SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
PARTAI TENGKORAK


__ADS_3

(1) Sadewa menatap jasad Raja Racun Utara,kemudian menoleh ke arah pertarungan Gembul edan melawan Si Tongkat baja dan Juwita maut yang sudah terlibat pertarungan hebat dengan Si Kelabang merah. Tampak Gembul edan berkelebat cepat,dalam satu kesempatan tendangan kaki kanan nya berhasil telak menghantam tulang kering Si Tongkat Baja,sambil melompat mundur Si Tongkat Baja masih sempat menyusupkan tongkatnya ke arah perut Gembul Edan,tak mau ambil resiko,Gembul Edan silangkan kedua tangannya ke bawah menahan derasnya pukulan Si Tongkat Baja,benturan tangan dan tongkat hitam membuat Gembul Edan merasakan tangannya seolah mati rasa,kedua tangannya tampak bengkak kebiruan,sedangkan Si Tongkat Baja melihat ujung tongkat nya yang gompal di beberapa bagian. " Kurang ajar,gendut sialan..!,bersiaplah menerima kematian..!!",dengan sangat marah Si Tongkat Baja kembali melompat cepat hantamkan tongkat bajanya ke arah kepala Gembul Edan,ini lah jurus maut nya yang bernama Tongkat Dewa Maut,tongkat baja di tangannya berubah menjadi sinar hitam menggidikkan,berkelebat cepat dari atas menghujam ke bawah,Gembul Edan segera hantamkan tangan kiri nya ke atas menyambut pukulan Tongkat Dewa Maut dengan pukulan Gelombang Langit,sebentuk sinar putih terang panas luar biasa menyapu ke atas,dentuman keras terdengar di saat kedua pukulan beradu di udara,bunga api berpijar ke segala arah,Si Tongkat Baja tampak terdorong ke atas,tongkat di tanganya terlempar jauh,setelah bisa mendarat dengan kedua kakinya,Si Tongkat Baja tampak pucat,kedua tangannya bergetar,tak lama kemudian terduduk memuntahkan darah segar,Gembul Edan yang sampai melesak kedua kakinya ke tanah sedalam satu jengkal,setelah berhasil menguasai keadaan kemudian berjalan ke arah Si Tongkat Baja," Kau terluka parah,sebaiknya sudahi pertempuran ini.."," Kali ini kau menang,tapi lain kali aku akan membalas kekalahan ini berikut bunga nya..!!",jawab Si Tongkat Baja,setelah itu menoleh ke arah Si Kelabang merah yang saat itu pun sedang dalam detik-detik terakhir pertempurannya dengan Juwita maut,tampak Kelabang merah sudah cukup terluka,pukulan dan tendangan Juwita Maut bertubi-tubi menghantam tubuhnya,dalam satu kesempatan sambil bergerak mundur,Si Kelabang Merah pukulkan tangan kanan nya kedepan,sebuah gelombang asap berwarna biru pekat bergerak cepak ke arah Juwita Maut," Pukulan Tujuh Racun,siapa takut..!!",sahut Juwita Maut yang mengetahui pukulan yang di lepaskan Kelabang Merah,sambil bersiap lepas kan pukulan Pelangi Senja,seberkas sinar pelangi redup berkiblat ke arah pukulan Tujun Racun yang di lepaskan lawan,dua pukulan beradu di udara,dentuman keras bergemuruh,tampak pukulan Tujuh Racun buyar di udara di hantam pukulan Pelangi Senja,Si Kelabang Merah terlempar deras kebelakang,pakaiannya tampak hangus,dari hidung dan telinganya tampak darah mengalir,setelah mencoba bertahan,kemudian Kelabang Merah roboh sambil muntahkan darah segar. Melihat kondisi kawannya yang terluka parah,Si Tongkat Maut segera berkelebat menyambar tubuh Si Kelabang merah," Kalian tak akan dapat menghalangi berdirinya Partai Tengkorak,dan Kau Satria Perisai Dewa,kau akan menerima kematianmu..!!" Ucap Si Tengkorak Baja sambil menoleh ke arah Sadewa dan segera pergi meninggalkan arena pertempuran.