SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
RAJA RACUN UTARA


__ADS_3

(1) Di suatu pagi yang cerah di tepian Hutan Jati,seorang pemuda tinggi tegap berbaju putih tampak berjalan sambil bersiul-siul,tampak rambut panjang nya yang di ikat sehelai kain putih masih basah,sebuah perisai tampak tergantung di punggung nya " Segar sekali rasanya mandi di telaga kecil itu,kantuk ku mendadak hilang..",ucapnya sambil berjalan. Tak lama kemudian,pemuda yang tak lain Sadewa mendadak berhenti,telinga nya seperti mendengar sesuatu,bentakan-bentakan keras terdengar makin mendekat ke arah sadewa," kejar terus,jangan sampai lolos..!!",satu suara terdengar di kejauhan,Sadewa segera berlari cepat ke arah asal suara bentakan,tak berselang lama,seorang gadis berbaju kuning ,berambut panjang di ikat sehelai kain kuning di keningnya tampak berlari ke arah Sadewa. " nona,, apa yang terjadi..!" tegur Sadewa pada gadis baju kuning,belum sempat menjawab,tiba-tiba empat orang lelaki berbaju biru gelap mengurung mereka berdua. " ha..ha..kau mau lari kemana,kau akan jadi persembahan yang sangat bagus untuk pemimpin kami Raja Racun Utara..!" ucap seorang lelaki berambut panjang sebahu,bertubuh tinggi besar,kedua tangannya tampak hitam dari siku ke bawah,di sambut tawa tiga lelaki lainnya," kau benar Jarwo,ketua akan sangat senang dan memberi kita hadiah..",sambung seorang lelaki bertubuh gemuk berkepala botak,tampak di punggungnya sebilah pedang besar tergantung," Ayo tunggu apa lagi,segera ringkus gadis itu..!!",Jarwo dan ke tiga rekannya segera bergerak maju." Tahan..!!",satu suara terdengar kemudian,Sadewa sejenak melirik pada gadis berbaju kuning yang tampak letih," kenapa kalian ingin menangkap gadis baju kuning itu..?"," Siapa kau,apa hubungan mu dengan gadis itu,jangan ikut campur..!!" bentak lelaki berkepala botak. "Aku tak ada hubungan dengannya,tapi sepertinya kalian punya niat jahat pada gadis itu.." jawab Sadewa,kemudian ke empat lelaki berwajah kasar itu tertawa keras," ha..ha..Kau sepertinya mau jadi pahlawan kesiangan anak muda..!!"," Kau masih terlalu muda untuk mati. Segera pergi dari sini,gadis itu akan kami bawa untuk pemimpin kami..!!". " mereka adalah anak buah Raja Racun Utara,mereka telah membunuh dua orang kakak seperguruan ku.." tiba-tiba gadis baju kuning berkata pada Sadewa,sejenak Sadewa kembali menoleh pada gadis itu,kemudian dia melangkah kearah empat anak buah Raja racun utara," Jadi kalian anak buah Raja Racun Utara,aku tak akan membiarkan kalian membawa gadis itu.."," Kurang ajar,habisi..!!" PerintahJarwo yang sepertinya bertindak sebagai pemimpin,mereka segera mengeroyok Sadewa,tak lama kemudian pertarungan berlangsung sengit,Sadewa tampak terkurung oleh serangan ke empat anak buah Raja Racun Utara,Sadewa yang bergerak cepat tampa kesulitan menghindari serangan-serangan lawan,dengan jurus Langkah dewa angin nya,Sadewa dengan mudah dapat menghindar,kemudian membalas dengan serangan-serangan cepat yang memang di tujukan hanya untuk sekedar melumpuhkan lawannya,tampak ke empat orang anak buah Raja racun utara babak belur di hantam pukulan dan tendangan Sadewa,bahkan sang pimpinan Jarwo tampak memegangi mulut nya,separuh giginya rontok di hantam tendangan Sadewa. " Aduh sebagian gigiku tertelan..!" Pekik Jarwo. Mereka tampak gusar,segera ke empat anak buah