
(1) Mentari mulai muncul saat Dewa Mata Biru berlari cepat ke arah timur,kakek tua bermata biru itu terlihat sangat ingin cepat sampai di tempat tujuan,namun saat akan segera melompati sebuah sungai kecil langkah nya tertahan,di depannya sudah berdiri dua orang yang sepertinya sengaja menghadang," Gembul Edan..Juwita Maut,apa maksud mu menghadang langkah ku..?" ucapnya lembut,dua sosok yang berdiri di hadapannya cuma tersenyum,sosok gemuk luar biasa yang bukan lain Gembul Edan segera melangkah maju," Dewa Mata Biru,,,kami menghadang mu dengan satu keperluan penting,aku mau menanyakan sesuatu pada mu.." Ucapnya sambil cengar - cengir,Juwita Maut cuma sibuk merapikan poni rambutnya saat Gembul Edan bicara," Ada hal yang ingin kalian tanyakan..?" Ucapnya lembut,Sosok laki-laki berpakaian perempuan maju dua langkah kedepan," Apa benar kau menantang Satria Perisai Dewa Purnama mendatang untuk bertarung..?" Ucapnya sambil menatap tajam pada kakek tua bermata biru di depannya," Aku harus menuntut balas kematian adik kandungku Raja Buana Kelam,apa yang aku lakukan salah di mata kalian..?" jawabnya," Apa kau pernah menasehati adik mu untuk berhenti berbuat jahat selama ini..?"," Adikmu mati di tengah pertarungan dengan Sadewa karena berserikat dengan Raja Iblis Merah dan Dua Raja Tarung.." lanjut Juwita Maut selanjutnya,sejenak Dewa Mata Biru termenung mendengar kata-kata Juwita Maut," Aku tau selama ini adik ku berada di jalan yang salah,tapi sebagai seorang saudara aku tak bisa menerima apa yang terjadi.." Ucapnya sambil menoleh ke arah Gembul Edan yang masih asyik mengorek hidung sambil senyam-senyum sendiri," Kami paham kedukaan mu,tapi apa kau juga tau bagaimana perasaan orang-orang jadi korban kejahatan adik mu selama ini..?,tentu nya mereka juga punya hak yang sama seperti mu..?" Jawab Juwita Maut dengan pandangan sinis, " Kau ada lah salah satu panutan para pendekar golongan putih selama ini,kenapa kau dampai di butakan dendam..?",lagi-lagi Dewa Mata Biru menghela nafas berat," Kau harus tau Dewa Kolor Biru.."," Dewa Mata Biru..!!" semprot Juwita Maut pada sosok gemuk di samping nya yang salah menyebut nama orang,Gembul Edan cuma tertawa sambil mengangguk-angguk," Kami tak akan membiarkan hal itu juga terjadi,kita sama-sama satu golongan,ku rasa semua bisa di selesaikan dengan baik,aku tak akan membiarkan semua itu terjadi,aku tau kau orang sakti,tapi aku tak akan tinggal diam...",ucap Gembul Edan kemudian,Dewa Mata Biru cuma terdiam,kemudian berjalan,dan menatap ke arah mentari yang mulai merangkak naik,mata nya berkaca-kaca," Buana kelam adalah adik ku satu-satunya,cuma dia yang ku miliki di dunia ini,aku sudah bersumpah pada orang tua ku untuk menjaga nya.."," Tapi semua juga bukan salah Sadewa,dia cuma membela diri,perihal kau bisa terima atau tidak,seharusnya kau juga pertimbangkan tindak tanduk adik mu selama ini.." ucap Juwita Maut," Perlu kau tau Dewa Mata Biru,kau tak akan sanggup membunuh Satria Perisai Dewa,justru aku ragu kau yang akan menyusul adik mu,gunakan akal sehat mu.." lanjutnya dengan wajah kesal,Dewa Mata Biru menoleh cepat ke arah