
(1) Siang itu sangat terik,sesosok bayangan melesat cepat ke arah tenggara sungai,berlari dengan sangat cepat,kemudian melompat ke atas sebuah batu besar di tepi aliran sungai," Aku harus cepat sampai di pondok itu,aku yakin gadis itu berada di sana,aku harus menemui nya.." Gumam seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan tubuh penuh otot melingkar,sosok tak berbaju itu terdiam sejenak,kemudian melanjutkan berlari cepat ke arah pondok yang mulai tampak di kejauhan," Sepertinya sedang terjadi pertarungan di sana,aku harus cepat,aku khawatir akan keselamatan gadis itu.." gumamnya,kemudian berlari lebih cepat ke arah pondok. Namun di sebuah tikungan sungai nampak seseorang tegak menghadang jalannya,sosok tinggi besar menghentikan larinya,sejenak menatap tajam pada seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun di depannya," Larasati..kenapa kau menghadang jalan ku,apa maksud mu..?" ucapnya pada wanita berpakain putih yang tak lain Nyi Larasati atau yang di kenal dengan Dewi Tangan Seribu," Aku tau maksud mu menemui Nirmala,aku peringatkan pada mu Agung Dumaja,jangan kau coba mengganggu gadis itu,atau aku akan membunuhmu..!" ucap nya keras,sosok tinggi besar laksana raksasa menggembor marah," Kau tak berhak melarang ku Larasati,aku yakin dia adalah anak Ayu lintang adiku,bagaimanapun aku harus tau kebenarannya..!!"jawabnya marah,Dewi Tangan Seribu maju kedepan dua langkah,kemudian berkacak pinggang di hadapan sosok tinggi besar," Kalau kau sanggup melewati aku,kau boleh lanjutkan berlari ke arah pondok itu..!!"," Kau sudah gila Larasati,apa kau tak melihat pertarungan besar sedang terjadi di sana,apa kau tak khawatir keselamatan gadis itu..!!",Dewi Tangan Seribu menatap garang pada sosok di depannya," Kau memang manusia jahanam Genderuwo Agung..!,apa kau akan membuat hancur masa depan Nirmala,seperti yang kau lakukan pada Nyi Ayu Lintang adik mu..!!",sejenak kata-kata Dewi Tangan Seribu membuat Genderuwo Agung tercekat,mukanya berubah pucat,geramannya terdengar tertahan," Minggir lah Larasati,aku tak mau bertarung dengan mu,aku cuma mengkhawatirkan keponakan ku.." Ucapnya lembut sambil menoleh ke arah lain,Dewi Tangan Seribu menatap Genderuwo Agung dengan tatapan tajam," Apa yang merubah pribadi mu,bukan kah nyawa manusia hanya barang murahan di mata mu,bahkan kau sampai tega menghukum adik mu sendiri dengan kejam..!!"," Sekali lagi ku peringatkan pada mu,jauhi hidup Nirmala,biarkan dia tenang dengan masa muda nya,jangan kau usik dia,kalau sampai kau lakukan hal itu,aku dan guru ku akan mengejarmu sampai ke Neraka,aku akan merajam mu sampai seribu tahun..!!",Ucapnya keras,lalu berbalik dan berkelebat cepat ke arah pondok di kejauhan,sejenak Genderuwo Agung cuma berdiri terpaku,matanya mendadak berkaca-kaca," Mungkin apa yang di maksud Larasati benar,keponakan ku tentunya tak akan memaafkan apa yang ku lakukan pada ibu nya.." gumamnya lirih,tak lama terdengar dentuman-dentuman bergemuruh dahsyat,Genderuwo Agung terkejut dengan wajah pucat," Nirmala..!!" Serunya dengan keras,lalu berkelebat cepat menuju arah pondok di kejauhan. (2) Pertarungan antara Sadewa melawan Raja Iblis Merah dan Raja Buana Kelam berlangsung sengit,jual beli pukulan berlangsung sangat cepat,Perisai Dewa berputar cepat mengeluarkan Cahaya biru terang,putaran cepatnya membentuk benteng pertahanan dan sekaligus senjata ampuh dalam menyerang lawan,Jurus Langkah Dewa Angin dan Pukulan Tameng Sakti Dewa Langit jadi kesatuan yang sangat sukar di tembus lawan,Raja Iblis Merah dan