
(1) Malam itu area di sekitar pondok kayu yang sudah runtuh sebagian terlihat pemandangan yang cukup ramai,beberapa orang terlihat berkumpul di halaman pondok," Eyang Lintah Hitam,Ki Juru Dukun dan sahabat Hantu Dasar Bumi. Sampai kapan kita akan menunggu Setan Teluk Dalam datang,apa tak lebih baik kalau kita mulai persiapan sambil menunggu sahabat kita itu datang...?",ucap Dewa Tombak yang berdiri dengan memegang sebilah tombak bermata dua berwarna putih mengkilat. " Kita tunggu sebentar lagi,aku yakin dia akan segera datang,kita harus tau dulu keadaan di luar, sebelum melakukan langkah kita selanjutnya.." ucap Eyang Lintah Hitam yang bertindak sebagai pimpinan,Hantu Dasar Bumi dan Ki Juru Dukun cuma mengangguk tanda setuju ucapan Eyang Lintah Hitam," Para anak murid pilihan ku sudah ku sebar mengurung tempat ini,dan akan siap dengan ratusan panah dan tombak.." sambung Dewa Tombak kemudian,tak lama dari kejauhan berlari sesosok laki-laki berpakaian biru gelap," Itu Setan Teluk Dalam..!!" seru Hantu Dasar Bumi,sesaat kemudian Setan Teluk Dalam sudah berdiri di hadapan semua orang yang ada di situ," Mohon maaf aku terlambat datang,aku merasa perlu untuk memastikan siapa saja yang bersama Satria Perisai Dewa. Dan aku sudah pastikan Gembul Edan dan Juwita Maut akan bersama nya ke tempat ini.." ucap Setan Teluk Dalam," Kau tak melihat Genderuwo Agung dan dua wanita yang selalu bersamanya..?" tanya Eyang Lintah Hitam,Setan Teluk Dalam cuma menggeleng," Aku tak melihat Genderuwo Agung dan dua wanita bersamanya..". Semua nya sejenak saling pandang," Kalau begitu kita segera susun rencana,urusan akan lebih cepat selesai kalau cuma Si Gemuk gila dan Banci sundal itu yang ikut bersama pendekar muda itu..!" ucap Dewa Tombak bersemangat,di ikuti anggukan Hantu Dasar Bumi," Kita harus membuat persiapan matang,bagaimana pun ketiga orang itu bukan orang yang bisa di pandang enteng,ayo kita susun rencana untuk esok hari..!" Ucap Ki Juru Dukun,semua yang hadir segera mencari tempat duduk masing-masing di sekitar api unggun,perbincangan semakin hangat ketika hari semakin malam. (2) Dewa Mata Biru berlari kencang,di sampingnya sosok tinggi besar bertubuh gemuk buncit berkulit merah Siluman Kawah Neraka,keduanya berlari laksana angin," Tak lama lagi kita akan sampai di pondok tua Hantu Seribu Nafsu,setelah Satria Perisai Dewa dan Genderuwo Agung datang,langsung kita laksanakan rencana awal,langsung kita habisi..!!" ucap sosok gemuk bersemangat,Dewa Mata Biru cuma tersenyum,lalu mengangguk sambil terus berlari kencang. Dua sosok yang baru datang melihat sekitar halaman pondok dengan pandangan tajam," Sepertinya kita sudah keduluan lawan sampai di sini.." ucap Siluman Kawah Neraka sambil berbisik,Dewa Mata Biru edarkan pandangan ke sekitar tempat itu," Yang jelas bukan pemuda itu yang mendahului kita,tapi orang lain,dan ku rasa bukan satu dua orang.." jawab nya sambil edarkan pandangan,tak lama kemudian beberapa sosok berkelebat melompat ke tengah halaman gubuk tua,di tempat itu sudah berdiri dalam posisi mengurung,Dewa Tombak,Hantu Dasar Bumi,Ki Juru Dukun,Eyang Lintah Hitam dan Setan Teluk Dalam. " Apa maksud kalian mengurung kami,kalian mencari mati..!!" bentak Siluman Kawah Neraka dengan suara keras,lima sosok yang baru datang cuma tertawa,kemudian Eyang Lintah Hitam segera maju ke arah Dewa Mata Biru," Kami bukan mau ikut campur urusan mu dengan Satria Perisai Dewa,tapi kita punya musuh yang sama,kami ingin memastikan