Juwita Maut,tatapan nya tajam pada sosok banci di depannya," Apa kata sobatku Banci kaleng ini betul,pikirkan lagi tindakan yang akan kau ambil Dewa Mata Biru.." Sambung Gembul Edan,kemudian menepuk Juwita Maut,lalu keduanya melesat pergi dari tempat itu. Setelah kedua orang itu pergi,Dewa Mata Biru cuma terdiam,setelah cukup lama berdiri mematung,sesaat kemudian Dewa Mata Biru segera melesat cepat ke arah timur. (2) Siang hari itu binatang hutan di kejutkan dengan suara bentakan keras dari arah bukit batu,seseorang terlihat lari tunggang-langgang sambil tertawa-tawa," Pengemis Muka Tembok jangan lari,kau akan ku bunuh kalau tertangkap..!!",di susul berkelebatnya sebuah bayangan,dengan satu gerakan cepat,bayangan biru sudah berhasil berdiri menghadang orang yang berlari sambil tertawa-tawa," Berhenti kau Pengemis sialan,berani kau mempermainkan aku,kau bosan hidup..!!",satu suara bentakan membuat sosok yang tadi berlari mendadak berhenti,sambil cengar-cengir manatap sosok bertubuh gemuk di depannya," Tuan Guru Gapuk,kau jauh-jauh dari seberang cuma untuk mencari ku,urusan lama masih kau ungkit-ungkit,apa kau tak ada pekerjaan lain..?"," Pengemis Muka Capuk..apa kau bilang,urusan lama,gara-gara kau istri ku meninggalkan aku,kapan aku kau lihat menindih Dayurana..!!",bentak Tuan Guru Gapuk sambil melotot,orang bertubuh kurus memakai pakaian lusuh penuh tambalan,dengan muka penuh bopeng,kembali tersenyum," Cukup sudah kau mengejek ku dengan memberi gelar yang tak satu pun enak di dengar,Muka Tembok,Muka Capuk,apa lagi sesudah itu..!,nama ku Pengemis Bopeng..!!!" Jawabnya keras kemudian kembali tertawa," Aku sudah menjelaskan sejelas-jelasnya,kau terjatuh dari atas atap tempat kita mengintip tempat kediaman Datuk Rajo Marapi,tapi sial nya kau jatuh di atas ketiduran Dayurana istri datuk sialan itu.."," Cuma Uni Anis tidak percaya,dia tetap bersikukuh kau memang ada main dengan Dayurana..ha..ha..!" sambungnya sambil tertawa keras," Kurang ajar apa perlu mu menjelaskan apa yang terjadi,kini kau harus kembali menemui istri ku,kau ulang menjelaskan,kalau tidak...ku buat tambah banyak capuk di wajah mu..!!",ucap Tuan Guru Gapuk sambil melotot,belum sempat Pengemis Bopeng menjawab,dari jurusan samping melompat,seorang pemuda berpakaian putih,berambut panjang,membawa sesuatu di punggungnya," Paman berdua,boleh kah aku bertanya..?"," Anak kapindiang..!! ( anak kecoa bahasa minang ),kau sangka kami tempat bertanya,apa kau tak melihat kami sebentar lagi akan saling bunuh..!!",jawab Tuan Guru Gapuk marah,Pengemis Bopeng sejenak menatap Sadewa dengan pandangan menyelidik," Apa yang mau kau tanyakan anak muda..?" ucapnya kemudian pada pemuda yang bukan lain Sadewa,setelah bolak-balik menatap Tuan Guru Gapuk dan Pengemis Bopeng," Kemana arah desa terdekat..?" ujar Sadewa,Pengemis Bopeng kembali manatap pemuda di depannya dengan penuh selidik," Kau Satria Perisai Dewa..?" tanya nya kemudian,sosok gemuk yang berdiri tak jauh darinya ikut terkejut,dan buru-buru menoleh pada Sadewa," Saya Sadewa paman.." jawabnya sambil sedikit membungkuk hormat,Pengemis Bopeng cuma tersenyum