SATRIA PERISAI DEWA

SATRIA PERISAI DEWA
TABIB JARI PETIR


__ADS_3

(1) Dua sosok berlari ke arah selatan,dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna,kedua sosok laksana bayangan yang bergerak sangat cepat di senja hari menjelang malam," Kita harus cepat sampai di kediaman kakang Gembong,kita harus segera melaporkan hasil persiapan kita.."," Ya..waktu kita sudah tidak banyak,sebagian rencana sudah tersusun rapi,tinggal beberapa tokoh lagi yang harus kita temui,ada baiknya kita menemui saudara Gembong Kalimati dulu.." dua sosok yang tak lain Si Tongkat Baja,dan Si Kelabang Merah. Hari makin gelap ketika dua sosok berjubah merah dan hitam memasuki sebuah kampung kecil," Sepertinya kita harus mencari tempat menginap di kampung kecil ini kakang..",Si Tongkat Baja cuma mengangguk,tak lama kemudian tampak sebuah rumah cukup besar dengan lampu yang gemerlap," Tak ku sangka di kampung kecil ini ada penginapan begitu megah dan ramai,ayo adik Kelabang Merah kita segera ke masuk.."," Selamat datang kisanak berdua,apa kisanak akan menginap,atau cuma mampir untuk sekedar minum dan bersenang-senang..?" Satu sosok bertubuh gemuk pendek tampak menyambut di depan pintu besar penginapan dengan wajah ramah,tampak dua gigi emasnya berkilau ketika dia tersenyum. " Kami butuh dua kamar,hidangkan kami hidangan terbaik,dan tentunya sesuatu yang bisa membuat malam kami bergairah.." Ucap Si Tongkat Baja sambil menoleh ke arah Si Kelabang Merah," Ha..ha..sepertinya kau tau isi hatiku kakang,badan ku memang butuh sedikit sentuhan..!" sambung Si Kelabang Merah sambil tertawa,namun tak lama kemudian,satu sosok melayang ke arah pintu besar,Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah tampak terkejut,kemudian melompat ke arah samping dengan cepat,tampak satu sosok bertubuh besar penuh dengan tato di sekujur tubuh nya melingkar di depan pintu masuk sambil mengerang. Tak lama kemudian,satu sosok lain melompat cepat dan berdiri di depan laki-laki bertato,tak lama beberapa orang berpakaian seragam prajurit telah mengurung laki-laki malang tersebut," Cepat mengaku,bukankah kau salah seorang anak buah Raja Lanun Selatan..?,katakan di mana markas kalian..!!",satu sosok bertubuh besar penuh otot bertanya pada sosok yang masih melingkar di lantai,tampak Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah sambil menatap sekilas," Jangan gegabah Kelabang Merah,mereka orang kerajaan.."," Sepertinya dia tak akan mau bicara tuanku Senopati,lebih baik segera kirim saja dia ke penjara kadipaten..", seorang berpakaian seragam yang sepertinya seorang kepala prajurit," Apa yang terjadi tuan Senopati Kebo Amuk..?",tampak kepala pelayan gemuk bertanya dengan tubuh gemetar,sekilas laki-laki bertubuh tinggi besar bertubuh penuh otot,berkumis tebal tampak melirik sejenak ke arah kepala pelayan," Orang-orang ini adalah buronan kerajaan,dia dan kelompoknya telah banyak membuat kerusuhan di banyak tempat..",jawabnya cepat. "Kepala prajurit ikat dia,suruh beberapa orang prajurit membawanya ke penjara kadipaten..!" sambungnya kemudian,segera beberapa prajurit segera mengikat dan membawa laki-laki bertato. " Pasti mereka akan melalui jalan ini,kita tunggu di sini kakang.." ucap Kelabang merah pada rekan di sebelahnya,tak lama kemudian tampak empat ekor kuda berlari cepat dari arah depan,begitu jarak mereka sudah makin mendekat,dua orang yang tak lain Si Tongkat Baja dan Kelabang Merah segera melompat menghadang," Berhenti..!!",ke empat orang