(2) "Sobatku banci kaleng,apa kau baik-baik saja..?",tanya Gembul Edan melangkah ke arah Juwita Maut yang masih menungging tersapu pukulan Tujuh Racun," Gendut sialan,kau tak lihat aku terluka dalam..!",semprotnya ke arah sobat nya yang tampak senyum-senyum ke arahnya," Cepat atur jalan darah mu,luka mu cukup parah..",Sadewa berjalan mendekat. " Aku baik-baik saja,sepertinya Raja Racun Utara sudah berhasil kau lumpuhkan..",jawab Juwita Maut kemudian,tampak Anjarini dan tiga orang murid Ki Tapak Angin yang masih hidup berjalan ke arah mereka,Sadewa sesaat menatap ke arah Anjarini yang saat itu pun sedang menoleh ke arahnya,"Apa kau baik-baik saja Anjarini..?",sesaat Anjarini tergagau dengan muka merah,sambil sedikit menunduk, " Aku baik-baik saja,kau sendiri bagaimana Sadewa,kau terlihat terluka..?" jawab Anjarini,sejenak kedua muda-mudi ini tampak beradu pandangan," ha..ha..cuma Sadewa yang di tanya,malang nasib kita sobatku banci..!" tawa Gembul Edan mengejutkan semua orang," Dasar orang sinting,kau selalu merusak suasana...!!" semprot Juwita Maut sambil melotot. Sadewa dan Anjarini tampak tersenyum malu," Terima kasih paman berdua juga telah menyelamatkan nyawa kami.." Ucap Anjarini kemudian pada Gembul edan dan Juwita Maut," Sepertinya kami harus segera mengurus jenazah guru dan rekan-rekan kami yang lain,kami mohon diri.." lanjutnya kemudian," Apakah kita akan bertemu lagi Anjarini..?" Sadewa melangkah ke arah Anjarini,sambil sedikit tersenyum,Anjarini kemudian mengangguk. Setelah kepergian Anjarini dan rekan-rekannya," Dulu aku pun cantik seperti gadis itu.." Juwita maut berucap kemudian,Gembul Edan tak dapat menahan tawa,sedangkan Sadewa menunduk sambil menyembunyikan senyum," Sepertinya urusan Raja Racun sudah selesai,aku mohon diri paman,aku harus melanjutkan perjalananku.."," Tunggu dulu Satria perisai dewa..!!" Seru Gembul Edan," Namaku Sadewa paman.."," ha..ha..Aku rasa gelar yang di berikan Si Tongkat Baja cocok untukmu anak muda.." sahut Gembul Edan selanjutnya." bulan purnama di muka,pergilah ke Perguruan Harimau Putih di kaki gunung Merapi,mungkin kau akan bisa bertemu tokoh-tokoh tua golongan putih nanti di sana.."sambungnya. Setelah cukup lama berpikir," baiklah paman,aku berjanji akan mampir.." Setelah itu Sadewa segera berkelebat cepat ke arah selatan. " Satria Perisai Dewa,,,Julukan yang akan segera menggegerkan dunia persilatan tanah jawa.." Gumam Juwita maut. " Sobat ku banci,sebaiknya kita lanjutkan niat kita mencari kakang Sabda langit.."," Dewa Naga Samudra..!,kemana kita kan mencarinya..?" tanya Juwita Maut,Gembul Edan tampak berpikir,setelah cukup lama diam," Apa tidak lebih baik kita tanyakan pada sahabatnya Ki Juru Ukir di istana..?" jawabnya kemudian,lalu tampa menunggu lama kedua sahabat itu segera berkelebat ke arah pusat kota kerajaan Mataram. (3) Hujan deras tampak belum menunjukan tanda berhenti,di suatu teluk yang bernama Teluk Penanjung di kawasan Pantai selatan,di tengah gelombang tinggi dan angin kencang yang menyertai hujan deras,sebuah perahu melaju kencang ke arah pantai,di atas perahu tampak dua orang berdiri seolah tak terpengaruh oleh gelombang besar yang terus menerus menghantam badan perahu,dapat di pastikan mereka bukan orang-orang sembarangan,setelah cukup dekat dengan pantai,kedua nya segera melesat cepat ke arah sebuah batu besar di tepi pantai Teluk Penanjung. " Sahabat Gembong Kalimati kami datang..!!",Satu suara keras di tengah hujan deras terdengar,tak lama kemudian kedua orang yang baru datang tampak sudah berdiri di atas sebuah batu besar. Tak jauh dari batu hitam,di gugusan batu karang tampak sesosok bayangan berlari cepat ke arah batu besar,tak lama kemudian " Selamat datang kakang Tongkat Baja dan sahabat Kelabang Merah.." tegur satu