
(1) Berita kematian Pendekar Tapak Bisa dan Pendekar Karang Selatan tersiar cepat,beberapa tokoh golongan hitam tampak gusar. Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Perguruan Tombak Hitam,di suatu ruangan yang cukup luas,duduk beberapa orang tokoh tua maupun muda," Ki Juru Dukun... apa yang kau lihat dalam semedi mu perihal langkah yang selanjutnya akan kita ambil,menurut keterangan Manusia Gila Darah,Genderuwo Agung sudah masuk dalam kelompok Satria Perisai Dewa.."," Eyang Lintah Hitam... Sangat sial memang kedudukan kita kalau manusia aneh Genderuwo keparat itu ikut melindungi pemuda itu,tapi ku rasa masih ada jalan yang bisa kita tempuh. Dewa Mata Biru ku rasa akan turun tangan sendiri membunuh pemuda itu dalam beberapa minggu kedepan,sesuai janji nya untuk bertemu dengan pemuda itu Purnama mendatang..",sejenak semua menjadi hening. " Setan Teluk Dalam..apa kau punya pendapat lain..?" ucap Eyang Lintah Hitam memecah kesunyian,seorang laki-laki bertubuh pendek gempal dan berotot segera berdiri," Aku rasa kita bisa memastikan kematian Satria Perisai Dewa dengan turut membantu Dewa Mata Biru. Ku rasa walaupun dia tak meminta,dengan bantuan kita tentu dia akan berpeluang besar untuk dapat menghabisi pemuda itu..",semua yang hadir terlihat mengangguk," Kalau begitu,aku Dewa Tombak dan kerabatku Hantu Dasar Bumi,siap membantu rekan-rekan yang lain,kita atur siasat bagaimana baiknya.." ucap Dewa Tombak bersemangat," Kita sudah mendapat kan kabar,pertarungan Dewa Mata Biru dan Satria Perisai Dewa akan berlangsung di tempat di mana adik nya Raja Iblis Merah terbunuh,sehari sebelum purnama mendatang,kita berkumpul secara diam-diam di tempat itu,dan saat pertarungan berlangsung kita bantu Dewa Mata Biru.."," Aku setuju usulan Hantu Dasar Bumi,aku bersama para murid utama perguruan Tombak Hitam akan membuat persiapan..",ucap Dewa Tombak ," Aku dan Ki Juru Dukun akan membuat serbuk racun untuk berjaga-jaga kalau para pendekar golongan putih coba membantu pemuda itu..!",sambung Eyang Lintah Hitam di sambut anggukan Ki Juru Dukun," Dan aku yang akan mengamati bagaimana pergerakan para pendekar golongan putih..!" seru Setan Teluk Dalam,semua yang hadir tampak mengangguk setuju," Kalau begitu cukup pertemuan kita saat ini,sehari sebelum bulan purnama mendatang kita kembali berkumpul di tepi aliran sungai,di halaman gubuk tua Hantu Seribu Nafsu,kita pastikan hari itu Satria Perisai Dewa mati berkalang tanah..!!" seru Eyang Lintah Hitam,terdengar seruan bersemangat dari yang hadir,para pendekar yang ada di situ berdiri dan saling memberi hormat,dan segera berkelebat keluar dari Perguruan Tombak Hitam. (2) Dewa Mata Biru sore itu duduk melamun di atas sebuah batu hitam," Kurang ajar..! Kelana Jagat tak berhasil membunuh pemuda itu,Genderuwo Agung keparat,semua karena kau ikut campur,kau akan mendapat bagian selanjutnya.." Ucapnya geram,batu tempat nya duduk mengeluarkan asap tipis,dapat di bayangkan tinggi nya tenaga dalam kakek tua bermata biru ini. " Sepertinya kau harus turun tangan sendiri sobat.." satu teguran mendadak membuat Dewa Mata Biru terkejut,lalu memutar tubuh menoleh ke arah belakang,di belakang nya telah berdiri sesosok mahluk luar biasa mengerikan,tak berbaju,hanya mengenakan cawat,tubuhnya tinggi besar dengan perut besar membuncit,kepalanya botak dan wajahnya penuh dengan tusukan-tusukan tulang bayi di sekitar mulut dan telinganya," Siluman Kawah Neraka...siapa yang mengundang mu kemari,jangan ikut campur