satria Perisai Dewa..?" satu suara tiba-tiba mengejutkan Sadewa yang sedang melamun,dengan cepat dia menoleh ke arah suara,di sebuah dahan pohon tak jauh dari tempat Sadewa duduk,duduk seorang wanita berumur empat puluh tahunan,berpakaian putih bersulam bunga mawar merah,kepalanya tampak di tutup sebuah kain berwarna hitam," Sejak kapan perempuan itu duduk di situ,aku sampai tak mengetahui,dahan kecil itu tak merunduk sedikitpun,sepertinya aku berhadapan dengan seorang wanita sakti.." Gumam Sadewa dalam hati," Saya Sadewa,siapakah bibi ini..?" Jawab Sadewa,wanita itu tampak tersenyum,kemudian dengan gerakan enteng,tubuh nya melompat ke arah Sadewa,berdiri tak jauh dari tempat Sadewa yang sudah berdiri," Jadi nama mu Sadewa..?,bukankah kau yang di juluki orang dunia persilatan Satria Perisai Dewa..?". Sadewa cuma menggangguk pelan,kemudian Wanita itu kembali tersenyum," Bagaimana kabar guru mu,Umar ibnu Sabbir..?" Sadewa terkejut saat wanita itu menyebut nama guru nya,sejenak Sadewa menatap dengan cukup lama," Kabar guruku baik,siapakah Bibi ini,bagaimana bibi tau nama guru ku..?"," Ceritanya panjang,apa yang kau lakukan di sini,tadi ku dengar kau menyebut nama seseorang,apakah dia kekasihmu..?",wajah Sadewa sejenak tampak merah,kemudian dengan sedikit tersenyum," Bukan siapa-siapa.." Jawabnya singkat sambil menunduk. " Nirmala,,,keluarlah. Apakah benar pemuda ini yang membunuh gurumu..?" Ucapnya kemudian sambil memanggil seseorang,tak lama dari balik pohon muncul seorang gadis berpakaian hijau,rambutnya hitam panjang di kuncir di bagian belakang. Sadewa sesaat menatap gadis sangat cantik di depannya,terlihat gadis itu menatapnya dengan pandangan garang,kemudian menggangguk ke arah wanita di sampingnya," Benar Bibi,dia lah yang sudah membunuh guru ku Nyi Sekar Arang..!" Ucanya penuh dendam," Sabar dulu,kalian ini siapa..?"," Aku murid tunggal Nyi Sekar Arang,ini adalah bibi guru ku Nyi Larasati..!" Jawabnya dengan suara keras," Bersiaplah untuk mati..!",lanjutnya kemudian," Sabar Nirmala,jangan gegabah,biar ku tanyai dulu pemuda ini.." ucap nya menenangkan gadis di sampingnya," Sadewa,,apa yang terjadi,tentu kau punya alasan,kenapa Nyi Sekar Arang sampai terbunuh.." tanya wanita itu dengan lembut,Sadewa sejenak menatap Nyi Larasati dan Nirmala,kemudian Sadewa menuturkan jalan ceritanya," Cerita pemuda ini sesuai dengan apa yang di sampaikan kakang Tabib Jari Petir.." Gumamnya kemudian,sejenak tempat itu tampak hening,Sadewa menoleh ke arah Nirmala yang kebetulan sedang menatap ke arahnya,kemudian gadis itu menoleh ke arah lain. " Aku tak bisa menyalahkanmu Sadewa,ku rasa kau cuma membela diri.."," Bibi..kenapa bibi berkata seperti itu..?" Ucap Nirmala sambil menoleh cepat ke samping," Nirmala,,tak ada gunanya kau menyimpan dendam pada pemuda ini,bersih kan hati mu,lihat lah sesuatu dengan mata dan pikiran yang jernih. Semua sudah takdirnya,dan ku rasa Gurumu tak ingin kau membalaskan dendamnya.." ucapnya kemudian sambil menatap lembut gadis berpakaian hijau di sebelahnya," Kau sendiri sudah melihat bagaimana gurumu terpuruk dalam keburukan,tabahkan hati mu,jalanmu masih panjang..",Nirmala tampak sesaat