
(1) Derap kaki kuda terdengar ramai menuju sebuah pondok tua di tepi aliran sungai,tak lama kemudian lima belas ekor kuda sudah mengurung area sekitar,seorang lelaki tua namun bertubuh masih tegap gagah,segera melompat dari punggung kuda di iringi yang lain," Ki Lurah Jayabaya,,,sepertinya ini tempat persembunyian mahluk celaka itu..!" Ucap seorang warga desa di samping lelaki tua," Seperti nya benar,tetap waspada,jangan gegabah.." jawabnya kemudian,lima belas laki-laki bersenjata golok segera menyebar mengurung sekitaran pondok kayu," Keluar kau Mahluk jahanam..!!" Seru Ki Lurah Jayabaya,sejenak suasana terlihat hening,tak lama sesosok bayangan melesat cepat ketengah halaman pondok,semua mata menatap tajam pada seorang laki-laki tua bertubuh tinggi kurus," Hantu Seribu Nafsu..kami minta kau kembalikan para gadis desa yang telah kau culik..!!" Seru Ki Lurah,Hantu Seribu Nafsu tertawa keras,sorot matanya tajam pada orang-orang di sekitarnya,beberapa warga desa tampak gemetar menatap sosok angker di depan mereka," Silahkan kalian ambil mayat mereka di atas batu besar di tepi sungai itu..!!",jawabnya sambil menunjuk pada sebuah batu di tepi aliran sungai,para warga desa sesaat menoleh ke arah tunjuk Hantu Seribu Nafsu,kemudian beberapa orang warga segera berlari ke arah batu besar,tak lama mereka kembali dengan wajah pucat dan nafas memburu," Apa yang terjadi..!" Bentak Ki Lurah Jayabaya,tiga orang warga yang sempat melihat ke arah batu besar sejenak terkejut,kemudian menjawab dengan terbata-bata," Tiga sosok gadis muda,terlihat mati dengan kepala pecah di balik batu itu..",ucap salah seorang dari mereka dengan ketakutan,semua warga terkejut,kemudian menoleh serempak ke arah Hantu Seribu Nafsu," Kalian semua akan menyusul..!!" Ucapnya kemudian melesat cepat ke arah warga desa yang masih terlihat ketakutan,Ki Lurah segera melompat menghadang gerakan Hantu Seribu Nafsu,dengan satu pukulan cepat ke arah muka,Hantu Seribu Nafsu tundukan kepala nya dengan cepat,kemudian balas menyerang dengan sebuah tendangan ke arah perut,Ki Lurah melompat cepat kesamping sambil lepaskan pukulan tangan kosong,namun Hantu Seribu Nafsu cuma diam tak bergerak,pukulan Ki Lurah bersarang telak di dada lawan,Hantu Seribu Nafsu tak bergeming sedikitpun,lain dengan apa yang terjadi dengan Ki lurah,tubuh nya terdorong kebelakang,tangan kanan nya tampak bengkak kebiruan. " Kenapa kalian cuma diam,apa kalian tak berniat membantu Ki Lurah..!!" ucap Hantu Seribu Nafsu pada semua warga yang mengurungnya dengan seringai mengejek kemudian tertawa,sejenak para warga desa saling pandang,kemudian di pimpin Ki lurah Jayabaya,para warga desa segera menyerbu dengan bersenjata golok di tangan. Warga desa berebut menyarangkan bacokkan ke tubuh Hantu Seribu Nafsu,namun lawan yang di serang kembali tertawa keras," Ayo pilih bagian tubuh ku yang ingin kalian serang..ha..ha..!!",senjata para warga telak mengenai setiap bagian tubuhnya,tapi Hantu Seribu Nafsu tak terluka sedikitpun,bahkan pakaian nya pun tak robek oleh sabetan sekian banyak serangan golok,sambil tertawa keras Hantu Seribu Nafsu terus berdiri tegak di tengah halaman pondok. Para warga desa mundur dengan wajah ketakutan," Iblis ini punya ilmu kebal,semua mundur..!" seru Ki Lurah kemudian," Kalian semua sudah puas..!,sekarang terima kematian kalian warga bodoh..!!" Seru Hantu Seribu Nafsu kemudian melompat cepat ke arah warga desa,dengan beberapa gerakan saja,terdengar pekikan dan raungan para warga