SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
DENDAM BERDARAH


__ADS_3

(1) Malam hari di suatu desa bernama Desa Lubukdalam,seorang Wanita berjalan tertatih sambil menggendong seorang bayi yang terus menangis,wajahnya cantik tapi pucat,rambutnya tergerai panjang sebatas pinggang,dalam gelap malam yang kian merayap tiba-tiba, " Berhenti..! tetap di tempat mu,siapa kau malam-malam begini menggendong bayi berjalan sendiri..?" tegur beberapa orang yang tengah meronda,wanita itu sekilas menatap laki-laki bertubuh gemuk dengan kopiah hitam di kepala," Jangan halangi jalanku,aku akan ke rumah Juragan Tikudarma.." Jawabnya pelan,empat orang yang tengah meronda saling tatap sejenak," Diam kan anak mu,kasihan anak mu terus menangis.." tegur salah seorang yang memakai sarung dan blangkon di kepala," Tak usah mengurusi anak ku,dia akan diam setelah bertemu ayah nya..",lagi-lagi para peronda saling menatap," Sepertinya wanita ini kurang waras kang.." bisik laki-laki berkopiah pada laki-laki di samping nya,orang di sebelahnya yang terlihat lebih tua cuma mengangguk-angguk. " Apa keperluan nyai menemui Juragan Tikudarma,besok mungkin nyai bisa kembali.." ucap laki-laki tua di depannya," Aku tak punya waktu,ku harap kalian jangan menghalangi jalanku..!" Jawab Si wanita,sambil berjalan ke arah Desa Lubuk Dalam,para peronda menatap wanita muda itu dengan pandangan yang aneh," kita ikuti dia,cuma jangan terlalu dekat.." Ucap laki-laki tua pada rekannya,yang lain cuma mengangguk. Setelah sampai di sebuah bangunan yang cukup besar dan mewah," Tikudarma keparat,keluar kau..!!" Wanita muda menggendong anak berteriak keras,anak dalam gendongan nya makin keras menangis,beberapa orang pengawal nampak tergopoh-gopoh berlari ke halaman," Siapa kau Wanita gila..!,malam-malam berteriak..!!",bentak pengawal yang baru datang,tak lama di halaman rumah yang cukup luas sudah berdiri lima orang pengawal bersenjatakan golok,ternyata keributan di luar rumah membuat tuan rumah besar itu terbangun,nampak dari arah pintu berjalan seorang laki-laki bertubuh besar tinggi dengan tubuh berotot,kumis tebal menghias atas bibirnya, di sebelahnya berjalan seorang perempuan cantik yang terlihat masih sangat muda," Ada apa ini..?, siapa wanita itu,anak siapa yang menangis..?" Ucapnya kemudian pada para pengawal,sejenak laki-laki yng bukan lain Juragan Tikudarma menatap wanita menggendong anak di halaman rumah,wajahnya mendadak pucat," Marni..!,apa yang kau lakukan,apa yang terjadi padamu..?" ucapnya terlihat cemas,wanita menggendong anak kecil menatap garang Juragan Tikudarma," Setelah kau renggut semuanya dariku,kemudian kau pergi begitu saja meninggalkan aku..!!'," Manusia laknat,ini adalah anak mu,aku menuntut tanggung jawabmu..!" semua menjadi hening,gadis cantik di samping Juragan Tikudarma kemudian maju selangkah," Siapa kah kakak ini,apa maksud semua ini..?",Ucapnyaa lembut sambil menoleh pada anak dalam gendongan wanita itu," Mundur diajeng..tak usah di ladeni,dia cuma wanita gila kesasar,pengawal usir wanita ini,lemparkan ke luar..!!" Bentak Juragan Tikudarma keras,para pengawal sejenak menjadi bingung,setelah melihat Juragan Tikudarma melotot marah pada mereka,kemudian lima pengawal segera maju mengurung wanita menggendong anak kecil.