SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
TAKDIR SANG PENDEKAR


__ADS_3

(1) Kembali ke jaman kuno di Jawadwipa,Seratus tahun setelah terjadi nya pertempuran di pondok pertapaan Resi kalacakra,di sebuah padang pasir di kawasan gunung bromo,dalam sebuah gua besar yang cukup luas dan bersih,di atas sebuah batu,duduk seorang tua yang sudah terlihat sangat udzur,selempang putih yang di pakai nya sudah tampak lusuh dan lapuk,duduk tenang larut dalam tapabratanya. Di luar gua besar,terdapat sebuah pondok yang di tempati seorang lelaki tinggi besar berkulit gelap,seseorang yang tak lain Ali ibnu sabbir adanya,duduk tenang sambil terus larut dalam ketenangan sambil membaca sebuah kitab. " Sampai kapan Resi agung kalacakra akan melangsungkan tapabratannya,seratus tahun sudah waktu terlewati,sudah banyak halangan dan rintangan berat yang telah kami lalui,berapa banyak lagi manusia dan iblis suruhan pada Asura yang harus ku bunuh..",sedang larut dalam pertanyaan pada dirinya sendiri,tiba-tiba dari arah pintu gua memancar suatu cahaya yang sangat terang,Ali ibnu sabbir segera berlari cepat ke arah pintu gua. " Masuk lah saudaraku Ali ibnu sabbir..",satu suara dengan lembut menyuruh untuk segera masuk" mendekatlah..",Ali ibnu sabbir tampak takjub dengan apa yang ada di hadapannya,cahaya sangat terang tampak memancar dari tubuh Resi agung kalacakra,di pangkuannya terlihat sesuatu yang juga terlihat bersinar biru terang. " Maha besar karunia para dewata..!",Ali ibnu sabbir tampak bergumam pelan,"Apa yang terlihat oleh mu saudaraku Ali ibnu sabbir..?",Resi kalacakra tampak tersenyum sambil melihat ke arah sahabatnya yang terlihat terpaku melihat apa yang ada di pangkuannya. " Apakah ini senjata pusaka perwujudan besi hitam kebiru-biruan itu wahai Resi agung..?"," betul saudaraku,ini lah yang ku hasil kan dari tapabrata ku selama seratus tahun,puji syukur pada para dewa yang telah memberikan berkat umur panjang untuk mu,sehingga kau dapat melihat senjata ini.."," benda itu tidak seperti sebuah senjata pada umumnya,senjata apakan itu Resi agung..?",sambil tersenyum Resi kalacakra menjawab," ini sebuah Perisai,ku namakan Perisai dewa langit..!!" setelah mengucapkan nama benda yang itu,mendadak suara guntur menggelegar dengan dahsyat,gua besar terasa bergetar,sejenak suasana menjadi hening mencekam,lambat laun semua kembali seperti sedia kala. " Perisai ini memang bukan senjata pada umumnya,tapi perisai ini memiliki kekuatan luar biasa,bukan cuma untuk bertahan,perisai ini juga bisa menjadi senjata luar biasa sakti..."," Perisai ini cuma akan bisa di angkat oleh manusia berhati bersih,benda ini punya suatu keistimewaan,dia seakan memiliki jiwa sendiri.."," Dia akan memilih sendiri siapa yang kelak berjodoh dengan nya.." Resi kalacakra menjelaskan,Ali ibnu Sabbir tampak mendengarkan dengan seksama,selanjutnya dia manatap ke arah Perisai dewa,sebuah benda bulat pipih seperti perisai pada umumnya,tapi Perisai ini terlihat memancarkan cahaya biru yang cukup terang,di tengah lingkaran Perisai tampak gambar seekor naga putih bermata biru. " mendekatlah saudaraku..",Resi kalacakra kemudian memberikan Perisai dewa langit untuk di pegang sahabatnya," Benda yang sangat luar