menatap Nyi Larasati,kemudian menoleh sesaat ke arah Sadewa,lalu segera berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Sadewa yang nampak bingung cuma bisa menatap ke arah Nirmala berkelebat,kemudian kembali menatap wanita paruh baya yang masih sangat cantik di depannya," Sepertinya aku perlu meminta maaf pada gadis itu juga pada Bibi.." ucapnya kemudian sambil menunduk,Nyi Larasati cuma tersenyum," Siluman Beruang Hitam memang sudah sepantasnya di lenyapkan,dia sudah banyak membuat keonaran,tindakan mu sudah benar Sadewa..",tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda di kejauhan,Sadewa dan Nyi Larasati segera menoleh ke arah datangnya delapan ekor kuda ke arah mereka,Sadewa dan Nyi Larasati tampak saling pandang sesaat,kemudian mereka berhenti tak jauh dari tempat Nyi Larasati dan Sadewa berdiri,kemudian satu sosok bertubuh tinggi besar segera melompat turun dari kuda," Maaf mengganggu,kami mau bertanya,ini kah arah ke Perguruan Harimau Putih..?"," Betul,arah yang kalian ambil sudah benar,dua hari perjalanan dari sini,Senopati dan pasukan akan segera memasuki wilayah selatan tempat Perguruan Harimau Putih berada.." Nyi Larasati menjawab,Senopati tampak memandang Nyi Larasati sesaat,setelah mendapat bisikan dari kepala pasukan di sampingnya kemudian segera turun di ikuti pasukan pengawalnya. (3) Hari tampak mendung,hujan sepertinya akan turun di Kota Raja Kerajaan Mataram," Sejak kepulangan mu,ayah perhatikan kau banyak melamun anakku,apa yang terjadi Ayu..?" Tumenggung Damarjati tampak berdiri di depan pintu kamar Ratna Ayu,gadis cantik berpakaian warna biru tampak terkejut dengan kedatangan seseorang di depan pintu kamarnya,sambil menyembunyikan wajahnya yang merona merah,Ratna Ayu menoleh ke arah jendela," Tidak ada apa-apa ayah,semua nya berjalan baik..",Tumenggung Damarjati tersenyum melihat sikap canggung anak gadis nya," Ayah,,sepertinya besok aku akan menyusul Paman Ranapati ke Perguruan Harimau Putih.." Ujar Ratna Ayu kemudian,Tumenggung cuma tersenyum," Apa kau tidak rindu berkumpul lebih lama dengan orang tua mu Cah Ayu,baru beberapa hari pulang,kau akan kembali pergi..?",Ratna Ayu segera mendekat pada sosok bijaksana di depannya,sambil memeluk ayahnya," Aku akan secepatnya kembali begitu urusan di sana selesai..",Tumenggung Damarjati cuma mengusap kepala Ratna Ayu sambil mengangguk," Kau tak akan menemui dulu putra Senopati Cah Ayu..?" Satu suara lembut di belakang Tumenggung Damarjati,tampak seorang wanita cantik setengah baya berdiri dengan anggun," Tidak Ibu,aku tak akan menemui Pangeran Jayasena,aku akan langsung menyusul paman Ranapati..". Esok harinya,setelah berpamitan,Ratna Ayu segera berkuda cepat ke arah luar kota raja," Kakang terlalu memberi kebebasan untuk anak gadismu,apa kakang tidak khawatir kalau anak kita kenapa-napa di luar sana..?",Tumenggung tampak tersenyum pada istri nya," Serahkan semua pada Allah Diajeng,insya Allah Ratna Ayu bisa menjaga diri,tak semua orang dapat mengalahkan nya dengan mudah,aku pun mungkin bukan tandingan nya,gurunya Tuanku Raja Gunung sudah memberi bekal yang cukup bagi nya,kita tinggal mendoakan setiap langkahnya mendapat