mengangguk,kemudian melangkah mendekati Sadewa," Perisai di punggung mu sudah cukup menjelaskan siapa dirimu adanya anak muda. Aku Pengemis Bopeng,ini sahabatku Tuan Guru Gapuk.."," Siapa sudi jadi sahabatmu.." Tuan Guru Gapuk mengomel,Sadewa cuma tersenyum melihat kedua orang di depannya," Sepertinya paman berdua sedang ada urusan penting ku tak mau mengganggu lebih jauh,aku mohon diri.." Ucap Sadewa kemudian putar tubuh," Tunggu anak muda,kalau kau Satria Perisai Dewa,tentunya kau mau memberi tahu,di mana kau akan bertarung dengan Dewa Mata Biru purnama mendatang..?" seru Tuan Guru Gapuk sambil maju selangkah ke arah Sadewa,anak muda di depannya cuma menunduk,kemudian segera melanjutkan berlari cepat ke arah selatan," Ku rasa tindakan yang di ambil Dewa Mata Biru kurang bijaksana,adiknya orang jahat,dan pemuda itu tentunya cuma di pihak yang membela diri..",ucap Pengemis Bopeng dari sisi kanan Tuan Guru Gapuk," Aku tak minta pendapatmu..!!,kau cuma bisa bicara,kau tak merasakan bagaimana pahitnya di tinggal saudara kandung..!!",semprot Tuan Guru Gapuk kemudian,setelah cukup lama berdiri larut dalam pikiran masing-masing,Tuan Guru Gapuk kembali memutar tubuh nya pada Pengemis Bopeng," Kau ikut aku sekarang ke tanah datar..!!",serunya sambil menunjuk ke arah Pengemis Bopeng," Kau memang orang kurang waras..!!' Bentak Pengemis Gapuk kemudiam segera melesat pergi," Kurang ajar,kau mau lari kemana lagi..!!", seru Tuan Guru Gapuk sambil menunjuk ke arah Pengemis Bopeng yang berlari sangat cepat.(3) Dewa Mata Biru duduk berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh tinggi besar di sebuah pondok tak jauh dari sebuah lembah subur," Kelana jagat...aku berharap kau bisa membantu ku membalaskan dendam ku pada Satria Perisai Dewa. Aku rasa para pendekar golongan putih akan bertindak jika aku yang melakukannya,apa kau sanggup..?",Ucapnya sambil berdiri melangkah mondar-mandir,laki-laki bertubuh besar bernama Kelana Jagat itu cuma tertawa kecil," Aku sudah bisa mengukur sampai di mana kemampuan pemuda itu,aku sendiri tak akan sanggup melakukannya,perlu meminta bantuan tokoh-tokoh golongan hitam yang sangat mendendam padanya..",Dewa Mata Biru cuma mengangguk,kemudian segera mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pakaiannya," Kau atur bagaimana baiknya,ini separuh dari bayaran mu,sisanya akan ku berikan setelah pekerjaan mu selesai..",Ucapnya sambil melemparkan sebuah kantong hitam kecil,Kelana Jagat segera menyambut,kemudian memeriksa potongan-potongan emas dalam kantong,kemudian tertawa mengekeh," Tak usah ragu Dewa Mata Biru,dendam mu akan segera terbalaskan,Satria Perisai Dewa akan segera tinggal nama..ha..ha..!!"Ucapnya kemudian,kemudian segera berdiri mendekat pada Dewa Mata Biru," Aku akan segera mencari tambahan tenaga lain untuk segera melaksanakan tugas dari mu.." Dewa Mata Biru cuma mengangguk,tak lama Kelana Jagat segera melangkah keluar pondok,dan segera melesat cepat menyusuri lembah subur. Setelah Kelana Jagat pergi," Aku tau tindakan yang ku ambil salah,semoga tuhan memberikan ku pintu maaf.." Gumamnya pelan,kemudian segera berjalan