biasa,sangat ringan seperti kapas..",Ali ibnu Sabbir bergumam dengan sorot mata penuh kekaguman,dia merasakan hawa hangat menjalar masuk kedalam tubuhnya,tubuh nya terasa makin enteng,Ali ibnu Sabbir merasa pandangan matanya kian jernih" puji syukur pada para dewa,ini benar-benar sebuah benda bertuah,Perisai dewa langit,senjata yang akan mengguncang dunia..". (2) Tak lama kemudian di luar terdengar hembusan angin luar biasa dahsyat menderu,badai pasir seakan menyelimuti sekitar gua besar," ha..ha..kalian berdua akan segera mampus..!!",satu suara tertawa keras dari luar gua,sekejap Ali ibnu sabbir dan Resi kalacakra melesat keluar goa," siapa kau,apa maksud kedatangan mu..!",Ali ibnu Sabbir maju sejarak tujuh langkah dari sesosok tubuh hitam berbulu lebat,memiliki dua tanduk besar mengeluarkan cahaya merah,tubuh nya yang tinggi besar laksana Raksasa tampa baju,hanya memakai sehelai cawat,tampak sepasang taring panjang berwarna merah di sela bibirnya. Sejenak Raksasa hitam memandang tajam pada Ali ibnu Sabbir," Aku sang dwarapala,jin penunggu Hutan Kelam,meminta kalian menyerahkah benda itu..!!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Perisai dewa langit," mengapa kau menginginkan benda ini dwarapala..?",Resi kalacakra mengajukan pertanyaan," untuk apa itu,kau tak perlu tau,lekas serahkan,atau aku ***** tubuh kalian berdua..!!",Ali ibnu Sabbir tampak bersiap melepaskan pukulan Sinar lentera dewa,tangan nya sebatas siku tampak berwarna biru terang.." Ha..ha.. sepertinya aku dwarapala mendapatkan kehormatan untuk merasakan hebatnya pukulan Sinar lentera langit. Ayo,,pilih bagian tubuhku yang ingin kau hantam..!!"," segera angkat kaki dari sini Dwarapala,sebelum tubuh mu ku panggang dengan pukulan ini..!!" bentak Ali ibnu Sabbir," kau merasa mampu,ayo lakukan,aku mau lihat sampai dimana kehebatan pukulan mu..ha..ha..!!" tantang Dwarapala,tampa menunggu waktu Ali ibnu Sabbir segera hantamkan pukulan Sinar lentera langit,sebuah gelombang sinar biru dasyat melesat ke arah Dwarapala,terlihat Dwarapala sejenak terkesiap,namun kemudian makin keras tertawa,tubuh Dwarapala tampak tersapu pukulan Sinar lentera langit,dentuman dahsyat terdengar ketika pukulan yang di lepaskan Ali ibnu Sabbir menghantam tubuh Raksasa Dwarapala.Tampa kurang satu apapun,Raksasa Dwarapala tampak tegak dengan gagah,Ali ibnu Sabbir tampak mundur selangkah melihat bagaimana lawan seperti tidak merasakan apapun akibat pukulan saktinya," Ayo keluarkan semua kepandaian mu orang asing,sebentar lagi aku akan buat mampus kalian berdua..",Setelah itu Dwarapala bersiap menyerang,dengan satu lompatan cepat,satu tendangan menderu ke arah kepala Ali ibnu Sabbir,dengan sedikit merunduk,Ali ibnu Sabbir berhasil menghindar,tapi sebuah hantaman dengan tangan kanan segera menyusul ke arah dada Ali ibnu Sabbir,sambil melompat,Ali ibnu Sabbir coba menghindar,namun dengan cepat satu gelombang angin laksana badai berhembus bersama tiupan yang di lakukan Raksasa Dwarapala,tak sempat untuk menghindar,Ali ibnu sabbir angkat kedua tangannya untuk menahan derasnya hembusan angin yang menghantam,di saat genting itu,tiba-tiba sesuatu berwarna biru terang melesat cepat melindungi Ali ibnu Sabbir,Raksasa Dwarapala