Raja Buana Kelam tampak gusar,setelah lima puluh jurus berlalu,dalam satu kesempatan sambil melompat tinggi,Raja Iblis Merah dan Raja Buana Kelam hantam kan tangan kanan kedepan,dari kedua tangan jago tua ini melesat cahaya merah terang dan cahaya hitam ke arah Sadewa," Pukulan Cakrawala Merah,Pukulan Cahaya Kelam..!,awas Sadewa..!! Seru Bidadari Seruling Rajawali,Sadewa segera melompat tinggi dan dalam satu gerakan cepat segera hantamkan Pukulan Sinar Lentera Dewa dan Pukulan Tinju Naga Perkasa,dua cahaya biru dan hijau terang berkelebat cepat di sertai raungan Naga murka,empat pukulan sakti beradu di udara,dentuman keras bergemuruh,kawasan sekitar laksana di landa gempa dahsyat,bunga api memercik ke segala penjuru,Nirmala nampak sempoyongan,Hantu Seribu Nafsu yang masih tersandar pada sebuah batu tersapu angin pukulan hingga jatuh terguling-guling ke tepi aliran sungai Umar Ibnu Sabbir dan Bidadari Seruling Rajawali tetap tegak dengan kaki menghujam ke tanah. Sadewa terlempar jauh kebelakang,Perisai Dewa segera melesat cepat ke tangan kirinya,berputar cepat membendung angin pukulan yang sekeras badai,Raja Iblis Merah dan Raja Buana Kelam tunggang langgang tersapu angin pukulan,dengan wajah mengelam,kedua nya segera bangkit dan menatap tajam pada Sadewa yang sudah berdiri gagah dengan Perisai Dewa nya," Raja Buana Kelam,pemuda ini sangat luar biasa,sepertinya kita tak bisa memandang remeh anak ini..",Raja Buana Kelam cuma membalas dengan mengangguk cepat," Ayo kita hantam anak ini dengan dua pukulan sekaligus dari dua arah berlawanan..!" Ucapnya kemudian,Raja Iblis Merah yang paham maksud rekannya segera menggeser tubuhnya ke sisi kiri Sadewa,sambil berteriak nyaring Raja Iblis Merah hantamkan dua tangan nya melepas Pukulan Cakrawala Merah dan Pukulan Tapak Mega Merah ke arah sisi kiri Sadewa,Raja Buana Kelam melesat cepat sambil lepaskan Pukulan Cahaya Kelam dan Pukulan Surya Neraka,empat pukulan melesat cepat ke arah Sadewa dari dua arah,sambil berputar cepat Sadewa hantam kan tangan kanan nya ke arah Raja Iblis Merah,Pukulan Tinju Naga Perkasa melesat ke arah lawan di sertai raungan naga murka,kemudian secepat kilat Sadewa ayunkan tangan kirinya melepas kan Pukulan Tameng Sakti Dewa Langit ke arah Raja Buana Kelam,tak tanggung-tanggung Sadewa segera menyusul lepaskan Pukulan Sinar Lentera Dewa ke arah dua sisi nya dengan tangan kanan dan kiri,dua dentuman keras bergemuruh,sesaat kemudian di sambung oleh dentuman keras yang kembali bergemuruh dahsyat,kawasan di mana pertarungan berlangsung porak-poranda,batu-batu besar di sekitar tepi sungai pecah berkeping-keping di hantam angin Pukulan,Raja Iblis Merah meraung keras bersama tubuhnya yang terlempar jauh kebelakang,sejenak Raja Iblis Merah masih coba bertahan,namun kemudian semburkan darah segar dari mulutnya,selanjutnya tergeletak tak bernyawa,tak jauh beda Raja Buana Kelam cuma sempat mengeluarkan teriakan tertahan,tubuhnya terpotong-potong di hantam Perisa Dewa yang laksana Cakra raksasa memotong-motong tubuhnya. Sadewa tergeletak dengan luka sangat parah,pakaiannya hangus di beberapa bagian,tangan kanan dan kirinya patah sebatas pergelangan,dari mulut hidung dan telinganya darah mengucur deras,nafasnya terlihat memburu,tak lama kemudian menyusul tergeletak tak sadarkan diri. " Sadewa..!!" Pekik Nirmala sambil berlari cepat ke arah Sadewa,Umar Ibnu Sabbir dan Bidadari Seruling Rajawali segera melompat menyusul," Sadewa terluka sangat parah,aliran darah nya kacau balau,kau harus segera membawanya.." Ucap Nenek