perlindungan yang maha kuasa..", Ucap Tumenggung Damarjati pada istrinya yang terlihat risau. Ratna Ayu memacu kudanya dengan cepat,setelah cukup lama berkuda,di kejauhan tampak sebuah aliran sungai kecil berair cukup jernih," Sepertinya kuda ku butuh istirahat dan makan rumput,sungai kecil itu sepertinya tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat sejenak..",kemudian Ratna Ayu segera berhenti di bawah sebuah pohon mangga hutan," Minum dan makan lah rumput hijau itu sepuasmu.." Ujarnya sambil membiarkan kudanya berjalan pelan ke arah rumput hijau. Tak lama kemudian Ratna Ayu di kejutkan oleh lesatan tiga bayangan hitam mengurungnya," Ha..ha..benar-benar beruntung kita,ada seorang gadis yang akan menemani kita malam ini..!" Satu suara tawa keras terdengar,sambil menatap gadis dengan pedang di punggungnya," Kau betul,tak ku sangka bidadari hutan ini sangat cantik.."," Siapa kalian,mau apa kalian..!!",Ratna Ayu menatap garang pada ke tiga sosok hitam di depannya," Kami adalah tiga orang kepercayaan Raja Lanun Selatan,apa sekarang setelah mengetahui siapa kami,kau akan ikut kami gadis cantik..?" Ucap salah seorang dari mereka sambil leletkan lidah pada Ratna Ayu," Kalau kalian seorang lanun,seharusnya kalian di laut,bukan di hutan begini,kalian lanun atau rampok..?" Ujar Ratna Ayu sambil tersenyum,ketiga sosok berpakaian hitam tampak saling pandang sejenak,kemudian segera merapatkan kurungan mereka pada Ratna Ayu," Ayo temani kami bersenang-senang,gadis galak sepertimu biasanya punya permainan yang hebat..!!" ketiganya tertawa keras," Dasar manusia otak mesum,kalian mau coba seperti apa permainan ku,ayo mendekat.." Ujar Ratna Ayu sambil bersiap,di iringi gelak tawa,ketiga orang Lanun Selatan segera melompat untuk meringkus Ratna Ayu,ketiganya bergerak cepat memutari gadis di depannya,kemudian melompat menyergap,Ratna Ayu tampak tenang,dengan gerakan yang tak kalah cepat,gadis ini menghindar ke samping,sambil lepaskan pukulan dan tendangan ke arah kaki para Lanun yang masih di udara,pertarungan berlangsung seru,para Lanun mencoba meringkus Ratna Ayu,namun gadis mangsanya dapat terus menghindar dan membalas serangan mereka,di jurus kedua puluh,tampak seorang dari ketiga Lanun terlempar keluar arena di hantam tendangan lawan di bagian rusuk nya,beberapa tulang rusuk nya nampak patah,dengan mengerang kesakitan,mencoba untuk bangkit namun kembali jatuh terduduk. Kedua Lanun yang melihat kawannya tergeletak segera melompat mundur," Kurang ajar,gadis ini ternyata seorang pendekar,segera serang dengan pukulan Angin Selatan..!!",Serunya kemudian,tampa menunggu waktu,mereka segera melompat sambil pukulkan dua tangan kedepan,empat gelombang angin dahsyat bergemuruh ke arah Ratna Ayu,dengan cepat sambil melompat Ratna Ayu lepaskan pukulan Tinju Dewa Gunung kedepan,dua pukulan beradu di udara,dentuman keras terdengar,terlihat empat gelombang pukulan Angin Selatan pecah di udara,kedua Lanun tampak terlempar jauh kebelakang,keduanya muntah darah kemudian tergeletak tak bernyawa. Ratna Ayu segera melangkah ke arah seorang Lanun yang masih memegangi rusuknya yang remuk di hantam tendangan gadis di depannya," Ampun..jangan