(2) Sadewa berjalan sambil menggigit sebatang tebu,hari itu terlihat sangat cerah,suara burung berkicau terdengar riuh menyambut pagi," Sampai kapan dia akan terus mengikuti ku,aku jadi penasaran siapa orangnya.." Gumam Sadewa pelan,kemudian Sadewa berlari cepat,tak lama di sebuah tikungan yang mengarah ke pintu hutan Sadewa menyelinap dan melompat tinggi ke atas sebuah pohon berdaun rimbun,tak lama seseorang terlihat berlari,kemudian berhenti di bawah pohon besar itu," Sepertinya dia tau ku ikuti dari kemaren sore.." Seorang gadis sangat cantik berpakaian hijau terlihat menghela nafas panjang,kemudian duduk di bawah pohon sambil melepas lelah,tak lama seseorang melompat dari atas dahan pohon besar,berdiri tak jauh darinya. Si gadis terkejut,wajahnya sebentar pucat,kemudian berubah merah merona,dengan cepat menoleh ke arah lain," Nirmala,,kenapa kau mengikuti aku.." Tegur Sadewa sambil tersenyum,gadis berpakaian hijau yang bukan lain Nirmala sesaat menoleh ke arah Sadewa," Siapa bilang aku mengikutimu,mungkin kebetulan arah kita sama,dan aku tak berniat mendahului.." jawabnya terdengar ketus,Sadewa cuma tersenyum,kemudian melangkah mendekat,sambil memotong-motong ranting pohon dan membuat tumpukan kayu unggun kecil," Tunggu lah sejenak,aku akan menangkap beberapa ikan atau kelinci hutan untuk mengisi perut.." tampa menunggu jawaban,Sadewa berkelebat ke arah sungai kecil. Sadewa duduk sambil membolak-balikan dua ikan besar di atas tumpukan ranting kayu,Nirmala duduk terdiam tak jauh darinya," Ku kira kau pergi menyusul Bibi Larasati.." Sadewa membuka percakapan,Nirmala menoleh ke arah pemuda yang masih sibuk membolak-balikan ikan bakar di tangannya,cukup lama Nirmala menatap pemuda tampan berpakaian putih di depannya," Kemana tujuan mu pendekar..?" ucap Nirmala singkat,Sadewa cuma menoleh sebentar,kemudian tersenyum pada gadis cantik di depannya," Aku seorang pengembara,aku tak pernah punya tujuan,aku cuma mengikuti kemana kaki ini melangkah.." Jawabnya sambil memberikan seekor ikan yang sudah matang,Nirmala cuma mengangguk," Kau sendiri,kemana tujuanmu..?" ucap sadewa kemudian," Aku berencana menziarahi makam kedua orang tua ku..",Sadewa menatap Nirmala cukup lama,dua pasang mata saling menatap,Nirmala tertunduk dengan wajah merona," Nasib kita tak jauh beda,ayah ku mati terbunuh di depan mataku saat aku kecil,ibu menghilang entah kemana.." Sadewa dan Nirmala sama-sama tertunduk larut dalam pikiran masing-masing,mereka cukup lama terdiam," Makanlah,aku akan mengantarmu ke makam orang tua mu.." Sambung Sadewa kemudian. (3) Sadewa dan Nirmala memasuki desa Lubukdalam saat orang ramai berkumpul,tak lama lima kuda berlari cepat ke arah luar desa,lima orang tampak berpacu dengan cepat,di salah satu kuda terlihat seseorang menelungkup di punggung kuda," Apa yang terjadi paman..?" Tanya Sadewa pada salah seorang warga yang ikut berkerumun,orang yang di ajak bicara menoleh ke arah Sadewa dan Nirmala," Malam tadi ada sebuah kejadiaan di rumah Juragan Tikudarma,seorang wanita muda menggendong seorang bayi membuat kekacauan di rumah Juragan Tikudarma.." jawabnya menjelaskan," Apakah wanita itu yang tadi