Kintan setelah memeriksa keadaan Sadewa,Umar Ibnu Sabbir cuma mengangguk,kemudian merunduk mengambil Perisai Dewa di tanah,kemudian dengan satu gerakan cepat menggendong Sadewa di pundak,lalu melesat cepat ke arah Timur. (3) " Biarkan Sadewa di bawa gurunya,insya allah kau akan kembali bertemu dengannya.." Ucap Nenek Kintan pada Nirmala yang terlihat cemas,kemudian nenek tua berpakaian serba putih dengan Seruling Putih Tulang Rajawali di tangan kanan nya melangkah ke arah Hantu Seribu Nafsu yang masih tergeletak lemah di tanah," Adiku Gandamayit,aku terpaksa melakukan ini padamu,inilah satu-satunya cara untuk menyelematkan hidupmu.." lalu menoleh ke arah Nirmala," Jangan lakukan Kintan,aku mohon,jangan berangus semua ilmu yang sudah ku pelajari selama puluhan tahun,aku mohon..!!" Ucapnya memohon,Bidadari Seruling Rajawali mengangguk ke arah Nirmala yang sudah memegang sebuah Paku hitam dengan ujung putih namun terdapat bercak darah di sekitar ujung lancip nya,Hantu Seribu Nafsu terlihat pucat pasi,tubuh nya gemetar ketakutan," Aku mohon Kintan,jangan lakukan..!!" teriaknya ketakutan,namun ucapannya cuma sampai di situ,dengan kecepatan kilat Nirmala hujamkan Paku Putih Pemasung Asura ke tengkuk Hantu Seribu Nafsu,raungan nya sangat menggidikan,dari kepalanya keluar asap hitam pekat,dari mata,hidung,mulut dan telinganya darah hitam kental keluar di sertai bau sangat busuk,Nirmala dan Bidadari Seruling Rajawali melangkah mundur menjauh,tak lama kemudian sosok Hantu Seribu Nafsu tergeletak tak sadarkan diri. " Apa yang kemudian akan terjadi pada nya Nek..?" Ucap Nirmala," Yang pasti kesaktiannya akan musnah,Tubuhnya akan lumpuh selama tiga ratus hari,aku harus merawatnya selama itu.." Jawabnya dengan suara parau menahan kesedihan,tak lama sesosok tubuh berkelebat cepat ke arah mereka," Bibi Larasati..!",seru Nirmala girang,Nyi Larasati cuma tersenyum sambil membelai rambutnya,kemudian melangkah ke arah Nenek tua di samping Nirmala," Guru..maaf aku terlambat.." Ucapnya sambil menunduk hormat,Bidadari Seruling Rajawali cuma tersenyum kemudian mengangguk ke arah Dewa Tangan Seribu," Mana Sadewa,apa kau tak bersamanya..?" tanya Dewi Tangan Seribu sambil menoleh ke arah Nirmala," Pendekar muda itu terluka parah,gurunya Umar Ibnu Sabbir yang membawanya pergi.." Jawab Nenek tua di samping Nirmala,Dewi Tangan Seribu terkejut mendengar penuturan gurunya,wajahnya sejenak berubah. " Apa sekarang yang akan kita lakukan padanya guru..?" Ucapnya memecah kesunyian sambil menoleh ke arah sosok Hantu Seribu Nafsu yang tergeletak lemah di tanah," Aku akan membawanya,aku yang akan merawatnya selama masa kelumpuhanya.." Jawab Bidadari Seruling Rajawali,kemudian di bantu Nirmala dan Dewi Tangan Seribu,Nenek tua itu menggendong adiknya di bahu kanan," Jaga diri kalian baik-baik.." Ucapnya singkat,lalu melesat cepat ke arah barat sambil membawa tubuh adiknya di bahu kanan.(4) Nirmala mendekati bibi guru nya yang masih berdiri menatap ke arah pohon besar di ujung halaman pondok kayu,terlihat sesosok laki-laki bertubuh tinggi besar berdiri menatap mereka dari kejauhan," Sepertinya aku pernah melihat orang bertubuh raksasa itu bibi,apakah bibi mengenalnya..?" tanya Nirmala kemudian,Dewa Tangan Seribu cuma diam,kemudian menoleh ke arah gadis di sampingnya," Urusan kita di tempat ini sudah selesai,ayo kita pergi.." ucapnya sambil memegang tangan Nirmala," Kemana kita akan pergi bibi,aku mengkhawatirkan Sadewa.." jawab Nirmala sambil tertunduk,Dewi Tangan Seribu cuma tersenyum," Jangan khawatir,Sadewa