Raja racun utara kembali bersiap menyerang dengan pedang masing-masing,sambil membentak mereka hantamkan pedang besar di tangan masing-masing ke arah Sadewa,melihat ke empat lawannya menyerang dengan senjata,Sadewa segera siapkan Perisai dewa di tangan kirinya,serangan ke empat pedang besar berkelebat cepat,Sadewa melompat sambil palangkan Perisai dewa ke atas kepala,dentuman keras terdengar ketika ke empat pedang anak buah Raja racun utara membentur Perisai dewa,terlihat percikan bunga api,terdengar teriakan ke empat lawan Sadewa,mereka terlempar jauh ke belakang,pedang besar di tangan mereka tampak terlepas dan patah di beberapa bagian,dengan susah payah mereka mencoba bangkit,mereka tampak terluka dalam,setelah sejenak memandang tajam pada Sadewa yang tak kurang satu apapun,tampa tunggu lama,mereka segera berhamburan lari menyelamatkan diri. Sadewa tampak melangkah ke arah gadis berbaju kuning," Kau tak apa-apa nona.." sejenak gadis itu memandang pada pemuda di depannya,kemudian mengangguk. " Siapa nama mu nona,bagaimana ceritanya mereka sampai mengejarmu..?",setelah cukup lama diam gadis baju kuning kemudian menjawab," Namaku anjarini,aku salah seorang murid perguruan Tapak angin..",jawabnya sambil menatap wajah tampan di depannya,kemudian menunduk dengan wajah merona merah," Sebaiknya kau segera kembali ke perguruanmu,apakah perguruanmu tak jauh dari sini..?"," ya,,aku harus segera melaporkan apa yang terjadi pada guruku,terima kasih kau telah menyelamatkan nyawaku.." jawabnya sambil membungkuk hormat,kemudian setelah sejenak menatap Sadewa,Anjarini segera berlari ke arah barat. (2) Sebuah gerobak di tarik seekor kuda tampak berjalan lambat di jalan berbatu,di bagian depan duduk seseorang yang bertindak sebagai kusir,dari pakaian yang di gunakannya bisa di pastikan kalau dia adalah orang dunia persilatan,sekilas sang kusir terlihat seperti seorang wanita,namun sebenarnya dia adalah seorang laki-laki yang berdandan seperti seorang wanita,berwajah putih karena memakai semacam bedak,kumis tipis tampak menghiasi atas bibirnya yang di beri semacam gincu berwarna merah menyala,gerakan nya tampak lemah gemulai seperti seorang wanita," Gembul Edan,,sampai kapan aku akan menjadi kusirmu,kau kira aku budak mu..?",ucapnya bersungut-sungut," Kalau bukan karena perintahnya,jangan harap aku mau berjalan bersama mu,tampang konyol mu merusak kecantikan ku yang di puja banyak laki-laki.." sambungnya kemudian," Ha..ha..siapa suka berjalan dengan banci ugal-ugalan seperti mu,tampang mu saja morat-marit tak karuan.ha..ha...." sebuah jawaban di iringi gelak tawa terdengar dari bagian belakang gerobak,tampak sesosok tubuh gemuk luar biasa duduk di atas gerobak,tak lama kemudian satu tepukan tangan membuat kusir gerobak menoleh kebelakang," Durjana,,berhenti..!!," Namaku Durja lingga,bukan Durjana..!!" bentak kusir gerobak dengan suara keras," Ha..ha..terserah siapa nama mu,aku lebih suka memanggil mu Durjana..",jawab si gendut yang bernama Gembul Edan seenaknya," Dasar manusia berotak miring,mengganti nama orang semaunya..!!",kemudian dengan lemah gemulai,sang kusir menghentikan gerobak," kenapa kau minta berhenti,apa kau lagi-lagi ingin buang air..?" sang kusir kemudian bertanya sambil tersenyum genit. " putar kepalamu ke arah kanan,seseorang berlari cepat ke arah sini. Tak lama