terhempas keras kebelakang,setelah dapat berdiri kembali,Dwarapala menatap tajam ke arah Ali ibnu Sabbir,tampak sesuatu berputar cepat sambil mengeluarkan suara bergemuruh dahsyat,tak lama kemudian melayang cepat ke arah lengan kiri Ali ibnu Sabbir. Dwarapala sesaat terkesiap melihat bagaimana sebuah Perisai mengeluarkan cahaya biru terang tampak menempel di lengan kiri Ali ibnu Sabbir," inikah Perisai dewa langit yang di inginkan Asura Mahabali..",Dwarapala tampak bergetar. " Luar biasa..!,Perisai ini telah menyelamatkan ku.."," kini saatnya kita melihat kehebatan Perisai ini saudaraku,jangan ragu,hantamkan perisai itu dengan tenaga dalam penuh..",suara Resi kalacakra terdengar lembut di telinga Ali ibnu Sabbir,melihat ke arah sang Resi sebentar,kemudian Ali ibnu Sabbir melompat tinggi sambil hantamkan Perisai dewa langit ke arah Raksasa Dwarapala,Perisai dewa langit melesat cepat,suara gemuruh dahsyat di iringi kilatan-kilatan petir berwarna biru terang melanda arena pertarungan,Raksasa Dwarapala terkejut,lalu kemudian sambil melompat lepaskan pukulan Sepasang tangan dewa kematian,dua tangan nya yang besar berbulu lebat menghantam ke arah depan,pertemuan pukulan Sepasang tangan dewa kematian dan Kilatan Perisai dewa langit berlangsung hebat,dentuman suara keras di sertai memerciknya bunga api besar melanda ke segala arah,area gua di tengah gurun pasir seolah di landa gempa dahsyat,badai pasir panas berputar laksana badai,tubuh Raksasa Dwarapala nampak tergeletak,sambil mencoba bangkit,Dwarapala mengeram kesakitan,dia memuntahkan darah segar berulang-ulang,sepertinya Dwarapala mengalami luka dalam yang sangat parah,tak jauh dari situ,Ali ibnu Sabbir tampak berdiri limbung kemudian jatuh terduduk," Sangat hebat,Perisai dewa sanggup menahan, bahkan membalikan pukulan Dwarapala dengan lebih kuat,kl tak ada Perisai ini,mungkin aku sudah mati..",gumam Ali ibnu Sabbir. Raksasa Dwarapala terlihat bangkit dengan susah payah," Kali ini kau menang,aku berjanji akan membuat perhitungan kembali dengan mu..!!",kemudian dia putar tubuh dan melesat pergi. Ali ibnu sabbir menatap Perisai dewa langit yang kembali melekat di lengan kirinya,kemudian melangkah ke arah Resi kalacakra," Resi agung,,,Perisai ini benar-benar luar biasa,tidak sekedar untuk meredam pukulan lawan,bahkan bisa menjadi senjata luar biasa mematikan..",sambil tersenyum Resi agung menjawab," Simpan baik-baik Perisai itu Saudaraku,wariskan kelak pada orang yang berjodoh dengan nya,ku percayakan Perisai dewa ini pada mu..",Ali ibnu sabbir menatap sang Resi agung," Kenapa harus aku Resi agung,aku rasa Perisai ini adalah milikmu.."," Aku cuma perantara sang dewa,Perisai ini memang di peruntukan untuk seseorang yang kelak akan lahir di masa depan,rawat dan jaga lah dengan baik..",setelah cukup lama diam," Apa selanjutnya yang akan Resi agung lakukan..?",Ali ibnu Sabbir mengajukan pertanyaan," Aku sudah menyelesaikan apa yang menjadi tugas ku,kini kau lah saudaraku yang harus melanjutkan tugas selanjutnya.."," Apa maksud mu wahai Resi agung..?","ini adalah pertemuan terakhir kita,aku akan melanjutkan tapabrataku,tapi tidak di alam ini..","aku pamit saudaraku Ali ibnu Sabbir,semoga kuasa dewata kelak dapat mempertemukan