pendekar muda itu mati hari ini.." ucapnya,Dewa Mata Biru balik kan badan melangkah ke arah pondok tua," Aku tak berharap bantuan kalian,aku sendiri yang akan membunuhnya dengan tangan ku,kalian boleh jadi saksi kematiannya.." jawabnya sambil melirik pada Siluman Kawah Neraka yang mengangguk-angguk sambil tersenyum," Kami tak butuh bantuan kalian cecunguk-cecunguk yang cuma bisa mengambil keuntungan di atas usaha orang lain..!!" bentak nya keras,kemudian,tertawa mengejek ke arah lima sosok di depannya,Eyang Lintah Hitam dan para rekannya terlihat gusar dengan muka marah mendengar ucapan Siluman Kawah Neraka," Siluman keparat,aku Hantu Dasar Bumi siap menghabisi mu saat ini juga..!!" ucapnya sambil melangkah cepat,namun segera di halangi Setan Teluk Dalam," Sabar sobat,kita tak perlu saling baku hantam dulu saat ini,pastikan dulu musuh bersama kita mati hari ini,kemudian kita atur kedepan bagaimana baiknya.." ucapnya mendingin kan amarah Hantu Dasar Bumi,Eyang Lintah Hitam maju kedepan dua langkah," Dewa Mata Biru,saat ini kami akan bersabar mendengar ucapan lancang sahabat mu ini,tapi begitu urusan hari ini selesai,aku bersumpah akan melepaskan jantung siluman tengik ini dengan tangan ku..!" ucap nya,lalu putar tubuh melompat ke arah semak belukar di ikuti empat rekannya. " Biarkan mereka,yang pasti mereka punya maksud yang sama dengan kita,dan tentunya mereka pun akan turut membantai Satria Perisai Dewa,tugas kita akan makin ringan.." ucapnya pelan pada Siluman Kawah Neraka yang masih terlihat gusar," Mana keparat itu,kenapa belum datang,aku yakin dia takut,tangan ku sudah gatal untuk membantai Genderuwo Agung sialan itu..!!" ucapnya sambil menghentakan kaki. (3) Sehari sebelum nya di sebuah saung di tengah sawah yang telah mulai menguning," Sadewa...kami akan menemani mu menemui Dewa Mata Biru,aku yakin dia tak akan datang sendiri.." ucap Juwita Maut yang duduk di ujung saung sambil berkaca-kaca,Gembul Edan tertawa sendiri sebelum berkata," Kau harus berhati-hati anak muda,Dewa Mata Biru adalah salah seorang dedengkot dunia persilatan tanah jawa ini. Aku tak menyangka dia akan gelap mata karena dendam.."," Benar..padahal selama ini dia adalah rekan seperjuangan yang banyak membantu pendekar golongan putih melawan para tokoh sesat.." sambung Juwita Maut,Sadewa cuma diam sambil mendengarkan,Gembul Edan yang duduk menjelepok di pematang sawah sambil mengorek hidung cuma mengangguk-angguk,Juwita Maut lalu menoleh pada sahabat gemuknya," Gemuk gila,apa kau ada rencana untuk hari esok..?" tanya nya sambil melempar punggung lebar Gembul Edan dengan kepala ikan sisa mereka makan," Ku rasa paman berdua tidak usah repot-repot ikut menemani ku,aku akan datang sendiri menemui Dewa Mata Biru,aku akan mencoba mencari jalan damai dalam hal ini.." ucap Sadewa sambil membetulkan letak Perisai di punggungnya," Jangan gegabah anak muda,nyawa mu terancam kalau kau datang sendiri.." ucap Juwita Maut," Jangan khawatir,insya allah aku akan baik-baik saja,terima kasih atas niat baik paman berdua.." Jawab Sadewa sambil sedikit membungkuk hormat,lalu segera bangkit berdiri," Aku mohon pamit paman,mohon doa mu semoga semua bisa berakhir dengan baik.." ucap Sadewa,lalu segera berkelebat pergi ke arah barat. " Aku tak yakin urusan ini bisa di selesaikan secara baik,anak muda ini dalam bahaya.." ucap Juwita Maut pada Gembul Edan," Kau benar sobat ku banci,kita harus segera menyusul,kita amati dulu seperti apa nantinya di sana