kemudian empat orang laki-laki tampak berlari pontang panting ke arah gerobak Gembul edan,tampa pedulikan gerobak di depan mereka,mereka terus berlari cepat ke arah utara," melihat tampang mereka,sepertinya telah terjadi sesuatu,lekas putar gerobak ke arah kanan..",sebelum sang kusir menggerakan gerobak ke arah kanan,seorang pemuda berpakaian putih sudah berdiri di dekat gerobak. " Apakah paman berdua melihat empat orang berpakaian hitam berlari ke arah sini..?",pemuda yang tak lain Sadewa bertanya pada Gembul Edan yang masih cengar-cengir di atas gerobak,melihat kehadiran seorang pemuda tampan di samping kereta," Tak usah bertanya pada anak gajah itu,aku yang akan menjawab.." sang kusir menjawab sambil melompat turun," Ku robek mulut mu,kau bilang aku anak gajah..!!" bentak sosok gemuk,kemudian tertawa-tawa. Sadewa terlihat tersenyum melihat kedua orang di atas gerobak,dengan susah payah si gendut bertampang lucu,berkepala botak licin segera turun dari gerobak," Gembul Edan,,kenapa kau ikut turun,duduk saja di situ,biar aku yang menjawab pertanyaan pemuda ini.." bisik sang kusir kereta sambil senyum-senyum," Kau lihat dia seperti terpesona melihatku,sepertinya pemuda ini jatuh hati pada ku..",sambungnya sambil terus tersenyum genit,Gembul Edan tertawa keras "Ha..ha..ku rasa dia bukan jatuh hati pada mu Juwita maut,tapi dia aneh ada manusia salah cetak seperti mu..!!"," Dasar gendut tak tau diri,bilang saja kalau kau iri pada ku.." rutuk Juwita maut sambil melotot," cepat jawab pertanyaan pemuda itu.." sambungnya ketus. " Kami memang melihat empat orang lari tunggang langgang ke arah utara,sepertinya kau sedang mengejar mereka,ada urusan apa kau dengan mereka..?" setelah sejenak memandang ke arah yang di tunjukan Gembul Edan,Sadewa segera menjawab " Mereka adalah anak buah Raja Racun Utara,pagi tadi mereka mengejar seorang gadis,aku berhasil memberi sedikit pelajaran pada mereka.." Sadewa menjelaskan," kau tau siapa Raja Racun Utara..?", Sadewa tampak menggeleng," Dia seorang tokoh golongan hitam,yang sangat ahli di bidang racun,bahkan dulu katanya dia sempat mau meracuni Raja Mataram,," Gembul Edan menjelaskan,setelah menyimak penjelasan sosok gemuk, " Boleh aku tau siapa paman berdua..?",tanya sadewa kemudian. Sambil sedikit membungkuk," Aku orang gendut yang di kenal orang dengan nama Gembul Edan,dan ini rekan ku bernama Durjana,bergelar Juwita maut.."," Jangan kau buat aku malu,nama ku Durga lingga,bukan Durjana..!" potong kusir banci sambil melotot, " Iya,terserah pada mu lah.." jawab Gembul Edan sambil tertawa-tawa," Apa maksud mu terserah pada mu,nama ku memang Durga lingga,bukan Durjana..!!" ucap Juwita maut membentak. (3) Di suatu tempat di kaki gunung lawu,empat sosok bayangan berlari cepat menuju sebuah bangunan yang cukup besar,setelah sampai di depan pintu gerbang bangunan," Aku Jarwo,aku datang ingin menemui pimpinan,ijin kan aku masuk.." Ucap Jarwo sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal," penjaga gerbang segera mendekati Jarwo dan kawan-kawannya," pimpinan sedang ada tamu,tunggu lah sebentar,aku akan memberi tau pimpinan,kalian mau melapor..". Tak lama kemudian tampak penjaga gerbang kembali bersama seorang berpakaian bagus,wajahnya pucat,kedua tangannya sebatas siku berwarna hitam legam," Pimpinan.." ucap Jarwo serempak dengan