urusan ku..!!" bentak Dewa Mata Biru,sosok di depannya cuma tertawa," Genderuwo Agung sudah bergabung dengan musuh mu,jangan kira kau dengan mudah bisa mengalahkan pemuda sakti itu. Kau butuh aku,aku akan membantu mu melenyapkan Genderuwo Agung musuh besarku..!" Ucapnya dengan keras," Sombongnya...bukan aku yang butuh kau,tapi kau yang mengambil kesempatan untuk mengalahkan Genderuwo Agung yang tak pernah bisa kau kalahkan sebelumnya..!!" jawab Dewa Mata Biru sinis," Ha..ha..kau tak sepenuhnya salah sobat,aku memang sudah menunggu cukup lama untuk merebut tahta Kerajaan Arung Samudra dari tangan Genderuwo Agung..!!",Dewa Mata Biru terlihat berpikir sambil memandang jauh kedepan,kemudian setelah cukup lama segera melangkah ke arah Siluman Kawah Neraka," Kau sepertinya sangat ingin berkuasa di Kerajaan Gaib itu,aku mengijinkan kau bergabung dengan ku,tapi dengan satu syarat.." ucapnya pada sosok besar di depannya,Siluman Kawah Neraka tampak bingung," Syarat apa yang kau ajukan,kenapa harus pakai syarat segala..?",ucapnya pada Dewa Mata Biru,kemudian terdengar gelak tawa kakek berpakaian putih di depannya," Kau bunuh Genderuwo Agung,tapi jangan berani kau sentuh keponakan nya,dan tentu nya juga Dewi Tangan Seribu bekas kekasihnya.."," Kau sangat serakah Dewa Mata Biru,apa yang membuatmu menjadi berubah tabiat,ku rasa kau sudah tidak alim seperti biasanya,aku tak akan mengganggu Dewi Tangan Seribu..!",kakek berpakaian putih di depannya menatap tajam padanya," Lalu keponakannya akan kau apakan..?"," Tentu saja keponakan nya akan aku jadikan permaisuriku,itu tak bisa kau tawar lagi Dewa Mata Biru,aku tak akan membantumu kalau kau memaksa..!!" jawabnya,Dewa Mata Biru sejenak berpikir," Saat ini lebih baik ku turuti dulu mau nya siluman gila ini,setelah semua terlaksana,aku sendiri yang akan membunuhnya.." Gumamnya dalam hati," sesaat kemudian Dewa Mata Biru melangkah ke arah gua kediamannya,namun beberapa langkah berjalan,kakek berpakaian biru ini menoleh kebelakang," Baik aku setuju,ku rasa pembagian kita cukup adil,kau dapat keponakannya,aku dapat Dewi Tangan Seribu. Purnama mendatang ku tunggu kau di tempat adiku meregang nyawa di tepi aliran sungai,di mana gubuk tua Hantu Seribu Nafsu berada..!" Serunya kemudian. (3) Sadewa,Nirmala,Dewi Tangan Seribu dan Genderuwo Agung berjarak agak jauh masih tampak duduk saling diam," Bagaimana luka mu Sadewa..?",ucap Nirmala memecah kesunyian,Sadewa menoleh ke arah gadis cantik berpakaian hijau di sampingnya," Aku sudah jauh lebih baik,aku merasa canggung berada di sini,apa tak lebih baik aku pergi saja Nirmala..?",Nirmala cuma tertawa kecil," Kenapa kau tanya aku,mana aku tau,aku pun merasa kan hal yang sama. Tapi aku penasaran ingin tau ada apa sebenarnya antara paman ku dengan bibi guru.." Bisik nya pelan pada Sadewa," Tak baik ingin tau urusan orang,sebaiknya kita pergi,biarkan mereka bicara,aku pun merasa mereka sebenarnya punya masa lalu.." jawab Sadewa sambil tersenyum. kemudian Sadewa dan Nirmala berdiri," Bibi...aku mau membantu Sadewa mencari ayam hutan atau ikan di sungai untuk kita makan,perutku mendadak lapar.." ucapnya pada Dewi Tangan Seribu,dan sebelum Dewi Tangan Seribu menjawab,gadis itu sudah tarik tangan pemuda di sampingnya dan segera berlari ke arah sungai,namun di jalan yang agak menurun,Nirmala segera putar tubuhnya kembali ke arah semula,namun dengan cara diam-diam," Apa yang kau lakukan Nirmala..",ucap Sadewa. Nirmala tak menjawab,malah dengan cepat menutup