
bunyi gesekan Roda yang didorong bergesekan dengan lantai keramik yang dingin dan keras,diikuti dengan langkah buru buru beberapa orang yang mendorong brankar tempat elkan terbaring tak berdaya dengan darah segar yang terus terusan keluar dari luka yang terdapat dikepalanya,
bau anyir khas darah menyebar dipenciuman tapi Tania tidak peduli ,ia bahkan tidak peduli dengan penampilan nya yang sekarang,yang dilakukannya saat ini hanyalah berdoa dan terus berharap,sambil berjalan setengah berlari mengikuti brankar elkan yang dibawa keruang ICU,
begitu sampai dipintu masuk ICU ,ia dihentikan oleh beberapa perawat,menyuruhnya menunggu diluar,sementara elkan dibawa masuk kedalam untuk segera dilakukan penanganan,
tubuh Tania merosot terduduk dilantai dilorong yang sunyi karna telah menginjak larut malam.
dengan tangis yang coba ia redam ,Tania meremas dadanya kuat kuat sesekali memukulnya yang terasa begitu sesak,
orang yang paling disayangi dalam hidupnya kini harus mengalami kejadian yang mengerikan karna kesalahannya sendiri.
elkan begini itu karna kebodohannya ,coba saja jika ia bersikap dewasa dengan tidak memperburuk keadaan karna rasa bersalahnya yang berimbas dengan kelengangan hubungannya dengan elkan,
Tania bersandar didinding dengan melipat kedua tangannya diatas lutut menenggelamkan wajahnya disana,
dalam tangis,ia terus memohon ,
agar tidak ada hal yang buruk menimpa elkan,
ia berharap suaminya baik baik saja,dan berhasil melewati masa kritisnya.
"ini semua salah aku,elkan begini itu karna aku,aku penyebab elkan terluka!"teriaknya dalam hati,
sungguh,ia begitu membenci dirinya sendiri saat ini,jika saja dia tidak bertingkah seperti itu,jika saja ia bisa menyembunyikan perasaannya seperti biasa,maka elkan tidak akan pergi,dan elkan tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini,dan mungkin saja sekarang ia sedang berada diatas kasur dengan elkan yang memeluknya hangat dan membuat dia tertidur pulas semalaman.
"sayang,maafkan aku!" ucap Tania lirih
tapi semuanya .....
semuanya hanya tinggal penyesalan yang akan membebani nya seumur hidup,
kenyataan yang sekarang adalah ,suaminya sedang berjuang melawan maut didalam sana,melawan rasa sakit yang kini menggerogoti tubuhnya,entah elkan akan berhasil melawan nya,dan itu semua karna kebodohannya.
mengingat kondisi suaminya yang begitu parah,maka harapan Tania menjadi tipis untuk suaminya bisa kembali padanya dalam keadaan semula.
tapi Tania terus saja meyakinkan dirinya,bahwa suaminya pasti akan baik baik saja,karna dia tahu,bahwa laki laki yang begitu ia cintai itu adalah sosok yang kuat,dan pantang menyerah.
saat dirinya merasa begitu lelah menangis,ia terdiam dengan pandangan menatap kedepan kosong,
air matanya menjadi kering,walaupun ia masih ingin menangis,Tania tidak tau sudah berapa lama ia terduduk disana menangisi hal yang tak akan kembali seperti sedia kala.
namun tidak lama kemudian,lamunannya jadi berhenti saat mendengar pintu ICU yang terbuat dari kaca tebal itu digeser,
Tania segera bangkit menghampiri orang yang baru saja keluar dari ruanganan itu,
dengan tidak sabaran dia menyalakan keadaan elkan didalam sana.
"dokter,bagaimana suami saya ??,dia baik baik saja kan?"
__ADS_1
pria yang sudah setengah umur itu menatap wanita didepannya itu yang wajahnya terlihat begitu sembab,
"kami butuh transfusi darah,dia kehilangan begitu banyak darah,adakah yang bisa memberikan darah pada pasien yang tentunya yang memiliki kecocokan darahnya dengan pasien??"suara dokter paruh baya itu.
Tania termenung,tipe darahnya tidak sama dengan elkan ,lalu siapa ???.
Tania baru ingat tentang keluarga elkan,papa ,atau kak arkan memiliki jenis tipe yang sama dengan elkan.
"ada dok,papa,maksud saya ayah mertua saya,saya akan segera menghubungi mereka untuk segera datang kesini"ucap Tania dengan raut lega.
dokter itu mengangguk.
"sebaiknya cepat ,karna pasien dalam keadaan kritis"setelah mengucapkan itu,dokter pun kembali masuk keruang tempat elkan dirawat.
Tania dengan buru buru menagmabil ponselnya lalu menghubungi nomor ayah mertuanya.
terdengar beberapa nada sambung diseberang sana,tapi tidak ada yang mengangkat hingga panggilannya putus,
Tania merasa panik saat papa tidak mengangkat telponnya,
mungkin saja ayah mertuanya saat ini sudah tertidur karena ini sudah sangat larut.