di bawa lima orang berkuda yang barusan lewat..?" Tanya Nirmala,warga desa itu cuma mengangguk," mereka tadi adalah para pengawal Juragan Lintah darat itu.." jawab nya sambil menoleh ke arah warga yang berkerumun. Sejenak Sadewa dan Nirmala saling pandang kemudian segera berlari cepat ke arah lima kuda yang berlari cepat di kejauhan,warga desa yang tadi di ajak bicara terkejut ketika menoleh tiba-tiba lawan bicaranya sudah tidak ada," Walah..siapa tadi yang bicara padaku,kenapa mendadak hilang..!" Seru nya ketakutan," Jangan-jangan mereka Jin penunggu hutan,awas mereka bisa membuat mangsanya kehilangan salah satu bagian tubuh,periksa tubuhmu..!" seru kawan nya,warga desa yang di ajak bicara makin terlihat takut," Kurang ajar kau jangan membuat ku tambah takut..!" bentaknya makin terlihat pucat,kemudian segera mengusap seluruh tubuhnya dari atas sampai ke bawah,terakhir memasukan tangannya ke dalam celana,merogoh2 apa yang di dalam celana nya," Syukur semua masih lengkap,Anu ku pun masih ada..". Sadewa dan Nirmala berlari secepat angin mengikuti lima ekor kuda yang mengarah kedalam hutan,terus mendaki sebuah tempat di ketinggian,tak lama mereka berhenti di tepi sebuah jurang dalam,yang di aliri aliran air yang cukup deras di bawahnya," Lemparkan mayat wanita itu..!" Perintah salah seorang yang bertindak sebagai pemimpin,kemudian setelah melemparkan tubuh wanita malang itu,mereka bergegas kembali ke desa Lubukdalam. (4) Tubuh wanita itu melayang cepat kebawah jurang,sesaat lagi tubuh wanita itu menghantam sebuah batu besar di pinggir sungai,sesosok bayangan putih melompat cepat menyambut tubuhnya. Sesosok tubuh wanita muda dengan wajah pucat terbujur di depan Nirmala dan Sadewa,wajahnya penuh celemongan darah,mukanya lebam seperti habis kena pukulan," Wanita ini masih hidup,denyut nadinya masih terasa walaupun sangat lemah.." Ucap Sadewa sambil mengalirkan hawa murni ketubuh wanita malang tersebut,tak lama kemudian wanita malang itu membuka matanya,menatap dua orang muda-mudi di depannya," Apakah aku sudah mati..?" tanyanya lirih,Sadewa dan Nirmala tersenyum ke arahnya," Nyai masih hidup,apa yang terjadi..?" tanya Nirmala kemudian,sejenak wanita ini cuma bengong,kemudian terpekik " Anak ku..!!, mana anak ku..!!" teriaknya,Sadewa dan Nirmala saling pandang," Sepertinya wanita ini punya beban sangat berat,kita harus membantunya.." bisik Nirmala pada Sadewa," Tenang lah Nyai...kami tak menemukan anak mu,tenanglah..ceritakan apa yang terjadi.." Ucap Nirmala mencoba menenangkan wanita di depannya,setelah cukup lama menangis,wanita itu menoleh ke arah Sadewa dan Nirmala," Siapa kalian,kenapa tak kalian biarkan aku mati,mereka pasti mengambil anak ku.." Ucapnya sambil menangis pilu,Sadewa cuma menunduk,Nirmala terlihat sangat iba melihat wanita muda di depannya,setelah cukup lama menangis,wanita ini duduk bersandar di batu besar di tepi aliran sungai," Namaku Marni,aku berasal dari Desa Sukorejo,berjarak cukup jauh dari desa ini. Aku ke desa ini mencari Juragan Tikudarma,manusia yang telah menghamiliku,kemudian mencampakkan aku menikah dengan anak kepala kampung ini..",setelah cukup lama terdiam," Aku kemari meminta pertanggung jawabannya,manusia keparat