sebelum kita mengambil tindakan.."," Ku rasa Genderuwo Agung dan Dewi Tangan Seribu sudah menuju ke sana,ayo kita ikuti Sadewa..!" Seru Juwita Maut,Gembul Edan segera berdiri,lalu berkelebat cepat di ikuti Juwita Maut. Di Tempat lain terlihat tiga bayangan berlari cepat ke menyusuri aliran sungai," Bibi..menurutmu Sadewa apa sudah sampai,aku mendadak khawatir.." ucap Nirmala dengan wajah cemas,Dewi Tangan Seribu menoleh ke arahnya," Tak usah khawatir,anak muda itu orang yang cerdik,dia tau apa yang akan dia lakukan,percayalah Dewa Mata Biru tak akan mudah mengalahkannya.." ucapnya sambil berlari,sosok ketiga yang berlari agak di belakang adalah yang tak lain Genderuwo Agung dalam sosok gaibnya," Kita harus cepat,matahari sudah semakin tinggi,ku rasa Gembul Edan Dan Juwita Maut sudah berada di sana...!" ucapnya dengan suara serak besar," Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk nanti di sana,kau tak boleh jauh-jauh dari kami Nirmala,tetap di samping ku atau paman mu..!" sambung Dewi Tangan Seribu,Nirmala cuma mengangguk pelan,lalu ketiganya menambah kecepatan lari mereka. (4) Sadewa berlari dengan cepat,di kejauhan terlihat sebuah pondok tua di tepi aliran sungai yang cukup deras,di tengah halaman pondok berdiri dua orang laki-laki,satu berpakaian putih dengan ikat kepala juga warna putih,yang satu bertubuh tinggi luar biasa,badannya gemuk luar biasa,dengan berlari cepat dalam waktu tak lama Sadewa sudah berdiri tak jauh dari Dewa Mata Biru dan Siluman Kawah Neraka," Bagus...kau ternyata cukup punya nyali anak muda,apa kau sudah siap menerima hukuman atas perbuatan mu..?" ucap Dewa Mata Biru dengan tatapan tajam,Sadewa sejenak manatap bergantian pada Dewa Mata Biru dan Sosok Siluman Kawah Neraka di samping nya," Ku rasa kau sudah gelap mata kakek tua,atas apa yang terjadi pada saudara mu,aku cuma membela diri. Dan kalau untuk itu kau akan menjatuhkan hukuman pada ku,tentunya aku pun punya hak membela nyawa ku.." jawab sadewa,Dewa Mata Biru tertawa keras," Kau boleh berdalih apa pun anak muda,tapi semua tak dapat lagi kau pungkiri,bersiap lah...!!" serunya sambil maju beberapa langkah,Sadewa cuma bisa menggelengkan kepala," Sayang sekali,nama besar mu akan tercoreng dengan kau perturutkannya nafsu mu pada dendam,semoga tuhan mengampuni segala khilafmu kakek tua.." ucap Sadewa,lalu segera bersiap,Perisai Dewa sudah berada di tangan kirinya,kedua nya sudah berdiri saling berhadapan siap memulai pertarungan. (4) Dewa Mata Biru segera buka serangan dengan melompat cepat sambil tusukan dua jarinya kedepan,ini lah jurus Jari Dewa yang selama ini jadi andalan nya dalam pertarungan jarak dekat,Sadewa segera bergerak cepat mengimbangi dengan jurus Langkah Dewa Angin,pertarungan berlangsung seru,jual beli pukulan terjadi dengan cepat,Sadewa bergerak sangat ringan dalam menghadapi lawan yang seakan ingin cepat mengakhiri pertarungan,pukulan-pukulan yang di lancarkan Dewa Mata Biru berhasil di bendung dengan bergerak cepatnya Perisai Dewa membuat benteng pertahanan yang kokoh,pada jurus ke seratus terlihat Dewa Mata Biru mulai kendur serangannya,tenaga tua nya mulai banyak terkuras,Sadewa makin terlihat unggul dengan balas menyerang dengan pukulan-pukulan yang dengan susah payah harus di bendung Dewa Mata Biru,dalam satu kesempatan sambil melompat mundur,Dewa Mata Biru lepaskan Pukulan Godam Dewa akhirat,satu gelombang cahaya merah menggempur Sadewa dengan cepat di iringi suara dentuman keras,Sadewa segera