Tania kemudian memilih menghubungi kak arkan,karna biasanya dia masih terjaga di jam segini ,masih menyelesaikan tugas atau pun menonton bola.
mata Tania terlihat berbinar,saat Kak Arkan mengangkat panggilannya.
"halo!"suara kak arkan diseberang dengan suara serak khas bangun tidur.
entah apa jawaban Arkan diseberang sana,yang jelas Tania menutup telponnya dengan perasaan lega,seraya mengirimkan lokasi rumah sakit ia berada saat ini pada Arkan.
Tania masih mondar mandir dengan sesekali menoleh kearah pintu lorong menunggu kehadiran keluarga elkan.
dengan perasaan tidak tenang ia terus saja menunggu dengan hatinya yang terus berdoa untuk suaminya itu,
pintu ICU kembali terbuka menampilkan seorang pria yang memakai baju khusus lengkap dengan masker keluar,
pria yang tadi berbicara dengan Tania berjalan mendekat pada Tania yang menatap nya dengan was was.
"bagaimana ??,apakah calon pendonornya sudah datang??"tanya dokter itu dengan sedikit buru buru.
Tania kembali dilanda rasa panik saat yang ditunggu mau belum kunjung terlihat.
"belum dik tunggu seben_
"Tania !!!!"
ucapan Tania terputus,saat ia melihat tiga orang berjalan tergesa dilorong menuju kearahnya.
itu adalah kak arkan,mama dan juga papa elkan.
__ADS_1
mereka datang dengan wajah terlihat sangat panik.
saat mereka sudah berada didepannya,kak arkan menarik tubuh Tania jatuh dalam pelukannya.
sementara ia hanya berdiri disana masih mematung.
papa dan mama tanpa menyapanya malah berbincang dengan dokter.
"dok,bagaimana keadaan anak saya?!"suara mama terdengar bergetar menahan tangis.
"dia dalam keadaan kritis sekarang,dia butuh transfusi darah secepatnya,!"
jawab dokter tersebut masih dengan raut dibuat tenang.
"dok,putra saya memiliki jenis darah yang sama dengan saya,ambil darah saya saja dok,cepat selamatkan putra kami,"sahut papa terdengar tak kalah panik,
Tania yang masih dalam pelukan kak arkan hanya diam saat melihat kedua mertuanya dibawa oleh dokter memasuki ruang untuk transfer darah.
akhirnya Tania benar benar lega saat pintu ruangan itu kembali ditutup dari dalam.
barulah Tania sadar,sedari tadi dia berada dalam pelukan kakak iparnya.
dengan cepat Tania melepaskan pelukan Arkan membuat Arkan kaget dengan gerakan tiba tiba Tania.
Arkan menatap wajah canti Tania yang terlihat sembab dan berantakan itu,tapi masih saja terlihat cantik dimatanya.
"kamu baik baik aja kan Tania?"tanya elkan mewakili perasaannya yang sedang berkecamuk saat ini.
Tania menggeleng pelan,dengan raut sangat sedih.
"tidak kak,elkan kecelakaan itu karna aku"ucapnya dengan air mata Kemabli mengalir dikedua pipinya.
ia ingin menumpahkan segala yang dirasakan nya saat ini.
hati Arkan bergetar melihat Tania yang kembali menangis,tak dipungkiri perasaan yang selama ini dicoba dbuangnya seketika muncul kembali perlahan,membawa rasa sesak yang tak berujung didalam dadanya.
ia kembali merangkul Tania,menenggelamkan tubuh yang bergetar itu kedalam pelukannya.
"tidak Tania,ini sudah jadi kehendak yang diatas,kejadian ini bukanlah salah siapa siapa,tapi emang sudah jadi kehendak yang berkuasa,jangan menyalah kan dirimu Tania"Arkan menepuk kepala belakang Tania dengan sebelah tangan lagi mengusap punggung wanita itu lembut berusaha menenangkan Tania yang terlihat sangat berantakan itu.
Tania melepaskan tangisnya dalam pelukan Arkan,mencurahkan semua hal yang mengganjal dihatinya,
karna,sosok Arkan ini adalah satu satunya dikeluarga elkan yang begitu peduli padanya,
saat Arkan mendekapnya seperti ini,Tania merasakan sedikit ketenangan yang diberikan oleh seorang kakak terhadap adiknya,
ia jadi mempunyai orang tempat berkeluh kesah sekarang,
Arkan yang paham dengan kondisi Tania istri adiknya pun dengan senang hati menenangkan nya,menjadi pendengar yang baik untuk mendengar semua keluh kesah Tania,
__ADS_1
agar wanita itu merasa lebih baik.
"tenanglah Tania,ada saya disini,jangan merasa sendiri lagi ya!"ucap elkan mengelus kepala Tania dengan lembut .