prajurit berkuda tampak segera hentikan laju kuda mereka," Siapa kalian,berani-berani menghadang prajurit kerajaan,lekas minggir,atau kuda kami akan menginjak-injak kalian..!!",Tongkat Baja sejenak menatap ke arah seseorang terbaring di salah satu kuda dalam keadaan di ikat," Lepaskan tahanan itu,atau kami akan pecahkan kepala kalian saat ini juga..!!" bentak Si Tongkat Baja,kemudian dengan sekali lompatan,Tongkat Baja di tangan kanannya berkelebat cepat,dua orang prajurit di atas kuda terlempar dengan kepala pecah,dua orang prajurit tersisa tampak pucat,namun tampa sempat tau apa yang terjadi,kedua prajurit tersisa meraung keras setelah sebuah tendangan menghantam dada mereka,tampak tulang dada mereka remuk,darah menyembur dari mulut mereka. " Siapa kalian..?" tanya laki-laki dengan bukan lain anak buah Gembong Kalimati dengan wajah pucat," Tak usah takut,kami teman ketua mu,katakan di mana adik Gembong Kalimati saat ini..?". (2) "Kita harus cepat menemukan tabib,luka pemuda ini cukup parah,ayo lebih cepat..!" Dua orang tampak berlari dengan cepat,salah seorang dari mereka tampak menggendong seseorang di pundaknya," Setauku tak jauh dari air terjun di lereng bukit itu,pondok sahabat ku Tabib Jari Petir berada,kita mampir ke sana,dia cukup tau ilmu pengobatan..",Sambung nya kemudian,seorang gadis berbaju biru yang berlari di sampingnya tampak mengangguk,kemudian mereka mempercepat lari mereka ke arah sebuah air terjun kecil yang tampak di kejauhan. " Apa yang terjadi sahabatku Ki Ranapati..?" Seorang laki-laki tua berpakaian hitam tampak memeriksa satu sosok tubuh yang terbujur di atas sebuah tempat tidur beralaskan jerami kering," Aku,keponakan ku ini,dan pemuda ini habis bertarung dengan Siluman Beruang Hitam dan kekasihnya Dukun sakti Nyi Sekar Arang,pemuda ini terkena pukulan Tinju Halilintar yang di lepaskan Siluman Beruang Hitam.."," Siapa pemuda ini,dia pasti bukan pemuda sembarangan,kalau tidak,mustahil pemuda ini dapat bertahan..?"," Namanya Sadewa paman,dia bergelar Satria Perisai Dewa.." Satu suara merdu menjawab," Satria Perisai Dewa,apa aku tak salah dengar..!!" Ucap laki-laki berpakaian hitam terkejut," Pendekar ini lah yang sedang banyak di perbincangkan kaum rimba persilatan.." lanjutnya kemudian. Beberapa hari kemudian,tampak gadis berbaju biru yang tak lain Ratna Ayu sedang duduk di depan pondok," Sudah tiga hari Sadewa pingsan,tapi badannya sudah tidak sepanas kemaren,sepertinya obat yang berikan paman tabib cukup manjur.." gumam nya pelan,tak lama kemudian terdengar suara seseorang batuk-batuk dari dalam pondok," Sadewa..!" Pekiknya terlihat senang,lalu bergegas masuk kedalam,tampak seorang pemuda masih tergolek lemah di atas tempat tidur,wajahnya pucat,di bagian dadanya yang tak tertutup baju,terlihat satu bekas pukulan berwarna kehitaman,di tutup beberapa lembar daun sirih. " Kau sudah sadar Sadewa..?" Ratna Ayu duduk di samping tempat tidur,tampak Sadewa menatap wajah cantik di sebelahnya," Ayu,kita di mana,apa yang terjadi..?" ucapnya lemah,Ratna Ayu sejenak tatap wajah tampan pemuda yang beberapa hari ini membuatnya cemas," Kau terluka akibat pukulan Siluman Beruang Hitam,sekarang kau sedang di obati paman Tabib Jari Petir..",tampak Sadewa coba melihat sekitar," Bagaimana keadaanmu Sadewa,aku sangat mengkhawatirkan mu.." Sadewa cukup lama pandangi gadis di dekatnya,Ratna Ayu tampak menunduk dengan wajah merona," Dadaku sakit,nafasku sesak. Ayu,,tolong bantu aku duduk,aku harus