putar Perisai Dewa di tangan kirinya,dengan satu gerakan cepat segera hantam kan Perisai Dewa dengan cepat dalam jurus Tameng Sakti Dewa Langit,cahaya biru terang laksana cakra raksasa melesat cepat menghantam pukulan lawan,dentuman sangat keras terdengar bergemuruh,sejenak semua menjadi hening,Dewa Mata Biru terlihat berdiri dengan wajah pucat,sedangkan Sadewa berdiri sempoyongan dengan tangan kiri yang terlihat bengkak membiru. Siluman Kawah Neraka berdecak kagum melihat apa yang terjadi," Tenaga dalam pemuda ini sangat tinggi,wajar dia dapat mengalahkan Raja Iblis Merah. Dewa Mata Biru dalam bahaya kalau harus bertarung dalam waktu lama dengan pemuda ini,aku harus bergerak membantu.."gumam nya dalam hati. " Bagus..kau dapat menahan pukulan ku tadi,tapi apa kau sanggup menahan pukulan ku selanjutnya..!" serunya,lalu berputar cepat kebelakang,lalu secepat kilat buka dua mata nya dengan lebar,dua larik sinar biru terang langsana dua mata pedang raksasa melesat cepat ke arah Sadewa," Pukulan Sepasang Pedang Asura...sangat berbahaya sekali..!" seru Siluman Kawah Neraka sambil melompat mundur. Sadewa segara geser dua kaki membentuk kuda-kuda tangguh,lalu dengan satu hentakan keras,pemuda ini hantam kan dua tangannya melepas Pukulan Sinar Lentera Langit,dua cahaya biru terang berkelebat cepat kedepan dengan suara bergemuruh dahsyat,dentuman keras kembali terjadi,area sekitar laksana di landa gempa dahsyat semua bergetar hebat,batu-batu besar di tepi sungai berhamburan saling bertabrakan,Sadewa terlempar jauh kebelakang,namun dengan satu gerakan jungkir balik segera berdiri kembali dengan nafas memburu,terlihat lelehan darah di tepi bibirnya,lain hal nya dengan Dewa Mata Biru,tubuhnya terlempar bagai di sapu badai,kemudian jatuh terduduk dengan pandangan nanar,kepalanya terasa laksana tanggal dari lehernya,matanya terasa berkunang-kunang. Melihat lawan cukup lama terduduk,dengan satu gerakan cepat Sadewa segera susul hantamkan tinju kanan nya kedepan,Pukulan Tinju Naga Perkasa berkelebat cepat ke arah Dewa Mata Biru,Siluman Kawah Neraka segera berkelebat cepat lepaskan Pukulan Lahar Neraka ,seberkas cahaya merah sangat panas berkelebat cepat,tak cuma itu,dari arah samping melesat lima pukulan lain menyapu cepat ke arah Sadewa,sekejap Sadewa tergagau,lalu dengan gerakan yang sukar di lihat segera dorong Perisai Dewa kedepan dengan kekuatan penuh,ini lah jurus pamungkas yang jarang di keluarkan sadewa,Pukulan Tameng Raksasa Dewa di iringi raungan seekor kera raksasa terdengar memekakan telinga,bukan cuma itu dari arah belakang Sadewa terdengar Auman harimau yang terdengar sangat menggelegar bersama berkelebatnya seekor binatang ketengah pertempuran membendung semua pukulan,dentuman keras terdengar berkali-kali,lalu terlihat satu sosok tubuh hitam raksasa terlempar jauh kebelakang," Sadewa terkejut melihat bagaimana seekor Harimau sebesar gajah telah berdiri gagah di depannya," Datuk Rajo Hitam..!!" Seru Sadewa,lalu segera berlari cepat ke samping harimau besar hitam yang baru saja menahan semua pukulan sakti,bersama dengan itu terlihat di tempat itu sudah berdiri lima orang laki-laki dengan tampang-tampang mengerikan," Terima kasih kawan-kawan,kalian semua sudah menyelamatkan nyawa ku.." ucap Dewa Mata Biru yang memandang berkeliling pada Siluman kawah Neraka,Raja Tombak,Hantu Dasar Bumi,Setan Teluk Dalam,Ki Juru Dukun,dan tentunya Eyang Lintah Hitam. Kini Sadewa terlihat sudah di kurung oleh tujuh orang