sosok tinggi besar di hadapan kedua orang yang baru datang yang tak lain Si Tongkat Baja dan Si Kelabang Merah. " Siapa orang ini kakang..?" Kelabang merah tampak berbisik pada Si Tongkat Baja,setelah menatap lelaki bertubuh tinggi besar berpakaian biru gelap dengan sebuah pedang panjang di punggungnya," Dia adalah kakak seperguruan Raja Racun Utara,namanya Gembong Kalimati,bergelar Raja Lanun Selatan.." Si tongkat Baja menjelaskan. " Aku sudah mendengar kabar yang menimpa adik seperguruan ku Raja Racun Utara,aku berniat menuntut balas pada pemuda yang bergelar Satria perisai Dewa itu,apakah kakang sudah mengetahui di mana dia saat ini.."," Sabar adik Gembong,kita tak usah buru-buru,saatnya untuk menghabisi Satria Perisai Dewa,Si Gembul Edan dan Juwita maut akan tiba waktunya.."," Justru perihal pendirian Partai Tengkorak yang harus segera kita matangkan,ku dengar kabar para pendekar golongan putih akan berkumpul purnama mendatang di Perguruan Harimau Putih.." sambung Si Tongkat Baja," Betul kakang,,,rencana mendiang Raja Racun Utara harus kita lanjutkan,rekan-rekan dari satu golongan sudah siap membantu..",sambung Kelabang Merah. Setelah sejenak berpikir," bagaimana dengan luka dalam kalian,ku dengar kakang dan sahabat Kelabang Merah terluka parah setelah bertempur dengan mereka.." ucap Gembong kalimati kemudian," Setelah sepuluh hari bermeditasi,luka dalam kami berangsur sembuh,tak usah khawatir adik Gembong.." jawab Si Tongkat Baja. " Raja Lanun Selatan,sekarang apa rencana kita selanjutnya..?" Kelabang merah memecah kesunyian setelah cukup lama diam,sosok tinggi besar yang selama ini di kenal sebagai seorang pemimpin perompak yang di kenal dengan Raja Lanun Selatan tampak berpikir keras,tak lama kemudian " Segera sahabat Kelabang Merah dan Kakang Tongkat Baja susun rencana untuk berkumpul di sini dua purnama mendatang,aku akan segera menemui guru ku Si Malaikat katai.."," Sebarkan undangan untuk para perguruan yang satu golongan,kita harus segera mendirikan Partai Tengkorak.." sambungnya kemudian,setelah paham dan mengangguk,Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah segera berkelebat pergi ke arah Utara. Gembong Kalimati cukup lama berdiri sendiri di tengah hujan deras di Teluk Penanjung," Aku harus segera menemui guru,aku harus memberi tau tentang kematian Raja Racun Utara adik seperguruan ku.." Gumamnya kemudian,selanjutnya dengan sekali lompat,sosok tinggi besar itu sudah jauh berlari ke arah Timur. (4) Dalam sebuah Gua di sebuah ngarai yang cukup dalam,tampak dua orang duduk bersila,di sebelah depan tampak duduk satu sosok yang luar biasa dahsyat,bertubuh pendek,berpakaian hitam gombrong,tampak rambutnya yang putih riap-riapan menutupi mukanya,inilah salah seorang dedengkot golongan hitam yang di kenal dengan gelar Si Malaikat Katai. Di sebelah depan duduk seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan sebuah pedang besar di punggungnya,yang tak lain adalah Gembong Kalimati," Guru,itu lah berita yang ku terima dari kakang Tongkat baja,adik Raja Racun Utara tewas di tangan pemuda yang di kenal dunia persilatan saat ini dengan gelar Satria Perisai Dewa..",sosok pendek yang di kenal dunia persilatan dengan gelar Malaikat Katai nampak terdiam,kemudian dia berdiri melangkah kesudut gua yang ternyata cukup luas,kemudian mengambil sebuah Kitab kuno yang terlihat sudah sangat tua sekali,sampulnya terlihat sudah hancur dan sebagian sudah menjadi bubuk. " Ini adalah kitab peninggalan leluhur ku,dalam kitab ini tertulis sebuah tulisan yang berkisah tentang pertarungan para