baik-baik saja,dia aman bersama gurunya,ayo kita pergi..!",kemudian kedua wanita ini melesat pergi ke arah barat,sosok tinggi besar yang masih berdiri di kejauhan cuma menatap dua bayangan wanita itu yang semakin jauh. " Kemana Larasati akan membawa keponakan ku,aku harus tau kemana tujuan mereka.." gumamnya dalam hati,baru akan bergerak mengejar," Tetap di tempatmu Genderuwo Agung..!!" Satu suara keras terdengar bersama melesatnya sebuah bayangan biru dari kejauhan,tak lama di hadapannya sudah berdiri seorang laki-laki berumur Lima puluh tahun,badannya tinggi tegap,wajahnya tampan,sebuah kumis tipis menghias wajahnya," Raja Pesolek..apa maksud mu menahan langkahku..?",ujar Genderuwo Agung sambil menatap dingin pada seseorang di depannya,Raja Pesolek cuma tersenyum,kemudian maju dua langkah kedepan," Aku melihat bekas pertarungan di sini,apakah kau ikut terlibat dalam pertarungan ini..?"," Aku pun baru sampai,tapi menurut orang yang sebelumnya berada di sini,telah terjadi pertarungan hebat antara Satria Perisai Dewa dengan para manusia yang sudah jadi mayat itu.." Jawabnya sambil menunjuk mayat-mayat yang bergeletakan menyebar di sekeliling dataran luas itu. Raja Pesolek cuma menggeleng,pandangannya berputar melihat apa yang terjadi," Sukar di percaya,pemuda itu yang menghabisi Raja Iblis Merah,Dewa Tangan Batu,Raja Buana Kelam dan Dua Raja Tarung.." ujarnya kemudian," Tapi itu lah kenyataan nya,memang pemuda itu yang membunuh mereka.."," Mana pendekar muda itu,apa dia juga sudah pergi..?"," Dia pergi bersama gurunya dalam keadaan terluka parah..",Raja Pesolek cuma bergumam pelan,kemudian melangkah ke arah potongan kepala Raja Buana Kelam," Sehebat itu kah,pendekar muda bergelar Satria Perisai Dewa ini.." gumam nya dalam hati,kemudian kembali balikan badan pada Genderuwo Agung," Kau tau sekarang di mana keberadaan Kitab Pusaka Dasar Samudra..?",Genderuwo Agung cuma mendengus," Aku kemari bukan karena urusan segala Kitab,jadi aku tak bisa menjawab pertanyaan mu.." jawab nya ketus,Raja Pesolek tertawa pelan," Aku sudah menduga apa urusan mu ke sini,ketahui lah Genderuwo Agung,jika kau sengaja menyembunyikan perihal Kitab pusaka itu,aku akan mencari mu sampai ke liang kubur..!" ucapnya di sertai pandangan tajam,Genderuwo Agung balas tertawa," Ha..ha..kau berani mengancam ku..?,siap kan sepuluh nyawa untuk mu,aku akan menunggu tantangan mu,apa kalau di rasa perlu saat ini kita bisa sedikit bermain-main.." Jawabnya dengan senyum mengejek ke arah Raja Pesolek,laki-laki tampan di depannya cuma tersenyum," Tidak hari ini kawan,aku tau kau masih punya hutang hidup yang harus kau jelaskan,aku beri kau sedikit waktu untuk membayar hutangmu itu..!" Jawab Raja Pesolek,kemudian putar tubuh dan segera melesat pergi. Genderuwo Agung cuma menggembor marah,setelah sosok Raja Pesolek sudah terlihat menjauh,laki-laki bertubuh raksasa kembali memandang ke arah yang di tempuh Nirmala dan Dewi Tangan Seribu kemudian segera melesat ke arah yang sama. (5) Umar Ibnu Sabbir melesat cepat ke arah sebuah lembah subur di kaki gunung Merapi,di tengah Lembah berkabut itu terdengar gemuruh air terjun,sambil melompat-lompat ringan di atas batu-batu di sekitar aliran air,Umar ibnu Sabbir sampai di sebuah pondok tua yang mulai reot. " Syukur kau masih bisa bertahan murid ku,kalau kau tak punya tenaga dalam yang cukup,luka ini pasti sudah membunuhmu.." gumam nya kemudian,tubuh Sadewa di baringkan di atas sebuah ketiduran dari batang pohon beralaskan jerami kering,wajah pemuda itu terlihat pucat,bibirnya