desa,tiga warga desa terlempar kebelakang dengan kepala pecah,sejenak warga lain melihat ngeri apa yang terjadi pada rekan mereka,kemudian dengan nekad dan kemarahan memuncak kembali serentak bergerak maju ke arah Hantu Seribu Nafsu,pertarungan tak seimbang kembali berlangsung,dua urang warga desa kembali tergeletak dengan dada remuk,di susul dua orang warga lagi yang melompat mundur sambil pegangi rusuknya yang remuk di hantam tendangan Hantu Seribu Nafsu, (2) " Kita tak bisa menunggu,semua warga desa bisa habis di bantai nya,ayo Nirmala kita bantu Ki Lurah dan warga desa..!" satu suara terdengar,kemudian sesosok bayangan putih dengan cepat bergerak masuk ke arena pertarungan,di susul kemudian bayangan hijau. Hantu Seribu Nafsu memandang tajam pada dua orang muda-mudi yang berdiri di tengah halaman,"Kalian lagi,tak bosan kalian mencampuri urusan ku..!!",Sadewa segera menoleh ke arah Ki Lurah dan warga desa," Ki Lurah,bawalah para warga menjauh,biar kami yang menghajar Hantu mesum ini.." Ki Lurah sejenak memandang Sadewa dan Nirmala,kemudian setelah melihat Nirmala mengangguk,Ki Lurah Jayabaya segera menjauh sambil membopong rekan mereka yang terluka. Sadewa berdiri berhadapan dengan Hantu Seribu Nafsu," Mundur lah Nirmala,aku yang akan menghadapinya.." Nirmala cuma mengangguk,kemudian mundur menjauh,tanpa menunggu lama Sadewa segera melompat kedepan lepaskan serangan,Hantu Seribu Nafsu tertawa keras,kemudian segera melesat cepat kedepan menyambut serangan Sadewa,dalam waktu singkat telah terjadi pertarungan sengit,Sadewa bergerak cepat dengan Jurus Langkah Dewa Angin,tubuhnya meliuk kian kemari menghindari serangan cepat lawan,Hantu Seribu Nafsu nampak berusaha melumpuhkan lawan nya secepat mungkin,dalam satu kesempatan sambil melompat,Hantu Seribu Nafsu lepaskan Pukulan Sembah Dewa Perang,dua tangan bergerak kedepan di sertai melesatnya gelombang sinar hitam bergulung-gulung ke arah Sadewa,dengan melompat jauh kebelakang dengan cepat Sadewa hantamkan tangan kanan nya kedepan,Pukulan Tinju Naga Perkasa melesat cepat di sertai cahaya terang dan raungan Naga murka. Dentuman keras terdengar bergemuruh,halaman di sekitar pondok bergetar,air sungai membuncah tinggi ke atas,Sadewa terlempar jauh kebelakang,dadanya sesak,dari lubang hidung dan tepian mulutnya darah terlihat mengalir," Sadewa terluka dalam.." Gumam Nirmala dengan wajah cemas. Hantu Seribu Nafsu tertawa sangat keras,sambil berdiri tegak tampak kurang satu apapun," Sekarang tak ada lagi yang akan menyelematkan mu anak muda..!!",melihat Sadewa masih berlutut dengan wajah pucat,dengan satu gerakan sangat cepat Hantu Seribu Nafsu hantamkan tangan kanan nya kedepan," Pergilah ke neraka anak muda..!! serunya lepaskan Pukulan Seribu Tabir Hantu,gelombang cahaya hitam bergerak cepat ke arah Sadewa,pemuda berbaju putih segera bergerak cepat lemparkan Perisai Dewa kedepan,Pukulan Tameng Sakti Dewa Langit melesat cepat laksana sebuah Cakra raksasa,sambil melompat ke samping Sadewa menyusul lepaskan Pukulan Sinar Lentera Langit,gelombang cahaya biru terang melesat cepat ke arah lawan,dari arah samping Nirmala lepaskan Pukulan Lahar Merapi,cahaya merah sangat panas melesat cepat menggempur Hantu Seribu Nafsu,dentuman sangat keras bergemuruh saat empat pukulan sakti bertemu di udara,area sekitar tepian aliran sungai laksana di landa gempa dahsyat,percikan cahaya merah,biru dan hitam bertabur di udara,di halaman pondok tampak sebuah kawah besar terbentuk. Ki Lurah dan warga desa