mengatur jalan darahku.." ucapnya kemudian,Ratna Ayu selanjutnya membantu Sadewa duduk," Jangan di paksakan dulu pendekar,luka mu cukup parah.." Satu suara berucap,tampak dua orang laki-laki tua masuk kedalam pondok," Ki Ranapati,,,Ki Tabib Jari Petir,terima kasih atas pertolongan mu.."," he..he..sekarang bukan waktunya berbasa-basi anak muda,istirahat lah sejenak,aku akan merebus obat untuk mu.." Kemudian Ki tabib keluar di iringi Ki Ranapati. Ratna Ayu masih duduk di samping pembaringan Sadewa," Ayu,terima kasih,maaf aku merepotkan mu.." Ratna Ayu tampak tersenyum,kemudian menggenggam jemari Sadewa," Aku senang kau sadar Sadewa,tiga hari kau tak sadarkan diri,aku khawatir,aku takut kau kenapa-napa.." ucapnya lembut,Sadewa menatap gadis cantik di sebelahnya dengan penuh perasaan. " Tenaga dalam nya luar biasa,aku belum pernah melihat orang masih selamat dengan luka dalam seperti itu.." gumam Tabib Jari petir,Ki Ranapati memandang jauh ke arah lereng bukit," Kau harus berusaha menyembuhkan nya,aku punya firasat dunia persilatan sangat membutuhkan nya,akan banyak hal buruk yang akan terjadi.."," Ranapati,kemampuan mu dalam meramal sesuatu tak ku ragukan,aku tau bukan cuma itu alasanmu,tentunya kau juga tak mau membuat keponakan mu bersedih.." jawab Tabib Jari Petir sambil tersenyum. (3)"Gendut gila,,,sepertinya kau benar,pendekar muda itu ada di gubuk itu,aku melihat Pendekar Sapu Jagat dan Tabib Jari petir juga di sana.." Ucap seorang laki-laki berdandan seorang perempuan,tampak yang di ajak bicara masih asyik menggaruk ketiak nya,satu sosok gemuk luar biasa dengan muka bulat lucu dan kepala botak" Gendut sompret,,,apa kau dengar yang aku katakan,berhenti menggaruk ketiak mu,bau ketiakmu membuat perutku mual..!!"," Ha..ha..,ketiak yang ku garuk ketiakku sendiri,kau sangat bawel banci gila.." Ucap sosok gemuk yang tak lain Gembul Edan,kemudian tampa rekannya melihat,tangan bekas menggaruk ketiak langsung di peperkan ke muka rekannya. Sang rekan yang tak lain Juwita Maut menyumpah panjang pendek," Puah..huek,,huek....kurang ajar,kau makan tinju ku..!!", Juwita Maut layangkan tinju ke arah perut sosok gemuk,sosok gemuk cuma tertawa-tawa kena gebukan rekannya,tak lama dua sosok berkelebat ke arah kedua orang yang masih tampak ribut. " Ha..ha..Dua orang kurang waras,umur sudah tua,sudah bau tanah,masih suka bercanda seperti anak kecil.." dua sosok yang bukan lain Ki Ranapati dan Tabib Jari petir sudah berdiri di depan Gembul Edan dan Juwita Maut," Jaga mulutmu,mau ku usap juga muka kau dengan air ketiakku..ha..ha..!" Gembul Edan menjawab di iringi tawa keras." Satu kehormatan gubuk buruk ku mendapat kunjungan dua sahabat lama,terima salam hormat ku manusia terlangsing di jagat raya,Gembul Edan..",ucap Tabib Jari Petir sambil tersenyum," Juga tentunya salam hormatku untuk Bidadari alam kubur Juwita Maut..he..he.." sambung Ki Ranapati sambil tertawa," Tabib Jari Petir,tabib sakti sahabat para pendekar,bagaimana kabarmu,kau terlihat semakin muda.." Juwita maut menyapa sambil tertawa,Gembul Edan pun ganda tawa mendengar ucapan rekannya,tempat itu mendadak di guncang tawa empat orang tua. " Siapa yang datang Ayu,aku mendengar langkah kaki cukup ramai ke arah sini.."," Empat orang menuju gubuk,Paman Ranapati,Ki Tabib dan dua orang sosok aneh yang tak ku kenal.." Jawab Ratna Ayu sambil melihat ke arah halaman pondok,tampak empat orang berjalan sambil tertawa-tawa. Sadewa mencoba bangkit,sambil di bantu Ratna Ayu," Paman