Asura dan Raksasa di jaman dahulu kala dengan Sekelompok manusia pilihan para Dewa,di mana salah seorang dari mereka yang bertindak sebagai pemimpin bersenjatakan sebuah senjata luar biasa dahsyat berupa sebuah perisai bergambar Naga bermata biru.."," Apakah senjata maha dahsyat ini sudah kembali muncul..?" gumamnya pada sosok di depannya,sejenak Gembong Kalimati tampak terdiam cukup lama," kakang Tongkat Baja tidak menjelaskan secara rinci seperti apa bentuknya guru,tapi benda itu sanggup menembus pukulan Tapak Seribu Bisa dengan mudahnya,bahkan Perisai itu yang membuat adik Raja Racun Utara meninggal dengan jasad yang tak utuh lagi,benar-benar senjata yang luar biasa.." ucap Raja Lanun Selatan menjelaskan. " Ya,,,aku juga mendapat kabar yang sama,tapi apa mungkin senjata mustika seperti itu di wariskan pada seorang pemuda yang berumur belum dua puluh tahun..?",gumam Malaikat Katai kemudian, " Jadi apa maksud mu ke sini Gembong,apa rencana mu selanjutnya..?"," Pendirian Partai Tengkorak akan saya lanjutkan guru,saya sudah menyusun rencana untuk mengumpulkan kawan-kawan satu golongan dua purnama mendatang,saya harap guru mau membantu..", jawab Gembong kalimati. Sejenak Malaikat Katai tampak menatap muridnya," Apakah harus aku turun tangan menyelesaikan urusan ini..?, Aku sudah bosan dengar hiruk pikuk dunia persilatan,sejak musuh besarku tidak lagi tau rimbanya,aku merasa memang sudah tak ada lagi tantangan untuk ku di dunia persilatan saat ini.." ucapnya kemudian. " Tapi aku setuju rencana mu,segeralah persiapkan pendirian Partai Tengkorak,semakin cepat kau laksanakan semakin baik.."," Baik guru,murid mohon diri sekarang juga .." Jawab Gembong Kalimati,setelah membungkuk hormat,kemudian dia segera keluar dari gua kediaman guru nya. (5) Hari semakin gelap saat Sadewa memasuki sebuah hutan," apa aku harus terus berjalan,hari sepertinya sebentar lagi malam,hutan ini sepertinya cukup jarang di lalui orang..",Setelah sejenak berpikir,kemudian Sadewa segera melangkah memasuki hutan dengan berjalan pelan. Malam kian larut,rasa dingin mulai terasa menusuk,sambil membuat api unggun Sadewa duduk di sebuah cekungan batu yang membentuk sebuah gua kecil,Sadewa duduk sambil memandangi Perisai Dewa Langit di depannya," Sangat tak terbayangkan kekuatan yang tersimpan dalam benda ini,masih banyak hal yang belum aku tau tentang Perisai Dewa Langit ini.."," bahkan di saat udara dingin menusuk seperti ini,benda ini seolah mengalirkan hawa murni hangat yang membuat tubuhku seakan tak merasakan dinginnya hari..",sekian lama larut dalam lamunan. " Ha..ha..Hancur leburkan semua,binasa kan..!!" satu suara mengguntur memecah kesunyian,Sadewa berlari cepat sambil menyiapkan Perisai Dewa di tangan kirinya,aliran tenaga dalam nya membuat Perisai Dewa bercahaya biru terang,setelah cukup jauh berlari ke arah suara,akhirnya Sadewa melihat pemandangan yang luar biasa. Di hadapan Sadewa terlihat Pertarungan dahsyat,lima Raksasa bertubuh luar biasa besar terlibat bertarungan dengan dua mahluk aneh,satu orang berwujud manusia bertubuh tinggi besar berwajah kera berbulu putih dan seorang lagi dengan tubuh bersisik dan memiliki dua tanduk di kening,tubuh nya berwarna keputihan laksana perak. Pertarungan berlangsung sengit,teriakan-teriakan mereka sekeras guntur yang mengguncang bumi,tampak sang manusia kera berkelebat cepat laksana angin,kedua tangannya bercahaya,merah di tangan kanan,dan biru di tangan kiri,pukulan-pukulan nya dahsyat menghantam para Raksasa bertubuh tinggi besar,taring di mulut dan tanduk di kepala mereka