mulut Sadewa dengan tangan nya," Diam..kau tak bisa diam,aku mau tau sebenarnya ada apa antara bibi guru dan paman ku,kalau kau tak bisa diam,kau boleh ke sungai lebih dulu.." bisik nya cepat sambil melotot ke arah pemuda berpakaian putih yang akhirnya cuma merengut. Genderuwo Agung mulai mencuri-curi pandang ke arah Dewi Tangan Seribu yang duduk membelakanginya," Ku harap pemuda itu dapat ikan atau ayam hutan cukup banyak,aku juga sangat lapar.." ucap nya sambil menoleh ke arah wanita berumur empat puluh tahun yang masih terlihat sangat cantik,Dewi Tangan Seribu cuma diam,namun sudut matanya sempat melihat apa yang di lakukan Genderuwo Agung," Aku sangat benci manusia ini,ingin rasa nya aku membunuh nya,tapi jujur aku tak dapat melupakannya.." gumamnya dalam hati," Apa kau tak lapar Larasati..?", Dewi Tangan Seribu mendadak menoleh dengan cepat ke arah Genderuwo Agung," Apa kau tak bisa diam,kalau kau lapar,cari makan sendiri sana..!!" ucapnya ketus sambil melotot,Nirmala dan Sadewa yang melihat dari kejauhan cuma saling pandang sambil tersenyum," Kenapa kau selalu bersikap seperti ini,sampai kapan kau akan memusuhi ku?,sudah ku katakan pada mu,aku tak pernah meninggalkan mu,aku cuma pergi menenangkan hati akibat kehilangan adik ku satu-satunya..",Dewi Tangan Seribu kembali menatap tajam ke arahnya," Siapa bilang aku merasa kau meninggalkan ku,aku pun tak peduli kau mau pergi atau mau mati sekalian..!!" ucapnya dengan nada marah,Genderuwo Agung cuma memandang Dewi Tangan Seribu dengan pandangan sedih," Aku sudah beribu kali minta maaf pada mu,sampai kapan kau akan terus berkata kasar pada ku.." Ucapnya lirih,kemudian segera beranjak untuk pergi,Dewi Tangan Seribu cuma menatap tubuh raksasa Genderuwo Agung dengan pandangan berkaca-kaca,kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangan nya. Nirmala dan Sadewa cuma melihat dengan wajah bingung," Perbuatan kalian sungguh memalukan,mengintip orang bertengkar itu kurang baik.." satu suara di iringi gelak tawa pelan mengagetkan dua muda-mudi di bawah pohon mangga hutan,Sadewa dan Nirmala segera melihat ke arah atas,di sebuah dahan pohon mangga hutan di atasnya,duduk dua orang laki-laki,yang satu bertubuh gemuk luar biasa dan selalu menggaruk ketiak,dan seorang lagi berpakaian seperti wanita dan berdandan mencorong lucu," Paman Gembul Edan,Juwita Maut..kalian kah itu..!" Seru Sadewa. Tak lama dua sosok di atas sudah melompat turun,dua sosok yang tak lain Gembul Edan dan Juwita Maut saling melempar senyum pada dua anak muda di depan mereka,Sadewa segera melangkah mendekat sambil membungkuk hormat,begitupun Nirmala yang sudah kenal dengan dua orang itu. " Mereka memang punya hubungan di masa lalu. Dewi Tangan Seribu sangat berduka ketika Genderuwo kurang ajar itu meninggalkannya.." ucap Gembul Edan sambil senyum-senyum sendiri," Nirmala..apa kau tak merasa malu punya paman seorang raksasa begitu,ku rasa kentut nya saja akan lebih keras dari teriakan mu.." ucap Juwita Maut kemudian tertawa keras bersama Gembul Edan," Aku pun heran,bagaimana wanita secantik Dewi Tangan Seribu bisa suka pada nya,pada hal ku rasa aku akan lebih pantas untuknya.." sambung Gembul Edan," Tua bangka tak tau diri,dia pilih Genderuwo itu,atau diri mu,ku rasa dia sama-sama sial nya,apa yang bisa di banggakan dari tua bangka kurang ajar seperti mu,bau mu lebih bau dari kambing tak mandi setahun,makan mu banyak,wajahmu tak lebih tampan dari muka kadal.." ucap Juwita Maut kemudian tertawa lepas," Kurang