Gembul Edan,Juwita Maut..!",seru Sadewa begitu melihat sosok dua orang bersama Ki Ranapati dan Ki Tabib Jari Petir,",Gembul Edan mendekat ke arah Sadewa sambil tertawa-tawa,Ratna Ayu tampak menatap Gembul Edan yang terlihat lucu sambil tersenyum. " Kami berdua di suruh seseorang mengantarkan ini untuk mu,kau berhutang nyawa pada Tabib ini anak muda,lukamu sangat parah.." Gembul Edan menyerahkan tiga benda bulat berwarna hitam ke tangan Sadewa,sambil tertawa-tawa tak karuan,si gendut tampak menoleh ke arah Ratna Ayu," Sepertinya kau naksir padaku cah ayu,kau tak putus-putus memandangku..ha..ha..",Ratna Ayu makin lebar tersenyum," Dasar orang tua tak tau diri,kambing pun tak akan mau dengan mu,apa lagi gadis itu..!",Ucap Juwita maut sambil tertawa geli,sejenak Sadewa memperhatikan tiga benda bulat hitam di telapak tangannya," cepat telan benda itu Sadewa,itu akan cepat membantu pemulihanmu,itu obat terbuat dari ramuan daun langka.." Ucap Ki Tabib," Siapa yang menitipkan benda ini padamu paman..?",Sadewa menoleh ke arah Gembul Edan,sambil cengar-cengir tak karuan," Gendut gila,cepat jawab tanya nya,bukan cengar-cengir tak karuan.." satu suara dari belakang menegur sambil tusukan ujung kakinya ke pantat Gembul Edan," Kurang ajar,kaki mu mengenai kantong menyanku..!!" Gembul Edan tampak marah pada Ki Ranapati,kemudian kembali tertawa-tawa," Anu kecil pitit aja kau banggakan..ha..ha..!!" kembali tempat itu di landa tawa riuh. " Yang menitipkan obat itu sudah bertemu dengan mu beberapa waktu yang lalu,coba kau ingat..?" Juwita Maut akhirnya memberi penjelasan,setelah cukup lama mengingat-ingat,Sadewa tampak menoleh ke arah Ratna Ayu," Ki Sabda Langit.." ucap Ratna Ayu kemudian,tampak Ki Ranapati dan Ki Tabib Jari petir terkejut," Kalian bertemu Ki Sabda Langit,tokoh sakti yang di juluki Manusia Setengah Dewa..!!",Sadewa dan Ratna Ayu cuma saling pandang. " Kau beruntung anak muda,kami cuma ketitipan amanat melalui suara jarak jauh,kami tak pernah bertemu dengan sosok sakti luar biasa itu.." Gembul Edan menjelaskan," Benda itu tergantung pada salah satu cabang pohon,kemudian satu suara menuntun kami untuk kemari.." sambung Juwita Maut,Sadewa tampak sejenak menatap jauh,tampa tunggu waktu segera telan ketiga benda bulat hitam. Tak lama kemudian tampak tubuh Sadewa bergetar hebat,wajah nya pucat,dari dada yang terdapat luka bekas pukulan darah hitam mengalir,tubuh Sadewa limbung kebelakang,kemudian sebelum Ratna Ayu dapat meraih tubuh Sadewa,tubuh itu jatuh tergeletak dengan nafas memburu,dari hidung dan telinga Sadewa darah hitam mengalir,kemudian tampa tau apa yang terjadi,Sadewa tak sadarkan diri. (4) " Setelah anak muda itu sadar,dia akan jauh lebih baik,kami akan segera mohon diri.."," Kami tunggu kalian di Perguruan Harimau Putih beberapa hari mendatang.." Ucap Gembul Edan,kemudian di ikuti rekannya Juwita Maut segera berjalan sambil tertawa-tawa ke arah timur," Orang-orang hebat dunia persilatan,dua sosok yang sukar di cari tandingannya.." guman Ki Ranapati," Ki Tabib,,Ayu,,aku akan menyusul dua mahluk aneh itu,ku rasa keadaan Sadewa sudah tak perlu di khawatir kan lagi.." sambungnya,setelah Ki Tabib tampak mengangguk,Ki Ranapati segera melesat ke arah yang sama dengan Gembul Edan dan Juwita Maut. Sadewa tampak berdiri gagah dengan tubuh di banjiri peluh,wajahnya sudah tampak cerah," Setelah beberapa hari melakukan meditasi,Sadewa sepertinya sudah pulih.." Satu suara di belakang Ratna Ayu,gadis baju biru