sangat besar,wajah yang sangat menyeramkan dengan rambut panjang kriting. " Ajian Brajamusti..!!" Teriak sang kera putih raksasa sambil hantamkan tinju kanan nya yang berwarna merah membara,seorang Raksasa bertubuh hitam besar tampak terlempar jauh kebelakang dengan tubuh hancur lebur,di tempat lain tiga Raksasa mengeroyok seorang pemuda yang tubuh nya bersisik dan terdapat dua tanduk di kepalanya,hantaman-hantaman para Raksasa yang laksana godam raksasa seolah tak membuat nya goyah sedikitpun,pertarungan nya berlangsung seru,area sekitar pertarungan yang berupa hutan dan lembah tampak sudah porak-poranda,setelah pertarungan yang cukup lama akhirnya tersisa satu Raksasa yang bertubuh merah,kedua tangannya yang besar berbulu tampak laksana kobaran api yang menghantam kera putih dan pemuda bertanduk naga,kedua lawan yang sangat hebat tampak terdesak,pemuda bertanduk naga yang memiliki pukulan berwujud Halilintar berwarna biru tampak terlempar jauh kebelakang di hantam tendangan Raksasa merah,kera putih meraung dahsyat hantamkan tangan kanan dan kiri sambil melompat ke arah Raksasa merah," Aku Dwarapala Angkoro akan membunuh kalian berdua,kematian empat anak buah ku harus kalian tebus dengan nyawa kalian..!!!" Teriak sang Raksasa keras laksana guntur,dengan cepat Raksasa Dwarapala sambut pukulan sang kera putih dengan hantaman kedua tangan yang di kobari api,dentuman dahsyat terdengar mengguncang bumi,angin pukulan mereka pecah menyebar membuat kayu-kayu raksasa di sekitar hutan dan lembah sampai tercabut beterbangan,Sadewa yang masih berdiri di atas batu tinggi tampak berusaha bertahan dari sapuan angin dahsyat,sambil berusaha berlindung di balik Perisai Dewa di tangan kiri yang ia gunakan untuk menghalangi terpaan keras angin pukulan,dengan sekuat tenaga Sadewa berusaha bertahan,Perisai Dewa semakin memancarkan cahaya biru terang yang semakin membesar laksana tameng raksasa berwarna biru terang,desing putaran Perisai yang keras laksana cakra raksasa membuat perhatian Raksasa dan kera putih besar terpecah,sontak mereka menoleh ke arah batu tinggi di ujung kiri bukit di sebelah mereka," Perisai Dewa Langit..!!" sontak satu suara berteriak,pemuda bertubuh tinggi besar dengan tubuh bersisik dan memiliki tanduk tampak berlari cepat ke arah Sadewa,setelah berada di dekat Sadewa dia tampak tertegun menatap ke arah Sadewa yang berdiri dengan Perisai Dewa yang berputar cepat mengeluarkan desingan keras memekakkan telinga. Raksasa Dwarapala Angkoro yang terkejut tampak melompat mundur," Siapa kau anak manusia,bagaimana mungkin kau sanggup membawa Perisai Dewa Langit dengan sebelah tangan,para Dewa dan Asura pun tak semua sanggup mengangkat benda itu..!!" Ucap Raksasa merah keras laksana guntur ke arah Sadewa,manusia kera putih dan manusia bertanduk naga tampak sudah berdiri di kiri kanan Sadewa," Anak ini tentunya adalah manusia pewaris Perisai Dewa Langit,anak manusia pilihan para dewa,kalau tidak mana mungkin dia sanggup membawa Perisai sakti ini.." Jawab manusia kera putih,kemudian meraung keras laksana guntur,bumi laksana gempa setiap kera putih ini meraung dahsyat. Raksasa Dwarapala Angkoro tampak tercekat,sambil mundur dengan wajah ketakutan," Sri Hanuman,Sang Hyang Antabhoga,kita cukupkan pertarungan kita kali ini,aku siap meluluh-lantahkan kalian berdua saat ini,tapi keberadaan pemuda ini menyelamatkan kalian,sampai bertemu di kesempatan selanjutnya..!!" tampa menunggu waktu Raksasa Dwarapala Angkoro melesat cepat ke udara,tubuh besarnya terbang cepat menembus cakrawala. Sadewa menatap ke arah