bunuh aku,ampuni nyawaku.." Ujarnya sambil berlutut," Manusia sesat seperti kalian tak pantas di beri ampun,sudah berapa banyak gadis-gadis desa kalian kotori..!!" Dengan satu gerakan cepat tendangan Ratna Ayu mendarat telak di kepala lawannya,anak buah Raja Lanun Selatan yang tersisa,mati dengan kepala pecah. (4) Sesaat lagi tinju Raja Lanun Selatan menghantam kepala Nahkoda kapal,satu bayangan putih berkelebat cepat menghadang,dua tangan beradu,satu dentuman keras terdengar,Raja Lanun Selatan tampak terhuyung kebelakang,di depan Nahkoda kapal telah berdiri satu sosok tinggi kurus berpakaian serba putih," Siapa kau,berani menghalangi aku..!!",Ucap Raja lanun Selatan keras membentak," Aku penumpang kapal ini,kau yang di sebut orang Raja Lanun Selatan..?"," Ya..Aku Raja Lanun Selatan,seluruh laut selatan ini adalah wilayah kekuasaanku..!!"," Kau perompak terkenal itu..?,bagus aku sudah lama mencarimu,katakan di mana guru mu Si Malaikat Katai..?",Raja Lanun tampak terkejut mendengar orang menyebut nama gurunya," Apa urusan mu dengan guruku..!!"," Aku akan mengambil sesuatu yang telah lama di curi guru mu.."," Kurang ajar,kau bilang guruku pencuri,terima kematian mu..!!" Ucap Raja Lanun,sambil melompat lepaskan pukulan sakti,satu gelombang angin dahsyat bergulung-gulung ke arah Si Tiang Langit," Pukulan Badai Laut Selatan,siapa takut..!" kemudian sambil melompat ke samping,Tiang Langit hantam kan tangan kanan lepaskan pukulan,satu gelombang cahaya merah besar laksana tombak raksasa melesat cepat kedepan. " Pukulan Tombak Dewa Api..!!" Seru Raja Lanun Selatan sambil melompat jauh kebelakang,dentuman keras di sertai memerciknya bunga api besar terdengar bergemuruh" Siapa kau sebenarnya,apa hubungan mu dengan guru ku..!", Raja Lanun Selatan Menatap sosok tinggi kurus di depannya," Bawa anak buah mu pergi,sampaikan pada gurumu,Si Tiang Langit akan segera menemuinya..". Raja Lanun Selatan edarkan pandangan,tampak Si Golok Setan masih bertempur dahsyat di keroyok delapan anak buahnya,pertempuran masih berlangsung sengit di atas kapal besar,beberapa anak buahnya dan anak buah kapal sudah tergeletak mati. " Hentikan pertarungan..!!",suara nya keras membahana,seketika para anak buahnya melompat mundur,sambil menatap Si Tiang Langit dan Golok Setan yang sudah berdiri di samping Nahkoda kapal," Kita akan bertemu lagi,aku akan menyampaikan pesan mu pada guruku..!" Ucapnya sambil menatap sosok tinggi kurus berpakaian serba putih di hadapannya," Bawa anak buah mu,secepatnya kita akan bertemu kembali.." Jawab Si Tiang Langit dengan lembut," Kembali ke kapal,bawa yang terluka,lemparkan yang tewas ke lautan..!!" Perintah Raja Lanun Selatan kemudian,dengan sekali lompat,tubuhnya melesat cepat ke kapal nya. (5) Raja Lanun selatan tampak duduk di depan seorang laki-laki bertubuh pendek di depannya," Siapa dia guru,orang tua tinggi kurus itu punya pukulan yang sama dengan yang guru miliki..?",laki-laki pendek berjubah hitam terlihat menghela nafas sejenak," Tiang Langit adalah adik seperguruan ku di tanah seberang. Kau harus menghindar kalau bertemu dengannya,dia bukan tandingan mu Gembong.."," Orang itu berbicara