rekan-rekannya sambil membungkuk hormat," Apa yang terjadi,kenapa wajah kalian babak-belur,cepat katakan..!!" bentak sosok berpakaian bagus yang tak lain Raja Racun Utara,salah seorang tokoh golongan hitam yang sangat sakti. Dengan cepat Jarwo menjelaskan apa yang terjadi,". "Siapa pemuda itu..?" gumam Raja Racun Utara sambil menatap jauh ke depan,kemudian segera melangkah kembali ke dalam. Di satu ruangan yang cukup luas,tampak tiga orang duduk melingkar," Raja Racun Utara,apa kau yakin pemuda itu,membawa Perisai dewa langit yang sangat melegenda itu..?" ucap seorang tua bertubuh kurus,satu tangannya memegang tongkat hitam berkepala tengkorak," Aku yakin itu Perisai dewa langit,bukankah ciri-ciri nya sesuai dengan apa yang selama ini kita dengar kakang..",jawab Raja Racun Utara,orang tua kurus yang di kenal dengan Si Tongkat baja tampak mengangguk pelan," Bagaimana pendapatmu Kelabang merah..?" lanjut Raja Racun utara sambil menoleh pada seorang bertubuh sedang berpakaian serba merah," Sepertinya halangan kita untuk mendirikan partai Tengkorak hitam makin banyak..",jawabnya kemudian. Sejenak ruangan itu tampak hening,ketiga orang yang duduk tampak saling pandang,tak lama kemudian," Apa langkah selanjutnya Raja racun Utara..?" Kelabang merah membuka ucapan sambil memandang pada Raja Racun,"." Kenapa mesti risau,tetap lanjutkan rencana kita,siapapun yang mencoba menghalangi jangan ragu untuk menghabisinya.."," Sepertinya kita akan kedatangan tamu,Jarwo mengatakan pemuda itu mengikuti mereka,perketat penjagaan,siapkan beberapa orang untuk berjaga-jaga..!!" Perintahnya kemudian. (4) Sadewa tersenyum melihat tingkah laku ke dua orang di depannya," kau sendiri siapa anak muda,apa yang kau bawa di punggung mu,apa kau mencuri loyang ibumu..hik..hik..?" Juwita maut bertanya sambil bergerak maju ke arah Sadewa," Nama saya Sadewa,saya seorang pengembara,dan yang ku bawa bukan apa-apa,cuma sebuah Perisai biasa.." jawabnya menjelaskan," Sepertinya kau bukan pemuda sembarangan,setelah ku ingat-ingat,beberapa waktu terakhir dunia persilatan di hebohkan dengan munculnya seorang pendekar muda,sepertinya kau yang mereka maksudkan anak muda..",sambung Gembul Edan,Juwita maut terkejut mendengar ucapan Gembul edan,setelah menatap tajam pada Sadewa," Sepertinya sobat gendut tidak salah,aku baru sadar pemuda ini yang sedang di bicarakan banyak orang.." dengan tatapan yakin,Sadewa cuma tersenyum,kemudian menjawab," Aku cuma seorang pemuda ugal-ugalan paman,aku merasa bukan orang yang paman maksud kan.."," aku akan melanjutkan mengejar anak buah Raja Racun Utara,aku mohon diri paman.." sambung Sadewa sambil membungkuk hormat,kemudian melesat ke arah utara. Setelah Sadewa pergi,tampak Gembul Edan senyum-senyum sendiri,Juwita maut tampak memperhatikan dengan muka jengkel," Apa yang ada di otak mu,gendut sialan..?" tanya nya kemudian,Gembul Edan melangkah ke arah gerobak sambil tertawa-tawa,kemudian melepaskan ikatan kuda di bagian depan," Apa yang kau lakukan,kenapa kau lepaskan kuda itu,kau sudah gila..!!" semprot Juwita maut sambil melotot," kita sudah tak memerlukan kuda lagi,biarkan dia bebas mencari makan,kita harus segera menyusul pemuda berbaju putih tadi,firasatku mengatakan dia akan butuh bantuan kita..". Juwita maut memandang aneh pada Gembul edan,setelah berpikir sejenak," Kau betul