kita kembali..",tak lama kemudian tubuh Resi kalacakra di selimuti cahaya terang,kemudian laksana sebuah meteor melesat cepat ke arah langit biru. (3) Kembali ke tanah jawa di masa kerajaan mataram islam,dalam gemuruh air terjun di sebuah lembah berkabut di kaki gunung merapi,tampak seorang pemuda berumur tujuh belas tahun sedang berlatih ilmu beladiri,gerakan memukul dan menendang yang sangat cepat tampak hebat di setiap jurus nya,tampak seorang sosok tinggi besar berkulit gelap memperhatikan dengan seksama,orang tua berjubah putih memakai sorban warna hijau yang tak lain Umar ibnu Sabbir bergumam pelan," Sepertinya Sadewa sudah benar-benar berhasil mematangkan jurus Langkah dewa angin yang ku ciptakan,gerakan dan keseimbangan kuda-kudanya begitu sempurna..",tak lama Umar ibnu Sabbir kembali di kejutkan oleh teriakan pemuda yang tak lain adalah Sadewa,anak kecil yang sepuluh tahun dulu di selamatkannya,satu gelombang cahaya biru melesat bergemuruh ke arah air terjun," pukulan Sinar lentera dewa..!!",dentuman keras mengguncang lembah berkabut,belum hilang suara dentuman,lagi-lagi terdengar suara angin deras laksana badai mengamuk melanda air terjun lembah berkabut," pukulan Deru angin gurun..!!",sejenak air terjun seakan tertahan,kemudian kembali jatuh dengan suara bergemuruh dahsyat. Di suatu senja," Sadewa,,,sudah sepuluh tahun kau ku latih dan ku ajarkan berbagai ilmu beladiri dan pukulan sakti,ku rasa kau sudah menguasai semua yang ku ajarkan dengan sempurna,sudah waktunya kau harus mengamalkan apa yang telah kau pelajari..",sejenak suasana menjadi hening," sudah saatnya kau harus keluar dari lembah berkabut ini,mengembara lah muridku,cari lah pengalaman hidup,baktikan dharma mu sebagai seorang pendekar.." lanjut Umar ibnu Sabbir," kemana aku harus pergi guruku,apakah aku akan bisa bertahan hidup di dunia yang serba asing bagiku..?" jawab Sadewa lembut,kemudian sambil tersenyum,Umar ibnu Sabbir melangkah mendekati Sadewa yang duduk di depannya,sambil mengusap kepala Sadewa," Jangan ragu muridku,bumi allah ini sangat luas,turuti kemana kaki mu melangkah,amal kan semua ilmu yang kau pelajari untuk menolong orang lain,gunakan akal pikiran dan hati nurani mu dalam bertindak,jangan ragu menjatuhkan hukuman pada kejahatan yang ada di depan matamu,tetaplah rendah hati..",Sadewa makin menundukan kepalanya,hatinya terasa sedih karena harus berpisah dengan orang yang selama ini jadi orang tua baginya. Keesokan harinya,Sadewa tampak duduk di hadapan gurunya,memakai baju putih,celana putih,tampak rambut gondrongnya juga di ikat dengan sehelai kain putih," Sebelum kau berangkat,aku akan memberikan sesuatu pada mu Sadewa,ikuti aku.." ucap sang guru,lalu melangkah kedalam sebuah gua di belakang pondok di iringi Sadewa,sejenak matanya tajam menatap pada sebuah batu sebesar rumah,di tengah batu tampak menancap dalam sebuah benda bulat pipih berwarna putih memancarkan cahaya kebiruan. " kau lihat benda bulat pipih itu Sadewa..?",tanyanya sambil menoleh ke arah Sadewa yang sedang memandang ke arah benda yang di tunjuk gurunya," Itu adalah Perisai dewa langit,benda sakti bertuah dari jaman dahulu kala,aku sendiri tak tau sejak kapan benda itu berada di situ,tapi dari seseorang