ajar,kau bilang aku kambing muka kadal..!" Seru Gembul Edan sambil peperkan tangan yang sudah menggaruk ketiaknya ke wajah Juwita Maut,Sadewa dan Nirmala tertawa melihat bagaimana Juwita Maut melompat menjauh sambil muntah-muntah,dan menyumpah panjang pendek. (4) Sadewa dan Nirmala di ikuti Gembul Edan dan Juwita Maut berjalan ke arah Dewi Tangan Seribu yang masih duduk melamun di atas sebuah batang kayu yang melintang di tepi sungai,setelah cukup dekat Juwita Maut segera batuk-batuk kecil,Dewi Tangan Seribu terkejut dan segera menoleh ke arah belakang," Apa yang kalian lakukan di sini,bagaimana kalian bisa bersama dua orang gila ini.." ucapnya pada Nirmala dan Sadewa,Gembul Edan dan Juwita Maut cuma tersenyum dan saling tatap sejenak," Apa kehadiran kami lebih tak kau sukai Dewi Tangan Seribu,apa kau lebih memilih di temani Raksasa berbulu monyet tadi.." jawab Juwita Maut,kemudian tertawa bersama Gembul Edan,Dewi Tangan Seribu sejenak terlihat diam menatap dua orang yang masih tertawa,kemudian ikut tersenyum," Aku lebih senang kalian berada di sini.." ucapnya kemudian,Nirmala dan Sadewa cuma saling pandang,kemudian ikut tersenyum," Pemuda tolol...apa lagi yang kau tunggu,cepat bakar ayam hutan itu,aku dan wanita cantik ini akan makan berdua di tepi sungai ini..!" seru Gembul Edan pada Sadewa,sedangkan Juwita Maut segera duduk di samping Dewi Tangan Seribu," Kita sama-sama perempuan,kita sama-sama cantik,kau boleh menyampaikan resah hati mu pada ku sebagai sahabatmu.." ucapnya lembut pada wanita berpakaian putih di sampingnya, dengan sikap seperti perempuan yang penuh lemah gemulai," Banci tak punya malu,mana mau dia berbagi dengan manusia jadi-jadian seperti mu.." ucap Gembul Edan,Dewi Tangan Seribu cuma tertawa geli melihat Juwita Maut melotot pada kakek gemuk di belakangnya," Kemana perginya mahluk besar tapi bodoh tadi..?" ucap Juwita Maut seenaknya," Kenapa kau bilang aku besar tapi bodoh,mau ku ***** tubuh mu,banci gila..!!" Bentak satu suara,di iringi kelebatan seseorang bertubuh sangat tinggi dan besar,tak jauh dari tempat Juwita Maut dan Gembul Edan sudah berdiri Genderuwo Agung sambil membawa beberapa ekor ikan besar,kemudian seenaknya dia lemparkan ke pangkuan Juwita Maut,Gembul Edan dan Dewi Tangan Seribu tak sanggup menahan tawa melihat Juwita Maut gelagapan menangkap ikan besar yang cukup banyak di pangkuannya. Malam itu tepian sungai di buat riuh oleh suara tawa enam orang yang duduk melingkar,di tengah nya api unggun,bau ikan dan ayam hutan bakar menyebar kemana-mana.(5) " Mahluk kesasar...sampai kapan kau akan terus ada dalam wujud gaib mu ini,aku muak melihat tampang mu yang seperti setan kuburan..!" seru Juwita Maut pada Genderuwo Agung,Gembul Edan cuma terkekeh pelan,Dewi Tangan Seribu masih duduk di ujung perapian dekat Nirmala dan Sadewa," Apa kau kemana-mana tak merasa risih,ku rasa anak kecil bisa kena demam panas kalau melihat mu,apa istilah nya ?,kesambet setan..!!" sambung Gembul Edan sambil tertawa," Puaskan ketawa mu,kalian berdua sama gila nya..!" Semprot Genderuwo Agung. " Apa maksud paman Juwita Maut bibi..?,tampang gaib apa maksud nya pada paman ku..?",ucap Nirmala,sambil menoleh pada Dewi Tangan Seribu," Tanyakan sendiri pada paman mu,kau akan terkejut melihat wajah aslinya.." jawabnya sambil menoleh ke arah lain,Nirmala menatap ke arah Sadewa yang cuma mengangkat bahu,Nirmala kemudian berdiri dan melangkah ke arah Genderuwo Agung,Gembul Edan dan Juwita Maut. " Paman...apa maksud