akan menemui guru,untuk mengambil sesuatu.." Ucap Gembong Kalimati kemudian," enam puluh tahun yang lalu,kami berguru pada seorang pendekar sakti di tanah minang bergelar Tuanku Dirajo Alam Laweh,sepuluh tahun aku berguru padanya,Si Tiang Langit adalah adik seperguruan sekaligus keponakan guruku Tuanku Dirajo Alam Laweh,aku pergi tampa sepengetahuan guruku,aku membawa sebuah kitab pusaka yang ku curi sebelumnya.."," Tak usah ragu guru,kita akan bunuh Si Tiang Langit,kita punya banyak dukungan,peresmian Partai Tengkorak tak akan lama lagi,kita akan memimpin para tokoh golongan hitam..",Malaikat Katai menatap muridnya dengan pandangan tajam,Gembong Kalimati nampak gugup melihat cara gurunya menatap ke arahnya," Walaupun cuma adik seperguruanku,Si Tiang Langit tak akan mudah di kalahkan,di negerinya Si Tiang Langit adalah sosok pilih tanding.."," Jangan sekali-kali kau pandang remeh adik seperguruanku itu.." Lanjutnya kemudian. " Aku sudah mengutus tiga orang anak buah pilihanku untuk menghubungi sahabatmu Mahluk Jin Hutan Kelam," mereka tak akan menemuinya,anak buahmu sudah mati.." Jawab Malaikat Katai dengan tatapan dingin,Gembong Kalimati tampak terkejut," bagaimana guru tau..?",Kemudian terdengar suara tawa Malaikat Katai," sebentar lagi kau akan menerima kabar kematian mereka..". Sore itu Raja Lanun tampak duduk di sebuah kursi besar,di depannya duduk Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah,dan seorang anak buahnya yang tampak babak belur wajahnya," Adik Gembong,aku sudah menemui semua tokoh tua golongan Hitam,mereka bersedia hadir pada acara kita nanti.."," Bagus kakang,aku pun sudah menyiapkan tempat dan semuanya..",Jawabnya,kemudian dia menoleh ke arah anak buahnya yang duduk di lantai dengan wajah tertunduk," Bagaimana tugas mu..!" Ucapnya sambil menatap anak buahnya," Tugas sudah saya laksanakan ketua,saya sudah menemui Ki Dukun Raja Nujum,cuma di perjalanan saya tertangkap prajurit kerajaan pengawal Senopati Kebo Amuk,beruntung Ki Tongkat Baja dan Tuan Kelabang Merah menyelamatkan saya..",jawabnya kemudian,setelah mengangguk dan kembali menghadap Si Tongkat Baja," Laporkan hal yang kita temui dalam perjalanan.." Kelabang Merah berucap ke arah anak buah Raja Lanun Selatan yang masih duduk,Raja Lanun selatan kembali menoleh ke arah anak buahnya," Ada hal lain yang ingin kau sampaikan..?"," Ketua,,ketika melewati hutan kecil tak jauh dari Kota Raja,kami menemui tiga mayat Kelobot,Ganjur dan Rawedeng,sepertinya mereka sudah terlibat pertarungan dengan seseorang sebelum kami lewat..",Gembong Kalimati tampak menggembor marah," Kurang ajar,siapa yang membunuh tiga orang kepercayaanku..!!" Teriaknya marah. " Kakang Tongkat Baja dan sahabat Kelabang Merah tetap di sini sampai hari acara peresmian,kita segera matangkan persiapan kita sebagai tuan rumah,perketat penjagaan..!!",Ucapnya kemudian. (6) Senopati Kebo Amuk sesaat menatap Sadewa,kemudian segera melangkah ke arah Nyi Larasati," Maaf kalau sebelumnya tidak mengetahui,kalau saat ini sedang berhadapan seorang Srikandi dunia persilatan,Dewi Tangan Seribu.." ucapnya sambil sedikit menunduk,Nyi Larasati balas menghormat,kemudian Senopati