yang berniat untuk menghabisinya,Sadewa memandang sejenak pada Harimau besar hitam di sampingnya,Perisai Dewa di tangan kirinya terlihat memancarkan cahaya biru terang. (5) " Ajal mu sudah semakin dekat pendekar keparat,kau dan Harimau jadi-jadian mu akan segera mampus..!!" Seru Eyang Lintah Hitam yang segera melompat cepat di iringi yang lain kembali lepaskan Pukulan sakti,lagi-lagi Sadewa di kurung oleh tujuh pukulan yang berkelebat cepat ke arahnya,dengan tetap tenang sambil bergerak berputar Sadewa lepaskan berturut-turut Pukulan Tinju Naga Perkasa,Sinar Lentera Langit,lemparkan Perisai Dewa dalam jurus Pukulan Tameng Sakti Dewa Langit. Lagi-lagi tempat itu di guncang dentuman dahsyat,letupan-letupan keras bergemuruh sambung-menyambung,tujuh pukulan lawan tertahan di udara,namun dengan satu hentakan cepat,ketujuh cahaya pukulan mencoba menembus benteng pertahanan Sadewa,di saat yang sangat genting itu lah,dari arah belakang Sadewa melesat lima gelombang pukulan ke arah depan. Halaman luas di depan pondok tua itu seakan di amuk topan prahara,tanah bergetar dengan hebatnya,percikan cahaya pukulan menyebar kesegala arah menghantam apapun yang ada di sekitar,pohon dan batu-batu besar berserakan dalam keadaan terbakar,di tengah arena pertempuran telah terlihat beberapa kawah besar di tanah akibat hantaman tenaga dalam. Di samping Sadewa kiri dan kanan telah berdiri lima orang yang bukan lain Gembul Edan,Juwita Maut,Nirmala,Genderuwo Agung dan Dewi Tangan Seribu. Juwita Maut yang berada tepat di samping Datuk Rajo Hitam yang bersiap menyerang kedepan terlihat ketakutan saat sang Harimau mengaum dahsyat," Aduh..aku salah ambil tempat,salah-salah aku yang di geragotnya.." ucapnya dengan wajah ketakutan," Aku berharap Harimau itu sekalian memakan diri mu sobat ku banci,sepertinya dia suka makan manusia setengah jadi seperti mu.." ucap Gembul Edan sambil tertawa mengekeh," Kalian dalam keadaan begini masih bisa bergurau..!" bentak Genderuwo Agung," Diam kau,Raksasa gila,bagaimana kau melihat kami bergurau,tak tau kau aku sedang ketakutan di samping Harimau besar ini...!" semprot Juwita Maut,kembali tempat itu riuh oleh tawa Gembul Edan dan Genderuwo Agung,Nirmala dan Dewi Tangan Seribu cuma ikut tersenyum. " Bagus..kau akhirnya datang juga Genderuwo Agung,aku sudah lama menunggumu,kau sudah siap untuk mampus..!!" seru Siluman Kawah Neraka pada sosok besar di samping Sadewa," Ternyata kau sengaja bergabung dengan Dewa Kalap mata untuk tujuan lain,aku dengan senang hati akan melayani tantangan mu Siluman comberan..!" jawab Genderuwo Agung lalu tertawa keras,setelah sejenak menoleh pada Nirmala dan Dewi Tangan Seribu," Hati-hati Kakang,siluman itu sepertinya tidak main-main.." bisik Dewi Tangan Seribu," Jangan khawatir,bila terjadi sesuatu,lekas bawa Nirmala pergi dari sini.." jawabnya,lalu segera melangkah besar ke arah Siluman Kawah Neraka,kedua nya sudah saling berhadapan,terlihat dua sosok bertubuh raksasa setinggi pohon sudah saling berhadapan,"Eh..gendut sialan,kau cuma mau mengorek hidung mu,pilih lawan mu,kita tak bisa membiarkan mereka mengeroyok pemuda ini..!" seru Juwita Maut yang mulai kesal pada Gembul Edan yang masih asyik mengorek hidung. Setelah sejenak menoleh pada Juwita Maut," Serahkan Si Lintah sungai itu pada ku..!" ucapnya,segera melompat kedepan Eyang Lintah Hitam," Kau minta mati gemuk gila..!!" bentak Eyang Lintah Hitam lalu melangkah cepat menghadapi sosok gemuk Gembul Edan. Juwita Maut