menoleh ke arah Ki Tabib Jari Petir yang tampak berdiri sedikit di belakangnya," Ki Tabib,sepertinya aku harus melanjutkan perjalanan,aku sudah merasa cukup sehat,terima kasih atas semua bantuanmu.." Ucap Sadewa sambil membungkuk hormat," Tunaikan baktimu pendekar,tanah jawa dalam bahaya besar.." Ucap Ki Tabib Jari petir menjawab. Tampa menunggu waktu,Sadewa dan Ratna Ayu segera berkelebat ke arah timur. Sehari kemudian dalam perjalanan Ratna Ayu tampak beberapa kali menatap wajah tampan di sebelahnya," Kau sudah jauh lebih baik Sadewa..?" Sadewa menatap gadis di sampingnya,kemudian mengangguk,namun tak lama kemudian " Satria Perisai Langit,kematianmu sudah waktu nya..!!" satu suara keras terdengar,tak lama kemudian di hadapan Sadewa dan Ratna Ayu sudah berdiri seorang bertubuh bungkuk,di sekujur tubuh kurusnya melilit sebuah rantai berujung bola hitam berduri. " Iblis Bungkuk Berantai..!",Ratna Ayu tampak terkejut dengan wajah pucat,Sadewa menoleh ke arah gadis di sebelahnya," Sadewa,kita harus hati-hati,guru ku pernah menceritakan mahluk dahsyat ini,kesaktiannya sangat tinggi.." Ujar Ratna Ayu kemudian,sosok kurus bungkuk di depannya tampak tertawa keras,suara tawanya membuat tanah bergetar," Tenaga dalamnya sangat tinggi.." Gumam Sadewa," Anak muda,kau sudah cukup merepotkan kami golongan hitam,bahkan terakhir ku dengar sahabatku Nyi Sekar Arang juga tewas di tanganmu.."," Aku Iblis Bungkuk Berantai merasa terhormat mencabut nyawamu anak muda,bersiap lah..!!", Sadewa segera bersiap," Mundur lah Ayu,biar aku yang menghadapinya.."," Hati-hati Sadewa,dia sangat berbahaya.." Ucap Ratna Ayu dengan wajah cemas. Dengan sekali lompatan cepat Iblis Bungkuk Berantai kirimkan serangan ke arah Sadewa,dengan cepat Sadewa menghindar dan langsung membalas,tak lama kemudian di antara keduanya sudah terlibat pertarungan seru,Iblis Bungkuk Berantai tampak berusaha mendaratkan pukulan,Sadewa dengan Jurus Langkah Dewa Angin nya bergerak cepat menghindar,bentrokan tangan dan kaki kedua nya berlangsung cepat,tak terasa lima puluh jurus sudah di lalui,tak ada kelihatan siapa yang lebih unggul,hingga pada suatu ketika,Iblis Bungkuk Berantai dengan cepat bergerak melompat sambil kibaskan dengan cepat tangan kanannya yang sudah memegang Rantai bola berduri,lesatan Rantai berduri bergerak sangat cepat mengeluarkan suara berdesing ke arah Sadewa,dengan cepat Sadewa merunduk dan sambil menggeser tubuh ke kiri,hantamkan Perisai Dewa yang sudah berada di tangan kirinya,dentuman keras terdengar,Rantai berduri tampak gompal di beberapa bagian,Sadewa berdiri dengan tangan kiri bergetar,tampak tunggu lama,Sadewa segera alirkan tenaga dalam nya ke tangan kiri,Perisai Dewa tampak bercahaya biru terang,berputar cepat mengeluarkan suara berdesing menggidikan. Iblis Bungkuk Berantai,menatap sesaat Perisai di tangan kiri lawannya," Itu kah Perisai Dewa Langit itu,sangat luar biasa,senjataku sampai terdorong kebelakang.." gumamnya,kemudian dengan gerakan cepat segera lepaskan kembali serangan kilat,Rantai berduri bergerak cepat laksana seekor ular panjang mengeluarkan cahaya hitam panas," Pukulan Rantai Neraka,hati-hati Sadewa..!!" Ratna Ayu mengingatkan,Sadewa dengan bergerak cepat ke kanan,tangan kirinya mengayun cepat ke arah depan,Perisai Dewa melesat cepat ke arah Rantai berduri,cahaya biru terang melesat cepat. Dengan Jurus Tameng Sakti Dewa Langit,Sadewa bergerak cepat sambil terus menggempur Iblis Bungkuk Berantai dengan lesatan-lesatan