
beberapa jam kemudian Tania sudah selesai membersihkan dirinya dari noda darah elkan yang telah mengering di seluruh tubuhnya,
kini ia sedikit lebih baik setelah menggantikan bajunya yang kotor dengan baju yang dibeli Arkan di toko terdekat,
ceklek...
pintu toilet wanita terbuka,bersamaan Tania yang keluar dengan pakaian yang telah diganti menjadi penampilannya sedikit lebih baik.
Tania kaget ,saat mengetahui Arkan masih berdiri diluar toilet untuk menunggunya.
Arkan menoleh pada Tania dan tersenyum,menegakkan tubuhnya yang bersandar didinding.
"udah selesai?"tanya Arkan,saat Tania sudah berjalan kearahnya.
Tania membalas senyuman Arkan,lalu mengangguk.
"udah yok,kita keruangan elkan,dia udah dipindah keruangan inapnya sendiri"ucap Arkan,membuat Tania sontak mendongak,
"El,udah selesai ditangani?"
Arkan kembali tersenyum,
"udah,tadi mama chat aku,ayok kita kesana sekarang,kamu pasti ingin bertemu dengan elkan kan?"
Tania tampak antusias ,lalu dengan tidak sabaran langsung berjalan mendahului Arkan.
sementara Arkan hanya tersenyum kecil,dan sedikit lega melihat Tania sudah lebih baik dari sebelumnya.
ia berjalan mengikuti Tania dibelakang,dengan pandangan tak beralih dari wanita didepannya itu,tampak tidak sabaran ingin segera melihat kondisi suaminya.
Arkan tersenyum kecut,dengan menelan ludah pahit,
"andai saja aku ada diposisi elkan,aku pasti merasa senang ,bisa diperhatikan oleh Tania,dan dikhawatirkan seperti ini,"
ucap Arkan dalam hati,
namun saat dirinya tersadar,ia kembali marah dengan dirinya sendiri.
"bodoh,kurang ajar kamu Arkan,dia itu udah jadi istri dari adik kandung kamu sendiri,sangat tidak pantas kamu berbicara seperti ini,harusnya kamu bahagia,saat elkan memiliki pendamping hidup yang tepat,"
hatinya terus merutuk,menyalahi perasaannya yang tidak dapat ditahannya saat ia melihat Tania kembali.
saat mereka sampai diruang rawat elkan,seperti yang diberitahu oleh mama,Tania pada Arkan dengan berdiri didepan pintu.
"kak,mama sama papa masih didalam!,kita tidak bisa masuk kesana rame rame kan??"ucap Tania membalikkan badannya berhadapan dengan Arkan.
"iya,tidak diperbolehkan oleh pihak rumah sakit jika masuk kesana lebih dari dua orang,kita tunggu mama sama papa keluar dulu,nanti baru kita masuk,"sahut Arkan.
Arkan menduduki salah satu kursi tunggu yang terdapat disana,tepat disebelah pintu ruang elkan dirawat,
ia menoleh pada Tania lalu menepuk ruang kosong disisinya.
"duduk disini Tan,"
Tania menurut,ia duduk disebelah arkan dengan tidak tenang,ia begitu tidak sabar ingin menemui suaminya secepatnya.
Arkan menyadari kegelisahan Tania,ia mencoba menghibur nya.
"gak sabar lagi ya?,tunggu bentar lagi ,pasti bertemu kok"goda Arkan bermaksud membuat Tania lebih baik.
tapi reaksi yang diberikan Tania ternyata diluar harapan Arkan.
__ADS_1
ia kembali terlihat sedih,dengan mata berkaca kaca .
"kak,elkan tidak akan papa kan??,dia baik baik aja kan?"
hati Arkan kembali teriris mendengar pertanyaan dari adik iparnya,ia tahu betul kondisi elkan tidak baik baik saja,karna kata dokter,elkan mengalami benturan hebat dikepalanya,dan bagian tubuh lainnya juga banyak mengeluarkan darah,sebenarnya dia merasa sangat khawatir dan juga sedih dengan kondisi adik uang disayanginya itu,tapi sebaik mungkin ia menutupi raut kesedihan dari wajahnya,tak ingin membuat keadaan Tania menjadi lebih buruk,
"kita doakan saja ya,moga elkan tidak kenapa Napa,dia adalah lelaki yang tangguh,kakak yakin ,dia akan berhasil melewati masa sulitnya,"hibur Arkan dan mampu membuat Tania sedikit lebih tenang.
ceklek...
pintu ruangan elkan dibuka dari dalam,membuat dua orang yang sedang bersedih itu mengalihkan pandangan.
mama keluar dari ruangan diikuti papa yang terlihat sedang menenangkan mama yang sedang menangis terisak.
seketika perasaan Tania kembali tidak enak saat melihat mama mertuanya terlihat begitu sedih.
"mama!"panggil Tania dengan suara bergetar.
orang yang dipanggil,menoleh padanya,begitu melihat Tania,wajah mama jadi berubah menjadi marah.
ia berjalan mendekati Tania menarik rambut Tania dengan kasar,
membuat Tania meringis menahan sakit yang serasa kulit kepalanya hampir lepas.
"ini semua pasti karna kamu kan??,anakku jadi kecelakaan seperti ini hingga terbaring tidak berdaya semua ini karna ulah kamu,"teriak mama dengan menjambak keras rambut Tania.
Arkan yang melihat menjadi kaget dan segera berusaha memisahkan mamanya dari Tania yang tampak kesakitan,
papa pun mencoba menahan mama dengan susah payah,tapi mama makin memberontak,
"ampuuun ma,sakit!!!"Isak Tania sambil memegangi tangan mama yang masih menarik rambutnya.