dua makluk raksasa yang telah berdiri di hadapannya,seekor kera putih bertubuh seperti manusia,dan seorang lagi seorang pemuda berwajah tampan memiliki dua tanduk naga di kepala, yang kemudian kian mengecil sampai seukuran manusia biasa. Setelah cukup lama diam," Tidakkah saya salah mendengar,benarkah saat ini saya berhadapan dengan Sri Hanuman dan Sang Hyang Antabhoga..?" tanya Sadewa seolah tak percaya," Kau benar anak muda,aku adalah Sri Hanuman dan ini Sang Hyang Antabhoga.." Jawab sang kera putih," Saya Sadewa memberi salam hormat..",Sadewa segera membungkuk hormat," Tegakkan tubuh mu anak muda,kehadiran mu yang membuat Raksasa Dwarapala Angkoro menyudahi pertarungan,kami sudah lebih dari seratus hari bertarung dengan nya.." jawab Sri Hanuman,Sadewa terkejut mendengar penuturan kera putih besar di depannya," di mana saya saat ini..?" gumam Sadewa pelan," Dengan kuasa para Dewa,saat ini kau berada di jaman para Dewa dan Asura memerintah dunia.." jawab Sang Hyang Antabhoga sambil menatap Sadewa," Tak usah bingung,tentunya para Dewa punya maksud tertentu membawamu kemari,kau mewarisi Perisai Dewa Langit,apakah kau anak manusia yang bergelar Satria Perisai Dewa..?" lanjutnya kemudian,Sadewa cuma sedikit mengangguk,sesaat kemudian tampak Sri Hanuman dan Sang Hyang Antabhoga saling mengangguk," Dengarkan cucuku,kau adalah pewaris yang di siapkan oleh para Dewa untuk menyelamatkan Negeri ini,karena itu kami sebagai para Satria pilihan para Dewa akan menitipkan sebagian dari kekuatan kami pada mu,kau akan mengemban tanggung jawab besar di masa depan nanti,perhatikan apa yang akan aku perlihatkan,pinjamkan aku Perisai mu..",kemudian Sadewa memberikan Perisai Dewa pada Sri Hanuman," Dengan kuasa para Dewa kau akan dapat mengingat setiap gerakan yang akan aku perlihatkan pada mu,lihat lah anak muda..!" kemudian sambil meraung keras,Sri Hanuman tampak bergerak cepat memperlihatkan beberapa gerakan dengan Perisai Dewa yang memancarkan cahaya biru terang,kemudian sambil melemparkan Perisai Dewa yang dengan desingan dahsyat menghantam batu sebesar gunung dan melesat kembali dengan cepat,Sadewa memperhatikan dengan seksama,setelah sekian lama bertarung sendiri dengan mempergunakan Perisai Dewa,tak lama Sri Hanuman menyudahi nya dengan sebuah hantaman dahsyat. " Kau lihat anak muda,begini lah cara menggunakan Perisai Dewa dalam pertarungan. Gerakan yang ku perlihatkan tadi,dengan kuasa para Dewa akan melekat di ingatan mu,jurus Tameng Sakti Dewa Langit dapat kau pergunakan dalam keadaan yang mendesak.." Sri Hanoman melanjutkan. " Sri Hanoman khusus membuatkan gerakan itu untuk mu Sadewa,aku akan menitipkan ilmu Serat Bisa Naga pada mu,ilmu itu akan melindungi mu dari setiap bisa dan racun apapun,dan aku akan menitipkan satu pukulan untuk mu cucu ku. Pukulan sakti ini ku beri nama Tinju Naga Perkasa,kau akan mampu menghancurkan sebuah gunung batu dengan sekali pukulan,akan aku perlihatkan lebih dulu padamu..!" kemudian dengan satu lompatan tinggi,Sang Hyang Antabhoga hantam kan tangan kanan nya,cahaya biru melesat bergemuruh laksana gelombang raksasa menghantam sebuah gunung batu yang kemudian meledak hancur berkeping-keping," Kau lihat cucu ku,itu lah pukulan Tinju Naga Perkasa,gunakan di saat di perlukan,mendekatlah kemari.." Setelah berpikir dan sejenak,kemudian Sadewa mendekat ke arah Sang Hyang Antabhoga,Sadewa segera mendekat dan membungkuk di depan Sang Hyang Antabhoga,tak lama kemudian satu tiupan lembut menyentuk ubun-ubun Sadewa bersama melesatnya sinar biru terang ke dalam tubuh Sadewa,sejenak