Perisai Dewa,pertempuran makin seru,dentuman-dentuman keras membahana ketika Rantai berduri dan Perisai Dewa beradu di udara,area sekitar pertarungan sudah porak-poranda,Sadewa dan Iblis Bungkuk Berantai laksana bayangan putih dan hitam yang bergerak sangat cepat,pada satu kesempatan,setelah ayunkan Rantai berduri kedepan,Iblis Bungkuk Berantai susul dengan lepaskan pukulan Payung Pusara,sebuah pukulan dengan cahaya hitam besar membentuk payung raksasa menghantam,Sadewa yang sudah siap segera hantamkan tangan kanan melepaskan pukulan Tinju Naga Perkasa,gelombang cahaya biru di sertai raungan Naga murka melesat menyapu ke arah lawan,dentuman sangat keras terdengar susul menyusul,Sadewa palangkan Perisai Dewa di depan tubuhnya,cahaya biru sangat terang laksana Tameng Raksasa membendung angin pukulan lawan,Sadewa terseret sangat jauh kebelakang,lain halnya dengan Iblis Bungkuk Berantai,tubuhnya terdorong keras kebelakang,Rantai berduri membentuk lingkaran berputar cepat melindungi nya dari sapuan sinar pukulan yang di lepaskan Sadewa," Cukup permainan kita kali ini anak muda,ku tunggu kau dua purnama mendatang di peresmian Partai Tengkorak..!!"Ucapnya sambil mengusap dadanya,kemudian melesat pergi ke arah selatan. Sadewa segera atur jalan darahnya,sejenak tubuhnya laksana bercahaya biru terang," Sadewa,kau terluka..?" Ucap Ratna Ayu berlari cepat ke arah Sadewa,ketika berhadapan langsung memeluk tubuh pemuda yang mulai di cintainya," Aku baik-baik saja Ayu,untung aku tak gegabah menganggap enteng pukulan lawan.." jawabnya sambil mengusap rambut gadis berbaju biru yang memeluknya dengan erat. (5) Di lain tempat di pondok Ki Tabib Jari Petir,sesaat Sadewa dan Ratna Ayu pergi,satu sosok berlari cepat ke arah gubuk," Tabib,Jari Petir,Keluar kau..!!",satu suara keras terdengar bersama melompatnya satu sosok bayangan hijau ke halaman pondok. Ki Tabib Jari Petir tampak menatap tamunya yang baru datang,sesosok gadis muda,bertubuh tinggi,berbaju hijau tampak berdiri tak jauh darinya," Siapa kau gadis muda,ada keperluan apa kau datang ke pondokku..?"," Aku Nirmala,aku murid Nyi Sekar Arang,suruh keluar pemuda yang telah membunuh guruku..!!" bentaknya dengan tatapan garang,Ki Tabib tampak menatap si gadis barbaju biru dengan tatapan teduh," Tak ku sangka Nyi Sekar Arang memiliki murid begini muda dan cantik luar biasa.." gumam nya pelan," orang yang kau cari sudah pergi cucuku,kau terlambat,lagi pula bukan pemuda itu yang membunuh gurumu,dia cuma membela dirinya,guru mu berserikat dengan Siluman Beruang Merah untuk membunuhnya.." jawabnya,"Jangan berdusta orang tua,aku tak segan membunuh mu sekalian kalau kau berusaha melindunginya..!!"," Aku sudah tua,tak perlu menambah dosa lagi dengan berbohong,aku bicara apa adanya,ku dengar kabar kau memiliki hati yang baik,kau sering membantu orang lain,jangan kotori hatimu dengan dendam cucuku..."," Aku bukan cucumu,bagaimanapun aku harus menuntut balas..!!" dengan teriakan marah si gadis berbaju hijau segera melompat kedepan melepaskan Pukulan Lahar Merapi,cahaya merah darah laksana aliran lahar bergerak cepat mengeluarkan suara bergemuruh," Pukulan Lahar Merapi,sangat dahsyat..!" terkejut Ki Tabib sambil melompat jauh kebelakang,masih di udara Ki Tabib kebutkan ujung jubah hitamnya kedepan,segelombang angin badai menghantam keras kedepan,benturan dua pukulan menghasilkan dentuman keras,tampak Ki Tabib terdorong kebelakang,kemudian berusaha memadamkan api di ujung jubahnya,Nirmala