yang memberi tahu ku melalui sebuah mimpi puluhan tahun lalu..",sejenak Umar ibnu Sabbir terdiam," Seorang dari tanah seberang yang tak lain adalah leluhur ku sendiri yang menancapkan benda itu di batu besar ini,tak seorang pun selama ini yang sanggup untuk mencabut Perisai itu.."," Dalam mimpiku seseorang memberi tahu ku,untuk mu lah Perisai ini di buat para leluhur tanah jawa ini..",Sadewa terkejut mendengar penuturan gurunya,setelah cukup lama diam,akhirnya Sadewa menatap gurunya," Guruku,apakah maksud dari semua ini..?",sambil tersenyum Umar ibnu Sabbir kembali berucap," semua akan terjawab Sadewa," Cabutlah Perisai,kalau Perisai itu memang berjodoh dengan mu,insya allah kau akan dapat mencabutnya..",sejenak Sadewa menatap benda bulat putih yang sebagian terlihat di jepitan celah batu besar,kemudian dengan membulatkan tekad,sambil melompat cepat ke arah batu besar,tangan kanan Sadewa meraih ujung Perisai dan mencabutnya,bagitu Perisai tercabut,terdengar suara berdesing nyaring di susul suara dentuman keras batu besar yang mendadak hancur berkeping-keping dengan suara keras. Sesaat pemandangan tertutup debu,kemudian terlihat Sadewa berdiri sambil menatap sebuah Perisai yang tampak menempel di lengan kirinya," Perisai dewa sudah menemukan jodoh nya,kau lah penerima takdir untuk menggunakan Perisai dewa langit ini Sadewa..",ucap nya" gunakan untuk menegakkan keadilan,ingat itu muridku,gunakan di saat kau membutuhkan,sekarang berangkatlah..!",serunya melepas Sadewa pergi mengembara. (4) Kebakaran hebat melanda desa tegalwangi,jerit tangis terdengar di sana-sini,warga desa berlarian berusaha menyelematkan diri," Bakar semua,bunuh yang mencoba melawan..!!",satu suara keras memberi perintah,dialah Warok mata api,pimpinan rampok yang sangat di takuti saat itu. Dari atas kuda besarnya,sosok nya yang tinggi kurus,dengan pakaian serba hitam,membekal sebuah cambuk besar di tangannya,mata nya yang merah laksana bara api tampak garang menatap beberapa warga desa yang coba mengadakan perlawanan,tampak seorang tua berblangkon coklat sedang bertarung dengan para anak buah Warok mata api,ki lurah desa tegalwangi yang dulunya memang seorang guru silat,tampak dengan beberapa orang warga bertempur melawan anak buah Warok mata api,tak lama bertarungan berlangsung,tampak ki lurah dan warga desa mulai terdesak,beberapa warga sudah tergeletak meregang nyawa,di saat ki lurah dan warga sudah mulai terdesak hebat,satu sosok bayangan putih dengan kecepatan luar biasa melompat masuk dalam arena pertempuran,dengan kemampuan beladiri yang tampak lebih unggul di bandingkan para anak buah Warok mata api,tak beberapa lama,empat orang anak buah rampok tersebut,terlempar keluar arena pertempuran di hantam pukulan dan tendangan. Warok mata api menatap tajam pada seorang pemuda berbaju putih menggunakan ikat kepala putih yang dengan cepat dapat melumpuhkan kesepuluh orang anak buahnya," Siapa kau anak muda,kau minta mati berani mencampuri urusan Warok mata api..!!",bentak nya keras. "Aku Sadewa,aku cuma seorang pengembara yang kebetulan lewat kampung ini,sebaiknya kau segera pergi,bawa seluruh anak buah mu.."," kurang ajar,berani kau memerintah Warok mata api..!!"," Kau sudah cukup banyak berbuat