ke tengah gubuk,lalu duduk bersila di atas sebuah kursi kayu lebar beralaskan tikar butut,tak lama kemudian Dewa Mata Biru sudah larut dalam semedinya. (4) Kelana Jagat berlari kencang menyusuri tepi pantai laut selatan,hujan turun semakin deras,di sebuah batu karang yang cukup tinggi terlihat satu sosok berdiri di tengah hujan di sertai angin kencang,pakaian nya berkibar-kibar di hembuskan angin kencang,sosok berpakaian hitam itu menatap tajam ke arah Kelana Jagat yang terus berlari ke arah nya. " Selamat datang sahabat Kelana Jagat yang memiliki gelar hebat Pendekar Tapak Bisa..!" Seru orang yang masih berdiri di tempat tinggi,Kelana Jagat mendongak ke atas menatap ke arah sosok di atas batu karang tinggi," Pendekar Karang Selatan..turun lah,aku ada keperluan menemui mu..!!"serunya pada sosok di atas batu,dengan satu gerakan yang sangat ringan,Pendekar Karang Selatan melompat turun,setelah saling berhadapan." Pendekar Tapak Bisa,ada keperluan apa kau datang jauh-jauh menemui ku..?"," Aku menemui mu untuk membuat datu kesepakatan..?"," Kesepakatan apa..?,coba kau jelaskan..?",sejenak Pendekar Tapak Bisa menoleh ke kanan kiri,setelah yakin pembicaraan mereka tak di dengar orang lain," Aku mau memintamu bergabung dengan ku untuk membunuh Satria Perisai Dewa. Apa jawab mu..?",Pendekar Karang Selatan sejenak larut dalam lamunan," Apa sengketa mu dengan pendekar yang baru muncul itu..?"," Aku tak bisa menjawab tanya mu,cuma aku akan memberikan upah yang cukup besar untuk kerjasama mu..",Jawab Pendekar Tapak Bisa. " Dan bukan cuma kau,aku juga akan mengajak beberapa orang lainnya untuk membantu. Kenapa lama sekali kau berpikir,bukankah tawaran ku bagus untuk mu,kalau kau setuju,dua bongkah kecil emas i ni akan me jadi milikmu..." sambungnya sambil membuka tapak tangannya,di telapak tangan nya terlihat dua bongkahan emas cukup besar berwarna kuning menyilaukan. Pendekar Karang Selatan sejenak memutar tubuh,sambil menoleh ke arah kejauhan," Baik...aku akan bergabung,berikan emas itu pada ku..?" ujar nya kemudian,Pendekar Tapak Bisa tertawa kecil,lalu lemparkan kantong kecil berisi dua bongkah emas murni di dalamnya. Dua sosok bayangan terus berlari cepat ke arah barat,di sebelah kanan tampak Pendekar Tapak Bisa berlari sambil membawa sebuah kantong di pundaknya,di sampingnya berlari Pendekar Karang Selatan," Apakah Sagundil akan berada di tempat,manusia kurang waras itu sering keluyuran kemana pun..",Pendekar Tapak Bisa menoleh ke arah rekan di sampingnya," Aku yakin orang gila itu akan ada di pondok tua nya,kita harus bergerak lebih cepat,sebentar lagi hari akan segera gelap..",rekan nya cuma mengangguk,kemudian mereka berlari lebih cepat ke arah barat. " Manusia Gila..!,aku tau kau ada di dalam,segera keluar,aku sahabatmu Kelana Jagat..!!",Serunya begitu sampai di halaman sebuah pondok tua,dari dalam pondok terdengar seseorang batuk-batuk kecil,tak lama pintu pondok terbuka,dari dalam pondok melangkah seorang bertubuh gemuk,berkulit hitam legam. " Kelana Jagat..Pendekar Karang Selatan..apa keperluan kalian ribut-ribut di depan pondok ku.." ucapnya sambil tangannya