nampak terlempar jauh kebelakang,dengan susah payah berusaha berdiri," Dengan hanya kebutan ujung jubahnya,orang tua ini sanggup membendung pukulan Lahar Merapi,tenaga dalamnya jauh di atas kemampuan ku.." gumamnya pelan," Kau terluka dalam nona,redam amarah mu,aku akan mengobati mu.." Ki Tabib tampak melangkah ke arahnya," Aku tak sudi menerima kebaikan mu,aku bersumpah menuntut balas atas kematian guruku.." ucapnya kemudian memutar tubuhnya,sebelum gadis berpakaian hijau berkelebat,Ki Tabib masih sempat melemparkan sesuatu ke mulut Nirmala,Si gadis tampak tersedak karena mulutnya kemasukan sesuatu," Itu obat luka dalam mu,aku ikhlas membantumu.." Ucapnya lembut,kemudian melangkah ke arah pondoknya,Nirmala merasakan hawa hangat memasuki tenggorokan dan dadanya,lukanya terasa berkurang sakitnya,pernafasannya jauh lebih ringan,setelah sejenak menatap punggung Ki Tabib Jari Petir yang melangkah pelan ke arah pondok,kemudian melesat ke arah timur. (6) " Sepertinya keadaan semakin runyam,seperti apa yang di katakan Ki Ranapati sahabatku,persilatan tanah jawa akan segera di landa bencana,sepertinya aku harus segera keluar membantu rekan-rekan yang lain..",setelah sejenak berpikir,Ki Tabib Jari Petir segera berkelebat cepat ke arah timur. Esok harinya Ki Tabib Jari petir masih berlari cepat ke arah timur,di kejauhan tampak asap hitam pekat di udara," Sepertinya terjadi sesuatu di sana.." gumamnya,kemudian berlari dengan sangat cepat,terdengar dentuman-dentuman keras,melihat apa yang terjadi di kejauhan,tampak sekitar hutan porak-poranda,api membakar area yang cukup luas," Sepertinya seseorang sedang bertarung hebat..",tak lama kemudian KiTabib Jari Petir tiba sesaat setelah bayangan hitam melesat pergi," Sadewa,apa yang terjadi..",Sadewa yang masih memeluk Ratna Ayu nampak tergagau,Ratna Ayu segera lepaskan rangkulannya pada Sadewa," Paman Tabib Jari Petir..!" Teriak Ratna Ayu,segera Sadewa dan Ratna Ayu menghampiri Ki Tabib," Sadewa bertarung dengan Iblis Bungkuk Berantai.."," Apa..!,Iblis Bungkuk Berantai,kau tak apa-apa anak muda..?"," Saya baik-baik saja paman,bagaimana paman bisa sampai di sini..?"," Panjang ceritanya Sadewa,kau harus hati-hati anak muda,makin banyak orang mengincar nyawamu,untung kau selamat,Iblis Bungkuk Berantai adalah salah seorang dedengkot golongan hitam yang sangat sakti..", Sadewa cuma mengangguk," Sebaiknya kalian meneruskan perjalanan,aku sendiri akan mengunjungi seorang teman,kita berpisah di sini..",Sadewa dan Ratna Ayu membungkuk hormat,tak lama Ki Tabib Jari Petir sudah melesat jauh ke arah selatan. " Sadewa menatap Ratna Ayu sesaat,kemudian mereka berdua segera berkelebat ke arah timur. Di atas sebuah pohon yang cukup tinggi dan rimbun," Satria Perisai Dewa,kau tak akan selamat,dendam guru harus ku balaskan..",Seorang gadis berpakaian warna hijau tampak menatap Sadewa dan Ratna Ayu yang kian jauh,kemudian dia menatap ke arah selatan," Siapa yang akan di temui Ki Tabib Jari Petir.." gumamnya kemudian,gadis baju hijau yang bukan lain Nirmala,tampak bingung," Apa mungkin benar kata Ki Tabib,aku tak bisa menyalahkan Pendekar itu,kalau memang dia hanya membela diri,dia tak dapat di salahkan. Apa yang sekarang harus ku lakukan,seperti yang ku lihat,pemuda itu memang punya kesaktian tak rendah,apa aku sanggup menghadapinya,lebih baik ku temui bibi guru,siapa tau dia bisa memberiku nasehat baik.." dalam bingung nya,Nirmala kemudian berkelebat menuju arah selatan..Bersambung


__ADS_2