berlarian menjauh,Sadewa kembali terlempar jauh kebelakang,Perisai Dewa berputar cepat di tangan kirinya berusaha membendung dahsyat nya angin pukulan,cahaya biru sangat terang menyebar luas membentuk sebuah benteng pertahanan,Nirmala tersuruk cukup jauh kebelakang,namun masih bisa berdiri walaupun dengan dua kaki bergetar,Hantu Seribu Nafsu tertawa keras berdiri tegak di halaman pondok," Kalian berdua akan mati dengan percuma..!!" serunya dengan suara sangat keras,Sadewa segera bangkit kemudian berjalan cepat mendekati lawan,Nirmala pun segera melompat ke samping Sadewa sambil menggenggam sebuah besi hitam berujung putih panjang berbentuk paku," Paku Putih Pemasung Asura..!!" gumam Hantu Seribu Nafsu sangat terkejut,kemudian mundur beberapa langkah,Sadewa dan Nirmala saling menatap melihat lawan mereka mundur," Sepertinya iblis ini takut pada benda di tangan mu.." bisik Sadewa,Nirmala mengangguk kemudian maju mendekat ke arah Hantu Seribu Nafsu yang terus melangkah mundur,pada satu kesempatan dengan cepat kakek rua bertubuh tinggi kurus melesat kebelakang sambil lepaskan pukulan Sembah Dewa Perang,cahaya hitam bergemuruh cepat ke arah Nirmala, Sadewa segera bergerak cepat lepaskan Pukulan Tinju Naga Perkasa di tangan kanan,dan lemparkan Perisai Dewa dalam Pukulan Tameng Sakti Dewa Langit,Nirmala berputar cepat ke samping kemudian lepaskan Pukulan Lahar Merapi,kembali dentuman keras bergemuruh dahsyat,tanah di sekitar halaman pondok terbongkar di sana-sini,air sungai kembali membuncah tinggi ke udara,setelah semua tenang,tampak sosok Hantu Seribu Nafsu sudah tak terlihat lagi," Kurang ajar,iblis mesum itu berhasil kabur..!" rutuk Nirmala dengan wajah kesal,Sadewa masih berdiri tak jauh darinya dengan dua kaki bergetar,tak lama Ki Lurah Jayabaya dan warga desa segera mendekati mereka. (3) Di sebuah cekungan di samping air terjun dalam sebuah lembah yang cukup dalam," Bagaimana gadis itu bisa mendapatkan Paku Putih Pemasung Asura..?" gumam Hantu Seribu Nafsu,kemudian melangkah bolak-balik terlihat bingung," Kintan,,,ku yakin kau yang memberikan gadis itu benda keramat itu..!!" Serunya kemudian sambil menatap tajam ke mulut gua tempat nya berada,tak lama kemudian tampak sesosok bayangan berpakaian putih melangkah pelan ke dalam gua,tak lama di depan Hantu Seribu Nafsu telah berdiri seorang nenek tua berpakaian putih panjang," Adiku Gandamayit,,,dengarkan nasehatku,pemuda yang terus mengejarmu adalah Satria Perisai Dewa,mungkin saat ini dia belum mengetahui titik lemah mu,tapi yang jelas kau tak akan pernah bisa mengalahkan pemuda itu. Gadis yang bersama nya adalah murid Sekar Arang,murid ku yang dulu kau nodai berkali-kali,sumpah Sekar Arang untuk membunuh mu telah menitis pada gadis berpakaian hijau itu,ku rasa mungkin dia yang akan membunuhmu kelak..",si nenek kemudian melangkah ke arah sebuah batu dan kemudian duduk di atas batu itu,Hantu Seribu Nafsu menatap tajam pada saudari nya itu," Kau yang merencanakan semua ini kintan,kau sengaja mengarahkan gadis itu untuk mengalahkan aku,kau yang memberinya Paku Putih Pemasung Asura..!!",nenek yang tak lain Bidadari Seruling Rajawali menatap adiknya dengan pandangan lembut,kemudian terlihat butiran air mata mengalir di pipinya," Sadarlah adiku,kau sudah tersesat sangat jauh,aku cuma memiliki kau satu-satunya di dunia ini,aku tak ingin melihatmu celaka.." ucapnya sangat lembut,Hantu Seribu Nafsu memutar tubuh membelakangi nenek tua yang masih terlihat sisa kecantikannya di