Tania menangis dengan terisak hebat,bukan sakit dikepalanya akibat jambakan mama yang membuat ia menangis,tapi perkataan dari mertuanya lah yang membuat hati nya semakin sakit,lebih sakit dari pada kulit kepalanya yang seperti hampir terlepas,
"ma!,cukup,lepasin Tania!!"sentak Arkan masih berusaha memisahkan tangan mama dari kepala Tania yang sangat sulit terlepas.
"ma,jangan seperti ini,lepaskan Tania,dia kesakitan"bujuk papa dengan menarik tubuh mama agar menjauh dari menantunya.
"tidak pa,wanita ini harus diberi pelajaran,karna telah membuat anak kita menjadi seperti ini!"
"MAMA!!"Arkan membentak dengan suara yang keras,membuat gerakan mama seketika berhenti,tangannya terlepas dari kepala tania.
mama menatap Arkan dengan pandangan tak percaya.
tak percaya dengan putra sulungnya yang begitu menyayanginya kini sedang membentak dirinya didepan Tania,wanita yang selalu direndahkannya.
"Ar,ka..kamu membentak mama?"suara mama terbata bata,
menatap putranya dengan pandangan berkaca kaca.
Arkan yang begitu marah,melihat perilaku mamanya pada Tania membuat dia jadi kecewa,dan melakukan tindakan ini.
"aku harus bagaimana ??,mama selalu aja menyalahkan Tania atas segala hal,aku muak ma,liat mama terus saja bersikap seperti ini pada Tania,dia itu yang paling menderita diantara kita,bagaimana bisa mama mengatakan semua itu pada Tania??,"
ucap Arkan dengan napas yang naik turun mencoba menahan emosi.
"aku kecewa sama mama,liat tingkah mama yang seperti ini"sambungnya lagi.
mama menangis begitu mendengar perkataan putra sulungnya,ternyata bukan hanya elkan,arkan pun sama,sama sama menyalahkan dirinya daripada wanita lain.
papa merangkul bahu mama yang tampak terisak,mencoba menenangkan ,walaupun ia tidak membenarkan sikap istrinya barusan,tapi ia tidak tega,melihat mama yang sedang mengkhawatirkan putra mereka kini kembali dibentak.
__ADS_1
"udah ma,ayo...kita keluar kita cari uadra segar"bujuk papa,segera membawa mama pergi dari sana.
begitu mama dan papa sudah pergi,Arkan menoleh pada Tania,yang berdiri dengan kepala tertunduk dengan bahu yang bergetar.
Arkan menghampiri dan segera mendekap tubuh kecil Tania dalam pelukannya,berusaha menenangkan wanita yang sedang terisak itu.
"udah,,,gak usah didengerin kata kata mama,kamu gak salah kok"ucapnya dengan suara lembut,mengusap pelan puncak kepala dan punggung Tania.
Tania hanya diam dengan menyadarkan kepala nya didada bidang Arkan,isakannya terdengar lirih dengan mata yang memerah.
saat ini tempat bersandar lah yang dibutuhkannya.
Arkan membiarkan Tania menangis didalam dekapannya,membiarkan wanita itu menumpahkan semua kesedihan didadanya yang kini terasa basah karna air mata Tania.
setelah beberapa saat,Tania terlihat lebih tenang,dengan tangis yang sudah mereda,
Arkan melepaskan pelukannya,menghapus air mata yang tersisa diwajah cantik Tania.
"udah jangan nangis lagi,lihat sekarang,kamu jadi jelek,emangnya kamu mau ?,temuin elkan dalam kondisi seperti ini??,"
Tania mendongak menatap Arkan dengan sayu,lalu menggelengkan kepalanya.
"aku mau ketemu elkan kak"
katanya dengan suara yang lirih.
Arkan tersenyum,
"udah,sana pergi,temuin suami kamu,"
ucap Arkan dengan perasaan yang sulit digambarkan,
Tania menatap Arkan ,lalu segera berbalik menuju pintu,membukanya dan masuk dengan pelan,menutup pintunya Kembali.
tercium bau obat obatan yang menyengat,waktu pertama kali ia memasuki ruangan ini,ia terus berjalan perlahan,
begitu melihat lelaki yang begitu dicintainya berbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan ditemani bermacam peralatan medis yang menancap ditubuhnya,
seketika tubuh Tania terasa lemas,hingga membuat ia harus berpegangan pada tepi ranjang elkan untuk menopang tubuhnya.
ia duduk disebuah kursi disamping ranjang elkan terlelap.
air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahannya,
wajah damai elkan yang terlelap membuat dadanya sesak,
mata yang biasanya selalu menatap teduh penuh cinta padanya,kini terpejam sempurna,tanpa ada tanda tanda akan terbuka .
Tania mengambil satu tangan elkan yang tidak terpasang infus ,menggenggamnya dan membawanya kebibir,mengecup lama.
"sayang,ini aku ,Tania istrimu,aku disini disampingmu sekarang,aku sangat merindukan mu elkan,apa kamu tidak merindukan aku?"
Tania bertanya dengan suara yang tercekat,berharap banyak elkan akan menjawab dirinya.
namun cuma bunyi alat yang terpasang ditubuh elkan yang terus bersuara teratur,tidak ada yang menjawab tanya nya.
ia kembali terisak,sangat tidak enak rasanya elkan mengabaikan dirinya seperti ini,
Tania menangkupkan wajahnya di tangan elkan.kembali terisak dengan berusaha menenggelamkan tangisnya.
"elkan,tolong bangun!,aku tidak suka kamu yang diam seperti ini!"tangisnya terdengar begitu pilu
__ADS_1