membiru,dan kedua pergelangan tangan nya yang patah mulai menghitam," Semoga Allah memberi kesembuhan pada mu Sadewa,minum lah air Bunga Dewa ini.." ucap nya sambil mengangkat sebuah cangkir kayu ke mulut Sadewa,kemudian menotok beberapa bagian tubuh Sadewa. Hari terus berganti minggu,minggu berganti bulan,Sadewa duduk dengan wajah pucat di bawah gemuruh air terjun yang membasahi tubuhnya," Ku rasa semedi mu cukup murid ku,kemarilah..!" Seru Umar Ibnu Sabbir pada Sadewa,tak lama pemuda itu berlahan membuka matanya,kemudian segera bangkit dan melesat cepat ke arah pondok kayu,di sebuah batu di depan pondok,terlihat Umar Ibnu Sabbir duduk di atas batu beralaskan tikar butut. " Sadewa,sudah tiga puluh dua hari kau mendapat pengobatan sejak luka akibat pertarungan mu dengan Raja Iblis Merah dan gerombolannya. Ku rasa luka mu sudah berangsur sembuh,sambil berjalannya waktu tenaga dalam mu sudah kembali terhimpun sempurna,ku rasa ada baiknya kau teruskan pengembaraan mu murid ku.." ucap sosok bertubuh tinggi besar berkulit gelap di depannya," Guru,,aku merasa berat untuk meninggalkan mu,biar lah aku sedikit lebih lama menemani mu di sini.." jawab Sadewa dengan lembut,Umar Ibnu Sabbir cuma tersenyum,kemudian melangkah ke arah Sadewa yang masih berdiri dengan wajah tertunduk," Sadewa...dunia persilatan membutuhkan mu,banyak hal yang terjadi selama kau dalam masa pengobatan. Ku rasa kau harus segera pergi menunaikan baktimu sebagai pendekar..",Sadewa cuma terdiam," Besok pagi lanjutkan pengembaraan mu,pergilah ke arah timur,cari seseorang bernama Datuk Palito Alam,kau akan dapat banyak arahan dari nya.."," Baik guru,kalau itu sudah menjadi perintahmu,aku akan melakukannya sebaik mungkin..". Esok harinya Sadewa berlari cepat menyusuri Lembah hijau di tepian hutan di kaki gunung Merapi,di punggungnya Perisai Dewa tergantung,pakaian putihnya berkibar-kibar di tiup angin,setelah berlari cukup lama,Sadewa melompat tinggi ke atas sebuah pohon berdaun rindang," Sebaiknyaa aku istirahat di atas pohon ini,pemandangan dari sini terlihat sangat indah.." Gumamnya pelan,namun tak lama duduk sambil ongkang-ongkang kaki," Keberadaan mu di sini mengganggu aku anak muda,siapa kau..?" Satu suara menegur dari arah samping,Sadewa terkejut kemudian menoleh cepat ke arah samping kanannya," Siapa kakek tua ini,tadi aku tak melihat siapa-siapa di atas pohon ini,kenapa mendadak dia ada di sini..?" gumam Sadewa bertanya dalam hati,di samping kanannya sejarak dua tombak di atas sebuah ranting pohon yang tak terlalu besar,duduk seorang kakek tua berpakaian putih,berwajah sangat merah,di kedua tangannya terdapat gelang besar terbuat dari perak putih,matanya terlihat menyeramkan karena berwarna biru. Setelah menatap cukup lama,Sadewa segera sedikit membungkuk ke arah kakek tua," Maaf kalau aku mengganggumu,nama ku Sadewa,siapakah gerangan kakek ini..?" jawab Sadewa singkat,kakek tua cuma tersenyum sambil mengangguk-angguk," Perisai Di punggung mu sudah menjelaskan pada ku siapa adanya engkau anak muda. Satria Perisai Dewa,bukan kah begitu orang dunia persilatan memanggil mu?", Si kakek tatap Sadewa dengan mata birunya,kemudian menggeser duduk nya supaya lebih nyaman," Aku orang tua pikun ini cuma seorang yang suka berjalan tampa tujuan,orang memanggilku Dewa Maut Mata Biru. Aku sengaja menunggumu di sini...",Sadewa menatap heran pada sosok tua di depannya," Untuk apa kakek menungguku,dan bagaimana kakek tau aku akan melalui jalan ini..?",Dewa Maut Mata Biru cuma tersenyum,kemudian dengan sekali gerakan