itu tak mau mengakui anak ku,dia justru menyuruh pengawalnya memperkosa ku dan membunuhku,aku tak tau apa yang mereka lakukan pada anak ku.." sambungnya,kemudian kembali menangis dengan sangat pilu,Nirmala mendekat sambil memeluk nya,terlihat Nirmala ikut menangis,Sadewa cuma duduk tertunduk." Jangan khawatir nyai,aku sendiri yang akan memecahkan kepala manusia biadab ini..!!" Ucap Nirmala dengan wajah penuh kemarahan,kemudian mereka bertiga segera berjalan ke arah Desa Lubukdalam. (5) Di teras belakang rumah besar,di bawah sebuah pohon rindang,seorang wanita muda sangat cantik terlihat menggendong seorang bayi mungil di dalam sebuah kain gendongan,sambil bernyanyi-nyanyi kecil berusaha menidurkan bayi dalam gendongannya,seorang wanita bertubuh sedikit gemuk duduk tak jauh sambil melipat pakaian," Menurutmu apa cerita wanita itu bisa ku percaya,anak ini adalah buah hati nya dengan kang mas Tikudarma..?" Ucapnya pelan pada wanita bertubuh sedkit gemuk," Den Ayu harus mencari kebenaran nya dulu,jangan cepat mengambil kesimpulan.." jawabnya sambil terus melipat kain," Kira-kira kemana para pengawal kang mas Tikudarma membawa wanita itu..?", gumamnya kemudian. Juragan Tikudarma terlihat duduk di kursi besar,di depannya berdiri dua orang tua berpakaian hitam,wajahnya terlihat mirip,bersenjatakan celurit besar," Pendekar Celurit Kembar,kalian sudah ku bayar mahal untuk membunuh Marni dan keluarganya,nyatanya wanita itu semalam membuat kerusuhan di rumah ku,apa jawab kalian..!",kedua kakek tua berwajah sama saling pandang," Kami sudah membunuh semua yang ada di rumah itu,termasuk seorang wanita muda,tapi memang kami tak menemukan seorang bayi di rumah itu.." jawab nya kemudian,Juragan Tikudarma menatap tajam ke arah keduanya," Kemungkinan yang kalian bunuh adalah saudara sepupunya..",namun tak lama di luar terdengar suara ribut-ribut,Juragan Tikudarma dan Sepasang Pendekar Celurit Kembar segera berjalan cepat ke halaman,di halaman nampak lima orang pengawal tengah mengeroyok seorang pemuda berpakaian putih,tak jauh dari situ nampak Marni berdiri di samping seorang gadis berpakaian hijau,tak lama pertarungan berlangsung lima pengawal Juragan Tikudarma sudah terkapar,satu orang nampak kepalanya benjut besar dan mengeluarkan darah kena pentungan ujung golok di tangan Sadewa,dua orang melingkar di tanah dengan tulang rusuk patah di hantam tendangan,dan dua orang lagi tergeletak di tanah dengan tulang dada remuk,sejenak mereka mengerang,kemudian keduanya tewas. Juragan Tikudarma memandang tajam pada Sadewa," Siapa kau,kenapa kau membunuh dua pengawalku..!!" bentaknya,Sadewa maju melangkah ke arah Juragan Tikudarma," Juragan,,kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu pada wanita itu.." jawab Sadewa sambil menunjuk Marni yang berdiri dengan muka pucat di sebelah Nirmala,Juragan Tikudarma tertawa keras," Anak muda..jadi kau mau membela pelacur itu,benar aku yang menyuruh menyiksa dan memperkosa nya,bahkan aku juga telah membunuh seluruh keluarganya..!" Serunya sambil melangkah maju kedepan,Marni berteriak keras," Manusia biadab..kau benar-benar iblis,kau siksa aku,kau bunuh keluarga ku,mana anak ku..!!," Anak mu aman bersama ku Nyai.." Satu suara