terus menggaruk ke dalam celananya," Manusia setan..bisa kau berhenti menggaruk anu mu di depan kami..!!",Bentak Pendekar Tapak Bisa,sosok gemuk berkulit hitam di depannya sejenak terkejut,kemudian kembali tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk sesuatu dalam celananya. " Sahabat Kelana Jagat..kau kan tau,aku lebih baik mati,dari pada tak bisa menggaruk anu ku.." Ucapnya sambil tertawa," Katakan apa mau kalian..?" sambungnya kemudian,"Aku mengajak mu bergabung untuk membunuh Satria Perisai Dewa,apa jawabmu Manusia Gila Darah..?",awalnya laki-laki gemuk itu terkejut,namun kemudian kembali tersenyum sendiri," Apa bayaran ku kalau aku mau bergabung dengan kalian..?",Pendekar Tapak Bisa segera lemparkan sebuah kantong kecil padanya," Kau akan kaya tujuh turunan dengan dua bongkah besar emas itu..!!" Seru Pendekar Tapak Bisa,Manusia Gila Darah cuma tersenyum melihat isi kantong," Baik,,,aku akan bergabung,aku sendiri yang akan membunuh pendekar muda itu,akan ku hisap darahnya,aku sudah lama tak menghisap darah lawan ku..!!" Ujarnya sambil tertawa keras. (5) Sadewa berjalan pelan memasuki sebuah desa kecil di tepi hutan jati,di sebuah simpangan terlihat seseorang berjalan ke arahnya," Anak muda...ikut dengan ku,kau dalam bahaya..",Bisik nya pada Sadewa begitu berpapasan,Sadewa cuma terlihat bingung melihat orang bercaping yang terus berjalan,setelah cukup lama berpikir kemudian segera putar tubuh mengikuti orang bercaping. " Siapa kau kisanak,bisakah kau membuka caping mu..?",Ucap Sadewa yang berdiri tak jauh dari seseorang yang berpakaian putih mengenakan caping lebar di kepalanya," Apa kau masih mengenaliku anak muda..?",ucapnya sambil membuka caping. " Eyang Sabda Langit..!" kejut Sadewa sambil membungkuk hormat sambil bergerak maju menyalami kakek tua gagah berpakaian putih,Eyang Sabda Langit cuma tersenyum
" Anak muda...kau harus hati-hati,orang-orang jahat berserikat untuk membunuh mu,duduk lah di sini,aku akan membantu mengeluarkan darah hitam yang masih sedikit berada di tubuhmu..",Sadewa kemudian duduk di hadapan Eyang Sabda Langit yang masih berdiri,dengan satu gerakan cepat,telunjuk Eyang Sabda Langit bergerak cepat menotok beberapa bagian tubuh Sadewa,pada totokan terakhir di ubun-ubun,Sadewa meraung dahsyat,tubuhnya terlempar ke belakang,kemudian terkapar dengan darah hitam menyembur dari mulutnya,sejenak Sadewa mencoba untuk bangkit,namun tak lama kemudian jatuh pingsan. Hari menjelang sore ketika Sadewa sadar dari pingsan,dengan tubuh lemah pemuda ini mencoba duduk bersila mencoba untuk bersemedi,suara kicau burung pagi membuka mata Sadewa,asap tipis terlihat keluar dari tubuhnya,mukanya sudah kembali segar," Alhamdulillah...tenaga ku terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya,sakit di dadaku sudah tidak terasa ketika aku menghimpun tenaga dalam,terima kasih tuhan,terima kasih Eyang Sabda Langit.." gumam nya,lalu membungkuk mencium tanah sebagai ungkapan rasa syukurnya. Baru saja Sadewa berjalan beberapa langkah mendadak di hadapannya berkelebat sepasang muda - mudi berpakaian merah menyala,keduanya menatap penuh