tak mau tinggal diam,dia segera melangkah ke arah Setan Teluk Dalam," Aku lawan mu,setan kuburan.." ucapnya lalu tertawa mengejek,Setan Teluk Dalam terdengar menggembor marah,lalu segera berjalan ke arah Juwita Maut yang sibuk merapikan riasan wajahnya," Nirmala,mundur lah,mereka bukan tandingan mu.."," Tapi bibi,aku ingin ikut membantu.."jawabnya,Dewi Tangan Seribu cuma diam," Menjauh lah Nirmala,semua akan baik-baik saja.." ucap Sadewa padanya sambil tersenyum,dengan wajah kesal akhirnya gadis cantik berpakaian hijau ini segera menjauh. Dewi tangan Seribu segera berjalan ke arah Hantu Dasar Bumi,Harimau besar hitam yang masih berjalan mondar-mandir di hadapan Dewa Mata Biru dan yang lain,mendadak mangaum keras,tanah seolah bergetar,lalu dengan satu lompatan cepat,binatang besar sudah berada di depan Ki Juru Dukun dan Dewa Tombak. (6) Sadewa dan Dewa Mata Biru kembali terlibat dalam pertarungan hebat,keduanya sudah saling jual beli pukulan sakti,Dewa Mata Biru sudah terlihat kacau balau,Sadewa pun terlihat sudah terluka dalam,namun kedua nya masih bertarung dengan sengit,dalam satu kesempatan Dewa Mata Biru terlihat sudah memegang sebilah pisau pendek berkeluk," Kau akan mendapat kehormatan mati di ujung Belati Baja Langit ini anak muda,bersiaplah..!!" serunya sambil berkelebat cepat,Sadewa bergerak cepat dalam jurus Tameng Sakti Dewa Langit,benturan Belati Baja Langit dan Perisai Dewa menimbulkan percikan-percikan bunga api,bahkan dalam datu langkah cepat Belati Baja Langit membabat cepat ke arah pinggang Satria Perisai Dewa,sambil berputar cepat Sadewa segera sapukan Perisai Dewa kebawah,bentuaran keras dua senjata sakti mandraguna itu membuat sebuah tolakan pada dua orang yang bertarung,Sadewa tersuruk jauh ke samping,Dewa Mata Biru terlihat terdorong kebelakang,namun setelah berhasil menguasai keadaan kedua segera melompat cepat kedepan lepaskan Pukulan sakti,kembali dentuman keras terjadi ketika Pukulan Godam Dewa Akhirat bertemu dengan Pukulan Sinar Lentera Langit,kembali keduanya saling terlempar jauh kebelakang,dengan kemarahan luar biasa Dewa Mata Biru dengan cepat segera lepaskan Pukulan Sepasang Pedang Asura,sepasang sinar biru terang membentuk pedang raksasa melesat cepat dari kedua mata Dewa mata biru,di susul dengan gerakan cepat lemparkan Belati Baja langit ke arah pemuda di depannya,Sadewa yang sudah merasakan sebelumnya dahsyatnya pukulan sakti lawan tampa pikir panjang segera lepaskan Pukulan Tinju Naga Perkasa dengan sekuat tenaga,cahaya hijau bergulung-gulung menyapu kedepan di iringi raungan Naga murka,di susul kemudian dengan lemparkan Perisai Dewa kedepan dalam Jurus Tameng Raksasa Dewa,beradunya tiga pukulan sakti mengeluarkan suara berdentum keras bergemuruh,bunga api pecah kesegala jurusan,tebing sungai di beberapa bagian terlihat runtuh di hantam goncangan,air sungai membuncah tinggi ke atas,dua jeritan terdengar keras,sosok Dewa Mata Biru berdiri dengan tubuh tampa kepala,kepala nya pecah di hantam Perisai Dewa yang terus melaju cepat menghantam batu sebesar rumah di samoing pondok tua,tak jauh di darinya terlihat Belati Baja Langit tertancap di sebuah batu dalam keadaan bengkok menghitam,Sadewa terlempar kebelakang dengan tubuh sebagian mengalami luka bakar,dadanya sesak,pandangannya berkunang-kunang,dari sela hidung,mata dan telinga nya darah mengalir,beberapa kali Sadewa mengalami muntah darah,tubuhnya sesaat bergetar keras,lalu kemudian tergeletak pingsan. Bersambung..