gendut gila,sudah saat nya Raja Racun Utara harus di musnahkan.." tampa menunggu Gembul Edan,Juwita maut segera berlari cepat ke arah yang di tempuh Sadewa,Gembul Edan sambil tertawa-tawa dan menggaruk ketiak segera menyusul. Menjelang sore,beberapa orang berpakaian kuning berikat kepala senada terlihat berkuda cepat ke arah utara,di bagian depan tampak seorang lelaki tua berpakaian putih di apit oleh sepasang muda-mudi," Anjarini,apakah arah yang kita tempuh sudah benar..?",tanya si orang tua sambil menoleh ke arah seorang gadis yang tak lain Anjarini,gadis yang di selamatkan oleh Sadewa. " Benar guru,arah kita sudah benar,ini adalah jalan memotong,mungkin menjelang siang kalau kita terus bergerak akan sampai di tempat kediaman Raja Racun Utara.." jawabnya menjelaskan," Guruku Ki Tapak angin,apa kita benar-benar telah siap untuk menyerbu markas Raja Racun Utara..",tanya pemuda berbadan tegap berwajah gagah di sebelah kirinya," Dipasena siap tak siap,kita harus membuat perhitungan dengan mereka,mereka sudah membunuh anak dan seorang murid ku..!" jawab Ki Tapak angin tegas,kemudian memacu kudanya supaya berlari lebih cepat,rombongan di belakang nya pun segera menggebrak kuda masing-masing. (5) Memasuki sebuah kampung tak jauh di kaki gunung Lawu,Sadewa segera mencari kedai nasi," perutku benar-benar sudah minta di isi.." gumam nya sambil berjalan ke arah sebuah simpang tiga di mana terletak sebuah kedai yang cukup ramai,di saat celingak- celinguk mencari bangku kosong,tiba-tiba mata nya melirik pada sebuah meja makan di sudut ruangan,tampak seorang gadis muda berpakaian ringkas warna biru duduk sendiri,karena tak menemukan bangku kosong lainnya,Sadewa melangkah ke arah meja di pojok kedai," Apakah aku boleh ikut duduk di sini nona..?" tanya Sadewa sopan,sebentar kemudian gadis baju biru mengangkat wajah nya ke arah Sadewa,seraut wajah yang sangat cantik tampak menatap tajam pada Sadewa,sekian lama tak ada jawaban,Sadewa putar tubuh untuk melangkah keluar kedai," Bangku ini bukan punya ku,aku tak ada hak melarangmu duduk,kalau mau duduk kenapa masih berdiri..",tiba-tiba gadis baju biru keluarkan suara. Tampa tunggu lama Sadewa segera duduk dan memanggil pelayan,gadis baju biru tampak memperhatikan Sadewa dengan sudut matanya," Sudah berapa hari kau tidak makan..?" si gadis bertanya sambil sedikit tersenyum melihat ke arah Sadewa yang makan sangat lahap,Sadewa menoleh ke arah gadis baju biru," Aku sudah dua hari tak bertemu nasi,dari kemaren aku cuma makan cempedak hutan.." jawabnya dengan mulut penuh,si gadis baju biru tampak tertawa geli," Pantas saja,kau makan seperti orang kelaparan..",setelah mulai bercakap-cakap,suasana antara Sadewa dan gadis biru tampak mulai mencair," Seperti nya kau bukan orang sini,boleh aku tau siapa namamu..?,tanya si gadis sambil menatap pada Sadewa,melihat wajah sangat cantik di depannya menatap cukup lama," Namaku Sadewa,aku cuma seorang pengembara..",jawab Sadewa singkat," Kau sendiri siapa nona,sepertinya kau pun bukan orang kampung ini..?"," Namaku Ratna ayu,aku dari kota raja..",jawab si gadis baju biru," Ada keperluan apa kau jauh-jauh ke kampung ini,apa kau punya sanak keluarga di sini..?",Ratna ayu menggeleng," Aku berjalan kemana aku suka,baiklah Sadewa,aku pergi dulu.." Ratna ayu segera bangkit dan berjalan ke arah pintu kedai. Setelah