
Tok.
Tok.
"Yudha!" Wiliam mengetuk-ngetuk pintu ruangan kerja Yudha, karena ia tahu jika sahabatnya itu masih berkerja sore ini.
"Ya ampun, kenapa aku tidak langsung masuk saja," ucap Wiliam.
Kemudian ia langsung masuk kedalam ternyata sahabatnya tidak ada didalam.
"Kemana dia? Mungkin saja dia sudah pulang." Wiliam bergegas pergi dari ruangan Yudha, ia berlari menuju Resepsionis.
Setelah sampai ia langsung bertanya dimana keberadaan sahabatnya itu, karena ada keadaan darurat seperti saat ini.
"Sudah pulang, baru saja," ucap Resepsionis tersebut.
Wiliam mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian ia berlari dengan cepat agar ia bisa segera sampai didalam mobil.
Ia langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah Yudha, dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai. Wiliam sangat mengkhawatirkan keadaan Wilona saat ini sehingga ia tidak fokus.
Ia hampir saja mebarak wanita yang menyebrang, kemudian ia langsung tancap gas. Karena wanita yang hampir ia tabrak tidak apa-apa.
Setelah sampai ia langsung berlari masuk kedalam rumah Yudha, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena ini sangat darurat.
"Yudha!" teriak Wiliam.
Yudha terkejut saat mendengar teriakkan Wiliam, ia langsung bangun dari duduknya kemudian ia menatap wajah Yulia.
"Kita tunda dulu, sepertinya itu teriakan, Wiliam." Yudha bergegas pergi dari dalam kamarnya, menuju sumber suara.
Yulia mengikuti langkah suaminya dari belakang, karena ia takut jika Wiliam marah saat Wilona memutuskan hubungan dengan, Igun.
"Yudha, akhirnya aku menemukan mu," ucap Wiliam dengan sangat lega.
"Ada, apa?" tanya Yudha, dengan sangat cemas karena ia melihat ada noda darah di baju Wiliam.
"Wilona, kecelakaan sekarang dia ada di rumah sakit. Dan sekarang dia harus segera di operasi," ungkap Wiliam.
Yudha langsung lemas mendengar ucapan Wiliam, jika anak satu-satunya mengalami kecelakaan.
"Wilona!" Yudha langsung bergegas pergi, ia berlari menuju mobilnya bersama dengan Yulia. Kemudian ia langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Wiliam mengikuti langkah Yudha, dari belakang menggunakan mobilnya karena ia juga sudah sangat, mengkhawatirkan keadaan Wilona saat ini.
Yulia berusaha agar dirinya tidak menangis, karena ia tidak mau jika anaknya tidak tertolong. Ia terus-menerus berdoa agar anaknya bisa segera pulih.
__ADS_1
"Papi, cepatlah anak kita harus segera di operasi," ucap Yulia, dengan sangat cemas akan keadaan anaknya.
"Iya, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaannya." Yudha langsung, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai.
Setelah sampai ia langsung bergegas pergi menuju ruang operasi, bersama dengan Wiliam dan istrinya. Setelah ia menandatangi surat-surat dari rumah sakit, barulah Wilona di operasi oleh Dokter.
Yulia duduk di bangku tunggu pasien, bersama dengan Yudha sedangkan Wiliam ia hanya berdiri saja. Ia sangat cemas karena ia yang menabrak Wilona tadi sehingga Wilona mengalami pendarahan.
"Yud, sebenarnya ... aku yang mebarak, Wilona," ungkap Wiliam.
Yudha hanya melirik kearah Wiliam saja, kemudian ia menatap wajah istrinya yang ada di sampingnya.
"Jangan, marah." Yulia memegang tangan suaminya, agar suaminya tidak marah pada Wiliam.
Yudha menganggukkan kepalanya, kemudian ia bangun dan mendekati Wiliam.
"Tidak apa-apa, ini bukan sepenuhnya salah mu ... aku tahu tidak mungkin kau melakukannya dengan sengaja," ucap Yudha dengan sangat lembut.
Wiliam tersenyum, karena sahabatnya itu tidak marah padanya pasalnya ia sudah melukai Wilona.