selidik pada pemuda berpakaian putih penuh bercak darah hitam di bajunya," Siapa kisanak berdua,kenapa menghadang jalanku.." Sapa Sadewa lembut,si gadis yang berambut pendek sepundak di ikat kain merah maju kedepan," Kau Satria Perisai Dewa..?" ucapnya kemudian,Sadewa cuma tersenyum,kemudian mengangguk," Kami murid utama perguruan Mega Merah,kau yang sudah membunuh guru kami Raja Iblis Merah,kami minta nyawa mu sebagai ganti nyawa guru kami..!!" bentaknya kemudian,kemudian segera menoleh pada pemuda tampan di sampingnya," Adik Dwiguna,tunggu apa lagi,ayo kita berangus pemuda ini..!",ucapnya kemudian,sesaat kemudian Sadewa surah di kurung di dua arah," Sabar dulu,ayo kita bicara baik-baik,aku akan jelaskan apa yang terjadi.."," Kau mau mencari dalih pembenaran,ayo kakak Arum kita habisi dan bawa kepalanya kembali ke perguruan..!!",tampa tunggu lama keduanya segera bergerak mengurung,lalu dengan satu teriakan keras segera menggempur Sadewa dari dua arah,gerakan keduanya sangat cepat dan berbahaya,sampai lima jurus pertarungan berlangsung,Sadewa masih coba untuk terus menghindar,dengan jurus Langkah Dewa Angin setiap serangan lawan dapat di hindarinya dengan mudah,kedua muda-mudi murid perguruan Mega Merah semakin gusar,serangan-serangan mereka kian cepat,dalam satu gerakan keduanya segera lepaskan Pukulan Cakrawala Merah dari dua arah,Sadewa yang sudah beberapa kali menghadapi pukulan sakti ini,segera melompat mundur sambil hantamkan Perisai Dewa kedepan dalam jurus Tameng Sakti Dewa Langit,dentuman keras bergemuruh,Sadewa terdorong mundur,Arum dan Dwiguna terlempar jauh kebelakang,keduanya terkapar dengan darah mengalir dari mulut dan hidung mereka,Sadewa berjalan ke arah mereka," Kisanak dan Nisanak berdua terluka,sudahi pertarungan ini,aku paham kenapa kalian menaruh dendam,tapi yang terjadi antara aku dan guru mu adalah pertarungan secara kesatria,aku cuma membela diri ku.." Ucapnya menjelaskan," Jangan kasihani kami,kami belum kalah,kalau kau mau ayo bunuh kami saat ini,kami tidak takut..!!" seru Dwiguna kemudian jatuh pingsan,Arum terlihat pucat melihat apa yang terjadi pada adik seperguruannya," Tak usah khawatir,dia cuma pingsan. Kau sanggup bertahan tentunya karena tenaga dalam mu lebih kuat darinya,segeralah atur jalan darah mu,jangan perturutkan amarah mu.." Ucap Sadewa Lembut,sejenak kedua nya saling pandang,Arum kemudian segera melangkah ke arah Dwiguna,kemudian segera sandarkan pemuda itu di sebuah batu besar. kemudian tampa memperdulikan Sadewa,gadis ini segera duduk bersila bersemedi sambil mengatur jalan darahnya. (6) Hari mulai sore ketika Arum membuka mata,kemudian menoleh ke arah batu besar tempat Dwiguna tergolek,gadis ini terkejut melihat dwiguna sudah duduk sambil membakar kelinci hutan," Bagaimana mungkin kau bisa pulih lebih cepat adik..?"," Sepertinya pemuda itu yang mengobati aku kakak,aku merasa luka ku jauh lebih baik,lihat..!",ucapnya sambil membuka baju di bagian dadanya,terlihat beberapa daun sirih hutan menempel di dadanya. Gadis berpakaian merah mendadak larut dalam lamunan," Apa benar pemuda itu yang melakukan semua