ringan tubuhnya sudah berada di bawah pohon," Kakek ini bukan orang sembarangan,ilmu meringankan tubuh nya amat sempurna.." gumam Sadewa dalam hati,kemudian segera menyusul melompat turun. Kini kedua orang ini sudah berdiri berhadapan," Ketahui lah anak muda,aku bermaksud membunuh mu,Raja Buana Kelam adalah saudara kandung ku,aku ingin menuntut balas kematian adik ku,tapi aku tau luka mu belum sembuh,maka aku memberi mu kesempatan sampai purnama mendatang,aku tak akan membunuh seseorang yang tak bisa memberi perlawanan,ingat itu. Purnama mendatang ku tunggu kau di tempat di mana adiku kau bunuh.." Ucapnya sambil tersenyum,kemudian melesat pergi meninggalkan suara tawa menggema. (6) Siang hari di kota raja Mataram,dalam sebuah bangunan besar,di depan sebuah jendela kamar yang cukup luas,seorang gadis tampak termenung sambil menatap jauh keluar jendela," Sekian lama aku tak bertemu dengan nya,berita yang ku dengar dia terluka parah. Sadewa,,,bagaimana keadaan mu sekarang,kemana lagi aku harus mencarimu.." gumam nya dalam hati,tak lama kemudian sebuah ketukan menyadarkan gadis yang tak lain Ratna Ayu dari lamunan," Den ayu,ada seseorang menunggu mu di ruang tamu.." satu suara terdengar dari luar kamar," Apakah ayah ku sudah kembali.." gumamnya,kemudian segera melangkah membuka pintu kamar,seorang wanita tua tampak berdiri sedikit membungkuk," Siapa yang menungguku bi inang..?"," Saya tidak tau non,cuma katanya ada perlu penting menemui den ayu.." Ucapnya menjelaskan," Apakah seseorang dari istana yang datang..?",wanita tua menggeleng," Apakah pangeran Jayasena yang bertandang kemari..?" lagi-lagi wanita tua itu menggeleng,Ratna Ayu cuma menghela nafas," Baiklah aku akan segera menemui siapa yang bermaksud menemui ku,buat kan dia minum.." Ucapnya,kemudian segera kembali masuk dalam kamar. Ratna Ayu melangkah keluar dengan pakaian ringkas berwarna biru gelap,rambutnya di kucir kebelakang. Setelah sampai di ruang tamu,Ratna Ayu terlonjak kaget setelah tau siapa yang datang menemuinya," Sadewa..!!" Pekiknya sambil berlari cepat ke arah seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap berpakaian putih,tampa malu di lihat oleh para pembantu rumah,Ratna Ayu memeluk pemuda pujaan nya dengan erat,Sadewa cuma membalas dengan senyuman kecil," Kau baik2 saja Ayu..?" Ucapnya pelan,sambil membelai lembut rambut gadis berpakain biru dalam pelukannya,Ratna Ayu cuma menjawab dengan anggukan kecil,lalu kembali benamkan wajahnya di dada bidang pemuda dalam pelukannya," Aku sekian lama mencarimu,bagaimana keadaan mu Sadewa,aku merindukan mu..?",Ucapnya lirih menahan tangis," Aku baik-baik saja.." Jawab Sadewa singkat. Sejenak dua muda-mudi ini saling pandang,cukup lama mereka saling memandang,sampai terdengar suara seseorang batuk-batuk kecil dari arah belakang,keduanya segera menoleh cepat sambil saling melepaskan pelukan satu sama lain," Ayah..!" seru Ratna Ayu pada seorang laki-laki berumur enam puluh tahun,tapi berbadan sehat dan sedikit gemuk," Gusti Tumenggung.." Ucap Sadewa Sambil membungkuk hormat,sosok yang tak lain Tumenggung Damarjati cuma tersenyum ke arah anak nya dan Sadewa,kemudian melangkah ke arah Sadewa dan Ratna Ayu di iringi seorang wanita setengah baya yang masih menyisakan bekas kecantikan di wajahnya," Pendekar muda,kami senang kau mampir,apa kau selama ini dalam keadaan baik..?",Sadewa segera membungkuk hormat," Semuannya berjalan baik Gusti Tumenggung.." Jawab Sadewa terlihat canggung,Ratna Ayu yang berada di damping ibunya cuma tersenyum. Bersambung..