masa muda," Mimpi ku untuk menguasai dunia persilatan tanah jawa akan segera terwujud,aku sudah bertekad akan membalaskan dendam orang tua kita pada Ki Sabda Langit..!!" ucapnya kemudian,Nenek tua Bidadari Seruling Rajawali cuma terdiam kemudian melangkah mendekati adiknya," Bukan Ki Sabda Langit yang membunuh ayah dan ibu adikku,kau sudah termakan hasutan orang.." ucapnya lembut sambil membelai punggung lelaki kurus di sampingnya,Hantu Seribu Nafsu menoleh cepat ke arah saudarinya," Apa maksud mu kintan,jelas sekali di depan mataku,jahanam tua itu yang membunuh ayah kita..!!"," Apa yang di lakukan Ki Sabda Langit justru untuk mengakhiri penderitaan ayah,semua karena permintaan ayah..",Hantu Seribu Nafsu mengembor marah,dengan wajah penuh kemarahan,sambil menatap garang pada saudarinya," Kau sudah gila kintan,kau sudah gila..!!" ucapnya keras membahana,kemudian putar tubuhnya dan melesat pergi ke luar gua,Bidadari Seruling Rajawali masih berdiri menatap ke arah adiknya yang berlari kian jauh," Ya allah,tunjukan aku jalan,beri hamba petunjuk,aku benar-benar berada di posisi yang sulit.." Gumamnya dalam hati,kemudian melesat cepat menyusul adiknya. (4) Beberapa hari kemudian di pondok di samping air terjun,dua bayangan berlari cepat melompat lincah di atas batu licin,terus berlari ke arah pondok," Sadewa,apa kita akan menemui Nenek Guruku di pondok itu,bagaimana kalau dia tak ada..?" ucap Nirmala sambil berlari di samping pemuda tampan di sampingnya,Sadewa kemudian menoleh ke arah nya kemudian tersenyum," Aku yakin kita akan menemui beliau di tempat itu.." jawab nya singkat. Di samping pondok kayu,di atas sebuah batu beralaskan tikar butut,terlihat seorang laki-laki tua duduk bersila sambil membaca sebuah kitab di pangkuannya,tak lama Sadewa dan Nirmala sudah berdiri tak jauh dari laki-laki tua berpakaian putih panjang,berkulit agak gelap,memakai tutup kepala berupa sorban berwarna hijau," Guru..!!" Seru Sadewa sambil berlari cepat ke arah laki-laki tua yang tersenyum ke arahnya,Sadewa segera merunduk hormat pada sosok yang tak lain Umar Ibnu Sabbir guru nya,kemudian menyalami gurunya dengan takzim. Nirmala memandang pertemuan itu dengan pandangan takjub,tak lama Umar Ibnu Sabbir menoleh ke arah gadis berpakaian hijau itu,Nirmala segera mendekat dan menyalami orang tua ini dengan penuh hormat," Gadis baik,insya allah berkah dan rahmat allah akan selalu untuk mu.." ucap Guru Sadewa itu dengan lembut,tak lama kemudian terdengar suara seseorang batu-batuk kecil,tak jauh dari tempat itu sudah berdiri seorang Nenek tua yang tak lain Bidadari Seruling Rajawali," Sangat tidak sopan nya aku,tamu datang dari jauh tak ku sambut dengan layak.." ucapnya sambil melangkah ke arah ke tiga orang yang juga tersenyum ke arahnya," Nenek guru.." Sambut Nirmala,kemudian menyalami nenek gurunya dengan takzim,begitupun dengan Sadewa," Apa kabarmu sahabat kental ku Kintan,bergelar Bidadari Seruling Rajawali.." sapa Umar Ibnu Sabbir sambil sedikit merunduk hormat,Nyi Kintan terlihat tersenyum dengan wajah sedikit merona," Ah..kau selalu membuat hati ini berbunga-bunga dengan tutur katamu yang sangat indah,semua baik seperti yang kau lihat Umar,kau sendiri semakin terlihat muda di mata ku.." jawab Nenek Kintan di akhiri tawa renyah,kemudian dua orang tua ini terlihat bersalaman dan berbincang sebentar dengan hangat sambil tertawa-tawa. Sore itu di depan pondok nampak empat orang duduk melingkar,Sadewa di samping gurunya Umar Ibnu Sabbir,di bagian