Kebo Amuk kembali menoleh ke arah Sadewa," Siapa kau anak muda..?"," Saya Sadewa tuan Senopati.." Jawab Sadewa sambil membungkuk hormat," Pemuda itu Satria Perisai Dewa,bukan kah Senopati sedang mencarinya..?",Senopati Kebo Amuk menoleh ke arah Nyi Larasati,kemudian kembali menoleh ke arah Sadewa," Betul kah kau Satria Perisai Dewa..?, Kerajaan sangat berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan,kau banyak membantu pekerjaan kami dalam membantu masyarakat..",Ucap Senopati yang bertubuh besar penuh otot,Sadewa cuma mengangguk. Tak lama kemudian tampak seekor kuda putih berlari cepat ke arah mereka," Sadewa..!!" Satu suara memanggil,tak lama seorang gadis berpakaian biru melompat dari punggung kuda,setelah menyadari saat itu terdapat banyak orang,gadis baju biru segera edarkan pandangan," Paman Senopati Kebo Amuk.." tegurnya sambil membungkuk hormat," Apa yang kau lakukan di sini Ayu..?" jawab Senopati sambil tersenyum pada gadis yang selama ini memikat hati putra nya. Sejenak Ratna Ayu menoleh ke arah Nyi Larasati," Bukan kah kau Bibi Larasati,Dewi Tangan Seribu..?",Nyi Larasati mengangguk sambil tersenyum," Bagaimana kau tau siapa aku,bukan kah kita baru bertemu sekarang Cah Ayu..?"," Guru ku Tuanku Raja Gunung pernah menceritakan bibi,aku sangat hapal ciri-ciri Bibi sebagaimana penuturan guru..",Wajah Nyi Larasati tampak berubah ketika nama Tuanku Raja Gunung di sebut, kemudian Ratna Ayu kembali menghadap ke arah Senopati Kebo Amuk" Aku akan menemani paman Ranapati untuk menghadiri pertemuan di Perguruan Harimau Putih..",Senopati tampak mengangguk,kemudian lagi-lagi menoleh ke arah Sadewa,di ikuti Ratna Ayu dan Nyi Larasati," Sepertinya tujuan kita sama,apa tidak lebih baik kita berangkat bersama.." ucapnya kemudian," Mohon maaf Senopati,aku harus mencari murid kakak ku lebih dahulu.."," aku pun harus menemui paman Ranapati terlebih dahulu paman Senopati.." Sambung Ratna Ayu,senopati menoleh ke arah Sadewa," Mohon maaf tuan senopati,hamba mungkin menyusul.." Ucap Sadewa sambil membungkuk,Senopati tersenyum melihat sekelilingnya," Baik lah kalau begitu,kami akan berangkat lebih dulu,jaga diri kalian semua.." Ucapnya kemudian segera melompat ke atas kuda di ikuti para pengawalnya,kemudian segera memacu kuda ke arah selatan. Sadewa segera menoleh ke arah Nyi Larasati,namun Nyi Larasati pun sudah tidak di tempatnya,nampak di kejauhan dia berlari cepat ke arah timur. Sadewa menoleh ke arah Ratna Ayu yang saat itu pun sedang menatapnya,dua pasang mata beradu pandang cukup lama," Bukankah kau menemui ayahmu,bagaimana tiba-tiba kau bisa muncul di sini Ayu..?"," Aku sudah menemui ayahku,kemudian segera menyusul paman Ranapati..",jawab Ratna Ayu dengan muka merona," Bagaimana kabar mu Sadewa..?", tak ada jawaban,Sadewa melangkah ke arah Ratna Ayu kemudian memeluk gadis yang mulai mengisi hatinya," Aku merindukan mu Ayu.." Bisiknya kemudian,tubuh Ratna Ayu tenggelam dalam dekapan sosok pemuda tinggi besar berwajah tampan di depannya,Ratna Ayu rebahkan wajahnya di dada bidang pendekar pujaan hatinya,tak terasa senja sudah mulai merayap,kegelapan berlahan nampak mulai melingkupi tempat itu..Bersambung.