terdengar,seorang wanita cantik keluar sambil menggendong seorang anak kecil yang terlihat tenang dalam gendongannya," Kang Mas..tak ku sangka kau setega ini,apa kau sadar perbuatan mu.." ucapnya sambil menoleh ke arah Juragan Tikudarma," Diam kau..!,tak usah kau mengajari aku,kalian perempuan memang hanya untuk pemuas nafsu untuk ku,salahnya sendiri mengandung anak itu,aku sudah memberikan cukup uang untuk nya menggugurkannya. Marni mengerung keras mendengar perkataan Juragan Tikudarma,sambil berlari memegang golok salah seorang pengawal yang sudah mati ke arah manusia yang paling di bencinya,Nirmala tak sempat mencegah,Juragan Tikudarma yang melihat wanita yang di bencinya itu berlari ke arahnya,segera lepaskan Pukulan sakti,selarik sinar merah melesat cepat dari telapak tangannya," Pukulan Mega Merah..!" Seru salah seorang dari Pendekar Celurit Kembar,Sadewa yang mencoba mencegah namun terlambat,tubuh Marni tersapu deras kebelakang,golok di tangannya terlepas dan terlempar jauh,tubuh Marni jatuh menghujam bumi,wanita itu tewas seketika dalam keadaan tubuh hangus,sejenak semua terkesima melihat kejadian yang berlangsung cepat. (6) Nirmala berlari ke arah tubuh wanita malang itu,Sadewa terlihat sangat marah," Biadab..!!" Gembornya sangat marah,begitu dia melompat cepat ke arah Juragan Tikudarma,dua sosok bayangan segera melompat kedepan menghalangi," Satria Perisai Dewa..kami lawan mu..!!" Ucap salah seorang dari Pendekar Celurit Kembar," Tak peduli siapa pun dia,bunuh dia,bayar kesalahan yang kalian perbuat..!!" Seru Juragan Tikudarma. Pendekar Celurit Kembar melompat maju sambil babatkan senjata di tangan mereka dengan cepat ke arah Sadewa,dua larik sinar hijau berbentuk setengah lingkaran menyapu cepat ke arah Sadewa," Pukulan Sepasang Celurit iblis,pukulan yang sangat mengerikan..!" Seru Juragan Tikudarma. Sadewa sesaat tercekat melihat sapuan sinar hijau yang bergerak cepat ke arahnya,sambil melompat mundur,Sadewa ayunkan Perisai bercahaya biru di tangannya,gerakannya cepat dalam Jurus Tameng Sakti Dewa Langit,Perisai Dewa melayang cepat di sertai suara desingan bergemuruh memapas Pukulan Sepasang Celurit Iblis lawan,dentuman keras terdengar,tak lama pertarungan jarak dekat di antara tiga orang pendekar ini berlangsung sengit,Sadewa bergerak cepat dengan Perisai Dewa di tangan kirinya,Sepasang Pendekar Celurit Kembar mengurung Sadewa dengan serangan cepat,benturan Celurit iblis di tangan mereka dengan Perisai Dewa Langit membuat halaman luas itu di penuhi percikan api,pada satu kesempatan Sepasang Pendekar Celurit Kembar lepaskan Pukulan Sakti bercahaya hijau terang ke arah Sadewa," Kau tak akan sanggup menghindari Pukulan Sepasang Kutuk.." gumam Juragan Tikudarma yang masih berdiri menyaksikan pertarungan,Sadewa segera menggeser kaki kirinya sambil lepaskan Pukulan Sinar Lentera Dewa,gelombang sinar berwarna biru bergemuruh menghantam ke arah dua Pukulan Sepasang Kutuk,dentuman keras mengguncang halaman luas rumah Juragan Tikudarma,istri mudanya yang masih menggendong bayi anak Marni,terlempar jauh kebelakang tersapu angin pukulan,Nirmala dengan cepat segera berusaha menahan tubuh mereka dengan dua tangan. Sepasang Pendekar Celurit Kembar