jahat,sudah banyak desa yang kau rampok dan kau bakar,kau tak selamanya bisa lari dari prajurit mataram yang mengejarmu.."," Apa urusan mu,aku seorang Warok,tugasku memang merampok,jangan kira aku takut menghadapi para kecoa-kecoa kerajaan itu..!",di tempat lain,tampak ki lurah dan sisa warga desa yang selamat mulai melangkah ke samping Sadewa," ki lurah dan warga desa menjauh lah,ijin kan saya mewakili ki lurah memberi pelajaran pada perampok ini,mundur lah ki..",melihat apa yang di lakukan Sadewa,Warok mata api tampak geram,wajahnya merah padam,kemarahannya memuncak," Kau minta mati anak muda,bersiap lah..!!",dengan sekali gerakan cepat,Warok mata api menyerang Sadewa,pertempuran jarak dekat pun terjadi,Warok mata api melancarkan pukulan dengan tenaga dalam,Sadewa melayani dengan jurus Langkah dewa angin,gerakannya cepat dan tak terduga,Warok mata api mulai terdesak,dengan satu lompatan menghindar,kepala rampok ini mundur. " Siapa pemuda ini,gerakannya sangat cepat,pukulan ku tak satupun dapat mengenai tubuhnya..",setelah sejenak berpikir,Warok mata api kembali membentak keras Sadewa," kiranya kau cukup punya keahlian,pantas kau berani mencampuri urusan ku,tapi apa kau sanggup menahan pukulan Bara neraka ku..!!",kemudian Warok mata api hantam kan kedua tangannya kedepan,sebuah angin pukulan berwarna merah menyambar,hawa sepanas neraka menyeruak ke arah Sadewa,tampa tunggu waktu lagi,Sadewa lepaskan pukulan Deru angin gurun,sebuah gelombang angin keras menyapu kedepan menghantam pukulan Bara neraka Warok mata api,dentuman keras terjadi,Warok mata api terlihat terdorong jauh kebelakang,setelah cukup bisa mengusai diri,dia kembali menghantam Sadewa dengan pukulan selanjutnya," kali ini jangan harap kau dapat selamat..!!"," Rasakan pukulan Lahar neraka ini..!!",kembali dua tangannya bergerak menghantam kedepan,cahaya merah membara menyapu ke arah Sadewa,dengan satu lompatan Sadewa pun melepaskan pukulan Sinar lentera dewa,benturan dua pukulan dengan tenaga dalam tinggi pun terjadi,sebuah dentuman keras terjadi,desa tegalwangi seakan di landa gempa dahsyat,tanah seolah bergetar hebat,lesatan bunga api membakar rumah,api makin besar menyelimuti desa tegalwangi. Tampak tubuh Warok mata api tergeletak tak bernyawa dengan tubuh hangus menghitam,Sadewa jatuh terduduk dan memuntahkan darah segar,wajahnya tampak pucat,kedua tangannya seakan mati rasa,dengan segera Sadewa duduk mengatur jalan darahnya. Melihat pimpinannya binasa,sisa anak buah Warok mata api segera berhamburan melarikan diri,salah seorang yang memang sudah terluka tak dapat bangkit dengan cepat,tampa sengaja rekannya yang lain yang terburu-buru lari menginjak bagian bawah perutnya," hancur kantong menyanku..!",teriaknya sambil mendekap pangkal pahanya,kemudian berlari sambil menahan sakit pada selangkangannya. Ki lurah bersama warga melangkah ke arah Sadewa yang telah berdiri," Terima kasih anak muda,kau sudah menyelamatkan kami semua,siapa namamu anak muda..?",Ki lurah membuka percakapan," Nama saya Sadewa,,,ki lurah dan beberapa warga terlihat terluka,sebaiknya segera panggil tabib untuk mengobati ki lurah dan warga yang lain,saya mohon pamit ki lurah..",kemudian Sadewa melangkah ke arah timu


__ADS_2