semua ini,siapa kau sebenarnya..?" ucapnya pada Genderuwo Agung," Raksasa gila..,jawab tanya keponakan mu,ayo perlihatkan tampang asli mu padanya,siapa tau dia akhirnya mau mengakui mu sebagai kerabatnya..!" ucap Gembul Edan sambil menendang punggung Genderuwo Agung seenaknya,Juwita Maut pun turut menjewer kuping lebar mahluk mengerikan di sampingnya," Ayo rubah wujudmu,ku rasa sudah waktunya kau mengakhiri sumpahmu untuk tetap memakai tampang Genderuwo supaya kau tak di cintai siapapun..",Dewi Tangan Seribu yang mendengar apa yang di ucapkan Juwita Maut membuatnya tersentak,wajahnya sejenak pucat memandang pada Genderuwo Agung yang kebetulan juga memandang ke arahnya,sesaat dua mata beradu pandang cukup lama," Apa kau memang mau melihat wujud asli ku Nirmala?,tapi berjanji lah untuk memaafkan semua kesalahan ku.."ucapnya lembut pada gadis muda di depannya," Ceritakan dulu apa yang membuat mu menghukum ibu ku,apa kesalahan nya..?" ucap Nirmala pada sosok Raksasa hitam di depannya,Genderuwo Agung memandang pada Gembul Edan dan Juwita Maut,keduanya cuma mengangguk," Ceritakan lah,ku rasa gadis ini sudah cukup dewasa untuk menerima.." ucap Gembul Edan padanya,keadaan sejenak menjadi hening," Adiku Nyi Ayu Lintang memiliki seorang suami yang berasal dari golongan bangsawan kerajaan Mataram,sedangkan Kerajaan Arung Samudra sudah terikat sumpah untuk tak memiliki pertalian apapun dengan keturunan Raja-raja Mataram,dan apa yang di lakukan ibu mu benar-benar membuat kerajaan Arung Samudra di landa malapetaka bencana. Sampai sebagai seorang raja aku akhirnya memutuskan untuk menghukum ibu mu sebagai orang buangan dalam sepuluh tahun,aku tak tahu kalau saat itu ibu mu sedang mengandung,saat dalam masa pembuangan itu lah kau lahir,ibu mu meninggal saat melahirkan mu,ayah mu larut dalam kesedihan mendalam,sampai akhirnya menyusul ibu mu tiga bulan kemudian..." ucapnya di sela menahan tangis,suasana menjadi hening,Dewi Tangan Seribu tundukan wajah yang berlinang air mata,Sadewa pun turut tertunduk," Aku benar-benar menyesali keputusan ku..." ucap Genderuwo Agung kemudian bersujud menangis pilu," Sebagai seorang kakak yang menyayangi adik mu,penyesalan mu bisa di pahami.Tapi sebagai seorang Raja yang memimpin rakyat mu,kau sudah melakukan hukum secara adil,kau memang harus melakukan hukuman itu,semua mungkin sudah takdir Nyi Ayu Lintang.." Ucap Juwita Maut yang menangis terisak sambil mengusap air mata,Nirmala segera melangkah ke arah Genderuwo Agung yang masih bersujud menangis pilu," Berdiri lah paman ku,aku tak perlu memaafkan mu,kau adalah raja yang sangat bijaksana,aku yakin ibu pun tak sedikit pun menyalahkan mu,kau tidak bersalah paman.." Ucap Nirmala sambil memeluk tubuh Raksasa Genderuwo Agung,kedua nya larut dalam tangisan,setelah cukup lama memeluk pamannya,Nirmala tersentak begitu melihat yang dia peluk saat ini adalah seorang laki-laki berwajah gagah berumur lima puluh tahun,dengan kumis rapi dan wajah bersinar menunjukan kewibawaan,berpakaian mewah warna biru langit berenda benang emas,tubuh nya tinggi tegap,rambut nya panjang rapi memakai sebuah mahkota emas di kepalanya," Selamat datang kembali Gusti Prabu Kumbara Aji,Raja Kerajaan Arung Samudra..!!" Seru Gembul Edan sambil membungkuk hormat,di ikuti kemudian oleh Juwita Maut dan kemudian Sadewa. Nirmala memandang takjub pada sosok gagah di depannya," Inikah wujud nyata mu paman..?",sosok gagah itu cuma mengangguk,kemudian membuka tangannya ke arah Nirmala,gadis itu