depan Nirmala di samping nenek gurunya Bidadari Seruling Rajawali,di tengah ke empat orang itu terlihat ubi rebus baru matang dan kopi hangat untuk di nikmati. " Sadewa,,aku dan Nyi Kintan adalah sahabat lama,pertama aku menginjak tanah jawa ini dua puluh tahun silam,dia lah orang pertama yang ku kenal begitu turun dari kapal dagang yang membawaku.." Umar Ibnu Sabbir menerangkan," Gurumu saat itu belum terlalu fasih berbahasa penduduk sini,aku yang sering menterjemahkan bahasa penduduk pulau jawa ini padanya ke bahasa Arab.." Sambung Bidadari Seruling Rajawali,Nirmala menatap kagum pada dua orang sosok tua di depannya," Persahabatan kami berlangsung sampai saat ini,bahkan ketika Nyi Kintan menikah,aku salah satu yang jadi saksi di pernikahan tersebut..",Sadewa dan Nirmala saling tatap sesaat," Ya aku dulu memiliki seorang suami,suamiku seorang pedagang yang cukup terkenal di daerah Tuban,dia meninggal karena sakit.." sejenak suasana menjadi hening," Karena kami tak memiliki anak,dan jiwa pendekar ku sukar ku bendung,aku memutuskan mengambil dua orang murid,yaitu guru mu nyi Sekar arang dan Bibi guru mu Nyi Larasati..". Nirmala mengangguk," Sadewa..kedatangan ku kemari tak lain memang ada sangkut-pautnya dengan urusan yang kau dan gadis baik ini sedang hadapi.." Ucap Umar Ibnu Sabbir," Tentu Nyi Kintan sudah menceritakan dan memberi kalian nasehat untuk itu.." Sadewa dan Nirmala cuma mengangguk," Ketahui lah Sadewa,aku bermaksud menempuh jalan lain dalam menyelesaikannya.." Sambung kemudian sambil menoleh pada Nenek tua di sampingnya," Apa maksud mu Umar,jelaskanlah.." Desak Nenek Kintan,sejenak Umar Ibnu Sabbir menatap Sadewa,Nirmala dan Bidadari Seruling Rajawali," Sadewa dan kau gadis baik,cari Hantu Seribu Nafsu,kemudian berusaha lah membawanya kemari,tentunya Nenek guru mu sudah memberi tahumu bagaimana cara melumpuhkan nya.." Sambung kemudian sambil menoleh pada Nirmala yang terlihat kaget dan menunduk dengan wajah merona merah,raut mukanya memandang sejenak Nenek gurunya dengan raut muka jengah. Nenek Kintan cuma tersenyum padanya," Lumpuhkan dan bawa dia kesini,selanjutnya aku dan Nenek gurumu yang akan menyelesaikan semuanya,apa kalian paham..?",Sadewa dan Nirmala cuma mengangguk,setelah cukup lama diam," Sadewa aku ingin bicara dengan mu,ku tunggu kau di batu besar dekat air terjun.." Ucap gurunya berdiri dan melangkah ke arah batu besar tak jauh dari air terjun,Sadewa sejenak menatap Nirmala dan menoleh pada Nenek Kintan," Temui guru mu,mungkin ada hal penting yang ingin di sampaikan nya padamu.." Ucap Nenek Kintan padanya,Sadewa melangkah mendekat pada gurunya," Sadewa..hampir lima purnama kau ku lepas pergi mengembara,tentunya sudah banyak yang kau temui dan alami,apakah ada hal yang sekiranya bisa kuketahui..?",Sadewa kemudian menceritakan secara singkat semua pengalamannya," Allah maha besar,semua berkat rahmatnya,kau sudah memiliki mendapat banyak sekali anugrah muridku.." Ucap sosok tua bertubuh tinggi besar berkulit gelap di sampingnya," Sri Hanuman dan Sang Hyang Antaboga adalah para pelindung tanah jawa ini Sadewa,pergunakan anugrah yang mereka berikan untuk berjalan di jalan kebaikan.." Sambungnya kemudian,Sadewa merenungi setiap kata-kata gurunya dengan seksama,tak lama sayup-sayup di telinganya terdengar dua Raungan Maha Dahsyat di kejauhan," Eyang Sepuh Sri Hanuman..Eyang Sepuh Sang Hyang Antaboga..!" Gumamnya,kemudian membungkuk hormat, kemudian berdiri tegap sambil menatap jauh kedepan. (5) Sadewa