membayar makanannya,Sadewa kembali berjalan ke arah utara. Debu pekat tampak di kejauhan,tak lama kemudian tampak sekitar dua belas ekor kuda mendekat ke arah bangunan besar," Itu markas Raja Racun Utara guru.." satu suara tampak terdengar di tengah deru kaki kuda,tak berselang lama kedua belas kuda berhenti di halaman bangunan yang sangat besar," Aku Ki Tapak Angin,segera suruh Raja Racun Utara keluar..!!",satu suara keras mengejutkan penjaga gerbang rumah besar," Siapa kalian,apa keperluan kalian..?"," Tak usah banyak bertanya..!!",Ki Tapak Angin segera melompat sambil menendang ke arah penjaga,tampa sempat menghindar penjaga itu terlempar kebelakang dengan kepala pecah. (6) Melihat rekan nya tewas secepat itu,para pengawal yang berlari dari dalam rumah segera balas menyerang,dalam sekejap telah terjadi pertempuran seru di halaman luas itu,anak murid Ki Tapak Angin tampak langsung melompat sambil babatkan golok pendek yang mereka bawa,tak lama kemudian beberapa tubuh tergelimpang roboh meregang nyawa," Hentikan pertarungan..!!",pertempuran langsung berhenti,anak murid Ki Tapak angin segera melompat mundur, " Siapa kalian,kenapa membuat kerusuhan di kediamanku..!!",Raja Racun Utara bertanya dengan mata melotot," Aku Ki Tapak Angin,aku kemari menuntut nyawa dua muridku yang kalian habisi kemaren pagi..",Jawab orang tua berpakaian putih sambil maju dua langkah,Raja Racun Utara menatap Ki Tapak Angin dengan tajam," jadi kalian datang untuk menuntut balas..?" Ayo maju semua,aku tak punya waktu lama untuk kalian..!!",serentak murid-murid Ki Tapak Angin segera menyerang Raja Racun Utara,sekali berkelebat dua murid Ki Tapak angin terlempar dengan kepala pecah,tak lama kembali empat orang murid Ki Tapak angin menyusul dengan tubuh menghitam di hantam pukulan kedua tangan Raja Racun Utara yang mengandung racun jahat. Melihat murid-murid nya di bantai,Ki Tapak Angin segera melompat sambil lepaskan pukulan Tapak Badai,dari kedua telapak tangan nya melesat badai angin yang menderu terus menerus,Raja Racun yang tau kehebatan pukulan lawan segera hantam kan kedua telapak tangannya kedepan,ini lah pukulan Tapak Seribu Bisa,suara dentuman bergemuruh seiring bertemunya dua pukulan di udara,Ki Tapak angin terdorong dengan deras ke belakang,tubuhnya tampak menghitam,dari tepian mata,hidung dan telinga nya mengucur darah kehitaman,Raja Racun tak lebih baik,tubuh nya terhempas,nafasnya memburu,dari mulutnya menyembur dara segar,melihat apa yang terjadi sisa murid Ki Tapak Angin nekat menyerbu ke arah Raja Racun yng masih terduduk mengatur nafasnya,Dipasena tebaskan golok pendek nya ke arah leher Raja Racun Utara,sesaat lagi golok akan menebas leher Raja Racun,sesosok bayangan merah berkelebat menghadang serangan Dipasena dan sisa murid Ki Tapak Angin,Anjarini terjajar kebelakang di hantam tendangan bayangan merah yang tak lain Si Kelabang merah,Dipasena dan tiga orang murid lainnya terdesak hebat menghadapi serangan Si Kelabang merah,pada satu kesempatan cakar Si kelabang merah berhasil merobek dada Dipasena,menyusul cengkraman dahsyat ke arah muka Dipasena,raungan kematian Dipasena terdengar menggidikan,Anjarini dan ketiga murid yang masih tersisa segera melompat mundur,namun tiba-tiba sebuah tongkat hitam mengayun cepat ke arah kepala mereka,di saat hancur nya kepala mereka