"Terimakasih, aku memang tidak akan melakukan itu dengan sengaja ... karena aku sangat menyayangi, Wilona."
*
*
Tanpa Igun tahu apa alasannya, sehingga ia tidak bisa menerima kenyataan ini karena ia sangat mencintai Wilona.
"Wilona, aku sangat mencintaimu ... aku akan mati jika kamu tidak bersamaku!" teriak Igun, ia menghentikan mobilnya tepat di pinggir danau.
Kemudian ia turun dari mobilnya, perlahan ia berjalan dengan air mata yang berjatuhan deras. Ia tidak peduli akan tatapan dari orang yang ada di sana.
"Aku tidak peduli, jika mereka melihat ku menangis seperti ini," gumam Igun dalam hatinya.
Igun terus berjalan menuju pinggir danau kemudian ia duduk di pinggir, ia melemparkan batu dengan sangat kuat.
"Igun!" teriak seorang wanita.
Igun langsung menoleh, kemudian ia bangun dan bergegas menghampiri wanita itu.
"Kau, ada di sini?" tanya Kiranti, sambil menatap wajah sedih Igun.
"Iya," jawab Igun, sambil menghapus air matanya yang mengalir deras.
"Kau, uuummm. Menangis?" tanya Kiranti, yang jika air mata Igun mengalir deras.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" tanya Igun balik, kemudian ia berjalan menuju bangku yang ada di sana dan ia duduk bersama dengan Kiranti.
"Kenapa, kau ada di sini?" tanya Igun, karena ia penasaran jika Kiranti ada di danau itu.
"Oh, aku ada sedikit pekerjaan," jawab Kiranti dengan cepat.
Mereka pun bercerita bersama Igun, mencarikan semua tentang dirinya yang sudah putus dengan Wilona.
Kiranti hanya menyimak saja, karena ia sudah tahu apa alasannya Wilona memutuskan hubungan. Akan tetapi, ia tidak mau bercerita karena itu adalah rahasia Wilona.
*
*
Setelah selesai operasi Wilona sudah selamat, kini ia sudah dipindahkan ke ruangan inap VIP.
Yulia, dan Yudha bergegas pergi menuju ruangan Wilona bersama dengan Wiliam. Mereka bertiga masuk kedalam ruangan.
Terlihat jika Wilona masih belum sadarkan diri, hati Yudha sangat sakit melihat keadaan anaknya seperti saat ini.
Ingin rasanya ia menangis tersedu-sedu seperti seorang anak-anak, akan tetapi. Itu tidak akan ia lakukan karena akan membuatnya malu.
"Yud, aku pulang dulu ... bajuku kotor sekali," ucap Wiliam dengan sangat pelan.
Yudha tidak menjawab ia hanya menggunakan kepalanya saja, kemudian Wiliam bergegas pergi dari sana karena ia sudah tenang melihat keadaan Wilona.
"Papi, sebaiknya kita tunggu samapi anak kita sembuh ... baru kita lanjutkan masalah ini," ucap Yulia, dengan sangat lembut.
"Iya, Papi juga belum membahas masalah ini ... tunggu anak kita sembuh dia akan menjelaskan semuanya."
*
*
Wiliam belum mengetahui jika Wilona dan Igun sudah putus, karena sikap Yudha tadi biasa-biasa saja saat bertemu dengannya.
Wiliam bergegas pulang ke rumahnya, ia melajukan mobilnya dengan perlahan. Setelah sampai ia langsung masuk kedalam.
Wiliam berjalan menuju kamarnya, setelah sampai ia langsung masuk kedalam kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya karena tadi ia terkena noda darah Wilona.
Setelah selesai mandi ia menggunakan handuk kimono, kemudian ia keluar dan duduk di sofa sambil mengingat kembali kejadian tadi.
"Jika, aku ingat-ingat sepertinya, Wilona sedang menangis dan berlari sehingga dia menabrak ku," ucap Wiliam, sambil mengingat kembali kejadian tadi dengan perlahan.
"Apa, dia ada maslah?" tanya Wiliam, pada dirinya sendiri dengan sangat penasaran apa yang terjadi pada Wilona.
__ADS_1
Bersambung.