dan Nirmala berlari cepat ke arah tepian hutan kecil tak jauh dari sebuah desa bernama desa Sawahjero,keduanya berlari dengan sangat cepat,mereka terlihat seperti dua bayangan yang melesat kian kemari. " Bagaimana menurutmu Telo,Ki lurah Jayabaya menyuruh kita meronda sampai kebatas desa di tepi hutan ini.."," Iya..yang laim mana belum juga datang membantu,masa kita cuma berdua.." Sambung temannya sambil menggerutu," Kau dengar tidak berita menghilangnya perawan anak pak Sudali petani jagung itu..?",temannya sejenak menoleh,kemudian menjawab," Iya,kasihan sekali,padahal aku berniat mempersuntingnya untuk ku jadikan istri muda ku.." Ujar nya sambil tertawa-tawa," Mana mau dia sama tua bangka seperti mu,paling anu mu cuma buat mainan kucing peliharaan nya nanti.." Jawab temannya sambil tertawa," Kau kira anu mu lebih hebat dari anu ku..?"," walau tua begini,anak ku sudah tujuh orang,kau sampai saat ini belum satu pun.." Jawabnya kesal kemudian,tampak keduanya terlibat adu mulut tak lama kemudian," Dua orang tolol..apa yang kalian ributkan..!!" satu suara keras membuat mereka terkejut,di hadapan dua warga desa Sawahjero itu sudah berdiri satu sosok yang sangat mengerikan,bertubuh tinggi besar,bertampang seram,berbadan penuh otot dengan dada bidang dan tangan berbulu lebat,sosok laki-laki berumur lima puluh tahun ini cuma mengenakan celana panjang hitam tampa memakai baju. " Kenapa cuma diam..!!",kedua warga desa segera berlutut ketakutan," Kami sedang meributkan perihal anu tuan,anu nya telo tak hebat seperti anu ku.." jawab warga desa polos dengan wajah ketakutan,gelak tawa terdengar keras memecah malam," Jadi anu mu lebih hebat..?"tanya sosok tinggi besar sambil tersenyum," Tapi anu nya Ki lawi kecil pitit.." ucap telo memotong dengan wajah kesal pada rekan di sampingnya,kembali terdengar gelak tawa sangat keras. " Dasar warga desa kurang ajar..awalnya aku berniat membunuh kalian,tapi kalian sudah membuat ku tertawa setelah sekian lama dalam kesedihan.."," Cepat pergi dari sini,sebelum aku berubah pikiran..!" Ucapnya keras pada dua warga desa,kemudian kembali tertawa keras melihat Ki lawi dan Telo lari tunggang langgang menuju desa Sawahjero. Sosok tinggi besar hentikan tawanya begitu menyadari tak jauh dari tempatnya berada,dua orang muda-mudi berdiri menatapnya," Siapa kalian,apa kalian teman dua warga desa tadi..?" ucapnya kemudian tersenyum geli,Sadewa melangkah mendekat," Kisanak sangat membuat mereka ketakutan,tapi ku rasa kisanak orang baik karena sudah melepaskan mereka..",sosok tinggi besar tak berbaju menatap Sadewa dengan tajam," Anak muda ini bukan orang sembarangan,apa yang berada di punggungnya.." gumamnya dalam hati,kemudian menatap Nirmala dengan cukup lama,kemudian melangkah mendekat ke arah Nirmala," Kau mengingatkan ku pada seseorang puluhan tahun silam,siapa kau anak gadis..?" ucapnya dengan lembut dan tatapan sayu,Sadewa memperhatikan sosok tinggi besar ini dengan tatapan bingung," Nama ku Nirmala.." jawab nya singkat,sosok tinggi besar terlihat terkejut,bahkan sampai tersurut beberapa langkah kebelakang," Nama mu Nirmala..?" ucap nya mengulang perkataan gadis di depannya,"Kenapa orang tua,apa kau mengenalku..?" ucap Nirmala kemudian,sosok tinggi besar cuma diam sambil menatap sayu pada gadis di depannya,kemudian putar tubuhnya dan melesat pergi dari tempat itu. " Orang aneh.." gumam Nirmala,Sadewa berjalan mendekat pada,tak lama keduanya segera melesat meninggalkan tempat itu. BERSAMBUNG..