pun segera memeluk pamannya dengan penuh rasa bangga dan senang," Mulai saat ini aku tak akan jauh lagi dari mu,aku akan menjaga mu seumur hidupku.." ucapnya sambil terisak menangis mengusap kepala gadis dalam pelukannya. (6) Gusti Prabu Kumbara Aji melangkah kearah Dewi Tangan Seribu,kemudian berhenti beberapa langkah di depan wanita cantik yang memandangnya dengan pandangan sayu," Larasati...terima kasih kau sudah menjaga Nirmala selama ini,aku berhutang budi pada Nyi Sekar Arang dan pada mu karena sudah menjaga keponakan ku,maafkan segala kesalahan ku pada mu,mohon beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku pada mu.." ucapnya kemudian membungkuk untuk duduk bersimpuh," Lekas berdiri kakang,kau adalah seorang raja yang tak boleh tunduk selain pada tuhan dan orang tua mu.." jawabnya sambil memeluk tubuh laki-laki gagah di depannya," Aku memaafkan mu,aku sangat mencintai mu kakang.." ucapnya lirih dalam pelukan Gusti Prabu Kumbara Aji,suasana malam itu berubah menjadi penuh keharuan,Nirmala berlari memeluk tubuh Sadewa,tangis nya pecah dalam dekapan pemuda yang sangat di cintainya," Bersyukurlah Nirmala,Allah sudah menunjukan rahmat nya pada mu.." ucap Sadewa lembut pada Nirmala. Mendadak suasana haru itu di kejutkan oleh suara teriakan Gembul Edan," Kurang ajar,kodok sialan,bagaimana dia bisa masuk dalam celana ku,aduh putus anu ku di gigitnya..!!"," Gemuk tak tahu diri,kau selalu merusak suasana,ku doa kan habis geroak anu mu di gigitnya..!!" bentak Juwita Maut dengan tampang kesal,Gembul Edan melompat-lompat antara geli dan takut,lalu tampa berpikir di tempat itu banyak orang,dia tanggalkan celananya,lalu berlari dalam keadaan polos di bagian bawah tubuhnya,Nirmala dan Dewi Tangan Seribu terpekik dengan wajah jengah melihat kejadian itu,Sadewa,Juwita Maut dan Gusti Prabu Kumbara Aji tertawa terpingkal-pingkal melihat Gembul Edan lari lintang pungkang sambil sebelah tangan berusaha menutup anu depan belakang. Esok harinya Sadewa,Gembul Edan yang masih meringis sambil sesekali memegang bagian bawah perutnya,dan Juwita Maut yang berdiri sambil merapikan poni rambutnya," Gusti Prabu Kumbara Aji,Bibi Larasati,Nirmala,hamba mohon ijin untuk meneruskan perjalanan bersama paman Gembul Edan dan Juwita Maut,semoga lain waktu kita dapat bertemu kembali.." ucapnya sambil membungkuk hormat,Gusti Prabu Kumbara Aji cuma tersenyum sambil menepuk pundak pemuda di depannya," Jaga diri mu anak muda,secepatnya kita akan bertemu kembali,aku akan membawa Nirmala dan Nyi Larasati sementara waktu ke Kerajaan ku..",ucapnya pad Sadewa," Jaga diri mu Sadewa,berhati-hatilah selalu.." sambung Dewi Tangan Seribu,Nirmala cuma tersenyum pada nya,kemudian segera memberi kecupan pada pipi Gembul Edan dan Juwita Maut," Jaga diri paman berdua..",ucapnya pada dua sosok di depannya." Rezeki kita cukup baik pagi ini,sepagi ini kita sudah dapat kecupan sayang.." ucapnya pada Juwita Maut sambil tertawa," Betul Gendut..apa menurut mu aku boleh memberi ciuman perpisahan pada Raja Arung Samudra itu.." bisiknya sambil tertawa geli," Sebaiknya tak usah,aku yakin dia akan meninju muka jelek mu,sebelum kau sempat menciumnya..",jawabnya sambil tertawa keras,Sadewa ikut tersenyum melihat Juwita Maut cemberut," Selamat tinggal dua sahabat ku,semoga umur panjang kita bertemu kembali..." ucap Dewi Tangan Seribu yang kemudian memutar tubuhnya melesat cepat menyusul Nirmala dan Genderuwo Agung yang telah kembali ke wujud sebagai seorang Raja.. Bersambung