tubuh Sadewa seolah memancarkan cahaya biru terang. " Kini dalam tubuh mu sudah ada Ilmu Serat Bisa Naga dan pukulan Tinju Naga Perkasa..",kemudian Sadewa membungkuk hormat," Sadewa,lihat apa yang akan aku lakukan.." Ucap Sri Hanuman kemudian,Sadewa segera menghadap pada Sri Hanuman," Jaya Sri Rama..!!" Raung nya dahsyat,kemudian tubuh nya kembali membesar dan terus membesar hingga sebesar gunung batu,Sadewa tercekat melihat apa yang terjadi,pandangan nya takjub melihat bagaimana gagah perkasanya sang kera putih ini berdiri laksana menjunjung langit," Kau perhatikan Perisai Dewa di tangan Sri Hanuman.." ucap Sang Hyang Antabhoga pada Sadewa,Sri Hanuman memegang sebuah Perisai bercahaya biru terang di tangan kirinya,Sadewa melihat bagaimana Perisai Dewa seolah turut membesar seolah Sri Hanuman memegang sebuah Tameng perang di tangannya. Kemudian dengan di sertai Raungan keras mengguntur," Jaya Sri Rama..!!" Sri Hanuman membuka lebar mulut nya,kemudian menelan Perisai Dewa Langit,Sadewa tercekat melihat apa yang di lakukan sang kera putih raksasa,kemudian laksana matahari di siang hari,Perisai Dewa keluar dari dada sang kera putih raksasa dengan pancaran cahaya yang luar biasa menyilaukan," Jaya Sri Rama..!!",kemudian laksana sebuah meteor, Perisai Dewa melesat cepat ke tangan kiri Sadewa,berputar cepat laksana Cakra mengeluarkan suara berdesing nyaring. Sadewa berdiri gagah dengan Perisai Dewa Langit di tangan kirinya yang terus berputar cepat," Sri Hanuman sudah memberikan berkatnya pada Perisai Dewa mu Sadewa,lihat lah Perisai itu,apa kau melihat sesuatu yang beda saat ini..?" tanya Sang Hyang Antabhoga,Sadewa melihat Perisai Dewa di tangan kirinya,Perisai Dewa ini seakan benda tak berbobot sedikitpun,pancaran cahaya biru terang di lapisi cahaya merah yang memancar,Sadewa merasa tubuhnya jauh lebih kuat dari biasanya,pandangan matanya tajam luar biasa,dia dapat melihat kejauhan dengan sangat jelas,pendengarannya jauh lebih tajam. " Sadewa buka mulutmu..",ucap Sri Hanuman yang sudah berdiri di depannya dalam bentuk manusia Kera putih bertubuh tinggi besar,setelah Sadewa membuka mulut,setelah meraungan dahsyat,sri Hanuman meniup kan seberkas sinar merah kedalam mulut Sadewa," Sadewa,saat ini kau sudah memiliki Raungan Dewa Langit,suara raungan mu akan sanggup memanggil seseorang di seberang lautan,kau akan dapat mengirimkan suara pada orang yang kau kehendaki tampa orang lain tau,dalam diri mu aku telah menitipkan tenaga yang sama di miliki Saudaraku satu ayah,tubuhmu akan sekuat Bima,kecepatanmu akan secepat angin,pergunakan semua berkah ini untuk kebaikan,tugas mu menegakan kebenaran di Negeri Seribu pulau ini Sadewa,ingat pesan ku Sadewa..!!!" Seiring ucapan terakhir Sri Hanuman yang bergema keras,Sadewa terbangun dari tidur nya. Sadewa duduk dengan nafas memburu,sekujur badannya basah oleh keringat,tampak Perisai Dewa di dekapannya memancarkan cahaya biru dan merah dengan sangat terang,sekilas Sadewa melihat kedua tangannya memancarkan cahaya biru," Aku bermimpi,,,aku cuma bermimpi,,,tapi kenapa seolah nyata sekali,aku merasakan kekuatan besar dalam tubuhku saat ini,yaa allah tuhan penguasa alam,apa yang sudah ku alami..?". Kemudian Sadewa mengusap mukanya,mendadak terdengar dua raungan dahsyat memecah kesunyian malam,Sadewa tersentak langsung berdiri," Sri Hanoman..Sang Hyang Antabhoga..." Ucapnya kemudian membungkuk hormat," Terima kasih leluhurku,semoga aku dapat menjalankan amanatmu dengan baik,aku mohon restumu.." Ucap Sadewa kemudian kembali membungkuk hormat...Bersambung.


__ADS_2