cuma menunggu waktu,sesosok bayangan putih berkelebat sambil hantamkan tangan kanannya ke arah bahu Si Tongkat baja,Anjarini dan ketiga murid Ki Tapak angin selamat dari maut. Dengan sangat marah Si Tongkat baja menatap garang pada seorang pemuda yang telah berdiri gagah di tengah arena pertempuran," Kau rupanya,bukankah kau yang telah menghajar empat orang anak buahku..?" tiba-tiba Raja Racun Sudah lebih dulu melangkah ke arah pemuda berpakaian putih yang tak bukan Sadewa," Kau atau kambing tua berbadan kurus ini yang bergelar Raja Racun Utara.." sahut Sadewa sambil menunjuk ke arah Si Tongkat Baja," Aku Raja Racun Utara,mereka adalah dua rekanku,Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah. Apa kau sekarang mulai merasa takut anak muda..?" balas Raja Racun sambil tersenyum mengejek," Raja Racun,kau sudah terlalu lama berbuat jahat,aku datang untuk menghentikan kejahatanmu.."," Ha..ha..Apa yang akan kau lakukan anak muda,sudah banyak pendekar golongan putih yang mencampuri urusan ku,yang telah ku kirim ke neraka..!!"," Kakang Tongkat baja,Kelabang merah,bunuh pemuda ini..!!" Perintah Raja Racun kemudian,di saat Si Tongkat baja dan Kelabang merah bisa menyerang Sadewa,tiba-tiba berkelebat dua bayangan ke kanan kiri Sadewa," Biar aku yang menghajar kambing tua ini Sadewa..ha..ha.." Ucap Gembul edan di samping kanan Sadewa sambil tertawa sendiri," Biar adinda yang menghadapi semut merah ini.." sambung Juwita maut sambil tersenyum genit," Namaku Kelabang merah,bukan semut merah..!!" bentak Kelabang merah pada Juwita maut,Sadewa sekejap menoleh ke kanan dan kirinya,kemudian tersenyum ke arah Gembul edan dan Juwita maut. "Jahanam,bagaimana dua manusia aneh ini bisa mendadak muncul.." geram Raja Racun Utara,tampa tunggu lama,Raja Racun berkelebat cepat ke arah Sadewa sambil lepaskan pukulan Tapak Seribu Bisa,melihat lawan menyerang Sadewa segera siapkan pukulan Sinar lentera dewa di tangan kanan,di tangan kirinya sudah melekat Perisai Dewa Langit,setelah cukup dekat,Sadewa segera hantam kan tinju kanannya,satu gelombang sinar biru terang menderu deras menyapu pukulan Tapak Seribu Bisa,dentuman keras terdengar mengguncang halaman markas Raja Racun Utara,bunga api pecah membakar sejumlah tembok rumah besar,Raja Racun tampak terdorong keras kebelakang,dadanya terasa sesak," anak muda ini punya tenaga dalam sangat tinggi" gumamnya sambil menatap Sadewa yang hanya terlihat sedikit goyah. Pukulan Tapak Seribu Bisa yang tadi cuma mengerahkan separo tenaga dalam nya,segera di siapkan kembali dengan tenaga dalam penuh,tampak dua tangan Raja Racun sebatas siku semakin menghitam,sesaat kemudian Raja Racun hantamkan kedua tangannya ke depan,dua gelombang angin hitam pekat menyerbu ke arah Sadewa,sambil melompat tinggi Sadewa alirkan tenaga dalam ke tangan kiri,Perisai dewa tampak mengeluarkan sinar biru terang,sesaat kemudian langsung di hantam kan kedepan menyongsong angin pukulan Raja Racun Utara,suara desingan sangat keras terdengar memekakan telinga,putaran Perisai dewa yang luar biasa cepat mendadak laksana sebuah Cakra menghantam pukulan Tapak Seribu Bisa Raja Racun Utara,dentuman keras melanda,halaman rumah besar laksana di landa gempa dahsyat,raungan Raja Racun terdengar keras seiring tubuh nya yang tercabik-cabik di hantam pukulan Perisai dewa...Bersambung


__ADS_2