berusaha bertahan dengan wajah pucat pasi,senjata di tangannya terlihat bergetar,Sadewa berdiri dengan Perisai Dewa berputar cepat di tangan kirinya membentengi tubuhnya dari angin pukulan. Setelah cukup lama saling pandang,Sepasang Pendekar Celurit Kembar kembali melompat sambil lepaskan Pukulan Sakti,dua gelombang angin keras menyertai kibasan cepat celurit di tangan mereka,Sadewa segera lepaskan Pukulan Deru Angin Gurun,di susul Pukulan Sinar Lentera Dewa,dentuman keras kembali terdengar bergemuruh,Sepasang Pendekar Celurit Kembar tersapu angin pukulan,tubuh mereka terlempar jauh kebelakang,celurit di tangan mereka nampak bengkok menghitam,darah kental menyembur dari mulut mereka,dengan susah payah mereka mencoba bangkit,namun kembali roboh ke tanah dengan nyawa melayang. Sadewa sendiri jatuh berlutut di tanah,dadanya sesak,tangan nampak bengkak membiru,Juragan Tikudarma yang melihat Sepasang Pendekar Celurit Kembar tewas sejenak menatap tajam pada Sadewa yang sedang mencoba mengatur jalan darahnya,melihat kesempatan emas,Juragan Tikudarma melompat cepat sambil lepaskan Pukulan Mega Merah ke arah Sadewa,sinar merah panas bergulung cepat ke arah Sadewa,Nirmala yang masih memegang Istri muda Juragan Tikudarma segera melesat cepat kedepan lepaskan Pukulan Lahar Merapi,Sadewa yang terkejut di serang secara licik segera hantam kan tangan kanan nya kedepan melepas Pukulan Tinju Naga Perkasa,gelombang cahaya hijau melesat cepat di sertai raungan naga murka,bentrokan tiga pukulan di udara mengeluarkan dentuman keras,halaman rumah mewah Juragan Tikudarma di guncang dentuman bergemuruh dahsyat,Raungan Juragan Tikudarma terdengar menggidikan,tubuhnya terlempar,tangan sebelah kanan nya putus,sebagian tubuhnya hangus menghitam,Sadewa terseret jauh kebelakang,punggungnya lecet berkelukuran,nafasnya memburu,dari hidung dan telinganya darah mengalir,Nirmala masih berdiri dengan sempoyongan,dadanya berdenyut sakit,dengan cepat Nirmala duduk mengatur jalan darahnya. Juragan Tikudarma sekarat di pangkuan istri mudanya,matanya sayu memandang istrinya yang masih mengendong bayi kecil yang terus menangis,bibirnya bergetar seakan ingin mengucapkan sesuatu," Istriku,maafkan kesalahanku,aku menyesal.." Suaranya lirih,wanita cantik yang memeluknya menangis pilu," Aku memaafkan mu Kang Mas,pergilah dengan tenang,aku akan merawat anakmu dengan penuh kasih sayang.." Ucapnya sambil menangis,Juragan Tikudarma dengan sekuat tenaga mencoba mengangkat tangan membelai bayi di gendongan istrinya,di saat tangannya memegang kepala bayi kecil itu,mendadak tangis kerasnya berhenti,cuma sesaat membelai anaknya,kemudian Juragan Tikudarma terkulai menghembuskan nafas terakhirnya,istrinya meraung pilu memeluk tubuhnya. Sadewa dan Nirmala melihat semua itu dalam keharuan,entah siapa yang memulai,tangan keduanya bergenggaman erat cukup lama,setelah kedua nya tersadar,keduanya buru- buru melepaskan genggaman tangan dengan wajah sama-sama bersemu merah,Nirmala memandang jauh menyembunyikan wajahnya yang merah merona,Sadewa cuma cengar-cengir karena malu. Setelah cukup lama diam," Sepertinya urusan kita di sini sudah selesai,kita lanjutkan perjalanan.." Ucap Sadewa kemudian.. Bersambung


__ADS_2