ini.." Kemudian tampa sadar dia membuka telapak tangannya,terlihat sesuatu jatuh dari telapak tangannya,Arum kemudian mengambil sebuah benda bulat berwarna putih yang tadi terjatuh," Apa ini,apa ini sejenis obat..?" gumamnya pelan," Di tanganku ketika sadar pun ada benda bulat itu,setelah ku telan aku merasa luka dalam ku jauh lebih baik.." Ucap Dwiguna melihat keraguan di wajah Arum,sejenak gadis ini masih berpikir,namun sesaat kemudian segera telan benda putih bulat di telapak tangannya. Sambil terus berjalan Arum terlihat banyak diam,Dwiguna sejenak menoleh ke arah kakak seperguruannya," Sepertinya kakak memikirkan sesuatu..?" ucapnya pada gadis di sampingnya,Arum sejenak terkejut dengan muka merona merah," Aku tak memikirkan apapun,kita harus segera kembali ke perguruan,kita harus laporkan apa yang terjadi pada paman Ajilawang.." Ucapnya kemudian,Dwiguna cuma tersenyum " Aku tau apa yang kau pikirkan kakak,tentunya Satria Perisai Dewa itu yang membuatmu banyak melamun.." ucapnya menggoda gadis di sampingnya,Arum sejenak terlihat jengah,kemudian segera memutar arah pandangan ke arah aliran sungai di bawah tebing," Aku cuma memikirkan bagaimana cara kita membalas dendam,pemuda itu ternyata bukan orang sembarangan.." jawabnya mencari alasan," Aku justru ragu apa tindakan kita benar..?,kita semua tau guru memang selalu berada di jalan yang salah,walaupun beliau berharap kita tak meniru jalan hidupnya.." ucap Dwiguna sambil melompat ke atas sebuah batang pohon besar yang membelintang di tepi jalan," Apa maksud mu adik,apa kau akan membiarkan orang yang membunuh guru kita hidup tenang,di mana baktimu pada guru..!!" bentak Arum pada pemuda di depannya,Dwiguna cuma diam,kemudian segera melangkah ke hadapan Arum," Kakak...apa mata hatimu tidak melihat,kalau pemuda itu bukan orang baik,tentunya kita sudah jadi mayat saat ini.." ucapnya lalu melangkah kedepan meninggalkan Arum yang masih berdiri mematung," Ada benarnya apa yang ucapkan Dwiguna,kalau Satria Perisai Dewa mau,dia akan dengan mudah membunuh kami berdua.." Gumamnya,kemudian segera menyusul adik seperguruannya yang telah melangkah jauh. Sadewa melangkah kedalam sebuah gua,api unggun menyala di tengah gua,di tangannya terlihat dua ekor ikan besar sudah di tusuk lidi,siap untuk di bakar. " Kenapa Eyang Sabda Langit selalu muncul sesaat kemudian kembali pergi,benar apa yang di katakan Ratna Ayu,manusia sakti itu sukar untuk di temui,namun akan selalu ada ketika di butuhkan.." gumam nya,Sadewa kembali larut dalam lamunan,tampa sadar di depannya sudah berdiri dua orang muda-mudi yang tak lain Arum dan Dwiguna, Sadewa segera berdiri,kemudian " Kenapa cuma berdiri,ikan ini cukup besar untuk kita bagi tiga,kemarilah.." ucapnya pada Arum dan Dwiguna," Kenapa kau tak membunuh kami,justru menolong kami..!", jawab Dwiguna,Arum cuma berdiri di samping adik seperguruan nya,Sadewa kembali duduk sambil terus membolak-balikan ikan bakar di depannya," Apa untung nya aku membunuh kalian,di antara kita cuma ada salah paham.."," Apa maksud mu salah paham,kau sudah membunuh guru ku..!!" bentak Arum pada pemuda tampan di depannya,